Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Tak Pernah Diceritakan
Alya berjalan keluar dari ruangan Raka, meninggalkannya dengan sejuta pertanyaan yang belum terjawab, sementara suara ayahnya masih terdengar di telinganya melalui sambungan telepon. Ia mencari tempat yang lebih sepi—tangga darurat di ujung lorong kantor, satu-satunya tempat yang bisa memberinya privasi untuk percakapan yang jelas-jelas akan mengubah segalanya.
"Pa," katanya, duduk di anak tangga dingin, "cerita apa yang harus Papa ceritain?"
Ada jeda panjang di seberang telepon, seperti ayahnya sedang menyusun kata-kata yang sudah ia tunda selama bertahun-tahun. "Soal Raka," katanya akhirnya. "Soal kenapa dia ninggalin kamu dulu."
"Aku udah tau soal perjodohan itu, Pa," potong Alya, tidak bisa menyembunyikan nada kecewa dalam suaranya. "Raka baru aja cerita semuanya."
"Bukan cuma itu," jawab ayahnya, suaranya semakin berat. "Ada bagian lain dari cerita ini yang Raka sendiri mungkin nggak tau."
Alya terdiam, jantungnya berdebar semakin kencang. "Maksud Papa?"
Ayahnya menghela napas panjang di seberang sana. "Delapan tahun lalu, waktu perusahaan keluarga Pradana hampir bangkrut, Papa emang bantu mereka. Tapi bukan Papa yang minta perjodohan itu, Alya. Itu ide ayahnya Raka—Pak Hendra. Papa awalnya nolak, karena Papa nggak mau masa depan kamu ditentuin sama urusan bisnis."
"Terus kenapa Raka bilang itu keputusan Papa?"
"Karena," jawab ayahnya, ragu sejenak, "Papa akhirnya setuju. Tapi bukan karena Papa mau maksa kalian berjodoh. Papa setuju karena waktu itu Papa lihat kalian berdua udah beneran saling cinta duluan, jauh sebelum omongan soal perjodohan ini muncul ke permukaan. Papa pikir, kalau memang kalian saling suka, kenapa nggak sekalian direstui secara formal."
Alya menutup matanya, mencoba mencerna. "Tapi Raka mutusin aku, Pa. Karena dia nggak mau perasaan kita 'ternoda' sama perjanjian itu."
"Itu bagian yang Papa nggak pernah tau sampai baru-baru ini," kata ayahnya. "Papa baru tau kalau Raka mutusin kamu itu karena masalah perjodohan, waktu Pak Hendra cerita ke Papa minggu lalu. Ternyata... Raka mutusin kamu bukan cuma karena alasan perjodohan itu doang, Alya."
Jantung Alya berhenti sejenak. "Terus karena apa lagi?"
Ada keheningan panjang sebelum ayahnya menjawab, seolah kalimat berikutnya adalah sesuatu yang sangat berat untuk diucapkan. "Waktu itu, kondisi keuangan keluarga Pradana lebih parah dari yang kalian berdua tau. Pak Hendra sampai harus jual beberapa aset pribadi buat nutup utang. Dan salah satu syarat dari investor baru yang mau masuk waktu itu adalah, Raka harus fokus total ngurusin perusahaan, nggak boleh ada distraksi apa pun—termasuk hubungan asmara yang belum jelas masa depannya kalau perusahaan sampai benar-benar bangkrut."
"Jadi dia milih ninggalin aku demi nyelametin perusahaan keluarganya," bisik Alya, lebih kepada dirinya sendiri.
"Raka masih dua puluh dua tahun waktu itu, Alya. Dia dihadapkan sama pilihan yang nggak seharusnya ditanggung anak seumuran dia—antara masa depan keluarganya, atau mempertahankan hubungan yang bahkan dia sendiri nggak yakin bisa dia perjuangkan di tengah kekacauan finansial itu. Dia milih diam dan pergi, karena dia pikir itu lebih baik daripada bikin kamu ikut terseret masalah keluarganya."
Air mata mulai mengalir di pipi Alya tanpa bisa ia tahan lagi. Delapan tahun ia menghabiskan waktu menyalahkan dirinya sendiri, bertanya-tanya apa yang salah dengannya, kenapa Raka bisa begitu mudah meninggalkannya tanpa penjelasan. Dan ternyata, di balik semua itu, ada seorang anak muda yang sedang berjuang menyelamatkan keluarganya sendirian, memilih untuk menanggung semuanya tanpa membebani orang yang ia cintai.
"Terus soal aku kerja di sini, Pa?" tanya Alya akhirnya, mengingat kalimat Raka sebelumnya. "Apa Papa yang ngatur ini semua?"
