NovelToon NovelToon
KETIKA HATI NAVIN KALAH

KETIKA HATI NAVIN KALAH

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 Tawa yang Bukan Untuknya

Pukul 08.56, Navin menatap jam dinding, lalu jam tangannya, lalu pintu.

Ophelia belum datang untuk laporan pagi. Biasanya ia mengetuk tepat pukul sembilan kurang satu menit, seperti alarm yang bisa diandalkan. Hari ini ia belum muncul, dan Navin menyadari bahwa ia sudah lima menit memandangi pintu itu seperti orang yang menunggu vonis.

Dari balik dinding kaca, ia melihat Bu Retno berjalan bersama seorang pria tinggi berjaket denim dan menenteng kardus. Staf-staf lantai tiga mendongak dengan rasa ingin tahu. Bu Retno mengucapkan sesuatu. Kepala-kepala menoleh ke meja kelima dari kiri.

Ophelia berdiri.

Kursinya bergeser mundur cepat. Ia menatap pria itu, dan wajahnya, wajah yang selama dua minggu selalu terkunci dalam ekspresi netral dan sopan, meleleh. Bukan sekadar tersenyum. Wajah itu terbuka seperti jendela yang tiba-tiba didorong, dan dari baliknya muncul seseorang yang belum pernah Navin lihat.

Ia berlari.

Ophelia Puspa, perempuan yang berjalan seperti sedang menghitung tiap langkahnya, berlari melintasi koridor dan melompat ke arah pria itu. Pria itu menjatuhkan kardusnya tanpa ragu dan menangkapnya dengan kedua tangan, mengangkatnya dari lantai, lalu memutarnya satu kali penuh. Ophelia menjerit kecil dan tertawa. Tawa yang keras dan lepas, dengan bahu yang bergetar. Ia memukul lengan pria itu sambil terus tertawa. Pria itu mengacak rambutnya dan mengucapkan sesuatu, dan Ophelia tertawa lagi, kali ini sampai menutup mulutnya dengan tangan.

Navin tidak sadar ia telah berdiri dari kursinya.

"Itu Bastian Aditya Nugraha," ujar sebuah suara di belakangnya. Dimas telah berdiri di pintu dengan tablet, tidak menatap atasannya, tapi menatap pemandangan itu dengan ketenangan seorang saksi ahli. "Staf logistik Cirebon. Dipindahkan atas permintaan Bu Retno untuk menutupi krisis pasokan. Bapak menandatanganinya hari Selasa."

"Saya menandatangani?"

"Bapak sedang bersin, Pak. Bapak bilang 'setujui semuanya'."

Navin tidak menjawab. Matanya tidak bisa lepas dari kaca. Ophelia sedang menunjuk sesuatu di tangan pria itu dan menggeleng-geleng dengan wajah cerah, dan pria itu membalas dengan gestur berlebihan yang membuatnya tertawa lagi.

"Ada catatan tambahan di berkas," lanjut Dimas hati-hati. "Alamat asal mereka sama. Satu SD, satu SMP, satu SMA. Teman masa kecil."

"Kenapa kamu tahu?"

"Saya asisten Bapak."

"Kamu asisten yang terlalu tahu."

"Terima kasih, Pak."

Navin menarik napas dalam-dalam. Ia menatap wajah Ophelia sekali lagi, dan menghitung dalam hati: satu, dua, tiga. Tiga tawa dalam satu menit, dan salah satunya sampai membuat perempuan itu menyeka sudut mata. Selama dua minggu ia hanya mendapat nol. Dua minggu ia mencoba segala cara untuk membuat perempuan itu menoleh, dan yang berhasil hanyalah seorang pria berjaket denim yang datang membawa kardus.

Sesuatu yang panas dan asing menyentuh dadanya, membuatnya ingin menendang sesuatu. Ia tidak tahu apa nama perasaan itu, dan ia memutuskan tidak ingin tahu. Ia hanya bertanya-tanya, sekilas, dengan kejengkelan yang mulai terasa seperti kerinduan, apa yang membuat seseorang bisa tertawa seperti itu. Bukan pujian, bukan uang, bukan jabatan. Sesuatu yang lebih tua dan lebih sederhana: dikenal apa adanya.

"Saya keluar," katanya.

"Ke mana, Pak?"

"Menyambut staf baru."

"Bapak tidak pernah menyambut staf baru."

"Sekarang saya menyambut."

Dimas memandanginya pergi, lalu berbisik pada tabletnya, "Catat: Kamis, awal cemburu."

