NovelToon NovelToon
Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14

****

Pukul lima pagi. Sinar fajar yang masih remang bertengger malu-malu di balik jendela kaca raksasa penthouse lantai tiga puluh. Suasana apartemen mewah itu begitu tenang dan sunyi.

Di dalam kamar tamu, Aini sudah selesai menunaikan ibadah salat Subuh. Gadis itu tampil sangat rapi mengenakan gaun terusan simpel bernuansa pastel, terbalut rapi oleh hijab segiempat bermotif bunga-bunga kecil yang membingkai ayu wajahnya. Raut muka Aini memancarkan kesenduan yang lembut, namun jemari tangan yang merapikan pin di bawah dagunya bergerak penuh keteguhan.

Aini keluar kamar dengan langkah amat pelan, berhati-hati agar tak menimbulkan kegaduhan di koridor apartemen. Ia melangkah menuju dapur bersih berdesain minimalis modern. Dapur itu tampak sangat steril, bagai tak pernah tersentuh oleh bahan makanan asli.

"Minimal ada kopi hitam dan sarapan hangat..." bisik Aini pada dirinya sendiri.

Aini membongkar kabinet atas dan kulkas dua pintu yang berukuran besar. Beruntung, kemarin sore Bunda dan Mamanya sempat menyuruh asisten rumah tangga memasok beberapa bahan makanan dasar. Dengan cekatan, Aini mulai menyalakan kompor induksi.

Jemari lentiknya mengocok telur, mengiris daun bawang, serta memotong roti tawar dan keju. Tak lupa, ia menyeduh secangkir kopi hitam murni tanpa gula—minuman favorit Ivandra yang sempat disebutkan oleh Nyonya Rosalia waktu acara makan keluarga.

Dalam waktu dua puluh menit, meja makan marmer hitam di dapur itu telah terhiasi oleh dua piring omelet keju hangat yang wangi, beberapa tangkup roti panggang, dan secangkir kopi hitam yang mengepulkan uap tipis.

Klek.

Suara pintu kamar utama terbuka memecah keheningan. Ivandra melangkah keluar dengan penampilan yang sudah sangat rapi. Pria bertubuh jangkung itu mengenakan kemeja abu-abu terang yang disetrika mulus tanpa cela, celana kain hitam berpotongan presisi, serta jam tangan kustom yang melingkar elegan di pergelangan tangannya. Rambut hitamnya yang sedikit basah disisir rapi ke belakang.

Ivandra sempat menghentikan langkahnya sejenak di ambang lorong dapur. Manik mata elangnya menatap tertegun pada figur Aini yang sedang menata cangkir di meja. Aroma gurih mentega dan keju yang bercampur dengan wangi Kopi arabika murni seketika menyeruak, memenuhi indra penciumannya.

Aini menoleh saat menyadari kehadiran pria itu. Ia membungkuk sopan, menyunggingkan senyum tipis yang bersahaja.

"Selamat pagi, Dokter... maksud saya, Mas Ivan," sapa Aini lembut. "Saya sudah buatkan sarapan sederhana dan kopi hitam tanpa gula."

Ivandra tidak langsung merespons. Wajah tampannya tetap terpasang datar tanpa emosi, dingin bagai patung pahatan. Pria itu berjalan mendekati meja makan, menarik kursi kayu mahoni, lalu duduk dengan gerakan yang amat elegan.

Sepanjang hidupnya, selain dari Nyonya Rosalia atau koki pribadi keluarga Wigunadi, Ivandra tidak pernah dibuatkan sarapan oleh wanita mana pun. Ada perasaan asing dan serba canggung yang mendadak merayapi benaknya saat melihat cangkir kopi hitam murni itu tersaji tepat di depan tangannya.

Ivandra meraih cangkir porselen tersebut, membawa ke bibirnya, lalu menyesapnya pelan.

Rasa pahit yang kaya dan pekat dari biji kopi berkualitas tinggi berpadu sempurna dengan suhu air yang tepat. Tak ada rasa manis buatan sedikit pun—persis seperti yang ia sukai setiap pagi. Ivandra tertegun untuk kedua kalinya, namun ia berjuang keras menutupi raut terkejutnya di balik ekspresi mukanya yang tetap datar.

Ia meraih garpu, menyantap sepotong omelet keju buatan Aini. Teksturnya yang lembut dan gurih pas langsung melumer di dalam mulutnya.

Aini yang duduk di seberang Ivandra hanya diam memandangi reaksi pria itu dengan napas tertahan. Ia tidak berani membuka suara duluan, hanya menikmati roti panggangnya dengan sangat tenang dan elegan.

Setelah dua menit keheningan canggung yang membendung di antara mereka, Ivandra meletakkan garpunya dengan bunyi klang pelan di atas piring.

"Rasanya cukup," ujar Ivandra pendek, suaranya mengalun berbariton berat dan dingin. Tidak ada pujian manis, tidak ada ucapan terima kasih yang hangat.

"Terima kasih, Mas. Syukurlah kalau cocok," jawab Aini santun tanpa memancarkan rasa kecewa sedikit pun. Ia sudah menghafal betul bahwa mengharapkan kehangatan dari seorang 'Dokter Iblis' adalah hal yang sia-sia.

