Farel Kurniawan, yang dijuluki Dewa Kesenangan — eksistensi di puncak Tujuh Dunia Tanpa Batas — dikhianati muridnya sendiri dan dibunuh dengan cara menghancurkan sebuah Dunia Kecil menggunakan Pagoda Giok yang meledak. Saat kematiannya, ia bertemu Nyai Sekar Lestari, entitas yang jauh melampaui Dewa Sejati, yang memberinya "hadiah": kesempatan kedua. Ia terbangun di tubuhnya sendiri yang berusia 16 tahun, sebagai murid sampah di sekte kultivasi ganda paling rendah, dengan ingatan utuh dan sebuah segel misterius di jiwanya.
Tujuan Farel bukan hanya menjadi kuat lagi. Ia harus memahami siapa yang membawanya ke sekte ini, siapa Roro Ayu Kinasih sebenarnya, dan siapa Nyai Sekar Lestari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 — NAFAS NAGA YANG TERBANGUN
Kultivasi Farel Kurniawan tidak meningkat satu level pun. Basisnya masih berada di level 3 Alam Transformasi Tubuh, terlihat sama menyedihkannya seperti kemarin di mata orang lain.
Tetapi fisiknya, membaik banyak. Sangat banyak.
Jika sebelumnya tubuhnya ini seperti motor matic tua yang olinya tidak pernah diganti — ngos-ngosan menanjak sedikit saja sudah batuk-batuk — maka setelah menelan inti Serigala Jantung Membara dan bermeditasi selama lima jam di dekat Batu Sumber Api itu, tubuhnya terasa seperti baru saja di-service total. Otot-ototnya yang tadinya kaku dan dipenuhi racun sisa dari gigitan ular, kini terasa lebih padat, lebih elastis.
Mengingat betapa menyedihkan kondisi tubuhnya sebelumnya, bisa dikatakan dia membuat kemajuan besar hanya dari satu inti tier 2 level menengah saja. Bagi Farel yang dulu, inti seperti ini bahkan tidak akan ia pungut kalau jatuh di depan kakinya. Sekarang, itu adalah harta karun.
Ia tidak hanya memperkuat otot dan tulangnya. Di sela-sela penyerapan, ia juga menggunakan teknik mendalam warisan Klan Naga Kekacauan — Seni Pemurnian Yang Sejati — untuk meningkatkan kualitas Yang Qi di dalam Dantiannya sebagai persiapan untuk masa depan. Teknik ini tidak meningkatkan jumlah Qi, tapi memurnikan kepekatan dan kemurniannya, seperti menyuling air keran menjadi air murni.
Kondisi "naga yang tertidur" di dalam dirinya — istilah halus yang ia gunakan untuk menyebut "pedang rusaknya", meridian bawahnya yang tersumbat total sejak lahir — juga membaik. Meskipun tidak ada perubahan yang terlihat dari luar, tidak ada cahaya keemasan atau aura yang meledak, ia bisa merasakan jalurnya sedikit lebih hangat. Efektivitas pengobatan total di masa depan akan meningkat 10 hingga 15 persen hanya karena fondasi ini. Dalam dunia kultivasi, 10 persen di awal bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati di akhir.
Karena hari sudah beranjak malam, langit di atas Hutan Gunung Wilis ini berubah menjadi hitam pekat dengan taburan bintang yang jauh lebih terang daripada langit di atas Depok, Farel memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan.
Ia menggunakan sebuah teknik yang pernah ia pelajari di awal sekali perjalanannya sebagai kultivator liar, jauh sebelum ia menjadi Dewa Kesenangan. Saat itu, ia masih butuh tidur, tetapi ia tidak bisa tidur dengan tenang karena kultivator liar adalah target empuk bagi perampok dan binatang iblis. Teknik itu bernama Seni Tidur Harimau Terjaga.
