NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vvhiiiiivhy

Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Catur di Atas Meja Darah

Aroma teh hitam bercampur mint menguar di dalam ruang kerja pribadi Duke Killian. Ruangan itu luas, namun terasa menyesakkan karena dominasi warna kayu gelap, tirai beludru merah tua, dan tumpukan dokumen rahasia militer yang tersusun rapi di sudut-sudut meja. Di balik meja besar itu, sang tirani berdarah dingin duduk dengan keanggunan seorang predator yang sedang mengamati mangsanya.

Elena duduk di hadapannya, menegakkan punggung tanpa menunjukkan setitik pun kegoyahan. Di kehidupan pertamanya, melihat pria ini dari kejauhan saja sudah cukup membuat bulu kuduknya berdiri. Namun kini, setelah mengecap dinginnya lantai penjara bawah tanah dan panasnya kobaran api yang menghanguskan dagingnya sendiri, rasa takut adalah kemewahan yang telah lama ia buang.

"Anda tidak menyentuh teh Anda, Nona Elena," suara Killian memecah keheningan, berat dan bergaung rendah. Mata elangnya yang sewarna badai menatap cangkir porselen di depan Elena yang masih mengepulkan uap tipis. "Apakah Anda takut saya menaruh sesuatu di dalamnya?"

Elena tersenyum tipis, sebuah senyuman formal yang tidak mencapai matanya. "Jika Duke Killian ingin menghabisi nyawa saya, Anda tidak akan menggunakan metode pengecut seperti racun di dalam teh. Pedang Anda jauh lebih cepat dan mematikan."

Satu alis Killian terangkat. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi besar bersandaran tinggi, melipat tangan di depan dada. Ada binar ketertarikan yang jarang terjadi di dalam matanya yang biasanya sedingin es. "Anda sangat percaya diri untuk seseorang yang baru saja lolos dari jebakan suaminya—ah, maaf, maksud saya, calon suami Anda, Pangeran Gavin."

Mendengar nama Gavin, kilatan kemarahan yang pekat melintas di mata Elena sebelum akhirnya ia redam kembali. Tangan yang tersembunyi di balik lipatan gaun sutranya mengepal erat, kuku-kukunya memutih menahan amarah yang bergejolak.

"Gavin bukan siapa-siapa tanpa pengaruh keluarga saya, Yang Mulia," ujar Elena, suaranya sedatar dan setajam belati. "Dia hanyalah pangeran yang terabaikan, singa ompong yang mencoba mengaum menggunakan taring orang lain. Alasan saya datang ke kediaman Duke malam ini adalah untuk memastikan taring itu dicabut sebelum dia sempat memakainya."

"Menarik," Killian memajukan tubuhnya, menumpukan kedua siku di atas meja kayu ek yang kokoh. "Lalu, apa langkah pertama dari aliansi kita yang luar biasa ini? Informasi dari mata-mata saya mengatakan bahwa Gavin baru saja mengamankan kesepakatan rahasia dengan para pedagang dari wilayah Barat untuk memasok senjata ke ibu kota secara ilegal. Dia sedang membangun fondasi militernya sendiri secara diam-diam."

Elena mengangguk pelan. Di kehidupan masa lalunya, Gavin menggunakan pasokan senjata ilegal dari Barat ini untuk mempersenjatai pasukan pemberontak pribadinya, yang kemudian mengepung istana saat Kaisar jatuh sakit. Saat itu, Elena-lah yang membiayai seluruh operasi tersebut karena terbuai oleh janji manis Gavin. Kali ini, jalurnya akan diubah secara radikal.

"Senjata-senjata itu tidak akan pernah sampai ke tangan Gavin," kata Elena dengan nada penuh kepastian. "Gavin menggunakan jalur perdagangan melintasi Lembah Kabut. Dia berpikir wilayah itu berada di luar pengawasan ordonansi kekaisaran karena medannya yang berbahaya."

