Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Pulang cepat
Jam menunjukkan pukul 09.15 pagi. Penthouse yang biasanya sepi, pagi ini masih menyisakan hawa canggung sisa pelukan jam 05.30 tadi.
Safa sudah selesai membereskan tempat tidur yang berantakan. Melipat slimut dan merapikan seprei tapi guling doraemon yang jatuh ke lantai semalam masih dia pangku. Wajahnya masih merah kalau ingat bagaimana tangan Arga melingkar erat di pinggangnya.
Arga keluar dari walk-in closet dengan kemeja putih rapi, jas hitam di lengan, dan dasi biru dongker. Wangi parfumnya menyebar ke seluruh ruangan. Biasanya Arga berangkat jam 7 pagi tanpa pamit, tapi hari ini langkahnya terasa berat.
"Mas mau berangkat sekarang?" tanya Safa pelan sambil berdiri di dekat sofa.
Arga mengangguk sambil memakai jam tangannya. Matanya melirik Safa sekilas. Safa masih memakai piyama beruang yang kebesaran, rambutnya diikat kuncir kuda, wajah polos tanpa makeup. "Ya. Ada meeting penting jam 10. Direksi sudah menunggu."
"Oh, hati-hati di jalan ya Mas," kata Safa sambil menunduk memainkan ujung gulingnya.
Arga berjalan ke pintu depan. Tangannya sudah memegang gagang pintu, tapi dia berhenti. Dia tidak langsung keluar. Selama beberapa detik dia diam di depan pintu, lalu berbalik lagi menatap Safa.
"Safa."
"Ya Mas?"
"Di rumah jangan beres-beres yang berat-berat. Kamu baru sembuh dua hari lalu. Kalau butuh sesuatu telepon saya. Atau telepon Rina, biar dia yang belikan."
Safa mengangguk, hatinya menghangat mendengar perhatian itu. "Iya Mas, aku di rumah aja kok. Aku mau bikin puding coklat buat Mas."
Arga terdiam sebentar, lalu mengangguk cepat dan keluar. Pintu tertutup pelan. Safa menghela napas. Penthouse kembali sepi,tapi sepi kali ini berbeda, sepi karna ditinggal,sepi karna sendiri dan sepi karna ingin selalu bersama.
Di sisi lain, di dalam lift menuju basement, Arga menghela napas panjang. Dia memegang dadanya. Kenapa rasanya berat sekali meninggalkan penthouse hari ini? Biasanya kantor adalah tempat paling nyaman baginya, tapi hari ini kantor terasa jauh.
*DI KANTOR MAHENDRA GROUP*
Jam 10.30 pagi, ruang rapat lantai 28.
Tiga direksi sedang presentasi laporan keuangan triwulan dengan grafik naik turun di layar proyektor. Angka miliaran, persentase.Semua orang tampak begitu serius.
Tapi Arga yang duduk di kursi utama, justru tatapannya kosong. Di kepalanya bukan grafik, melainkan wajah Safa tadi pagi yang menutup wajah pakai bantal karena malu. Suara Safa yang kecil bilang, "Mas marah ya sama aku?" terus terngiang di telinganya.
"Pak Arga, jadi untuk Q3 kita naik 12%, tapi biaya operasional juga naik 8% karena... Pak Arga?"
Arga tersentak. "Hah? Ya, lanjutkan. 12% bagus."
Sekretarisnya, Rina, yang sudah bekerja 5 tahun dengannya langsung tahu ada yang tidak beres. Bosnya yang dijuluki komputer berjalan tidak pernah melamun saat rapat.
Tiba-tiba HP Arga di atas meja menyala. Notifikasi chat masuk.
Safa: _Mas, aku sudah bikin puding coklat di kulkas ya. Nanti kalau Mas pulang dimakan dingin-dingin pasti enak. Jangan lupa makan siang ya Mas, jangan telat._
Hanya chat singkat, tidak ada emoji berlebihan, tapi Arga yang membacanya langsung tersenyum. Senyum tipis yang tulus, yang jarang sekali terlihat di kantor. Senyum itu membuat tiga direksi saling pandang karna bingung.
Rina berbisik, "Pak, ada yang salah dengan laporan? Atau bapak sedang tidak enak badan?"
Arga langsung mematikan ponselnya dan berdiri. "Rapat cukup sampai di sini. Saya ada urusan penting di rumah. Semua file kirim ke email saya. Meeting dengan investor Jepang jam 2 siang cancel atau kamu saja yang handle, Rina."
"Pak, tapi ini masih jam 11.30 siang," Rina panik.Meeting dengan investor dari jepang itu penting sekali."
"Bilang saya sakit. Atau ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggal," jawab Arga sambil mengambil jasnya.
Arga berjalan cepat ke lift, meninggalkan ruang rapat yang heboh. Di dalam lift, dia menatap pantulan dirinya di cermin lift. Rambutnya masih terlihat rapi,mengenakan jas mahal, tapi hatinya tidak karuan.
"Arga Mahendra, kamu bucin," gumamnya pelan pada dirinya sendiri, tapi dia tidak menyangkal.