Teknik ini memungkinkan seseorang untuk tidur sambil menjaga tubuh dalam keadaan siap bergerak, otot tetap setengah tegang, dan meningkatkan kewaspadaan pendengaran hingga tiga kali lipat. Kau tidur, tapi kau mendengar langkah semut dari jarak sepuluh meter. Ini adalah teknik yang sama sekali tidak diperlukan bagi seseorang yang telah mencapai Alam Pembentukan Inti dan di atasnya, di mana seorang kultivator bisa sepenuhnya membuang kebutuhan untuk tidur, makan, dan minum. Jadi ia sudah ribuan tahun tidak menggunakannya. Rasanya aneh, seperti seorang CEO yang tiba-tiba harus kembali tidur di kos-kosan dengan kipas angin berisik.
Ia duduk dalam posisi lotus di atas batu besar yang masih hangat oleh kristal oranye itu, punggungnya bersandar pada batu lain, pedang baja pinjaman diletakkan di atas pahanya, matanya tertutup. Nafasnya menjadi teratur.
Sebenarnya ia tidak benar-benar khawatir tentang keamanan malam ini. Ia tahu bahwa praktis tidak ada binatang lain untuk jarak beberapa kilometer dari tempat ini. Bau belerang dan panas dari Batu Sumber Api ini adalah penanda teritorial yang sangat kuat. Dan bahkan jika ada yang mendekat, tidak semua binatang akan menyukai panas menyengat ini. Jika ada binatang ber-aliran api lainnya yang hadir di sekitar, mereka pasti sudah akan terus-menerus bertarung memperebutkan wilayah ini dengan kawanan Serigala Jantung Membara. Jadi keheningan ini adalah keheningan yang aman.
Sedangkan untuk para serigala betina itu, meskipun kecerdasan mereka cukup rendah — yah, seperti kebanyakan pejantan yang kabur duluan tadi — persepsi mereka terhadap bahaya dan insting bertahan hidup sangat tinggi seperti yang ditunjukkan oleh perilaku mereka saat pertemuan. Mereka lari dengan ketakutan yang begitu murni sehingga Farel yakin mereka mungkin belum berhenti berlari bahkan sampai sekarang, mungkin sudah sampai di sisi lain gunung.
Jantan muda yang menyerangnya pertama kali lebih merupakan pengecualian karena tidak berpengalaman dan cenderung berperilaku impulsif karena belum dewasa. Seperti anak muda zaman sekarang yang asal gas tanpa lihat spion.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah menjadi Dewa selama ribuan tahun, Farel bermimpi. Bukan mimpi tentang Tujuh Dunia Tanpa Batas yang hancur, bukan tentang Pagoda Giok yang meledak. Ia bermimpi tentang gerakan pedang Roro Ayu Kinasih Wulandari. Tentang bagaimana jubah putihnya berkibar, tentang tatapan matanya yang dingin namun menyimpan kesedihan yang sama dengan miliknya.
Ia terbangun dengan keringat dingin, bukan karena takut, tapi karena rindu yang menusuk. Rasa rindu yang ia kira sudah ia kubur bersama dengan gelar Dewanya.
Liu Li... Ayu...
Ia menggelengkan kepala dengan keras, mengusir bayangan itu. Romansa urban dewasa yang ia pahami dulu adalah tentang memberi rasa aman, bukan tentang mengikat seseorang dengan masa lalu. Jika Roro Ayu Kinasih memang adalah orang yang ia cari, ia tidak boleh mendekatinya dengan beban masa lalu. Ia harus mendekatinya sebagai Farel Kurniawan yang baru, bukan sebagai Wu Long yang lama.
Selama dua hari berikutnya, Farel melakukan perjalanan lebih jauh ke kedalaman tanah spiritual, menjauh dari jalur misi para murid Pengadilan Luar. Ia seperti seorang pendaki gunung yang sengaja tidak mengikuti jalur pendakian resmi, memilih jalur tikus karena tahu ada air terjun tersembunyi di sana.
Tapi ia tidak seberuntung di hari pertama. Ia tidak dapat menemukan sesuatu yang benar-benar berguna untuk kondisi spesifiknya. Hutan ini memang kaya, tapi kekayaan yang ia butuhkan bukanlah kekayaan umum. Ia butuh harta ber-atribut Yang murni dan ekstrem untuk pedangnya yang rusak, bukan sekadar rumput spiritual biasa.
