NovelToon NovelToon
KETIKA AKU HARUS MEMILIH

KETIKA AKU HARUS MEMILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Balas Dendam
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Five Vee

Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Rahasia Keluarga Arthadipa.

“Kamu tidak perlu membongkar koper, Ra. Besok kita pindah ke rumah baru.” Ucap Ravin saat pria itu baru selesai membersihkan diri sepulang dari kantor.

Ia hanya menggunakan kimono, dan selembar handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.

Sera yang memang belum membongkar kopernya karena tidak tau dimana harus meletakkan pakaiannya, pun hanya menurut pada perkataan sang suami.

“Apa tidak terlalu cepat, kak? Maksudku, kita baru sehari menginap disini.” Tukas Sera. Ia ingin lebih lama berada di tengah keluarga sang suami.

Ravin meraih baju kaos putih dan celana pendek yang Sera siapkan.

“Tidak. Lebih cepat pindah, akan lebih baik. Kamu tenang saja, di rumah itu sudah ada asisten yang siap bekerja. Kamu tidak perlu memikirkan pekerjaan rumah. Dan bisa pergi ke kantor seperti biasa.” Ucap Ravin kemudian kembali ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya.

Sera menghela nafas pelan.

Sebelum menikah, memang Ravin mengatakan akan tetap mengijinkan Sera untuk bekerja. Membiarkan gadis itu melakukan apapun yang ia suka.

Namun, melihat sikap Ravin yang seperti ini padanya, ingin rasanya Sera berhenti bekerja. Dan fokus pada rumah tangga mereka.

“Sabar, Sera. Baru dua hari.” Monolog gadis itu.

Ia menunggu sang suami keluar dari kamar mandi, karena mereka akan makan malam bersama orang tua Ravin.

Setelah Ravin selesai bersiap, mereka pun turun ke ruang makan. Sudah ada mama Irene dan papa Rajendra disana.

“Selamat malam, pa, ma.” Sapa Sera kepada sang mertua.

“Malam Sera.” Balas mama Irene sementara papa Rajendra hanya mengangguk pelan.

Seperti biasa, Ravin pun menarik sebuah kursi untuk ditempati oleh Sera.

Namun sang istri tidak langsung duduk. Ia membantu asisten rumah untuk menyiapkan makanan.

“Untuk kak Ravin biar aku saja, bi.” Ucap Sera kepada asisten rumah.

Wanita paruh baya itu mengangguk paham.

Mama Irene tersenyum senang melihat Sera melayani Ravin. Ia harus bisa menyatukan keduanya, hingga tidak ada cela di hati Ravin untuk gadis lain.

“Besok kami akan pindah ke rumah baru, pa, ma.” Ucap Ravin setelah Sera menghidangkan makanan di hadapannya.

Sera yang hendak mengambil makanan untuk dirinya sendiri, seketika itu menoleh ke arah sang suami.

“Kenapa cepat sekali?” Tanya mama Irene.

“Hmm.. untuk apa lama - lama? Aku sudah tidak sabar menempati rumah baru.” Ucap Ravin sembari melirik ke arah Sera.

Ada maksud yang tersirat di balik ucapan sang putra. Dan mama Irene pun berdecak pelan.

“Baiklah. Tetapi kalian harus sering - sering singgah kemari. Atau, pulang dari kantor makan malam disini. Kalau sudah mau tidur, baru ke rumah kalian.” Ucap mama Irene lagi.

“Tidak bisa seperti itu, ma. Tetapi, kami janji akan sering mampir. Iya ‘kan, Sera?” Ravin meminta dukungan sang istri.

Sera tersenyum tipis. Kemudian mengangguk pelan.

“Kami pasti akan sering mampir kemari, ma.” Ucap gadis itu.

Sera pun duduk di samping sang suami.

.

.

.

Setelah selesai makan malam, Ravin tidak langsung kembali ke kamar. Pria itu justru pergi ke ruang kerja bersama sang papa.

Sera hanya mampu menatap dengan sendu kepergian pria itu dari meja makan.

“Kenapa Sera?” Tanya dari mama Irene membuyarkan lamunan Sera.

“Tidak apa - apa, ma.” Gadis itu memaksakan senyumannya.

“Ravin memang seperti itu. Habis makan malam, selalu pergi ke ruang kerja bersama papa.” Ucap mama Irene.

Sera kembali tersenyum kecut.

Memang Ravin sudah biasa melakukan hal itu, namun tidakkah pria itu ingat jika sekarang sudah menikah? Dan ada istri yang menunggu dirinya?

“Ravin itu pewaris satu - satunya keluarga Arthadipa. Jadi harus belajar dengan keras. Agar bisa menjadi pemimpin yang baik.” Imbuh mama Irene lagi.

Sera sontak menoleh ke arah wanita paruh baya yang duduk di seberangnya.

Yang menjadi fokus perhatian Sera adalah, kalimat pertama yang mama Irene ucapan.

“Ravin itu pewaris satu - satunya keluarga Arthadipa.”

Bukankah, masih ada satu anak sulung lagi? Putra pertama keluarga Arthadipa. Kenapa mama Irene menyebut Ravin sebagai pewaris satu - satunya?

“Ma. Bukannya, kak Ravin memiliki seorang kakak?” Tanya Sera memberanikan diri.

Raut wajah mama Irene seketika berubah. “Dia sudah meninggal.” Wanita paruh baya itu kemudian bangkit dari atas kursinya, kemudian meninggalkan Sera sendiri.