DI PENTHOUSE
Sementara itu di rumah, Safa juga tidak bisa diam. Dia sudah menyapu, mengepel, mencuci piring bekas sarapan, dan membuat puding coklat sesuai janjinya. Pudingnya sudah jadi dan dimasukkan ke kulkas.
Tapi setelah semua pekerjaan selesai, dia duduk di sofa sambil memeluk guling doraemon. Matanya melirik jam dinding terus. Baru jam 12 siang. Biasanya Arga pulang jam 8 malam.
Pikiran Safa melayang. Apakah Mas Arga sudah makan siang? Apakah meetingnya lancar? Apakah Mas Arga juga kepikiran kejadian pelukan tadi pagi seperti dirinya?
Dia membuka HP, mengetik chat, lalu menghapus lagi. Mengetik lagi, menghapus lagi. Akhirnya dia hanya menatap foto yang diam-diam diambil Nenek kemarin. Foto Arga yang sedang menyodorkan air putih ke Safa yang tersedak. Di foto itu mereka terlihat seperti pasangan sungguhan.
"Mas Arga cepet pulang ya..." gumam Safa pelan sambil mengelus layar HP-nya.
Seolah doanya di dengar jam 13.10, pintu penthouse terbuka. Arga pulang cepat dari kantor, jasnya tergantung di lengan, dasinya sudah dilonggarkan.
Safa yang sedang duduk di sofa sambil menunggu pudingnya dingin langsung berdiri kaget. "Mas? Kok sudah pulang? Katanya meeting sampai sore?"
"Bosan di kantor. Meeting selesai cepat." jawab Arga singkat sambil menaruh tas kerjanya. "Saya mau mandi dulu. Gerah."
"Iya Mas, mandi dulu aja," kata Safa.
Arga masuk ke kamar utama dan langsung masuk ke kamar mandi. Terdengar suara shower menyala. Safa ingat handuk bersih yang baru dicuci masih ada di ruang londry Jadi Safa membawa handuk bersih itu, dia ingin menaruhnya di dekat kamar biar Mas Arga tidak kedinginan nanti.
Safa berjalan pelan ke kamar, mengetuk pintu kamar mandi pelan. "Mas, handuk bersihnya aku taruh di sini ya di atas ranjang."
Tidak ada jawaban karena suara air shower kencang.
Safa masuk ke kamar, meletakkan handuk bersih itu di atas ranjang. Tepat saat dia berbalik mau keluar kamar, pintu kamar mandi terbuka.
_Klek._
Safa membeku di tempat.
Di depan matanya, Arga baru saja keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk putih sebatas pinggang. Rambutnya masih basah meneteskan air, uap hangat keluar dari balik pintu kamar mandi. Dada bidangnya yang kekar terlihat jelas, bahunya lebar, dan garis otot perutnya yang rapi terlihat karena Arga memang rutin nge-gym setiap pagi.
Pemandangan itu... indah sekali.
Safa terpana. Matanya membelalak, tidak bisa berkedip. Mulutnya sedikit terbuka. Ini pertama kalinya seumur hidupnya dia melihat laki-laki sedekat ini tanpa baju. Apalagi laki-laki itu adalah suaminya sendiri.
Arga juga membeku. Dia tidak menyangka Safa ada di dalam kamar. Dia kira Safa masih di ruang tamu.
"Safa!" Arga kaget, refleks tangannya memegang ujung handuk di pinggangnya dengan erat.
Safa langsung tersadar dan dengan panik memalingkan wajahnya ke samping, kedua tangannya menutup mata, tapi jari-jarinya sedikit terbuka mengintip karena penasaran.
"Ma-maaf Mas! Aku... aku cuma mau taruh handuk! Aku nggak lihat! Aku nggak lihat apa-apa!" kata Safa panik, suaranya hampir menangis karena malu, wajahnya merah padam sampai ke leher.
Arga yang malu juga wajahnya merah terlihat padam sampai ke telinga, dia cepat-cepat mengambil kaos hitam yang ada di atas ranjang dan memakainya dengan gerakan super cepat.
"Sudah! Kamu... kamu jangan ngintip!" kata Arga gugup, suaranya tidak lagi dingin seperti CEO, tapi seperti anak SMA yang malu ketangkap basah sedang melakukan sesuatu.
"Aku nggak ngintip Mas! Sumpah!" Safa masih menutup mata dengan kedua tangan. "Tapi... Mas... bagus..."
Kata terakhir itu keluar pelan sekali, hampir tidak terdengar.
Arga yang sudah memakai kaos mengernyit. "Bagus apanya?"
Safa pelan-pelan membuka satu matanya, mengintip Arga yang sekarang sudah memakai kaos. "Dadanya... eh maksudnya... handuknya bagus Mas... putih... bersih...Aku fikir mas belum bawa handuk karna handuk mas aku cuci tadi pagi.
Arga hampir tersedak mendengar jawaban polos itu. Dia menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
"Safa, keluar dulu. Saya mau ganti celana," kata Arga pelan.
"Iya iya Mas!" Safa langsung lari keluar kamar dengan langkah kecil-kecil, hampir tersandung kakinya sendiri karena buru-buru.
