Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Pagi itu, suasana di divisi pemasaran terasa riuh oleh pembicaraan mengenai kesuksesan proyek kuartal lalu.
Bagas berjalan menyusuri koridor kantor dengan langkah percaya diri seperti milyader.
Sepatu kulit oxford barunya mengilap tertimpa cahaya lampu, dan jam tangan bermerek Swiss di pergelangan tangan kirinya beberapa kali sengaja ia pamerkan saat membetulkan kerah kemeja agar terlihat oleh seluruh karyawan perusahaan.
Namun, fokusnya terpecah saat melintasi meja Rania, seorang manajer pemasaran muda yang baru dipindahkan dari kantor cabang.
Rania terkenal bukan hanya karena kecerdasannya, tetapi juga penampilannya yang selalu modis,
gaun bernilai jutaan rupiah, perhiasan minimalis yang elegan, serta wangi parfum bunga yang lembut namun bertahan lama.
"Selamat pagi, Bagas," sapa Rania halus. Suaranya renyah, dibarengi dengan senyuman manis yang tertuju tepat pada mata Bagas.
Bagas terhenti, agak terkejut dengan sapaan hangat yang tidak biasanya itu. "Eh, selamat pagi, Rania. Ada apa?"
Rania berdiri dari kursinya, melangkah mendekat dengan gaya yang sangat anggun serta dan menggoda.
Matanya melirik pergelangan tangan Bagas. "Wah, jam tangan baru, ya? Tag Heuer edisi terbatas, kan?"
Mata Bagas berbinar seketika. Hatinya melambung tinggi mendapat pengakuan dari wanita seperti Rania.
"Iya, nih. Cuma apresiasi kecil buat diri sendiri setelah proyek kemarin."
"Pilihan yang luar biasa. Berkelas banget," puji Rania seraya menyentuh ujung lengan jas Bagas secara halus,
menyisakan sensasi hangat yang membuat dada Bagas berdebar. "Laki-laki sukses memang harus tahu cara menghargai dirinya sendiri.
Nggak semua orang punya selera sebagus kamu, Gas."
Kata-kata Rania seolah menyindir kesederhanaan Maya secara tidak langsung, dan anehnya, Bagas justru merasa sangat tersanjung.
"Terima kasih, Rania. Kamu sendiri selalu kelihatan sempurna setiap hari," balas Bagas, mencoba memberanikan diri melemparkan pujian balik.
Rania tertawa kecil, suara tawa yang begitu renyah di telinga Bagas.
"Ah, bisa saja kamu. Oiya, siang ini kamu ada acara makan siang nggak? Aku mau minta saran soal presentasi untuk klien besok. Sekalian aku mau traktir kamu kopi di kafe bawah."
"Sama sekali nggak sibuk! Boleh, nanti kita jalan bareng jam satu ya," jawab Bagas cepat tanpa berpikir dua kali.
Jam menunjukkan pukul satu siang. Di sebuah kafe eksklusif di lantai dasar gedung perkantoran,
Bagas dan Rania duduk berhadapan. Rania tampak lihai memainkan perhatian.
Ia menyandarkan dagunya di atas telapak tangan, menatap Bagas dengan binar mata yang penuh rasa tertarik.
"Kamu tahu nggak, Gas?" bisik Rania pelan, condong ke depan.
"Sejak pertama kali aku pindah ke kantor ini, cuma kamu staf laki-laki yang punya aura pemimpin sejati. Pekerja keras, punya visi, dan tahu cara berpenampilan."
Bagas tersenyum canggung, namun menyukai tiap kata yang keluar dari bibir Rania. "Masa, sih? Aku biasa saja, Rania."
"Jangan rendah hati gitu, dong," puji Rania lagi. Jemarinya yang lentik dengan kuku terawat rapi memegang cangkir kopinya.
"Cowok sehebat kamu itu harus didepan dan didampingi orang yang sepadan. Yang bisa bikin kamu makin bersinar, bukan malah menarik kamu ke bawah."
Bagas terdiam sejenak. Pikiran tentang Maya yang mengenakan gaun krem sederhana di acara pesta kantor langsung membayang di kepalanya.
Kontras antara Maya dan Rania terasa makin lebar bagaikan bumi dan langit.
"Kenapa melamun, Gas? Ada yang salah?" tanya Rania lembut, menatap tajam mata Bagas.
"Nggak... nggak ada apa-apa," jawab Bagas terbatap. "Cuma... kata-kata kamu ada benarnya juga."
"Tentu saja benar," senyum Rania makin mengembang.
Ia menyentuh tangan Bagas yang tergeletak di atas meja secara terang-terangan, membelainya perlahan.
"Kalau kamu butuh teman ngobrol, teman diskusi, atau teman jalan yang bisa imbangi kamu... aku selalu ada buat kamu, Bagas."
Perlakuan manis dan godaan halus Rania meracuni pikiran Bagas.
Rasa bersalah pada Maya yang sempat tersisa di hatinya perlahan menguap, tergantikan oleh rasa bangga yang semu karena merasa akhirnya diperlakukan seperti pria sukses oleh wanita sesempurna Rania.