NovelToon NovelToon
Surat Cinta Nyasar

Surat Cinta Nyasar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Hampir Terungkap

Pagi itu, Fajar duduk diam menatap layar komputer di mejanya yang terletak di sudut ruang divisi umum. Sorotan lampu kantor yang putih terang seolah menambah keheningan di kepalanya. Cursor di layar terus berkedip teratur, seolah mengejek kemalasannya hari ini. Dokumen laporan bulanan yang seharusnya sudah rampung sejak kemarin sore sama sekali tidak tersentuh. Pikirannya melayang jauh, terjebak pada sederet keanehan yang belakangan ini terjadi di sekitarnya.

“Bay…” panggil Fajar pelan tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Bayu, rekan sekantor sekaligus teman semeja yang sedang meneguk kopi sachet-nya, langsung mendekat dengan langkah santai. Ia menarik kursi plastik dan duduk tepat di samping Fajar.

“Kenapa, Jar? Muka lo pucet amat. Lo kelihatan kayak orang abis ditinggal nikah padahal pacaran aja belum,” komentar Bayu setengah mengejek, berusaha mencairkan suasana.

Fajar menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Menurut lo… direktur kita tuh… berubah gak sih belakangan ini?”

Bayu tidak butuh waktu lama untuk berpikir. Tanpa ragu sedikit pun, ia langsung menjawab cepat, “BERUBAH BANGET. Sumpah, drastis banget.”

Fajar menoleh dengan sebelah alis terangkat. “Seberapa banget?”

Bayu mulai menghitung dengan jari-jarinya yang lentik. “Pertama, dia sekarang rajin nyapa kalau lewat kubikel kita. Kedua, dia suka nanya kabar dengan muka ramah, bukan muka penggal kepala kayak biasanya. Ketiga, dan ini yang paling serem, dia udah gak pernah galak atau ngamuk-ngamuk gak jelas. DAN—yang paling parah—dia sering banget manggil lo secara khusus ke ruangannya.”

Fajar terdiam, mencoba mencerna setiap poin yang dilontarkan temannya itu. “Iya juga ya… kalau dipikir-pikir bener juga ya kata lo…”

Bayu menyipitkan mata, menatap tajam ke arah Fajar seolah sedang menginterogasi seorang tersangka kriminal. “Lo jangan bilang… lo baru sadar sekarang? Ke mana aja selama ini, Bos?”

Peringatan dari Bayu itu membuat Fajar mulai merenung. Pikirannya berputar mundur, mengingat satu per satu kejadian janggal dalam beberapa hari ke belakang.

Ia ingat betul bagaimana sang direktur, perempuan anggun bernama Kirana yang biasanya dikenal dingin, kaku, dan sangat ditakuti satu kantor, tiba-tiba mengajukan pertanyaan personal tentang arti sebuah hubungan dan cinta di sela-sela urusan pekerjaan. Nada bicara wanita itu berubah drastis menjadi jauh lebih lembut, hampir seperti berbisik. Wanita itu juga sering kedapatan mondar-mandir atau sengaja berdiri di dekat mejanya dengan alasan yang dibuat-buat. Puncaknya adalah tugas pembuatan surat tempo hari.

Fajar bergumam pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Jangan-jangan…”

Mendengar gumaman itu, Bayu langsung mendekatkan telinganya dengan penasaran. “Apaan? Jangan-jangan apa?”

Fajar menelan ludah, merasa teori di kepalanya mulai masuk akal sekaligus tidak masuk akal secara bersamaan. “Jangan-jangan… Bu Direktur suka sama… orang yang lagi gue suka?”

Bayu yang tadinya berdiri tegak langsung membeku seketika. Ia menatap Fajar dengan tatapan kosong, lalu mendengus keras. “…otak lo muter ke mana sih, Jar?! Jauh banget ke situ jalurnya!”

