Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 - SAMPEL DAN RODA RETAK
Lin tiba di toko ketika udara masih dingin. Dua bungkusan sampel berada di rak pemeriksaan, terpisah dari stok yang boleh dijual. Kain pembungkusnya sudah kering setelah semalaman dijemur dekat jendela. Mo membuka simpulnya, dan Lin menyiapkan timbangan serta halaman catatan yang ia buat kemarin.
“Kita timbang dulu bungkusnya,” kata Mo. “Lalu daun. Kalau ada perubahan, tulis angkanya. Jangan menganggap penyusutan sebagai kerusakan sebelum memeriksanya.”
Lin menimbang kain pembungkus secara terpisah. Beratnya berkurang sedikit setelah kering. Daun di dalam bungkusan juga kehilangan sebagian berat, meski bentuknya hampir sama. Ia menulis kondisi sebelum dan sesudah penyimpanan, kemudian memeriksa tepi daun dengan penjepit.
“Yang dari dekat batu putih lebih tipis,” katanya. “Yang dari jalur sungai lebih lebar. Tapi mungkin cara memetiknya berbeda.”
“Benar. Atau waktu petiknya, umur tanaman, atau cara membawanya. Apa yang bisa kau pastikan?”
Lin menelusuri baris catatan. “Dua bungkusan berasal dari tempat yang mereka sebut berbeda. Mereka dipetik pada waktu berlainan. Kainnya sama-sama sudah kering, dan daun pertama lebih tipis dari yang kedua.”
“Bagus. Itu yang kita punya. Soal spesies, belum.”
Mereka menaruh kembali sampel secara terpisah. Tak ada perubahan warna yang cukup jelas untuk menandai kerusakan. Bau lembap di bagian luar bungkusan juga telah hilang. Namun pemeriksaan itu tidak menjawab pertanyaan utama Lin: apakah salah satu daun cocok dengan bahan di dalam resep game.
Pintu toko terbuka. Wei Lian datang bersama Wei Jun, membawa keranjang yang mereka tinggalkan kemarin. Kali ini daun di dalamnya sudah dibagi menjadi tiga kelompok. Ikatan bertanda satu simpul berisi daun dari dekat batu putih, dua simpul dari jalur sungai, sedangkan sisanya diikat dengan tali biasa.
“Kami memilahnya sejak rumah,” kata Wei Lian. “Bagian yang tidak kami sepakati ada di ikatan tanpa simpul.”
Mo memeriksa tali dan meminta mereka menceritakan kembali cara memilahnya. Wei Jun menunjuk tiap kelompok dan menyebut mana yang dipetiknya. Kakaknya mengoreksi satu ikatan yang ia kira berasal dari jalur sungai, tetapi ternyata dikumpulkan dari sisi lereng yang lain.
Lin mencatat koreksi itu, bukan menghapusnya. “Jadi yang ini tidak bisa dimasukkan ke kelompok batu putih?”
“Tidak,” jawab Wei Lian. “Aku hanya ingat kami berjalan dari sana. Aku tidak ingat kapan adikku mengikatnya.”
Mo menimbang kelompok pertama, lalu kelompok kedua. Ia membandingkan kualitasnya dengan sampel kecil yang telah dibeli sehari sebelumnya. Sebagian daun cocok dalam bentuk, tetapi ada pula yang berbeda ukuran. Tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh ikatan berasal dari tanaman yang sama.
“Aku bersedia membeli sebagian yang bisa kalian pisahkan dengan yakin,” kata Mo. “Yang tanpa tanda tidak kubeli hari ini. Kalian boleh membawanya pulang atau menyimpannya sendiri sampai ada cara mengidentifikasinya.”
Wei Jun menggigit bibir. “Kami sudah membuang waktu memilah.”
“Waktu itu tidak membuat daun yang tak bisa dilacak menjadi lebih jelas,” kata Mo. “Tapi bagian yang kalian pisahkan dengan baik akan kubayar. Aku tidak akan menawar harga sampel yang sudah kita sepakati.”
Wei Lian memeriksa catatan Lin. “Kalau satu ikatan ternyata sama dengan sampel kemarin, kalian akan memberi tahu kami?”
“Ya. Catatan ini mencantumkan nama dan asal yang kalian berikan. Kami bisa menemui kalian setelah ada hasil pemeriksaan tambahan.” Lin menunjuk kolom pemeriksa. “Saya juga menulis bahwa kami belum memastikan nama tanaman.”
Wei Lian membaca kalimat itu sampai selesai. Ia tidak tampak senang, tetapi mengangguk. Mo membayar bagian yang diterima dan mencatat berat serta jumlahnya. Mereka mengembalikan dua ikatan sisanya kepada keluarga itu.
Sebelum pergi, Wei Jun menunjuk sampel kecil yang sudah berada di rak. “Kalau kalian tidak tahu nama daun itu, kenapa membeli?”
“Untuk memeriksanya,” jawab Lin. “Bukan untuk menjualnya.”
Wei Jun mengangkat bahu. “Kalau semua pembeli berpikir begitu, mungkin kami akan lebih sering membawa sampel daripada barang dagangan.”
“Kalau begitu, semoga ada pembeli yang memang mencari sampel,” kata Wei Lian. Ia merapikan tali keranjangnya. “Kami akan kembali kalau kalian menemukan sesuatu yang bisa dipakai.”
Setelah mereka pergi, Mo memberi Lin daftar baru untuk disalin ke buku pemeriksaan. Dari semua daun yang dibawa, hanya dua ikatan yang dapat ditautkan pada keterangan asal dengan cukup jelas. Kelompok ketiga tetap menjadi bahan tak teridentifikasi. Lin tidak menulis bahwa sampel dari batu putih adalah daun sisik hujan. Ia menulis “sampel Wei, kelompok batu putih, bentuk tipis, belum dipastikan”.