Di luar kamar, Safa bersandar di dinding sambil memegang dadanya. Jantungnya berdegup kencang sekali. Pemandangan indah tadi tidak bisa hilang dari kepalanya. Dada bidang Mas Arga, bahunya yang lebar. Ya Allah, Safa mengibaskan tangannya ke wajahnya yang panas.
Di dalam kamar, Arga juga bersandar di pintu lemari sambil memegang dadanya. Gila, Safa melihatnya seperti itu. Tapi reaksi Safa yang polos dan malu-malu itu justru membuat Arga merasa... senang? Merasa dilihat sebagai laki-laki, bukan hanya sebagai Mas galak.
Setelah lima menit menenangkan diri, mereka berdua akhirnya bisa bersikap normal lagi.
Sore harinya, mereka makan puding bersama di ruang tamu. Puding coklat buatan Safa yang lembut dan manis itu dimakan berdua di sofa yang sama. Arga duduk di sisi kanan, Safa di sisi kiri, tapi jaraknya sudah tidak sejauh biasanya.
"Enak Mas?" tanya Safa sambil menatap Arga yang sedang menyuap puding.
Arga mengangguk. "Enak. Manisnya pas. Tidak bikin eneg. Kamu pinter bikin puding ya ternyata."
Safa tersenyum lebar dipuji seperti itu "Kalau Mas suka, besok aku bikin lagi yang rasa stroberi ya?"
"Boleh," jawab Arga.
Mereka makan puding sambil menonton TV, sesekali tangan mereka bersenggolan saat mengambil remot tv. Setiap bersenggolan, Safa langsung menarik tangannya dengan cepat karna malu, Arga pura-pura cuek tapi telinganya merah.
Setelah puding habis, mereka makan malam bersama. Safa memasak nasi goreng sederhana. Arga yang biasanya makan malam sambil rapat online, malam ini diabmakan dengan fokus sambil sesekali menatap Safa.
"Mas kok lihatin aku terus?" tanya Safa sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
"Enggak. Saya lihat nasinya. Nasi goreng kamu kebanyakan kecap," elak Arga.
Safa mengerucutkan bibirnya. "Padahal enak."
"Enak kok," Arga langsung meralat. "Maksud saya warnanya bagus."
Safa tertawa kecil. Mas Arga kalau sudah salah ngomong lucu sekali.
Setelah makan malam mereka lanjut menonton tv dan tanpa terasa waktu sudah larut jam menunjukkan pukul 22.00
Waktunya tidur. Kamar utama sudah tertata rapi, lampu temaram dengan warna kuning sudah dinyalakan.
Guling doraemon Tembok Berlin sudah resmi disita Nenek dan kini disembunyikan Arga di dalam lemari paling atas sore tadi. Jadi ranjang king size itu kini kosong di tengah, hanya ada dua bantal dan satu selimut tebal yang harus dipakai berdua.
Safa sudah naik duluan di sisi kiri dengan piyama beruangnya kali ini berwarna pink.Arga keluar dari kamar mandi dengan kaos hitam dan celana training, rambutnya sedikit basah.
"Gulingnya mana Mas?" tanya Safa pura-pura tidak tahu.
"Kan sudah disita nenek,saya taruh diatas lemari.Katanya kalau masih pakai guling, besok mau dibuang," jawab Arga sambil naik ke sisi kanan ranjang.
Jarak mereka hanya 30 cm sekarang. Selimut yang sama menutupi badan mereka. Harum parfum Arga dan harum sampo strawberry Safa bercampur di udara.
Mendadak suasana jadi hening,mereka berdua sama-sama deg-degan.
"Mas..." Safa berbisik pelan.
"Ya?"
"Tadi siang... maaf ya Mas... aku nggak sengaja liat mas em,"
Arga menoleh. Wajah Safa terlihat merah dalam cahaya temaram lampu tidur.
"Nggak apa-apa. Anggap saja impas. Tadi pagi saya juga nggak sengaja peluk kamu," kata Arga pelan.
Safa mengangguk, lalu dengan suara super kecil dia berkata, "Mas... boleh nggak aku pegang tangan Mas lagi kayak semalam? Dingin..."
Arga tidak menjawab dengan kata-kata. Dia langsung mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, lalu menggenggam tangan kecil Safa yang dingin di tengah ranjang. Jari-jari mereka bertautan, saling mengunci.
"Gini aja biar nggak dingin," kata Arga dengan suara berat yang lembut.
Safa mengangguk, wajahnya merah tapi senyumnya lebar. "Iya Mas... hangat..."
Malam kedua itu, mereka tidur miring saling berhadapan, bergandengan tangan di bawah satu selimut yang sama, tanpa guling apapun. Sesekali kaki mereka bersentuhan di bawah selimut, dan tidak ada yang menariknya lagi.
Untuk pertama kalinya setelah satu bulan menikah kontrak, mereka tidur seperti suami istri sungguhan. Dan tanpa disadari tidak ada yang ingin melepas genggaman tangan itu sampai pagi.
Bersambung