Belum sempat Fajar membela diri, jam istirahat membawa langkah kakinya menuju pantry kantor untuk meredakan kepenalan di kepala. Di ruangan yang harum dengan aroma seduhan kopi itu, ia tidak sengaja berpapasan dengan Sinta, sekretaris pribadi sang direktur yang terkenal tenang dan serba tahu.

“Pagi, Kak…” sapa Fajar sopan sambil tersenyum kikuk.

Sinta membalas senyuman itu dengan ramah. “Pagi, Pak Fajar. Tumben ke pantry jam segini, biasanya masih sibuk di depan layar.”

Fajar ragu-ragu sejenak sebelum memutuskan untuk mendekat ke dekat mesin pembuat kopi. “Kak… boleh tanya sesuatu gak? Serius nih, tapi jangan bilang siapa-siapa ya.”

Sinta menuangkan air panas ke dalam cangkirnya. “Silakan, asal jangan tanya soal rahasia negara.”

“Menurut Kak Sinta… Bu Direktur akhir-akhir ini kenapa ya? Kok auranya beda banget?”

Sinta mengangkat alisnya sedikit, mempertahankan ekspresi netral yang sulit ditebak. “Memangnya kenapa dengan Bu Direktur?”

“Dia… jadi sering nanya hal-hal yang aneh ke saya. Tentang perasaan, tentang arti cinta, hal-hal yang gak pernah dibahas di kantor sebelumnya.”

Sinta menahan senyuman di balik cangkirnya. Ia menyesap pelan minumannya sebelum menjawab, “Menurut Anda sendiri, kenapa beliau bisa nanya hal seperti itu?”

Fajar menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. “Mungkin… lagi riset buat bikin aturan baru? Atau… lagi banyak baca buku novel romantis?”

Sinta hampir tertawa mendengar jawaban polos itu. Ia menggelengkan kepala pelan. “Pak Fajar… kadang-kadang, seseorang itu berubah bukan karena buku atau instruksi kantor.”

Fajar mengerutkan keningnya, semakin bingung. “Terus kalau bukan karena buku, karena apa dong?”

Sinta menatap mata Fajar lurus-lurus dengan pandangan penuh makna. “Karena seseorang.”

Fajar langsung terdiam. Kalimat singkat itu menggantung di udara, lalu seolah menempel erat di dalam kepalanya tanpa bisa dihapus.

Siang hari menjelang jam kepulangan, ponsel di meja Fajar berdering pelan lewat sambungan interkom. Suara tegas namun lembut khas Kirana memerintahkannya untuk segera menghadap ke ruang kerja direktur.

Fajar berdiri di depan pintu kayu berukir halus itu sambil menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berulah di luar kendali. Tenang… ini cuma pertemuan profesional biasa, batinnya merapal doa.

Duk, duk, duk. Ia mengetuk pintu tiga kali.

“Masuk.”

Fajar mendorong pintu perlahan dan melangkah masuk. Di balik meja kerjanya yang luas, Kirana sedang duduk tegak, menatap lurus ke arahnya. Entah kenapa—begitu manik mata mereka bertemu, jantung Fajar berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Suasana di dalam ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi dari hari-hari sebelumnya.

“Duduk,” perintah Kirana singkat.

“I-iya, Bu…” Fajar menarik kursi di depan meja dan duduk dengan posisi tegang.

Kirana membuka sebuah map merah muda di hadapannya, jemarinya membuka lembaran kertas, tapi sesekali matanya mencuri pandang ke arah Fajar. “Surat yang saya minta kemarin… sudah selesai kamu ketik?”

“Sudah, Bu. Ini draf finalnya.”

“Boleh saya baca sekarang?”

Fajar segera menyerahkan selembar kertas berisikan tulisan tangan yang sudah dipindahkan ke format cetak rapi. Kirana menerima kertas itu dan mulai membacanya dalam keheningan yang pekat. Suara napas mereka berdua terdengar jelas di ruangan kedap suara itu.