Ia melangkah keluar sebelum Dimas sempat menjawab.

Koridor terasa lebih panjang dari biasanya. Ketika ia mendekat, tawa-tawa itu berhenti satu per satu. Bu Retno berdiri tegak, Dinda membeku di tempat, dan Ophelia melangkah mundur satu langkah dari pria itu, wajahnya perlahan kembali ke ekspresi rapi yang Navin kenal.

Navin merasa kehilangan sesuatu yang belum pernah ia miliki.

"Selamat pagi, Pak Navin," ujar Bu Retno cepat. "Ini Bastian dari Cirebon. Baru tiba pagi ini."

Pria itu menoleh. Ia tinggi, hampir setinggi Navin, dengan bahu bidang dan wajah yang ramah, dengan lesung pipi yang kentara. Tapi ketika matanya bertemu dengan mata Navin, keramahan itu berubah. Tidak ada rasa takut di sana. Tidak ada tunduk yang terlatih. Hanya sepasang mata yang menilai dengan tenang, dan sedikit dingin.

"Selamat pagi, Pak Navin." Ia mengulurkan tangan. "Bastian. Logistik."

Navin menyambutnya. Genggaman pria itu kuat, terlalu kuat, dan berlangsung sedikit lebih lama daripada yang sopan. Navin bisa merasakan buku jari pria itu memutih di sekeliling telapaknya.

"Selamat datang."

"Terima kasih, Pak. Kabarnya Bapak sangat memperhatikan karyawan." Ia tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Saya senang bisa bergabung di tempat yang begitu perhatian."

Nada itu membuat udara di antara mereka menegang. Bu Retno menelan ludah. Dinda pura-pura merapikan kertas. Dan Ophelia berbisik cepat, "Bas."

"Ya, Lia?"

"Cukup."

"Aku tidak bilang apa-apa."

Navin melepaskan tangannya. Ia menatap Bastian sekali lagi, dan menyadari dengan jelas, seperti menyadari hukum alam, bahwa pria ini tahu. Ia tahu apa yang Navin katakan pada Ophelia. Dan ia tidak akan membiarkan Navin lupa.

"Ophelia," katanya, suaranya dingin lebih dari yang ia maksudkan. "Laporan pagi Anda terlambat empat menit."

"Maaf, Pak. Saya segera."

"Bagus."

Ia berbalik. Ia berjalan kembali ke ruangannya dengan langkah tegak, dan hanya ketika pintu tertutup di belakangnya, ia bersandar pada daun pintu dan memejamkan mata. Di luar, samar-samar ia masih mendengar suara pria itu berkata dengan nada rendah kepada Ophelia, "Ini orangnya?"

"Sst."

"Aku sudah menduga."

Navin mengepalkan tangan.

Beberapa menit kemudian, Ophelia mengetuk pintu. Ia masuk membawa map, dan pipinya masih sedikit merah karena tawa yang baru reda. Matanya berbinar, dan bibirnya, ia berusaha menahannya, tetap melengkung samar di sudutnya. Semua itu tidak ditujukan pada Navin. Ia tahu itu. Ia bisa merasakan bedanya seperti merasakan perbedaan antara matahari dan lampu neon.

Lia melapor dengan suara yang tenang. Navin mendengarkan tanpa satu kata pun masuk ke kepalanya.

"Kamu kenal Bastian," katanya ketika Lia selesai.

"Teman kecil saya, Pak."

"Oh."

"Ada lagi, Pak?"

"Tidak."

Lia menunduk dan keluar. Navin duduk membeku.

Dimas masuk dari pintu samping dengan hati-hati. "Pak, pulpen Bapak."

Navin menunduk. Pulpen hitam di tangannya telah patah di tengah. Tinta hitam menetes ke telapak tangannya.

Ia menatapnya beberapa detik, lalu berkata dengan suara yang tidak terdengar seperti miliknya, "Cari tahu semua tentang dia."

"Bastian, Pak?"

"Kontraknya."

"Kontraknya."

"Kontrak kerjanya," tegas Navin. "Dan tempatkan dia sejauh mungkin dari meja Ophelia."

"Tim logistik memang di ujung lantai, Pak."

"Lebih jauh."

"Tidak ada yang lebih jauh, Pak."

"Bukakan."

Dimas, yang sudah tahu betul apa yang tidak boleh ia ucapkan, dan Dimas, yang sudah tahu betul apa yang boleh ia ucapkan, hanya mengangguk dengan wajah paling kalem yang pernah ia pakai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!