"Bagaimana Anda bisa tahu tentang Jalur Lembah Kabut?" selidik Killian, tatapannya menajam, mengunci pergerakan Elena seolah mencoba membaca apakah wanita di hadapannya ini sedang berbohong atau menjebaknya. Jalur tersebut adalah rahasia militer tingkat tinggi yang bahkan hanya diketahui oleh segelintir petinggi kekaisaran.

Elena tidak berkedip. "Saya memiliki sumber informasi yang tidak bisa saya bagikan, Yang Mulia. Namun, yang perlu Anda ketahui adalah kebenarannya. Gavin berencana memindahkan muatan tersebut pada malam bulan mati, tepat tiga hari dari sekarang. Dia akan menyamar sebagai kafilah dagang kain sutra."

Killian terdiam sejenak, menimbang-nimbang kata-kata Elena. Keheningan malam merayap di antara mereka, hanya diinterupsi oleh detik jam dinding kuno yang berdetak monoton.

"Jika informasi Anda meleset, Nona Elena, Anda tahu apa konsekuensinya bagi aliansi kita?" ancam Killian dengan nada santai namun mengandung tekanan yang luar biasa. "Saya tidak suka membuang waktu dan prajurit saya untuk sebuah rumor kosong."

"Jika informasi saya salah, Anda boleh mengambil kepala saya sebagai gantinya," jawab Elena tanpa keraguan sedikit pun. "Namun jika saya benar, saya ingin Anda mencegat muatan tersebut, menyitanya atas nama Ordo Ksatria Hitam Anda, dan menyisakan satu peti berisi dokumen transaksi palsu yang mengaitkan pengiriman tersebut dengan adik tiri saya, Cynthia, dan pelayan setianya."

Mendengar nama Cynthia, seringai tipis muncul di sudut bibir Killian. "Ah, adik tiri Anda yang berwajah polos namun berhati rubah itu? Mengapa melibatkan dia sekarang?"

"Gavin sangat mencintai Cynthia—atau begitulah yang mereka pamerkan di belakang saya," Elena mendengus sinis, mengingat bagaimana di kehidupan pertamanya, Gavin dan Cynthia bermesraan di atas penderitaannya saat ia membusuk di dalam sel. "Gavin sangat berhati-hati. Jika pengiriman itu langsung dituduhkan kepadanya, dia akan dengan mudah mengorbankan pion kecil untuk membersihkan namanya. Tetapi jika bukti-bukti itu mengarah pada Cynthia, Gavin akan dipaksa memilih: menyelamatkan wanita yang dicintainya dan mempertaruhkan reputasinya sendiri, atau membuang Cynthia demi menyelamatkan posisinya."

"Sebuah dilema yang indah," gumam Killian, tampaknya mulai menikmati permainan catur politik yang diajukan oleh Elena. "Menghancurkan kepercayaan di antara dua pengkhianat sebelum mereka sempat naik ke puncak. Anda benar-benar kejam, Nona Elena. Saya hampir kasihan pada calon suami Anda."

"Mereka belum melihat apa-apa, Duke," bisik Elena, matanya berkilat memancarkan aura dingin yang pekat, membuat Killian menyadari bahwa wanita di hadapannya bukan lagi Nona Muda naif yang bisa dipermainkan oleh dunia. Elena yang sekarang telah ditempa oleh api neraka.

Killian berdiri dari kursinya, berjalan perlahan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah kota kekaisaran yang gemerlap di bawah kegelapan malam. Jubah hitamnya melambai ringan seiring pergerakannya. "Baiklah. Saya akan mengirim pasukan elit Ksatria Hitam untuk memantau Lembah Kabut dalam tiga hari ke depan. Jika kafilah itu muncul seperti yang Anda katakan, rencana Anda akan dijalankan tanpa celah."

Pria itu berbalik, kembali menatap Elena. "Tetapi ada satu hal yang mengganjal di pikiran saya. Mengapa Anda begitu terburu-buru menghancurkan Gavin sekarang? Pernikahan Anda dengannya masih tiga tahun lagi. Anda memiliki banyak waktu untuk membatalkannya dengan cara yang lebih damai."

