NovelToon NovelToon
Aetherist: Takdir Para Terpilih

Aetherist: Takdir Para Terpilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:124
Nilai: 5
Nama Author: seravya

Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.

Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.

Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.

Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.

Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.

Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Penguasa palsu

"Hah... hah..."

Airyn tersentak bangun. Ia terduduk di atas kasur kayu sederhana, memegangi kepalanya yang masih terasa berat diiringi gema dengungan halus di telinga.

Pandangannya mengedar meneliti sekeliling ruangan baru yang belum familier. Ia mengingat kembali hari kemarin: kepindahannya dari panti, pembicaraannya yang gila dengan pria bernama Kaelen, hingga pertunjukan sihir air yang di luar nalar.

Namun, saat ia mengamati seisi kamar, sosok pria itu sudah tidak ada.

Airyn mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Hahaha... sepertinya aku baru saja mengalami mimpi panjang yang sangat aneh."

Ia tertawa kecil meratapi pikirannya sendiri, memutuskan untuk menganggap seluruh kejadian semalam hanyalah bunga tidur akibat stres berlebih.

Airyn bangkit dari ranjang dan menyibak sedikit tirai jendela. Di luar masih gelap gulita, mungkin baru sekitar pukul dua atau tiga pagi. Ia mencoba berbaring kembali, tetapi rasa kantuknya hilang total. Berbagai rentetan kejadian aneh yang terus berputar di kepalanya membuat pikirannya terlalu riuh.

Akhirnya, Airyn memutus untuk keluar kamar. Ia menyampirkan jaket tebalnya untuk menghalau embus angin malam yang menusuk tulang, lalu duduk di lantai kayu teras penginapan yang mengarah langsung ke dermaga. Ia bermaksud menikmati ketenangan pagi, menunggu fajar menyingsing sembari mengamati nelayan yang merapat atau kapal pembawa bahan makanan.

Namun, di tengah ketenangan itu, pandangan Airyn mendadak menangkap pergerakan yang mencurigakan.

Beberapa sosok pria berzirah prajurit menunggangi kuda melintas lambat di kegelapan dermaga. Di belakang mereka, belasan prajurit berjalan kaki mengangkut karung-karung goni yang tampak sangat berat? Satu karung bahkan harus digotong oleh dua orang sekaligus.

Rasa penasaran Airyn membuncah. Ia beranjak diam-diam dari teras, menyusuri sudut-sudut gelap dermaga sembari bersembunyi di balik semak dan batang pohon besar untuk menyamarkan pergerakannya.

"Sudah semuanya?" tanya sosok prajurit penunggang kuda yang berdiri paling depan. Pakaiannya tampak lebih mewah dari yang lain, menandakan posisinya sebagai kapten atau komandan pasukan.

"Sudah beres semua, Tuan! Semuanya sudah dipindahkan," balas seorang prajurit. Mereka tampak sedang menunggu kedatangan kapal pengangkut di tepi dermaga.

Srek!

Dedaunan semak tersapu pakaian Airyn.

"Siapa itu?!" jerit sang kapten prajurit mendadak, kepalanya memutar tajam ke arah suara.

Kapten itu mencabut pedangnya dan melangkah perlahan menghampiri semak tempat Airyn bersembunyi. Saat ia menyibak dedaunan, tidak ada siapa-siapa di sana, tetapi rasa curiga membuatnya hendak menyelidiki lebih jauh kawasan tersebut.

"Tuan! Kapalnya sudah tiba!" Seru seorang prajurit dari tepi dermaga.

Kapten itu menghentikan langkahnya, mendengus pelan, lalu berbalik mengabaikan semak-semak demi menuntaskan tugasnya.

Di sudut lain, jantung Airyn serasa hendak melompat keluar. Sebelum kapten itu menemukannya tadi, sesosok tangan besar yang sangat kuat mendadak membungkam mulutnya dan membawanya bergerak cepat bagai bayangan. Menariknya jauh dari dermaga dan melemparkannya kembali ke dalam kamar penginapan.

Airyn terduduk di lantai kamar dengan napas berantakan. Wajahnya pucat pasi mengingat betapa dekatnya ia dengan bahaya.

Dan di depannya, berdiri pria yang hampir membuatnya mati berdiri karena kaget—Kaelen. Pria yang kemarin mengklaim dirinya sebagai pamannya.

"Kau... membuatku kaget setengah mati!" bisik Airyn terengah-engah.

"Maafkan aku," ucap Kaelen penuh kecemasan.

"Tapi tindakanmu tadi sangat berbahaya, Airyn! Bagaimana kalau kau tertangkap oleh prajurit-prajurit itu?"

