NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30: Suasana Cair di Apartemen Baru

Malam di rumah sakit selalu punya suasana berbeda. Bau obat, cairan antiseptik, dan sesuatu yang dingin, seperti sisa-sisa harapan tertinggal di setiap sudut.

Lampu neon memantul pucat di lantai. Jam dinding berdetak terlalu keras.

Damar dan Sully sudah pulang sejak tadi. Mereka pamit dengan wajah tegang, janji akan kembali esok hari.

Sekarang tinggal kami.

Aku duduk di kursi kayu ruang rawat inap, punggungku pegal. Hendra berdiri bersandar di tembok, tangan terlipat di dada. Jefry mondar-mandir di dekat ranjang Shinta.

Shinta terbaring diam, belum sadar.

Selang infus menancap di lengannya.

Dokter barusan pergi, meninggalkan kalimat yang membuat bulu kudukku berdiri.

“Secara medis, saya belum menemukan petunjuk apa pun.”

“Semua hasil normal. Kami rawat inap dulu untuk observasi,” tutupnya sebelum ia pergi meninggalkan ruangan.

Observasi.

Kata yang mungkin hanya sebatas formalitas.

Aku mendekat ke ranjang Shinta. Terlihat jelas wajah pucat dengan bibir kering. Beberapa saat, aku teringat bagaimana kakinya berdarah di apartemen, namun luka itu lenyap begitu saja di IGD.

“Gas,” suara Hendra rendah, “Menurut lu, ini masih nyambung sama yang di Spring Town?”

Mendengar pertanyaan Hendra, aku tidak langsung menjawab.

Jefry berhenti mondar-mandir. “Kalau lo mau bilang ini hantu lagi, mending diem deh,” tiba-tiba ia marah kepada kami.

“Tapi, Bang. Dokter aja nggak tau, Shinta kenapa? Wajar dong kalo gua curiga. Ini nggak normal. Kalo cuma mimisan, oke lah, tapi kalo kupingnya juga?” Hendra berusaha mendebat tapi suara masih pelan.

Tak memiliki jawaban, Jefry hanya diam.

Suasana hening pun kembali tercipta.

Namun beberapa saat kemudian, Jefry minta kami untuk pergi.

“Mending kalian ke apartemen yang baru aja deh, taro barang-barang. Kita juga belum serah terima kunci unit juga,” usulnya.

“Percuma juga kalian di sini, tambah bikin pusing doang,” lanjut Jefry kemudian duduk di samping ranjang.

Hendra masih ragu. “Lo yakin, Bang. Nggak apa-apa kita tinggal?”

Jefry tidak merespons. Ia hanya mengangkat kedua tangan, menutup wajahnya.

“Ya udah. Gua sama Bagas ke apartemen dulu ya, naro barang-barang. Mandi sebentar, habis itu balik lagi ke sini,” kata Hendra.

Namun ternyata Jefry melarang. “Nggak usah, besok aja kalian ke sininya.”

Aku menatap Shinta sekali lagi sebelum pergi. Hatiku terasa berat, seperti meninggalkan seorang teman di medan perang yang tak terlihat.

***

Perjalanan menuju apartemen baru terasa ganjil. Jalanan lengang. Lampu kota berpendar seperti mata-mata yang mengawasi.

Nama apartemennya tertera dengan ukuran font cukup besar di gerbang, “Aromatic Square”.

“Akhirnya kita bisa tidur nyenyak, Gas,” gumam Hendra sambil memutar kemudi, masuk ke dalam area dalam gedung.

Mobil terparkir di basement.

Kami sudah sepakat untuk mengangkut barang dua kali karena jumlahnya tidak mungkin kami lakukan sekali jalan.

Setelah turun dari mobil, kami berjalan menuju lobi. Situasi jauh berbeda dari Spring Town. Suasana ramai, kami pun dengan mudah menemukan resepsionis standby di tempatnya.

Hendra segera mengurus masalah serah terima kunci unit apartemen yang kami sewa.

Kami melanjutkan menuju lift, tapi terdapat pemandangan cukup menyita perhatianku.