Saat istirahat, ia juga secara santai mengumpulkan beberapa batang Rumput Jiwa Putih sekaligus untuk akhirnya membawa pulang setidaknya jumlah yang layak untuk misinya. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati, memotongnya di bagian dasar dengan pisau giok kecil pemberian sekte, bukan dengan pedang baja, sehingga akarnya tetap utuh dan tidak rusak karena terkena logam. Adalah sebuah tabu besar dan dosa tak terampuni di dunia kultivasi untuk sepenuhnya menghancurkan harta spiritual dengan cara memanen yang salah. Alat-alat giok yang diberikan sekte saat ini diberikan justru karena alasan itu — giok bersifat netral dan tidak merusak Qi tanaman.
Meskipun jenis tanaman obat ini tidak langka, dan secara alami akan tumbuh kembali di tanah spiritual, ini lebih merupakan kebiasaan dan etika baginya untuk memperlakukan setiap tanaman obat dengan hati-hati. Seperti seorang koki yang menghargai bahan makanannya, bahkan jika itu hanya cabai. Ia juga melihat dan memanen beberapa bahan lain yang bisa ditukar dengan sejumlah poin yang layak di Aula Misi, seperti Jamur Batu Hitam dan Akar Ginseng Liar tingkat rendah, untuk berjaga-jaga jika ia membutuhkannya untuk ditukar nanti agar tidak dicurigai Tetua Hadi Saputro.
Ia membunuh beberapa binatang iblis tingkat 1 yang menyerangnya di perjalanan — kebanyakan Babi Hutan Taring Batu dan Kelinci Tanduk — tetapi karena kebanyakan dari mereka adalah binatang tingkat 1 level rendah, tidak ada inti di dalamnya, hanya daging dan kulit yang tidak ia pedulikan. Namun, ia memang sempat mengadakan barbekyu kecil dengan daging Banteng Tiga Tanduk yang ia buru di hari kedua. Dagingnya yang berotot ia panggang di atas batu panas dari Batu Sumber Api yang ia bawa sepotong kecil, tanpa bumbu apapun.
Rasanya... jujur saja, alot seperti sendal jepit. Tapi efeknya sedikit lebih menguntungkan untuk penguatan tubuhnya daripada pil puasa yang rasanya seperti makan kapur tulis. Ia tertawa sendiri di tengah hutan, membayangkan jika Raden Galang Pramudya melihatnya — seorang mantan Dewa yang dulu makanannya disajikan oleh bidadari, sekarang makan sate banteng tanpa kecap di tengah hutan sambil diusir nyamuk. Komedi modern yang sesungguhnya.
Pada hari keempat, tepat saat ia mulai berpikir bahwa keberuntungannya di hari pertama memang hanya kebetulan, ia menemukan sebuah kesempatan yang sesungguhnya.
Farel berdiri di tepi sebuah tebing terjal seperti dinding panjang yang menghadap ke dataran yang sedikit lebih rendah, sebuah lembah berbatu yang sunyi. Di tengah lapangan berbatu yang tandus itu, ada sebuah gundukan tanah kecil yang tidak wajar. Dan di atas gundukan itu, tumbuh sebuah bunga biru cerah yang memancarkan cahaya biru lembut, berdenyut seperti detak jantung. Cahayanya begitu indah di tengah keburaman batu. Bunga itu adalah Bunga Embun Bulan Biru, bahan utama untuk membuat Pil Penenang Jiwa tingkat menengah.
Dan hanya beberapa meter dari bunga itu, seekor kadal raksasa seukuran mobil Avanza, yang ditutupi dengan sisik ungu tebal yang memberikan kilau logam seperti baju zirah baja, sedang malas berbaring. Kadal Ungu Lidah Biru tingkat 2 level tinggi. Lidah birunya yang panjang sesekali menjulur, menjilati udara. Dari auranya saja, Farel tahu binatang ini sangat beracun dan kulitnya sekeras baja spiritual tingkat rendah.
'Hmm, aku tidak akan bisa memotongnya hanya dengan teknik pedang biasa, karena pedang baja pinjaman ini tidak cukup keras dan tajam untuk memotong kulitnya,' Farel berpikir cepat saat ia mengamati kadal itu dari atas tebing, matanya menyipit menganalisis. Pedang baja standar sekte ini di matanya hanyalah pisau dapur yang dipinjamkan dari warteg.
