Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?
Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.
Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya seraya melangkah mendekati gadis berambut nila itu.
Gadis itu memegangi lengannya yang gemetar, menatap Hayden dengan sepasang mata ambernya yang jernih namun menyiratkan ketakutan. Meski bertubuh kecil dan tampak rapuh di antara tumpukan mayat zombie yang bergelimpangan, tidak ada bekas gigitan atau luka fatal di tubuhnya.
Gadis itu menyapu napasnya yang tersengal, menatap senapan berujung asap di tangan Hayden, lalu perlahan mengangguk.
"A-aku nggak apa-apa... Terima kasih," bisiknya dengan suara gemetar, matanya sesekali melirik curiga ke arah *Armored Rover* milik Hayden yang masih meraung halus di tengah jalan.
"Carilah tempat persembunyian, di sini tidak aman untukmu," ucap Hayden singkat, matanya tetap waspada meneliti area sekitar yang mulai merayap sunyi.
Ia memutar tubuhnya, berniat kembali ke *Armored Rover* untuk melanjutkan perjalanan menuju bukit pemancar militer. Namun, langkah kaki kecil gadis bermata amber itu mendadak mengikutinya dari belakang.
"T-tunggu!" panggil gadis itu dengan napas tersengal, jemari mungilnya meremas ujung jaketnya yang kotor. "Jangan tinggalkan aku... Di mana-mana penuh dengan zombie, dan orang-orang berpakaian hitam tadi terus memburu siapa saja di rute ini!"
Hayden menghentikan langkahnya tepat di depan pintu mobil. Frasa *orang-orang berpakaian hitam* langsung menyengat pikirannya.
"Orang-orang berpakaian hitam? Maksudmu pasukan Aegis?" tanya Hayden, menatap tajam ke arah gadis itu.
Gadis berambut nila itu mengangguk cepat. "Aku nggak tahu siapa mereka, tapi mereka punya senjata berat dan merusak semua pemancar di wilayah ini. Tolong... bawa aku bersamamu. Aku janji nggak bakal merepotkan!"
Hayden mengepalkan tangannya. Kehadiran gadis ini bisa menjadi beban di tengah misinya yang amat krusial, tetapi membiarkannya sendirian di jalanan yang dipenuhi zombie dan incaran pasukan Marcus sama saja dengan membunuhnya.
"Siapa namamu?" tanya Hayden dingin, memberikan kesempatan terakhir sebelum mengambil keputusan.
"Fiora Dominic." Tubuh Hayden menegang seketika begitu nama itu terucap.
"Fiora Dominic..." bisiknya pelan, mencoba mengingat-ingat.
Nama belakang itu sangat familier di telinganya. Entah di antara berkas rahasia milik kakeknya, dokumen enkripsi di dalam *flashdisk*, atau rumor mengenai para peneliti papan atas di Fasilitas Oase—Hayden yakin betul pernah membaca nama itu, tapi ingatannya saat ini masih tertutup kabut.
"Kamu... punya hubungan dengan proyek ilmiah di daerah ini?" tanya Hayden, meneliti raut wajah Fiora yang tampak kebingungan dengan reaksi kagetnya.
Fiora menggeleng pelan, matanya menyipit penuh tanda tanya. "Enggak, itu cuma nama keluargaku. Kenapa? Kamu kenal seseorang dengan nama itu?"
Hayden menghembuskan napas berat, menekan rasa penasarannya untuk sementara. Waktu mereka tidak banyak; erangan zombie lain mulai terdengar samar dari balik pepohonan di pinggir jalan.
"Bukan apa-apa," jawab Hayden dingin, lalu membuka pintu penumpang *Armored Rover*. "Masuk. Kita harus bergerak sekarang sebelum kelompok Marcus atau kawanan zombie lainnya menemukan tempat ini."
Fiora tidak berpikir dua kali. Tanpa ragu, gadis kecil itu langsung memanjat masuk ke dalam kabin mobil baja yang aman, disusul Hayden yang dengan cepat melompat ke kursi kemudi, siap memacu kendaraan menuju bukit pemancar militer.
Di tengah-tengah mengemudi, Hayden sesekali melirik gadis di sebelahnya yang tampak membisu. Suasana di dalam kabin *Armored Rover* terasa begitu hening, hanya diisi deru halus mesin kendaraan.
"Apakah keluargamu masih ada?" tanya Hayden memecah kesunyian.
Pertanyaan itu membuat Fiora berpaling, menatapnya dengan mata amber yang mulai berkaca-kaca.
"M-mereka sudah jadi zombie... saat menyelamatkanku satu minggu yang lalu," lirihnya dengan suara bergetar, lalu menunduk dalam-dalam.
Hayden terdiam. Rasa bersalah sempat menyengat dadanya karena telah menanyakan hal sesensitif itu di tengah kiamat yang merenggut segalanya.
"Tapi..." Fiora mendongak kembali, menatap sisi wajah Hayden dengan tatapan penuh harap. "Aku masih punya satu anak kecil yang aku temukan. Dia sepertinya kehilangan keluarganya juga dan sekarang bersembunyi tidak jauh dari sini. Apakah... apakah aku boleh membawanya juga?"
