Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanitaku
Setelah Gio keluar, Fio tidak langsung ikut keluar. Dengan kedua tangan yang menopang di marmer wastafel, kepalanya menunduk. Meski, hingga saat ini belum ada hati untuk Gala tpi dia juga tidak pernah menemukan keburukan padanya.
Apa yang dikatakan Gio benar? Atau ini hanya akal – akalan? Entahlah.
Sedetik kemudian, kepala Fio mendongak menatap wajahnya di cermin. Menikah adalah perjalanan panjang. Dia harus membuktikan.
Fio bergegas keluar dan melangkah cepat menuju atap. Kakinya bergerak cepat, seperti saat dia sedang bertugas. Baik ketika dia bertugas sebagai dokter dan melayani pasien atau ketika ditugaskan untuk menjadi intel. KEdua profesi itu, dia sukai. Sama seperti profesi kedua orang tuanya. Ayahnya seorang polisi dan ibunya dokter. Dan, kini dirinya adalah perpaduan.
Tak
Tik
Tuk
Bruk
Sat kakinya hendak menuju tangga darurat, Fio bertabrakan dengan seorang perempuan.
“Mata lu di ma …”
Tiba – tiba, perempuan itu tercekat dan langsung tersenyum sinis. “Ternyata, ada j4l4ng di sini.”
“Jaga ucapanmu, Dara!”
Perempuan di depannya dengan pakaian sexy dan seusianya adalah Dara Laksamana. Ralat, Arfi pernah menikah sekali, setelah itu tidak menikah lagi. Dia memiliki satu anak perempuan yang konon bukan d4r4h dagingnya. Akan tetapi, Dara lahir saat Arif masih terikat pernikahan dengan ibunya. Lalu, ketika insiden keluarga Fio terjadi, Arif menceraikan istrinya, dan memilih membesarkan Fiona. Atas dasar itu, Dara membencinya setengah mati. Tapi sayangnya, justru mereka kerap beberapa kali sekolah di sekolah yang sama.
Dara tertawa. “Lu emang j4l4ng bokap gue. J4l4ng berkedok keponakan.”
“Stop! Dari dulu, kamu memang selalu salah paham.”
Fio berusaha mengabaikan Dara dan kembali berjalan ke tujuan. Namun, perempuan itu malah menariknya lagi.
“Tunggu, kita belum selesai> Oh ya, kalau ada lu di sini pasti ada Papi. Iya kan?”
Fio diam. Dia tidak bisa membeberkan pertemuan keluarga yang bersifat rahasia.
“Mana Papi? Di mana? Gue mau ketemu. Udah dua bulan ini, Papi ga kasih duit ke gue.”
Dengan tetap tidak ingin menanggapi, Fio tetap pergi.
“Hei, j4l4ng! Berhenti! Dasar tuli!”
Dara memang selalu seperti ini setiap bertemu dengannya. beruntung, Fio tidak mengambil hati. Fio cukup mengerti dengan kondisi mental Dara yang ketika itu berusia sama dengannya, delapan tahun dan harus memahami perpisahan kedua orang tua.
Fio menaiki anak tangga dengan cepat.
Brak
Setelah sampai di atas, uang bebas dengan terpaan angin kencang itu tampak lengang. Tidak ada satu pun orang. Namun, Fio ingin menemukan. Dia penasaran. Kakinya terus melangkah dan meninggalkan pintu yang tiba - tiba tertutup sendiri.
Brak
Ceklek
Bunyi suara pintu yang tertutup itu agak berbeda. Tampak, ada seseorang yang menguncinya dari dalam. Fio mulai merasa ada yang janggal. Benar saja, sekelompok pria mengelilingi.
“Jadi, ini tugas kita?”
“Ya. kata bos, malam ini kita makan enak. Ternyata benar. Dia cantik dan sexy. Fiuuuu … Fiuuu …”
Siulan pria itu terdengar menjijikkan. Terhitung, pria yang mengelilinginya sebanyak empat orang. Namun, Fio tetap tenang. Mereka pikir, dia berhadapan dengan perempuan cengeng?
Fio melipat kedua tangannya di dada. “Saya tidak ada urusan dengan kalian. Minggir!”
Keempat pria itu tertawa. “Tapi, kami punya urusan denganmu.”
“Siapa yang menyuruhmu?”
“Akh, banyak bicara,” jawab salah satu di antara mereka. “Ayo, sikat bos!”
Bugh
Bugh
Fio menangkis dan membalas satu persatu yang mencoba menyentuhnya dengan pukulan atau tendangan.
“Bos, dia bisa berkelahi,” ucap salah satu pria itu pada satu pria yang lebih besar darinya.
“Lawan saja! Tenaga perempuan tidak adda apa – apanya.”
Fio marah. “Apa? Kau pikir semua perempuan lemah? Lihat saja, bagaimana aku mematahkan kaki kalian!”
Bugh
Bugh
Bugh
Fio membenarkan ucapannya. Satu persatu pria itu dia lawan dengan kedua tangan serta kakinya yang bergerak lincah. Namun, saat kedua pria itu menyerangnya bersamaan, Fio mulai kuwalahan. Kedua tangannya dipegang oleh kedua pria yang lain, sehingga dua pria yang menyerangnya tadi menyeringai.
Sementara, di ruang VVIP Anggi melihat putranya sudah kembali. Sebelum Gala datang, Vania sudah kembali lebih dulu. Sepertinya, mereka sengaja memberi jeda ketika mereka kembali ke dalam.
Sedangkan Gio, sudah kembali duduk dari tadi. Usai menemui Fiona di kamar mandi, dia langsung kembali ke sini.
“Loh, kamu sendiri? Di mana Fiona?”
Gala mengangkat bahunya. Mereka memang tidak berpapasan.
“Fio tidak berada di dalam kamar mandi,” jawabnya bohong. “Entah, dia ke mana.”
Gio yang sedang duduk dan berbincang dengan Restu, mulai merasakan sesuatu.
"Wanitaku!" sentaknya dalam hati.
Di langsung berdiri dan keluar dari ruangan ini untuk mencari seseorang dengan perasaan bahwa wanitanya sedang dalam bahaya di sana.