“Sekarang kita punya lebih banyak catatan, tapi belum tentu lebih banyak jawaban,” katanya.
“Catatan yang baik tidak menjanjikan jawaban cepat.” Mo mengunci kotak sampel. “Ia menjanjikan bahwa kita tidak perlu mengulang kebingungan yang sama.”
Belum lama mereka menyelesaikan pemeriksaan, suara roda bergemuruh di jalan. Sebuah gerobak bermuatan kain berhenti di depan toko. Bai turun dari sisi belakang, berdebu dari ujung rambut sampai sepatu. Pedangnya masih tersarung. Balutan tangannya tampak kusam, tetapi ia menggerakkannya tanpa meringis.
Lin keluar menyambutnya. “Kau kembali.”
“Seperti yang kujanjikan. Hanya saja bukan pada hari yang kujanjikan.” Bai menyeringai lelah. “Sebuah roda retak di jalan pulang. Kami harus berhenti di pos kecil semalam sambil menunggu pengganti.”
“Lukamu?”
“Tidak terbuka lagi. Aku tidak mengangkat muatan, jadi para pengawal senior tak perlu mengikatku ke gerobak.”
Bai bercerita bahwa perjalanan ke pos dagang berjalan lancar. Masalah muncul saat mereka kembali melewati jalan menurun berbatu. Kusir mendengar bunyi dari gandar belakang dan melaporkannya sebelum roda terlepas. Rombongan berhenti, memindahkan sebagian kain, lalu mengirim salah satu pengawal mencari bengkel terdekat.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Lin.
“Menjaga sisi jalan dan memastikan tidak ada orang mendekati muatan. Pengawal senior menyuruhku tetap di sana sampai mereka selesai memeriksa gandar.”
“Dan kau benar-benar diam di tempat?”
“Tidak sepanjang waktu. Aku berjalan beberapa langkah untuk memberi ruang, lalu diminta kembali.” Bai mendecakkan lidah. “Tapi aku tidak mengejar siapa pun atau mengangkat roda. Perjalanan pertama selesai tanpa aku membuat keadaan lebih buruk.”
Mo muncul di ambang pintu. “Itu penilaian yang baik.”
Bai membungkuk sedikit. “Saya sedang berusaha memenuhi standar yang rendah.”
“Standarnya mengikuti perintah. Kalau itu terasa rendah bagimu, berarti kau belum terbiasa.”
Bai tertawa, lalu menoleh pada Lin. “Tugasnya membosankan sampai masalah benar-benar muncul. Saat roda retak, aku senang sudah tahu siapa yang harus kuikuti.”
Lin teringat bahwa di dalam game sebuah perjalanan pengawalan pendek mungkin hanya berpindah dari satu penanda ke penanda lain. Di sini, kerusakan roda membuat orang asing tidur semalam di pos kecil dan menunda kepulangan. Ia tidak tahu apakah rute yang Bai lewati sama dengan jalan yang pernah dilihatnya di peta permainan. Yang jelas, tidak ada layar yang akan memberi tahu kusir kapan gandarnya harus diperiksa.
“Mercenary Hall akan menilai laporan perjalananmu besok,” kata Bai. “Aku belum tahu apakah mereka akan memberiku pekerjaan tetap.”
“Setidaknya kau menyelesaikan tugas.”
“Ya. Aku juga belajar bahwa menjadi pengawal berarti memperhatikan roda, tali, jalan, dan orang yang membawa barang. Pedang ternyata bagian yang paling jarang kupakai.”
“Jangan bilang begitu di depan pedangmu. Nanti dia tersinggung.”
Bai tersenyum lebar. Ia pamit untuk mengembalikan perlengkapan pinjaman ke Mercenary Hall dan menyerahkan laporan. Sebelum pergi, ia berjanji akan mampir lagi setelah mendapat keputusan. Langkahnya lebih lambat daripada biasanya, akibat perjalanan panjang dan malam yang kurang tidur, tetapi ia tidak tampak kecewa.
Lin kembali ke dalam toko. Mo tidak menanyakan banyak hal tentang pertemanan mereka. Ia hanya menyuruh Lin menyelesaikan salinan catatan dan memastikan uang pembelian daun cocok dengan buku kas. Lin memeriksanya dua kali. Jumlahnya tepat.
Sore itu, Mo memberikan satu keping tembaga sebagai upah. Makanan sederhana disediakan di toko, dan Lin menyimpan keping tersebut untuk tempat tidur di penginapan. Dalam catatannya, ia menambahkan bahwa sampel Wei berubah berat setelah kain pembungkus dikeringkan, tetapi identitas daun belum terverifikasi. Ia juga menulis kabar Bai: perjalanan selesai, roda retak dalam perjalanan pulang, laporan Mercenary Hall menunggu penilaian.
Sebelum toko tutup, Lin melihat kembali halaman kosong yang ia sisakan untuk nama Bai. Kini ia mengisinya dengan kejadian yang ia dengar langsung dari temannya, lalu memberi tanda bahwa itu adalah laporan Bai, bukan pengamatan pribadinya.
Dunia yang dianggap Lin sebagai permainan terus memaksanya membedakan hal-hal kecil: apa yang ia lihat, apa yang diceritakan orang, dan apa yang hanya ingin ia percayai. Untuk hari ini, ia memiliki dua catatan baru—sampel yang belum bernama dan seorang teman yang pulang dengan tugas selesai.