Hayden tidak langsung menjawab. Matanya tetap fokus menatap jalanan berlubang di depan, menimbang-nimbang risiko membawa dua orang sipil—termasuk seorang anak kecil—di tengah misi hidup dan mati menuju bukit pemancar militer.
Melihat keheningan Hayden, Fiora makin panik. Air mata meluncur menyusuri pipinya saat ia memohon dengan suara tercekik.
"Kami berjanji tidak akan merepotkanmu! Tapi aku mohon... selamatkan kami!"
Hayden mengepalkan tangannya di lingkar kemudi. Kehilangan keluarga akibat wabah ini adalah luka yang dirasakan hampir semua penyintas yang tersisa, dan nada bicara Fiora yang pecah membangkitkan rasa simpati yang berusaha ia tekan selama ini.
"Di mana anak itu sekarang?" tanya Hayden tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan terjal di depan.
Mata Fiora berbinar menaruh harapan. "Di sebuah bunker kecil di basement minimarket, kira-kira dua kilometer dari sini. Aku meninggalkannya di sana dengan sedikit makanan sebelum aku pergi mencari bantuan."
Hayden diam sejenak, menimbang risiko. Memutar arah akan memakan waktu dan berisiko mempertemukan mereka kembali dengan patroli Aegis. Namun, membiarkan seorang anak kecil sendirian di tengah kiamat ini bukanlah sesuatu yang bisa ditoleransi nuraninya.
"Nama anak itu siapa?" gumam Hayden dingin.
"Leo," jawab Fiora cepat, mengusap air mata di pipinya. "Dia baru berumur enam tahun."
"Pegang pegangan pintu," ucap Hayden singkat, lalu menginjak pedal rem dan memutar kemudi *Armored Rover* secara mendadak hingga ban mobil berdencit nyaring di atas aspal. "Kita jemput anak itu sekarang. Tapi dengar, Fiora... setelah kita mengambilnya, kita langsung menuju bukit pemancar. Nggak ada pemberhentian ekstra."
Fiora mengangguk mantap dengan mata berbinar lega. "Terima kasih... terima kasih banyak, Hayden!"
Mobil baja itu melaju kencang memotong jalur menuju minimarket yang dimaksud, siap menembus bahaya demi menyelamatkan satu nyawa kecil lagi sebelum badai Aegis benar-benar menggulung mereka.
Mobil *Armored Rover* melesat membelah jalanan rusak menuju lokasi minimarket. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit bagi Hayden untuk melihat bangunan minimarket yang kusam dengan kaca depan yang sudah hancur berantakan.
Hayden memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk, menjaga agar mesinnya tetap menyala. Ia menyambar senapan serbunya, lalu menoleh tajam ke arah Fiora.
"Tetap di belakangku dan jangan jauh-jauh. Kita masuk, ambil anak itu, lalu keluar dalam waktu kurang dari tiga menit," tegas Hayden.
Fiora mengangguk cepat. Ia mengikuti langkah presisi Hayden yang menerobos masuk ke dalam toko yang acak-acakan. Rak-rak kayu roboh, makanan kaleng kadaluarsa berserakan, dan bau apak memenuhi udara.
Hayden mengarahkan laras senapannya ke setiap sudut gelap, memastikan tidak ada zombie yang mengintai di balik celah. Begitu area dipastikan aman, Fiora berlari menuju pintu besi kecil di balik kasir yang mengarah ke area *basement*.
"Leo! Ini aku, Fiora!" panggil Fiora seraya memukul pintu besi itu dengan nada khusus.
Suara kait pintu digeser dari dalam terdengar pelan. Pintu terbuka sedikit, menampilkan wajah mungil seorang anak laki-laki berambut kusam dengan mata bulat yang ketakutan. Begitu melihat sosok Fiora, bocah itu langsung melompat keluar dan memeluk pinggang Fiora erat-erat.
"Kaka Fiora... aku takut banget di bawah," tangis anak itu pecah.
"Nggak apa-apa, Leo. Kakak kembali, kita aman sekarang," bisik Fiora lembut mengelus punggung bocah itu, lalu menoleh ke arah Hayden. "Ini Leo."
Hayden berlutut sejajar dengan tinggi anak itu, menatap mata Leo yang masih berair. "Hei, Jagoan. Namaku Hayden. Kita harus pergi sekarang, oke?"
Leo mengangguk pelan, mempererat pegangannya pada Fiora. Namun tepat saat Hayden hendak berdiri dan memandu mereka kembali ke mobil, suara raungan mesin berat yang sangat dikenal Hayden mendadak terdengar dari luar minimarket, disusul derit rem yang memekakkan telinga.
Hayden membeku. Melalui celah dinding minimarket yang hancur, ia melihat truk taktis hitam milik pasukan Aegis telah berhenti tepat di samping *Armored Rover*-nya.
Marcus telah menemukan mereka.