“Bang, banyak cewek-cewek seksi,” bisikku.

Rupanya Hendra sudah menyadari dari tadi. “Mantep-mantep, Gas.” Wajahnya terlihat senyum nakal.

Kami berdiri di depan lift Aromatic Square. Pintu stainless masih tertutup rapat, lampu indikator di atasnya berkedip pelan.

Di sekeliling kami, beberapa orang lain ikut menunggu. Pasangan pria dan wanita berdempetan tanpa canggung, tangan saling membelai seakan dunia milik mereka berdua.

Di sudut lain, dua perempuan berpakaian sangat minim berdiri sambil tertawa kecil. Tato merambat di lengan dan paha mereka, aurat diumbar tanpa beban.

Aku menelan ludah.

Tas ransel di pundakku terasa makin berat. Akhirnya ku turunkan ke lantai.

Di sini aku hanya melirik Hendra. Dia juga menatapku. Kami sama-sama memilih diam. Berbisik pun rasanya mustahil, lobi ini terlalu terbuka, sempit. Semua suara seperti punya gema sendiri.

Dalam hati, aku bergumam, “Apartemen macam apa ini.”

Seorang pria berambut klimis menoleh ke arah kami sebentar, lalu kembali merangkul pasangannya. Salah satu perempuan bertato menatapku sekilas, bibir melengkung tipis. Bukan senyum ramah biasa, seperti senyum yang mengharapkan sesuatu.

Lift berbunyi, “Ding”

Pintu terbuka. Kami masuk bersama yang lain. Aroma parfum bercampur rokok dan alkohol menyeruak. Aku menahan nafas, memegang gelang serabut di pergelangan tanganku. Entah kenapa, refleks itu kini selalu datang saat aku gelisah.

“Lantai berapa A’?” tanya seorang pria.

“Enam,” jawab Hendra singkat.

Tombol ditekan.

Pintu sudah tertutup. Lift bergerak naik. Candaan kecil masih terdengar. Dengan suara dengung mesin dan nafas orang-orang yang terlalu dekat.

Ramai begini, pikirku, tidak mungkin ada kejadian horor akan terjadi di sini.

Keyakinan muncul begitu saja, seperti sugesti yang ingin ku terima mentah-mentah.

Setelah beberapa kali berhenti, akhirnya lift terbuka di lantai enam. Kami sebagai orang ketiga yang keluar dari lift.

Lorongnya terang, dinding bersih, karpet abu-abu muda. “Nomor dua belas,” kata Hendra.

Kami berjalan, menemukan pintu dimaksud.

“Klik”

Pintu terbuka. Unit sederhana, tidak semewah apartemen Spring Town. Bahkan aku melihat hanya ada dua kamar dan ruang tengah kecil untuk menonton televisi dengan sofa panjang di depannya.

Dapur mungil ada di tepat sebelah pintu masuk. Semua terlihat normal.

“Cuma dua kamar,” kata Hendra sambil menaruh tas. “Ya udah lah, nanti kita pikirin lagi”, responku.

Kami meletakkan barang seadanya. Tidak ada yang ingin berlama-lama. Entah kenapa, meski tempat ini terang dan bersih, hatiku tetap tidak sepenuhnya tenang karena memikirkan kondisi Shinta.

“Kita turun lagi,” kataku. “Ambil sisa barang.”

Tak butuh waktu lama, kami sudah berada di depan lift, turun ke lobi. Pemandangan itu kembali terlihat. Wanita pakaian minim berlalu-lalang.

Sebagian baru datang, ada pula yang sepertinya ingin pergi dari apartemen dengan membawa tas kecil di pinggang.

Tawa pecah sebentar lalu lenyap. Seperti adegan diputar berulang.

Hendra mendekat, suaranya sangat pelan, “Gas.”

“Lo mikir sama kayak gua nggak?”

Aku meliriknya sebentar, lalu menatap lurus ke depan. Tersenyum kecil.

Kami keluar lobi, menuju mobil. Udara luar terasa lebih hangat. Hendra akhirnya bicara lebih lepas.