Airyn tak langsung menjawab. Ia masih sibuk mengatur napasnya yang memburu, memproses kenyataan bahwa pria ini ternyata nyata—bukan sekadar bunga tidur seperti yang ia harapkan. Gadis itu beranjak duduk ke tepi ranjangnya.

"Siapa mereka sebenarnya?" tanya Airyn akhirnya, memecah hening.

Kaelen terdiam sejenak. Raut wajahnya berubah keruh dan penuh beban. "Ceritanya sangat panjang..."

"Bisakah kau tidak memutar-mutar kalimat dan langsung jujur saja padaku?" potong Airyn ketus, matanya menatap tajam karena frustrasi.

Menyadari keseriusan dan kekesalan gadis di depannya, Kaelen menghela napas panjang. Pria itu menggeser posisi dan duduk di tepi kasur persis di samping Airyn.

"Apa kau akan percaya... jika kukatakan bahwa ibuku adalah Ratu Tidebay, aku adalah seorang Pangeran, dan kau adalah seorang Putri Mahkota?"

"Pfft!" Airyn tak sanggup menahan tawa sinisnya.

"Dongeng kerajaan macam apa lagi ini?"

Namun, tawa Airyn perlahan memudar. Wajah Kaelen sama sekali tidak menyunggingkan senyum; matanya memancarkan keseriusan dan kedukaan yang sangat mendalam.

"Astaga... kau tidak sedang bercanda, kan?" bisik Airyn terbata-bata saat menyadari kenyataan pahit di balik tatapan pria itu.

Sementara itu, di dalam aula megah Istana Utama Tidebay

"Lapor yang mulia Lord Grance, kami telah berhasil mengamankan seluruh pasokan emasnya," ucap sang kapten prajurit seraya berlutut berhadapan dengan penguasa takhta.

Di atas singgasana berukiran mewah, duduk seorang pria tua berpakaian serba mewah. Rambutnya telah memutih seluruhnya, namun parasnya memancarkan keangkuhan dan kekejaman yang tak terkikis usia. Dialah Lord Grance, sang penguasa yang merebut wilayah Tidebay dengan penghianatan.

Lord Grance tersenyum puas. "Bagus sekali, Kapten. Itu adalah sisa-sisa harta terakhir peninggalan silsilah bangsawan Tidebay yang lama. Sekarang, semuanya resmi menjadi milikku!"

Pria tua itu tertawa terbahak-bahak, menyuarakan keserakahannya yang membumbung tinggi.

"Selamat, Yang Mulia," sahut sang kapten. Namun, suaranya menyisakan keraguan. "Hanya saja... ada satu hal yang membuat hamba risau."

"Apa yang membuatmu ragu, Kapten?" tanya Lord Grance, menghentikan tawanya.

Sang kapten maju beberapa langkah, menyodorkan sebuah sapu tangan kain. Di atas kain itu, terbaring sehelai benang halus berwarna biru serenity terang yang ia temukan tersangkut di dekat semak dermaga saat mengecek kembali.

"Lihatlah ini, Tuanku."

Lord Grance menyipitkan mata, lalu matanya membelalak kaget saat mengenali rona warna yang sangat ia benci sekaligus takuti.

"Hamba ragu apakah ini benang pakaian atau helaian rambut murni, Tuanku," bisik sang kapten hati-hati. "Jika ini benar-benar helai rambut... apakah ada kemungkinan keturunan garis darah itu masih ada yang—"

"TIDAK! Mereka semua sudah mati!" Bentak Lord Grance murka, memotong ucapan bawahannya hingga gema suaranya memantul di dinding aula.

Sang kapten langsung menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani menatap mata junjungannya.

Lord Grance memegangi tongkat kebesarannya rapat-rapat, matanya berkilat penuh dendam.

"Sisir seluruh sudut Tidebay tanpa terkecuali," perintah Lord Grance dengan nada dingin dan tanpa penyesalan. "Jika kau menemukan siapa pun yang memiliki surai berwarna biru serenity itu, tak peduli jika itu hanya seorang gadis atau anak kecil, habisi mereka langsung ditempat. Biarkan seluruh dunia menyaksikan bahwa takhta wilayah ini adalah milik Lord Grance!"

"Siap, saya akan laksanakan, Tuanku!"

Sang kapten membungkuk hormat lalu berbalik melangkah keluar istana, siap menyebar pasukannya untuk memulai pembantaian dan perburuan terhadap siapa saja yang menyimpan rahasia surai biru serenity itu.

1
Nizam Rayna
pada suatu hari ada hidup binatang rusa dia sedang berjalan di
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!