“Untuk seseorang yang belum pernah merasakan cinta…

Mungkin kamu tidak tahu bagaimana rasanya…

Tapi ketika rasa itu datang…

Dunia yang tadinya biasa saja… bisa terasa sangat berbeda.”

Kirana berhenti membaca pada kalimat terakhir. Ia mengangkat wajahnya secara perlahan, menatap Fajar dengan tatapan yang menyiratkan ribuan emosi tersembunyi. “Ini… bagus sekali. Kalimatnya jujur.”

Fajar tersenyum kecil untuk menyembunyikan salah tingkahnya. “Makasih, Bu. Saya nulisnya sambil ngebayangin situasi yang… ya, kurang lebih mirip sama apa yang kita obrolin sebelumnya.”

Hening kembali merayap di antara mereka. Tapi kali ini, keheningan itu sama sekali tidak terasa kaku; justru terasa sarat akan ketegangan yang manis.

Kirana menutup map di depannya perlahan, lalu menatap Fajar dengan intens. Suaranya melunak, hampir berbisik. “Pak Fajar.”

“Iya, Bu?”

“Kalau… orang yang dimaksud di dalam surat ini… mulai merasakannya secara nyata…” Kirana menjeda kalimatnya sejenak, menguji reaksi bawahannya itu. “Apa yang harus dia lakukan?”

Fajar tertegun sejenak, meresapi pertanyaan yang terasa sangat personal itu. Ia lalu menjawab dengan nada pelan namun mantap, “Menurut saya… pertama-tama dia harus jujur sama dirinya sendiri dulu, Bu.”

Kirana terdiam, mencerna kata-kata itu. “Lalu?”

“Baru setelah itu… dia harus berani jujur sama orang yang benar-benar dia suka.”

Deg!

Begitu kalimat itu meluncur dari bibirnya sendiri, jantung Fajar tiba-tiba berdegup kencang hingga terasa menyesakkan dadanya. Ada aliran listrik aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tunggu dulu. …orang yang dia suka?

Fajar mulai menyadari sesuatu yang besar. Perlahan tapi pasti, potongan-potongan teka-teki yang berserakan selama beberapa hari terakhir mulai tersambung menjadi satu gambar utuh. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Fajar benar-benar memperhatikan sosok Kirana di hadapannya tanpa penghalang rasa takut sebagai atasan dan bawahan. Ia melihat cara wanita itu berbicara, cara sorot matanya melembut, hingga bagaimana sikap wanita itu berubah drastis hanya kepada dirinya seorang.

“Bu…” kata Fajar pelan, suaranya sedikit bergetar karena gugup.

“Iya, Pak Fajar?” Kirana menatapnya penuh harap, seolah menanti sebuah kepastian.

Fajar merasa ragu, ragu yang amat sangat. Keraguan yang bercampur dengan debaran takut salah duga. “Orang yang Ibu maksud di dalam surat itu… sebenarnya… siapa?”

Waktu di ruangan itu mendadak terasa berhenti. Kirana membuka sedikit bibirnya, bersiap memberikan jawaban yang selama ini dipendamnya rapat-rapat.

Tok, tok, tok!

Suara ketukan pintu yang cukup keras mendadak membuyarkan konsentrasi mereka berdua. Pintu terbuka sebelum sempat ada jawaban, dan Sinta melangkah masuk dengan ekspresi profesional.

“Maaf mengganggu waktu Anda, Bu Direktur. Jadwal rapat mendadak dengan jajaran direksi pusat sudah dimulai di ruang atas,” ucap Sinta tanpa cela.

Kirana langsung menarik napas dalam-dalam, dengan cepat menutup kembali ekspresi rapuh di wajahnya dan kembali memasang topeng profesionalismenya. “Baik. Saya akan segera ke sana sekarang.”

Wanita itu bangkit dari kursi kerjanya, lalu melirik sekilas ke arah Fajar yang masih terpaku di tempat duduknya. “Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti, Pak Fajar.”