"Nggak," jawab ayahnya cepat, nadanya terdengar jujur. "Papa nggak tau soal kamu direkrut ke perusahaan ini sampai kamu cerita minggu lalu kalau kamu diterima kerja di sana. Papa baru sadar hubungannya waktu Pak Hendra cerita soal perjanjian itu minggu lalu, dan Papa langsung curiga jangan-jangan ini bukan kebetulan."
"Terus siapa yang ngatur?"
Ayahnya terdiam sejenak. "Papa nggak tau pasti, Alya. Tapi kalau benar ini bukan kebetulan, kemungkinan besar itu ulah Pak Hendra sendiri. Dia mungkin masih berharap perjanjian lama itu bisa terwujud, sekarang kondisi perusahaan udah stabil lagi."
Alya menutup wajahnya dengan tangan yang gemetar. Semuanya terasa terlalu banyak untuk dicerna dalam satu waktu—kebenaran soal alasan Raka pergi, kemungkinan bahwa karirnya sendiri diam-diam diatur oleh orang lain, dan fakta bahwa hidupnya selama ini mungkin sudah menjadi bagian dari rencana besar yang tidak pernah ia ketahui.
"Alya," kata ayahnya, suaranya melembut. "Papa minta maaf. Seharusnya Papa cerita semuanya dari dulu, bukan biarin kamu mikir yang nggak-nggak selama bertahun-tahun."
"Iya, Pa," jawab Alya lirih, tidak tahu harus merasa apa lagi. "Aku... aku butuh waktu buat mikir."
"Papa ngerti," kata ayahnya. "Telepon Papa kalau kamu udah siap ngobrol lebih lanjut, ya."
Panggilan berakhir, dan Alya duduk sendirian di tangga darurat yang dingin, ponsel masih tergenggam erat di tangannya, pikirannya berputar liar mencoba menyusun ulang seluruh pemahamannya tentang masa lalu.
Ia tidak tahu berapa lama ia duduk di sana sampai suara langkah kaki di tangga membuatnya mendongak. Raka berdiri beberapa anak tangga di atasnya, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
"Aku nyariin kamu," kata Raka, perlahan turun mendekat. "Nadia bilang kamu keluar ruangan buru-buru tadi."
Alya menyeka air matanya cepat-cepat, tapi terlambat—Raka sudah melihatnya menangis.
"Papa cerita semuanya," kata Alya akhirnya, suaranya masih bergetar. "Soal kondisi keuangan keluarga kamu waktu itu. Soal kenapa kamu benar-benar mutusin aku."
Raka duduk di anak tangga yang sama, jaraknya cukup dekat untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali. "Aku nggak pernah cerita alasan sebenarnya ke siapa pun," katanya pelan. "Bahkan ke Sarah, ke siapa pun di kantor ini. Cuma orang tua kita yang tau."
"Kenapa nggak cerita ke aku waktu itu?" tanya Alya, suaranya penuh luka yang masih segar meski kejadiannya sudah delapan tahun lalu. "Kalau kamu cerita, mungkin kita bisa cari jalan keluar bareng-bareng."
"Karena aku takut," jawab Raka jujur, matanya menatap lurus ke depan, tidak berani menatap Alya langsung. "Aku takut kalau aku cerita, kamu bakal maksa ikut nanggung beban itu bareng aku, padahal kamu nggak salah apa-apa. Aku lebih milih kamu benci aku karena mikir aku brengsek, daripada kamu ikut hancur karena masalah keluarga aku."
Alya menatap Raka lama, mencoba memahami logika menyakitkan yang telah membentuk delapan tahun terakhir hidup mereka berdua secara terpisah. "Itu bukan keputusan yang harus kamu ambil sendirian, Raka."
"Aku tau," jawab Raka, suaranya nyaris tak terdengar. "Sekarang aku tau."
Mereka duduk dalam diam untuk beberapa saat, hanya suara AC gedung yang mengisi kesunyian di antara mereka. Lalu, tanpa peringatan, ponsel Raka kembali bergetar di sakunya. Kali ini, ia tidak buru-buru menyembunyikannya—mungkin karena ia sudah lelah menyembunyikan segalanya.
Layar menunjukkan pesan dari ibunya: *Pak Hendra udah atur pertemuan sama keluarga Alya minggu depan. Katanya, waktunya ngomongin ulang soal perjanjian itu—termasuk soal pernikahan.*
Raka membeku menatap layar itu, lalu perlahan mengangkat wajahnya menatap Alya, yang ternyata sudah membaca pesan itu juga dari posisinya.
"Pernikahan?" bisik Alya, matanya melebar tak percaya.