Kadal Ungu Lidah Biru adalah binatang yang sangat beracun dan berlapis baja tebal, sehingga kualitas pedangnya tidak akan pernah cukup untuk memotongnya tidak peduli seberapa terampil ia menggunakannya. Dan ia tidak mampu memanifestasikan dan menggunakan Qi Spiritual di luar tubuh untuk melapisi pedangnya dan membantu pedang dalam memotongnya. Jika ia memiliki kemampuan itu — kemampuan yang baru didapat di Alam Manifestasi Qi — ia bahkan tidak akan membutuhkan pedang untuk menghadapinya, karena ia bisa dengan mudah memotongnya dengan tangan kosong, seperti memotong tahu.
'Apakah aku harus menggunakan Sword Intent? Tapi dengan tubuhku saat ini, itu cukup melelahkan... dan berisiko. Aku harus memastikan aku tidak perlu bertarung lagi setelah ini, atau aku akan menjadi makanan kadal,' batinnya menimbang-nimbang. Menggunakan Sword Intent di Alam Transformasi Tubuh itu seperti seorang anak SD yang mencoba mengangkat barbel 100 kilogram. Bisa, tapi setelah itu seluruh tubuh akan remuk dan butuh seminggu untuk pulih.
Ia sampai pada sebuah keputusan. Ia tidak langsung menyerang. Ia menghabiskan hampir tiga jam hanya untuk mengamati situasi sekitar dari atas tebing, seperti seorang pemburu profesional. Ia memeriksa arah angin, ia memeriksa apakah ada binatang iblis lain yang mengintai bunga itu, ia memeriksa jalur kabur. Kadal Ungu Lidah Biru itu sendiri tidak bergerak dari posisinya, tetapi semakin gelisah karena ia menyadari ada seseorang yang mengintai dari atas. Aura Farel yang ia sembunyikan masih terasa samar. Namun, ia tidak berani meninggalkan bunga itu dan menyerang duluan, karena bunga itu bisa dicuri oleh binatang lain saat ia pergi. Naluri penjaga harta.
Setelah memeriksa dua kali dan memastikan bahwa ia tidak perlu melawan ancaman lain setelah menghadapi kadal itu, ia akhirnya melompat turun dari tebing, mendarat dengan ringan di lapangan berbatu itu, dan berjalan perlahan mendekati bunga itu.
"Shhhh, shaaa..."
Ketika ia keluar dari bayangan pohon dan semak-semak yang mengelilingi lapangan, kadal itu langsung berdiri dengan empat kakinya yang kekar, menghentakkan tanah, dan mengeluarkan desisan peringatan yang keras, lidah birunya yang beracun sesekali muncul dalam gerakan meliuk yang mengerikan. Racunnya menetes dan membuat batu di bawahnya mendesis.
Farel dengan tenang mengeluarkan pedang baja pinjamannya. Ia tidak mengambil kuda-kuda. Ia justru menutup matanya. Ia menarik napas dalam-dalam, sangat dalam, seolah-olah ia sedang berada di sebuah studio yoga di tengah kota, bukan di hadapan kadal raksasa beracun. Ia tampaknya sama sekali tidak peduli dengan kadal itu, yang justru membuat kadal itu semakin marah karena merasa diremehkan.
Binatang itu tidak melewatkan kesempatan ini. Melihat mangsanya menutup mata, ia bergegas ke arah Farel dengan kelincahan yang sangat mengejutkan, sama sekali tidak terlihat segesit itu dari bentuknya yang besar dan berat. Tanah bergetar di setiap langkahnya.
Ketika binatang itu hanya berjarak beberapa meter darinya — jarak di mana Farel sudah bisa mencium bau busuk racun dari mulutnya — Farel tiba-tiba membuka matanya.
Dan pada saat itu, seluruh dunia seolah berhenti.
Aura yang tak terlihat, namun jauh lebih tajam dari pedang apapun, menyelimuti ruang itu untuk sesaat. Itu bukan Qi. Itu bukan tekanan kultivasi. Itu adalah Sword Intent. Niat Pedang.
Niat murni dari seorang yang telah hidup dengan pedang selama ribuan tahun.