Elena ikut berdiri, merapikan gaunnya sebelum membungkuk hormat sebagai tanda pamit. "Karena kematian yang cepat terlalu baik untuknya, Yang Mulia. Saya tidak ingin sekadar membatalkan pernikahan. Saya ingin mencabut setiap helai bulu sayapnya, membiarkan dia merangkak di atas tanah yang berlumpur, menyaksikan semua impian besarnya hancur menjadi abu di depan matanya sendiri, sama seperti yang pernah dia lakukan kepada saya."

Killian terpaku mendengar intensitas kebencian dalam suara Elena. Kata "pernah dia lakukan kepada saya" terdengar aneh, mengingat Gavin belum melakukan apa pun yang fatal di masa kini. Namun sebelum Killian sempat bertanya lebih lanjut, Elena sudah berbalik menuju pintu keluar.

"Terima kasih atas tehnya, Yang Mulia Duke Killian. Kita akan bertemu lagi setelah Lembah Kabut berdarah," ucap Elena seraya membuka pintu ruang kerja.

Saat pintu tertutup rapat, Killian kembali ke mejanya. Di atas meja tersebut, terdapat papan catur perak dengan pion-pion yang tersusun acak. Killian mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam, mengambil pion Raja putih—yang merepresentasikan Gavin—dan menjatuhkannya dengan sentuhan jari yang pelan namun bertenaga.

"Elena..." Killian menyebut nama itu dengan nada yang hampir menyerupai bisikan angin malam. "Mari kita lihat, seberapa jauh seekor domba yang terluka bisa berubah menjadi serigala yang mengoyak kekaisaran ini."

Sementara itu, di kereta kuda yang membawanya kembali ke kediaman keluarga Earl, Elena menyandarkan kepalanya ke dinding kereta yang empuk. Tirai kereta yang sedikit terbuka memperlihatkan pemandangan jalanan ibu kota yang mulai sepi.

Langkah pertama telah diambil. Menggandeng Duke Killian adalah keputusan yang paling berisiko yang pernah ia buat, karena pria itu bagaikan api—jika salah melangkah, Elena sendiri yang akan hangus terbakar. Namun, hanya kekuatan militer dan otoritas mutlak milik Killian yang mampu menandingi kelicikan Gavin di masa depan.

"Gavin, Cynthia..." Elena berbisik pada kegelapan di dalam kereta. Air matanya tidak lagi keluar; yang tersisa di dalam dirinya hanyalah obsidian hitam yang siap menghancurkan. "Tiga tahun dari sekarang, di kehidupan ini, kalian tidak akan berdiri di atas altar pernikahan dengan senyum kemenangan. Kalian akan merangkak di bawah kaki saya, memohon pengampunan yang tidak akan pernah kalian dapatkan."

Kereta kuda terus melaju menembus malam, membawa Elena kembali ke rumahnya—medan perang pertamanya, tempat di mana seekor ular bernama Cynthia sedang menunggu dengan senyuman palsunya yang mematikan. Namun kali ini, Elena telah siap dengan belati tersembunyi di balik senyumannya sendiri. Pembalasan darah baru saja dimulai.

1
Pelangi Jingga
ceritanya di ulang trus
jenny
pelayan setianya ganti kak? bukannya namanya Yana?
jenny
Misha atau Dara
Nycthophile
banyak bener nih adik tiri punya nama😌
jenny: ha ha hs
total 1 replies
Nycthophile
Thor mohon maaf nih sebelum nya minta tolong kalo ada pergantian nama karakter kasih tau Thor soal nya nama adik tiri nya Elena ganti ganti terus 🙏😔
jenny: saya pikir bukan cuma saya yang bingung cz banyak nama di setiap chapter... 🤭 atau mungkin adik tirinya lebih dari satu dan semuanya tergila-gila dengan Gavin 😄
total 1 replies
Nycthophile
nama adik tiri nya yang benar Mya atau Misha Thor😔
Nycthophile
lagi perasaan tiga bab udah di ulang terus😔
Nycthophile
nama adiknya ganti ya terus Thor awalnya Dara abis itu Misha sekarang Mya😔
Siskasuryaningsih
namanya semua di ganti2, eh bambang lu ye, buat kepala ane pening tau, 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!