Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.
Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.
Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17:Kembalinya Sang Masa Lalu
Kabar mendaratnya Clarissa Vance di Jakarta menyebar bagaikan gelombang dingin yang menusuk hingga ke sudut-sudut Aristha Tower. Nama besar Vancorp yang disokong oleh kekuatan finansial konglomerasi Eropa kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas saham Aristha Group. Namun, bagi Aira, ancaman terbesar bukanlah nilai investasi puluhan triliun rupiah itu, melainkan sosok wanita yang pernah mengisi masa lalu Reynand Aristha.
Pagi itu, suasana di aula utama lantai eksekutif terasa begitu tegang. Tim manajemen puncak, dewan direksi, serta Nyonya Rosalinda telah berkumpul di ruang konfrensi VIP untuk menghadiri pertemuan darurat bersama perwakilan Vancorp Asia.
Aira berdiri anggun di samping Reynand. Ia mengenakan gaun kerja bernuansa navy yang elegan, dengan cincin pertunangan bertatahkan berlian warisan keluarga Aristha melingkar cantik di jari manisnya. Meski hatinya bergemuruh oleh rasa cemas, Aira berusaha mempertahankan dagunya tetap tegak, menunjukkan profesionalisme tinggi sebagai calon permaisuri Aristha Group.
Klek.
Pintu ganda ruang VIP terbuka lebar. Suara ketukan stiletto berhak tinggi bergema teratur di atas lantai marmer nan berkilau, memecah hening ruangan.
Seorang wanita melangkah masuk dengan aura kepercayaan diri yang meluap. Clarissa Vance tampak memukau dalam balutan setelan blazer merah marun buatan rumah mode ternama Paris. Rambut pirang kecokelatannya terurai sempurna, dan sepasang mata tajamnya langsung mengunci keberadaan Reynand Aristha.
"Sudah lama sekali, Reynand," suara Clarissa terdengar renyah, berwibawa, namun diwarnai kehangatan tersirat yang disengaja.
Clarissa melangkah mendekat tanpa memedulikan tatapan dingin dari para direksi lainnya. Ia mengulurkan tangannya yang lentik dan terawat menuju Reynand. "Aku tidak menyangka kita akan bertemu kembali di meja perundingan seperti ini setelah lima tahun."
Reynand tidak serta-merta menyambut uluran tangan itu. Wajah tampannya tetap datar bagaikan pualam, matanya memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan. Pria itu hanya menundukkan kepalanya sedikit secara formal.
"Selamat datang kembali di Jakarta, Nona Vance," jawab Reynand dengan suara baritonnya yang dingin dan penuh jarak. "Saya harap kedatangan Vancorp Asia hari ini murni untuk membahas profesionalisme kemitraan bisnis kita, bukan hal lain."
Clarissa terkekeh pelan, menarik kembali tangannya tanpa rasa canggung sedikit pun. Tatapan matanya kemudian beralih, menjelajahi sosok Aira yang berdiri rapat di sisi Reynand. Senyum tipis yang sarat akan penilaian terukir di bibir bergincu merah menyala milik Clarissa.
"Dan... siapa gadis cantik di sampingmu ini, Reynand?" tanya Clarissa dengan nada meremehkan yang amat halus. "Apakah dia asisten barumu yang menggantikan posisi sekretaris senior?"
Sebelum Reynand sempat bersuara dengan nada tegasnya, Nyonya Rosalinda yang duduk di kursi utama melangkah maju. Sang matriark keluarga Aristha memancarkan wibawa yang tak kalah dominan.
"Ini adalah Aira Anindita, Clarissa," potong Nyonya Rosalinda dengan suara tenang namun menekan. "Aira adalah tunangan resmi Reynand, sekaligus calon permaisuri tunggal yang akan memimpin keluarga besar Aristha bersama putraku."
Raut wajah Clarissa berubah sekilas—ada kilat kekecewaan dan ketidaksukaan yang tertahan di balik sepasang matanya. Namun, sebagai wanita yang terlatih di kerasnya dunia bisnis internasional, ia dengan cepat menguasai ekspresinya kembali.
Clarissa melangkah satu jengkal mendekati Aira, mengikis jarak di antara mereka. Tatapannya tertuju lurus pada cincin berlian di jari manis Aira—cincin yang dulu sempat dijanjikan untuknya sebelum ia memilih pergi meninggalkan Reynand demi mengejar kariernya di Eropa.
"Calon tunangan?" bisik Clarissa dengan nada yang hanya bisa didengar oleh mereka bertiga. Ia lalu menatap Aira dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan senyuman miring. "Senang bertemu denganmu, Nona Aira. Tapi perlu kamu tahu... dunia Aristha Group dan tekanan di puncaknya bukanlah tempat yang mudah untuk wanita biasa. Kita lihat saja seberapa kuat kamu bertahan di samping Reynand saat pertempuran bisnis ini dimulai."
Aira merasakan genggaman tangan Reynand di pinggangnya mengerat secara posesif, seolah ingin melindunginya dari gertakan halus tersebut. Aira menatap balik mata Clarissa tanpa mengedipkan mata, menyunggingkan senyum anggun yang penuh keyakinan.
"Terima kasih atas perhatian Anda, Nona Vance," sahut Aira tegas namun santun. "Tapi saya berdiri di sini bukan karena kemudahan, melainkan karena kepercayaan penuh dari Reynand dan seluruh keluarga Aristha. Dan kepercayaan itu tidak akan pernah tergoyahkan oleh apa pun."
Reynand menatap Aira dengan pendar kebanggaan dan rasa cinta yang mendalam di matanya. Pria itu lalu berbalik menghadapi Clarissa dengan sorot mata membeku.
"Jika Vancorp ingin membatalkan pembatalan saham atau mengajukan syarat baru, mari kita bicarakan di meja rapat secara terbuka, Nona Vance," pangkas Reynand dingin. "Waktu saya sangat berharga untuk dihabiskan dalam percakapan pribadi."