Kadal raksasa itu mendadak berhenti bergerak, sekaku seolah-olah membeku dalam waktu. Matanya yang kuning membelalak. Sekitarnya menjadi sunyi secara tidak alami selama sepersekian detik, seolah-olah semua suara di hutan — angin, serangga, dedaunan — terputus dan waktu melambat menjadi hampir nol.
Hembusan angin lembut bertiup saat suara kembali.
Dan kepala Kadal Ungu Lidah Biru itu terbelah menjadi dua dengan sangat rapi, lukanya sehalus permukaan cermin, bahkan sebelum tubuhnya sempat menyentuh Farel.
Hewan lain sebenarnya akan terbawa inersia saat kehilangan kendali dan jatuh ke depan, tetapi karena gerakan kaki unik kadal ini yang secara efektif menghentikan semua kecepatan dengan setiap langkah dan memulainya lagi untuk langkah berikutnya, memungkinkannya untuk menjaga pusat massanya selalu stabil dan dengan demikian segera berhenti kapan saja tanpa dipengaruhi oleh momentumnya sendiri.
Biasanya kontrol gerakan yang sangat besar seperti itu akan menjadi kekuatan yang membuatnya sulit dikalahkan, tetapi kali ini justru memainkan peran kecil dalam kematiannya yang indah. Karena Farel melakukan gerakan Sword Intent-nya tepat pada saat sepersekian detik di mana kadal itu menghentikan momentumnya dari satu langkah dan bersiap untuk langkah berikutnya — celah kecil di antara dua gerakan. Ini memperkuat efektivitas serangan Farel hingga dua kali lipat, memotong bukan hanya daging, tapi juga momentum.
Farel, di sisi lain, langsung merasakan akibatnya.
Begitu kadal itu jatuh, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya dalam sekejap, dari dahi hingga punggung. Kelemahan dan rasa sakit yang mati rasa yang luar biasa menyerang semua ototnya, seperti habis lari maraton tanpa pemanasan. Ada juga rasa sakit tajam yang menusuk di seluruh lengan kanan yang memegang pedangnya, menjalar hingga ke bahunya dan bahkan turun ke tulang belikatnya, seperti ada ribuan jarum yang menusuk sarafnya.
Ia meletakkan tangan kirinya yang lain di pohon mati di dekatnya untuk menopang dirinya yang hampir ambruk, saat ia terengah-engah dengan napas yang berat dan terputus-putus.
"Fuuuuuuh..., itu... berisiko sekali. Hampir saja kencing di celana," ia bergumam dengan tawa kecil yang dipaksakan, mencoba menutupi rasa sakitnya dengan komedi. Di dalam hati ia mengumpat, 'Sialan, bahkan Sword Intent level paling dasar saja membuat tubuh sampah ini hampir rontok. Dulu aku bisa membelah gunung sambil ngopi.'
Sword Intent tidak terlalu bergantung pada kultivasi atau tingkat penguatan tubuh, itu adalah jenis kekuatan yang jauh lebih abstrak yang berasal dari pemahaman murni seseorang tentang pedang itu sendiri. Tentang apa itu pedang, bukan sekadar senjata, tapi sebuah konsep.
Seseorang harus melalui latihan pedang yang tak terbayangkan selama ratusan tahun, atau memiliki seorang guru yang bakatnya tiada tandingannya dalam mengajar dan pemahamannya tentang pedang mencapai ketinggian yang lebih besar daripada yang bisa dibayangkan — seperti Roro Ayu Kinasih yang gerakan pedangnya membuat jiwa Farel bergetar — untuk mulai memahami Sword Intent, apalagi menggunakannya.
Farel, dengan semua ingatan, pengalaman, pengetahuan, dan pemahaman dari kehidupan sebelumnya sebagai Dewa, secara alami bisa menggunakannya. Ia adalah Grandmaster Pedang di kehidupan lalu.