“Ini kayaknya, apartemen, isinya jablay semua deh, Gas. Tempat open BO,” katanya setengah berbisik, sambil bercanda, tapi dari nada bicara, aku tahu ia berbicara serius.

“Bisa jadi, Bang,” jawabku pelan. “Kita lepas dari setan arwah, sekarang malah masuk alam setan maksiat.”

Hendra tertawa geli.

Aku bahkan sudah lupa, kapan terakhir kami bisa tertawa lepas seperti ini.

Aku berjalan di sebelah Hendra setelah kami turun dari mobil, sambil membawa tas milik Jefry dan Shinta. Udara Bandung malam itu terasa lembab, dinginnya menempel di kulit seperti embun yang enggan pergi.

Gedung apartemen Aromatic Square menjulang di hadapan kami, tinggi, putih, dan terlalu ramai untuk ukuran hunian. Lampu-lampu di beberapa jendela menyala terang, seakan memberi tanda bahwa kehidupan sedang berjalan.

Langkah kami menggema di pelataran parkir. Setiap suara sepatu terasa berlebihan, dipantulkan dinding beton dingin. Hendra tertawa kecil, memecah kesunyian sejak tadi menekan pikiranku.

“Gas, nanti gua install Michat ah, penasaran,” katanya santai, seakan sedang membicarakan cuaca.

Kami tahu maksud aplikasi itu. Sedikit terkejut, aku hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap pintu masuk apartemen otomatis terbuka seperti mulut kaca.

Dalam hati aku bergumam, meski Hendra rajin salat dan rajin menyebut nama Tuhan, ternyata kesetiaan bukan bagian dari ibadah yang ia jaga.

Lift membawa kami naik perlahan. Cahaya di dalam berpendar sangat terang. Angka lantai bergerak lamban, disertai bunyi dengung mesin terdengar halus.

Ketika pintu unit terbuka, udara dingin ac yang sudah dinyalakan langsung menyergap. Aroma pengharum ruangan terasa segar, menusuk hidung.

Kami langsung beberes, lalu mandi. Setelahnya, aku menyalakan televisi. Niat bersantai sambil memegang handphone, memberi kabar kepada Delia.

Layar menyala dengan suara statis sebelum berpindah ke siaran berita lokal.

Hendra ikut duduk di tepi sofa, menunduk terpaku pada handphone digenggaman. Jarinya bergerak cepat.

“Gua udah download, Gas,” katanya. “Tarifnya cuma tiga ratus ribuan. Murah banget buat spek kayak yang tadi kita lihat.”

Aku menoleh. Senyum di wajahnya membuat perutku terasa tidak enak, seperti ada sesuatu salah tempat. Aku mengganti siaran televisi, mencari tontonan lain.

“Lo beneran mau main, Bang?” kataku pelan, berusaha tetap tenang. “Mending nggak usah lah, Bang. Sayang juga duitnya.”

Hendra justru merespon dengan senyuman yang semakin membuatku geli.

Untuk mengalihkan pembicaraan, aku teringat tentang hilangnya tulisan ghaib yang ditulis oleh Ratna.

“Eh ya bang, gua mau kasih tau. Kalo tulisan arwah di apartemen kemarin, tiba-tiba aja hilang, Bang.”

Mungkin karena terlalu sibuk dengan aplikasi Michat yang baru diunduh olehnya, ia tak menanggapi serius.

“Lho, kok bisa, Gas?” responnya singkat, menoleh sebentar, tapi kemudian kembali fokus ke ponsel.

Melihat respons Hendra, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan obrolan.

“Nggak tau juga, Bang. Tapi nanti gua coba cari lagi deh, mungkin cuma keselip,” ucapku.

Kali ini Hendra bahkan tidak membalas ucapanku. Ia malah menyodorkan layar ke wajahku. “Nih, Gas. Mantep banget ya. Tapi gua masih takut sih, zonk. Foto sama aslinya beda.”

Aku hanya tersenyum kecil, “Sialan lu, Bang,” gumamku dalam hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!