Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Putus di Mess Tamu Ber-Ac
Jam delapan malam, setelah kejadian telepon dari rumah pagi tadi, Arif tidak langsung pulang ke mess putra.
Ia jalan lurus ke mess tamu. Mess yang paling bagus di pabrik, ada AC, ada kamar mandi dalam, ada kulkas kecil. Mess tempat Karin tidur selama di Dharmasraya.
Pintu mess tamu diketuk keras.
Tok... tok... tok...
Karin buka pintu dengan senyum manja, pakai piyama sutra warna pink, rambutnya masih basah habis keramas.
"Sayang? Tumben malam-malam kesini? Kangen ya?" kata Karin, mau peluk Arif.
Tapi Arif mundur selangkah, tidak mau dipeluk. Wajahnya merah padam menahan marah.
"Jangan panggil sayang lagi," kata Arif dingin.
Karin kaget, senyumnya hilang.
"Sayang? Kamu kenapa? Siapa yang bikin kamu marah? Kerjaan lagi?" tanya Karin, pura-pura tidak tahu.
Arif masuk ke dalam mess tamu, tutup pintu. Ia keluarkan ponselnya, buka foto yang ia dapat dari Mbak Sari sore tadi.
Foto itu adalah screenshot chat. Chat Karin ke Mama Nadia. Chat yang isinya: "Tante, saya Karin, tunangan Arif... Nadia dekat sekali sama tunangan saya... Ini fotonya Tante." Plus foto jas hujan.
"Ini apa?" Arif tunjukkan layar ponsel itu ke depan wajah Karin. Tangannya gemetar.
Karin lihat foto itu, wajahnya langsung pucat. Tapi ia masih coba berbohong.
"Itu... itu aku cuma peduli sama Nadia, Sayang. Aku takut nama baik pabrik rusak kalau ada gosip admin dekat sama Assisten Manager. Aku sebagai calon istri kamu kan harus jaga nama baik kamu juga, Sayang..." kata Karin, suaranya mulai bergetar.
"Jaga nama baik saya? Atau kamu mau hancurkan hidup Nadia?" bentak Arif, untuk pertama kalinya ia bentak Karin sekeras itu.
"Karena kamu sebar foto itu, pertunangan Nadia sama Rizki batal hari ini! Mamanya jatuh sakit karena malu di kampung! Kamu puas? Kamu puas hancurkan hidup orang?" suara Arif naik, matanya merah.
Karin mulai nangis, air mata dokter cantik dari Medan itu jatuh.
"Aku lakukan itu karena aku sayang sama kamu, Rif! Aku lihat kamu berubah sejak Nadia datang! Kamu pulang malam terus, kamu gak pernah ajak aku makan siang lagi, kamu tatap Nadia terus di kantin! Aku tunangan kamu, Rif! Seharusnya kamu tatap aku, bukan dia!" teriak Karin balik, nangis sesenggukan.
Arif menghela napas panjang, coba tenangkan diri.
"Karin, dengar ya. Dari awal perjodohan kita, saya sudah bilang sama Mama saya, saya tidak sayang sama kamu. Mama saya yang jodohkan kita karena kamu dokter, karena keluarga kamu kaya. Saya terima karena saya anak berbakti. Tapi saya tidak pernah sayang sama kamu, Karin. Tidak pernah," kata Arif jujur, pelan tapi menusuk.
Karin terdiam, nangisnya berhenti. Kata-kata itu lebih sakit dari bentakan.
"Dan kamu tahu? Nadia juga korban perjodohan sama seperti saya. Dia dijodohkan sama guru, disuruh siapkan pelaminan Ivory Cream, padahal dia gak sayang sama guru itu. Kami berdua sama-sama tersiksa, Karin. Kami cuma saling menguatkan. Tapi kamu... kamu sebar foto kami dan hancurkan pertunangannya. Kamu jahat, Karin," lanjut Arif.
Karin duduk di tepi ranjang mess tamu ber-AC itu, mukanya ditutup kedua tangan.
"Jadi kamu bela dia? Kamu bela admin pabrik itu daripada tunangan kamu sendiri yang dokter?" kata Karin pelan, suaranya hancur.
Arif mengangguk.
"Iya. Saya membela Nadia. Karena Nadia tidak pernah sebar foto orang. Nadia tidak pernah kirim chat jahat ke keluarga orang," jawab Arif.
Lalu Arif buka laci meja mess tamu, ambil kotak kecil warna biru. Kotak cincin.
Karin belikan cincin itu untuk Arif bulan lalu, cincin tunangan seharga 15 juta, dengan berlian kecil di tengahnya. Selama ini Arif pakai cincin itu karena terpaksa.
Malam ini, Arif buka cincin itu dari jarinya, taruh di atas meja.
"Kita selesai, Karin. Pertunangan kita batal. Cincin ini kamu ambil lagi. Besok pagi kamu pulang saja ke Medan. Jangan di sini lagi," kata Arif, suaranya sudah tenang, tapi tegas.
Karin lihat cincin itu di atas meja, langsung berdiri, ambil cincin itu dan lempar ke dinding.
"Gak semudah itu, Arif! Kamu pikir kamu bisa putuskan saya begitu saja? Mama kamu yang jodohkan kita! Keluarga besar kita sudah setuju! Kamu mau malu-maluin keluarga saya di Medan?" teriak Karin histeris.
"Soal Mama saya, biar saya yang jelaskan. Saya yang tanggung jawab. Saya siap dimarahi Mama saya. Tapi saya tidak mau lagi pura-pura sayang sama kamu, Karin. Saya capek," kata Arif.
Arif jalan keluar dari mess tamu ber-AC itu, tidak menoleh lagi.
Di luar, hujan turun rintik-rintik.
Di mess putri, Nadia duduk di depan pintu mess, lihat Arif jalan keluar dari mess tamu dengan wajah lelah. Nadia tahu Arif baru saja putus dengan Karin.
Mereka berdua saling menatap dari jauh, di bawah hujan rintik-rintik.
Tidak ada senyum kemenangan. Tidak ada pelukan.
Hanya tatapan dua orang yang sama-sama baru saja kehilangan tunangannya di hari yang sama.
Rizki batalkan lamaran Nadia pagi tadi. Arif batalkan lamaran Karin malam ini.
Sekarang, di pabrik sawit yang luas itu, hanya tinggal Nadia dan Arif. Dua orang yang sama-sama tidak punya siapa-siapa lagi.
Dan besok pagi, foto mereka berdua keluar dari gudang arsip yang diambil Pak Bambang akan bocor ke grup WA pabrik. Dan itu akan jadi badai yang lebih besar dari sekadar batalnya pertunangan.
Karena kalau pertunangan batal masih urusan keluarga, kalau foto keluar dari gudang arsip yang gelap dan sempit itu bocor ke grup WA pabrik, itu sudah urusan satu pabrik. Dan semua orang akan menghakimi.
Bersambung
---