Ivandra melirik jam tangannya. "Jam setengah enam lewat lima menit. Kita berangkat sekarang."

"Baik, Mas. Saya rapikan piringnya sebentar—"

"Tinggalkan saja," potong Ivandra cepat sembari berdiri dan meraih jas klinisnya yang tergantung di dekat pintu. "Petugas kebersihan apartemen akan datang jam sembilan. Kamu tidak perlu buang waktu."

Mobil sedan sport mewah berwarna hitam legam milik Ivandra melaju membelah jalanan kota yang masih agak lengang di pagi hari.

Di dalam kabin mobil beraroma kayu cendana itu, keheningan terasa begitu menghimpit. Aini duduk kaku di kursi penumpang samping kemudi, menatap lurus ke arah kaca depan sembari memangku tas ransel medisnya. Sementara Ivandra fokus mengemudikan mobilnya dengan satu tangan di atas lingkar kemudi, rahang tegasnya mengeras rapat.

Saat mobil mulai memasuki kawasan protokol yang berjarak sekitar lima ratus meter dari kompleks RS Utama Wigunadi, Ivandra memindahkan tuas transmisi dan meminggirkan kendaraan mewahnya di bahu jalan, tepat di depan sebuah pertokoan yang masih tutup.

Ckiit.

Mobil berhenti mulus. Dua blok sebelum gerbang utama rumah sakit.

Ivandra tidak memutar tubuhnya, matanya tetap menatap lurus ke jalan raya. "Turun di sini," perintah Ivandra datar, tanpa intonasi bersalah sedikit pun.

Aini menoleh pelan. Ia menatap deretan ruko di sebelahnya, lalu menatap Ivandra dari samping. Pria itu sedang menegaskan kembali salah satu poin utama dalam kontrak perjanjian mereka: menjaga kerahasiaan pernikahan secara mutlak di rumah sakit.

"Ingat poin kontrak pertama," lanjut Ivandra dengan suara rendah yang amat menekan. "Jangan sampai ada staf, perawat, atau sesama koas yang melihat kamu keluar dari mobil saya. Di lingkungan rumah sakit, kita tidak saling mengenal secara pribadi."

Aini menarik napas panjang yang tenang. Dada kecilnya memang sempat teremas oleh rasa canggung, namun Aini menolak untuk terlihat lemah atau merengek di hadapan suami rahasianya ini. Wajah ayunya yang menyiratkan kesenduan alami kini kembali terbingkai oleh raut keteguhan yang sangat kuat.

Aini meraih gagang pintu mobil, lalu memutar tubuhnya menghadap Ivandra.

"Baik, Dokter Ivandra," sahut Aini dengan intonasi yang sangat formal dan santun. "Saya paham betul aturan yang kita sepakati. Terima kasih atas tumpangannya hingga dua blok di depan ini."

Aini membungkukkan kepalanya sedikit, lalu membuka pintu mobil dan melangkah keluar menuju trotoar.

Brak.

Pintu mobil tertutup rapi. Ivandra mengalihkan pandangannya ke kaca spion samping, memperhatikan figur mungil istrinya dari balik kaca mobil yang gelap.

Aini merapikan letak tas ranselnya di bahu, membetulkan sedikit ujung hijab segiempatnya, lalu melangkah tegar menyusuri trotoar jalanan pagi menuju gerbang RS Utama Wigunadi. Langkah kakinya begitu mantap, anggun, dan tanpa sedikit pun gestur mengeluh—menunjukkan kesiapan penuh untuk menjaga jarak profesional secara mutlak di tempat kerja.

Ivandra mencengkeram lingkar kemudinya sedikit lebih erat. Ada desir perasaan asing yang mendadak merayapi dadanya saat menyaksikan ketegaran gadis berhijab itu. Aini sama sekali tidak menuntut, tidak merajuk, dan tidak berakting menjadi korban. Gadis itu justru menunjukkan kelas dan harga diri yang sangat tinggi.

Gadis ini benar-benar keras kepala... batin Ivandra sembari mengembuskan napas berat.

Pria itu kemudian menekan pedal gas, melajukan mobil mewahnya melewati Aini yang sedang berjalan kaki di trotoar, lalu meluncur memasuki pintu gerbang khusus dokter spesialis RS Utama Wigunadi. Badai di rumah sakit hari ini baru saja dimulai, dan mereka berdua telah berdiri di posisi masing-masing di balik benteng rahasia yang tebal.

Bersambung....

1
Anonim
CRAZY UP THOR
Anonim
crazy up thor
Anonim
up thor
Shuttttttttttt
pls crazy up thooor
Anonim
crazy up
Anonim
crazy up thor
Ai Nurlaela Jm
karyamu kereen Thor
Anonim
crazy up thor
Anonim
crazy up
Putry Chan
dokter pria itu serem deh bikin merinding jangan sampai ketemu lagi
mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Aini Mungkin kmu sedikit ceroboh
Putry Chan
maaf gak sengaja kau pikir aku buta 🙄
Putry Chan
semangat Aini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!