Fajar hanya bisa duduk mematung, menatap punggung atasannya yang berjalan meninggalkan ruangan. “…baik, Bu,” jawabnya linglung.

Di luar ruang kerja, begitu Fajar keluar dengan langkah gontai, Bayu langsung menyergapnya dengan rasa penasaran yang menggunung.

“Gimana-gimana?! Ada kemajuan gak? Lo gak dipecat kan?” cecar Bayu beruntun.

Fajar masih berdiri dengan tatapan kosong menerawang ke depan. “Bay…”

“Iya apa, Jar?! Jangan bikin penasaran!”

“Gue kayaknya… mulai ngerti sesuatu yang selama ini salah duga,” ucap Fajar dengan suara lirih.

Bayu mendekat secara dramatis, memegang kedua bahu temannya. “Apaan tuh? Coba pencerahan dikit!”

Fajar menatap Bayu dengan mata serius. “Ibu Direktur… mungkin… sebenarnya lagi butuh teman curhat masalah hidup yang sangat serius.”

Bayu mendengus kesal, lalu langsung melepaskan cengkeramannya dan berjalan menjauh. “…gue menyerah. Otak lo emang udah gak ketolong.”

Di ujung koridor, Sinta yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka melihat interaksi konyol itu dengan senyuman kecil tersungging di bibirnya. Pelan… tapi pasti, batinnya berbisik.

Sementara itu di dalam ruang rapat tertutup, Kirana duduk diam di kursi utamanya. Pikirannya sama sekali tidak tertuju pada lembaran laporan keuangan di hadapannya, melainkan pada sosok Fajar. Ia mengepalkan kedua tangannya di atas meja secara perlahan, menyesali waktu yang terpotong begitu saja.

Harusnya tadi aku bilang yang sebenarnya… batinnya penuh penyesalan. Tapi tenang saja… lain kali, aku tidak akan pernah berhenti.

1
Purnamanisa
keknya seru... save dulu, baca lagi nanti 😁😁
🍓ADIRA🍓
Tenang Na... selagi ada fajar apapun bisa /Smirk//Smirk//Smirk/
🍓ADIRA🍓
Wah kenapa tidak dapat kontrak Thoorr? Ok ttp semangat Thoorr 💪
🍓ADIRA🍓
suapin donk jar 😂😂
🍓ADIRA🍓
Lihat fajar nanti juga langsung menghangat kok bay 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw semangat jar 💪
🍓ADIRA🍓
Ciyyeeee mas 🤭 akwakakakaww 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Harus cerdas lah Ndrong... kan calsu Bu Direktur ☺️
🍓ADIRA🍓
wkkwkw.😂😂 fajar langsung merona tuh Bu Kir 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Ayang mbeb gtu Jar /Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Dirimu yg go publik loh 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk ti ati burungmu terbang jar 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw 🤣🤣🤣 dalam hatinya, Bu Direktur sebenarnya jga seneng tuh dapat pengakuan cinta dari fajar 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
salah mimpi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Susulin gih Na, sebelum fajar semakin merajalela karena rindu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr, perkuat lagi konfliknya biar cerita semakin menarik... semangat /Good//Good/
Hamzah: Ya.. kalau gaada kendala ya😇
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw kecewa ya jar 😅😅
🍓ADIRA🍓
Dan segera lah bergegas ke RSJ kau Bay 🤣🤣🤣
Nona Cloe
heloo qha qha
Hamzah: halo 👋🏻 terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
‎"Surat Cinta Nyasar" — kisah romantis kantor yang bermula dari kesalahan pengiriman surat. Pegawai biasa yang berani menyatakan perasaan justru membuatnya berhadapan dengan Direktur muda yang dingin. Satu kesalahan kecil ternyata bisa membuka pintu kebenaran yang selama ini tertutup. Ringan tapi punya potensi cerita yang menarik! Semangat berkarya Thoorr 🤗
Hamzah: terimakasih dukungannya 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!