Tapi meskipun dikatakan tidak bergantung pada basis kultivasi dan tubuh, bukan berarti tidak memberikan beban berat pada penggunanya. Bahkan cukup gila dan bunuh diri untuk menggunakan kekuatan Sword Intent terendah sekalipun di Alam Pengumpulan Qi, apalagi di Alam Penguatan Tubuh seperti sekarang. Tubuhnya belum siap menjadi wadah bagi niat sekuat itu. Namun, pedang baja pinjamannya tidak akan bisa menembus baju zirah kadal itu. Dan ia juga saat ini tidak memiliki kemampuan untuk memanifestasikan Qi Spiritual di luar tubuh, membuatnya tidak mungkin meningkatkan kemampuan memotong pedang dengan teknik pedang menggunakan Qi Spiritual. Sehingga ia hanya bisa menggunakan metode berbahaya ini untuk mengatasinya dengan cepat dan efisien.
Farel kemudian melihat mayat kadal raksasa di depannya dengan ekspresi aneh di wajahnya. Ada sedikit kekecewaan.
'Tidak seluruh tubuh ya? Hanya kepalanya?'
Dia berpikir karena dia hanya berhasil membelah kepalanya menjadi dua alih-alih membaginya menjadi dua dari kepala sampai ekor seperti yang ia niatkan. Sword Intent-nya masih terlalu lemah untuk tubuh ini.
'Yah, setidaknya aku tidak perlu khawatir tentang berkultivasi di sini untuk sementara waktu. Karena wilayah teritorial si malang ini cukup luas dan tidak ada binatang lain yang berani mendekat. Lumayan bisa dipakai untuk kos-kosan gratis malam ini.'
Dia kemudian menyarungkan pedangnya kembali ke pinggangnya. Meskipun ia menggunakan pedang kali ini, itu hanya karena kultivasinya tidak cukup. Untuk menggunakan Sword Intent pada tingkat penguasaan pedangnya yang sebenarnya, biasanya ia bahkan tidak membutuhkan senjata sama sekali. Sehelai daun pun bisa menjadi pedang yang membelah langit.
Saat ia mengeluarkan belati kecil dari tasnya, ia meletakkan satu tangan di salah satu sisik besar di samping kepala kadal, dan dengan sedikit erangan tertahan, karena tubuhnya masih sakit di semua tempat, ia membalikkan kepala itu ke samping, menampakkan sisik yang lebih besar seperti baju besi di punggungnya. Menggunakan belati untuk bekerja melalui luka menganga yang ia buat di kepalanya, turun melalui leher ke perutnya sambil melepaskan sisik-sisik yang lebih besar dari dalam dengan hati-hati.
Ketika ia sampai ke bagian tertentu di perut dekat jantung, Farel memotong lapisan daging yang tebal dan segera mengeluarkan sebuah bola putih seukuran anggur dengan urat-urat ungu yang menyala di seluruh permukaannya yang terlihat seperti kelereng kosmik yang indah.
Ini adalah Neidan Kadal Ungu Lidah Biru. Berbeda dengan inti iblis biasa, Neidan adalah inti kehidupan. Itu sangat beracun dan biasanya perlu dimurnikan dengan api khusus selama berhari-hari sebelum bisa digunakan. Jika ditelan langsung, bahkan kultivator Alam Manifestasi Qi bisa mati keracunan.
Ia melakukan semua itu sambil masih menahan beban dan rasa sakit yang luar biasa yang ia berikan pada dirinya sendiri setelah menggunakan Sword Intent, jadi ia masih kesakitan dan sedikit terengah-engah, keringatnya menetes ke tanah. Alasan ia perlu melakukannya dengan cepat bahkan jika ia harus menunda pemulihan, adalah karena Neidan akan dengan cepat dikuras energinya oleh mayat induknya jika tetap di dalam terlalu lama setelah kematian, dan kualitasnya akan turun drastis.
Ia menyimpan Neidan beracun itu ke dalam kantong giok terpisah dengan hati-hati dan menghela napas lega yang panjang, mengetahui bahwa urusan yang paling mendesak sudah selesai. Ia melihat ke arah Bunga Embun Bulan Biru yang masih memancarkan cahaya biru lembut di tengah lapangan, bunga yang dijaga kadal itu dengan nyawanya.
Senyum tipis yang tulus akhirnya muncul di wajahnya yang pucat.
Dua hari tanpa hasil, dan pada hari keempat, Tuhan masih memberinya kejutan.
BERSAMBUNG...