“Kenapa mama seolah enggan membahas putra pertama keluarga ini?” Gumam Sera.

Seingat Sera, dulu ada anak laki - laki yang lebih tua dari Ravin bernama Raditya, dan Ravin memanggilnya kakak.

Mama Sera mengatakan kalau anak itu juga adalah anak dari papa Rajendra.

Sera yang saat itu baru memasuki usia sekolah dasar, tidak mengerti dengan urusan orang dewasa.

Ia dan Ravin juga sempat bermain dengan Raditya. Hingga saat Sera berusia 8 tahun, Raditya dan ibunya menghilang dari rumah keluarga Arthadipa.

Entah rahasia apa yang disembunyikan oleh keluarga Arthadipa?

“Non, diminta nyonya untuk membawa teh ke ruang kerja.” Salah seorang asisten rumah tangga datang dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh.

Sera menganggukkan kepalanya. Ia pun meraih nampan itu. Lalu membawanya ke ruang kerja yang terletak di dekat ruang keluarga.

Sera meletakkan nampan di atas meja, hendak mengetuk pintu. Namun, saat tangannya di udara pendengaran gadis itu menangkap percakapan Ravin dan sang papa.

“A-apa k-kamu ada h-hubungannya dengan hilangnya R-Rania di Jogya.”

Meski suara papa Rajendra terbata, namun Sera dapat mengerti dengan baik.

Rania — mantan kekasih Ravin, menghilang dari Jogya? Hati Sera pun menjadi berdebar kencang. Gadis itu kembali menajamkan pendengarannya untuk mengetahui tanggapan Ravin.

“Aku tidak ada hubungannya, pa.”

“B-benarkah? M-menurut o-rang p-papa, d-dia menghilang menjelang h-hari per-nikahan ka-mu.”

Deg!!

Jadi Rania menghilang dari luar kota menjelang hari pernikahan Ravin dan Sera.

Apa jangan - jangan, Ravin pergi untuk mencari gadis itu?

Apa mungkin yang di ucapkan oleh mama Safina benar adanya?

Sera menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau mencurigai sang suami.

Gadis itu menghela nafas pelan. Sebelum mendengar kembali tanggapan Ravin, ia pun mengetuk pintu.

Ravin pun menyuruhnya untuk masuk.

“Se-ra.”

Sera melihat sang mertua membulatkan matanya. Pria paruh baya itu pasti merasa kaget atas kedatangan sang menantu. Dan takut jika gadis itu mendengar pembicaraan mereka.

Sementara Ravin bersikap biasa saja.

“Aku membawakan teh untuk kalian.” Ucap Sera melangkah masuk.

“Letakkan disini saja.” Ravin menunjuk ke arah sisi meja kerja yang kosong.

Sera pun meletakkan dua cangkir itu disana.

“Apa kalian masih lama?” Tanya gadis itu sembari memeluk nampan.

“Sebentar lagi. Kamu tunggu di kamar saja.” Ucap Ravin dengan senyum tipis.

Sera menganggukkan kepalanya.

“Selamat malam, pa.” Pamitnya pada sang mertua. Dan pria paruh baya itu menggangguk pelan.

Sera melangkah dengan gontai menuju kamar Ravin di lantai dua rumah mewah itu. Ia diminta menunggu pria itu sebentar lagi.

“Kita lihat, berapa lama aku akan menunggu kedatangannya.”

1
Naufal Affiq
bagus sera,gas terus buat suami mu diam seribu bahasa,karena kebohongannya sudah di ketahui semuanya
sunaryati jarum
Ya bagus Sera , setelah tahu kebenarannya langsung hempaskan ,Ravin.Dan kamu jangan sampai disentuh Ravin, jika kau cerai kau masih Virgin.
sunaryati jarum
Raditya itu Wira yang menyamar sebagai sopir Sera, ternyata suruhan mamanya.Mama Sera tahu siapa Raditya.Sehs
Seharusnya dia pewaris sebenarnya, sungguh menarik
Naufal Affiq
bagus sera,selidiki terus suami mu yang tukang bohong itu,jadi jangan percaya lagi sama omongannya,ikuti aja alur cerita suami mu itu
sunaryati jarum
Bagus Serta, jangan lemah Wira sepertinya saudara Ravin, ibunya Ravin pelakor.
Naufal Affiq
bagus sera,jangan diam aja seperti orang bodoh,ikutin aja permainan si ravin itu,
dyah EkaPratiwi
bagus sera
Noviie 🍃🍃
Fix nih Wira itu kakaknya Ravin.. tp kenapa namanya bisa ganti y??
Noviie 🍃🍃
Tuh kan.. ini Wira pasti mirip papanya waktu muda.. makanya pada ga asing sama wajahnya..
Noviie 🍃🍃
Kayaknya Wira ini kakaknya Ravin deh…
Noviie 🍃🍃
Siapakah Wira ini???
Noviie 🍃🍃
Ooo kamu ketahuan Ravin….
Noviie 🍃🍃
Recommended ❤️❤️
Naufal Affiq
harus tegas ra,biar tau suami laknat mu itu,
Naufal Affiq
harus tegas ra,biar tau suami laknat mu itu,
dyah EkaPratiwi
nah gitu Ra harus tegas
dyah EkaPratiwi
ravin bener2 kurang ajar
dyah EkaPratiwi
wah Wira berarti raditya
dyah EkaPratiwi
gemes banget sama Sera aja coba selidiki ra
dyah EkaPratiwi
betul mama mu Sera cinta boleh bodoh jangan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!