Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.
Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.
Seharusnya ia ikut kabur.
Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.
“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”
Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Pagi itu, Elena berdiri cukup lama di depan lemari pakaian. Hari ini ia akan pergi bersama Sebastian.
Dalam ingatan Elena asli, pria itu hampir selalu sibuk bekerja, sehingga mereka jarang menghabiskan waktu berdua, bahkan selama masa pertunangan.
Namun bagi Elena yang sekarang, kesempatan ini tidak boleh dilewatkan. Ia harus mengenal calon suaminya untuk memastikan kehidupan pernikahannya nanti benar-benar nyaman.
"Yang ini terlalu mencolok." Elena mengangkat sebuah gaun. "Yang ini terlalu formal." Ia mengambil gaun lain, lalu menghela napas.
"Kenapa memilih pakaian saja sulit sekali?"
Akhirnya ia memilih gaun sederhana berwarna krem dengan potongan elegan yang tidak terlalu mencolok, tetapi tetap cantik.
Saat turun ke lantai bawah, Sebastian sudah menunggunya. Pria itu berdiri di dekat pintu dengan satu tangan di saku celana.
Begitu Elena muncul, tatapannya langsung tertuju padanya, dan untuk beberapa detik ia tidak berkata apa-apa.
Elena berjalan mendekat. "Maaf membuatmu menunggu."
Sebastian membuka pintu mobil untuknya. Elena terdiam sesaat, lalu tersenyum. "Terima kasih." Ia masuk ke dalam mobil, dan Sebastian menyusul. Mobil pun perlahan meninggalkan kediaman keluarga Arvienne.
"Apa tujuan kita hari ini?" tanya Elena setelah beberapa menit perjalanan.
"Kita akan memilih cincin pernikahan."
Elena langsung menoleh. "Cincin?"
Sebastian mengangguk. "Bukankah kita akan menikah tiga hari lagi?"
"Iya juga.. Jadi kita perlu cincin." Elena mengangguk cepat, hatinya mulai bersemangat. Cincin pernikahan dari seorang CEO kaya raya, ia sudah penasaran seperti apa bentuknya.
***
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah butik perhiasan mewah.
Begitu masuk, seorang wanita langsung menyambut. "Selamat datang, Tuan Hale. Dan Nona Arvienne."
Sebastian mengangguk. "Kami ingin melihat cincin pernikahan."
Mereka diarahkan ke ruangan khusus, di mana berbagai cincin berlian ditata rapi. Ada yang sederhana, elegan, dan ada pula yang dengan berlian besar di tengahnya.
Mata Elena berhenti pada satu cincin. "Yang itu."
Pelayan mengambilnya. "Ini salah satu koleksi terbaru kami."
Cincin itu memiliki desain sederhana dengan berlian kecil yang dikelilingi beberapa batu permata.
"Cantik."
Sebastian memperhatikannya. "Kau suka?"
Elena mengangguk.
"Kalau begitu ambil."
Elena terkejut. "Tidak perlu melihat yang lain?"
"Aku tidak tahu apa yang kau suka. Tapi kalau kau menyukainya, itu sudah cukup."
Elena menatapnya beberapa detik, dan entah mengapa perkataan sederhana itu membuat hatinya terasa hangat. Ia tersenyum. "Kalau begitu aku pilih yang ini."
Setelah memilih cincin, mereka keluar dari butik.
Elena masih menatap kotak kecil berisi cincin pilihannya. Entah kenapa, hatinya terasa ringan.
Mungkin karena untuk pertama kalinya sejak masuk ke dunia ini, ia merasa bahwa kehidupannya berputar ke arah yang sangat menguntungkannya.
Setidaknya, Sebastian tidak memperlakukannya dengan buruk.
Mereka berjalan menuju mobil ketika tiba-tiba suara seorang wanita terdengar dari belakang.
“Sebastian?”
Langkah Sebastian berhenti dan Elena ikut berhenti dan menoleh, di sana Isabella tengah menatap mereka.
Elena tahu bahwa keluarganya juga berasal dari kalangan atas, sehingga pergi ke butik mahal pasti adalah hal normal baginya.
Namun yang lebih penting... Isabella menyukai Sebastian. Dan dari ingatan Elena, hubungan Isabella dan Sebastian cukup dekat.
Mereka sudah saling mengenal sejak lama.
Bahkan sebelum Elena bertunangan dengan Sebastian, Isabella beberapa kali terlihat bersama pria itu dalam berbagai acara keluarga dan bisnis.
Elena menatap wanita tersebut.
'Kemarin dia memang terlihat cantik memakai riasan di pesta pertunangan kamu, tapi ini hari ini ia tampil apa adanya dan bahkan terlihat lebih menawan! Tokoh utama memang berbeda!'
Elena tidak bisa menyangkal bahwa wanita itu sangat cantik. Bahkan cukup cantik untuk menjadi tokoh utama dalam sebuah novel.
Isabella berjalan mendekat.
“Pasti kalian sedang membeli perlengkapan untuk pernikahan kalian, kan?.”
Tatapannya tertuju kepada Sebastian.
Pria itu hanya mengangguk.
“Ya...”
Kemudian tatapan Isabella berpindah kepada Elena. Senyumnya sedikit membeku.
“Hai Elena.”
Elena tersenyum sopan dan menjawab, "Ya.. salam kenal ehmm.. Isabella, kan?"
Isabella menganggukkan kepalanya lalu melirik kotak kecil di tangan Elena.
“Apakah kalian baru saja membeli sesuatu?”
Elena mengangguk.
“Cincin.”
“Cincin?”
Isabella tampak terkejut. Untuk beberapa detik, ia tidak mampu menyembunyikan kecemburuannya.
"Baguslah.. oh ya, apa kalian masih mencari barang lainnya? Bagaimana kalau aku ikut menemani? Aku bisa memberikan saran yang bagus untukmu loh..," ucap Isabella dengan mata tertuju pada Elena seolah meminta persetujuannya.
Elena yang berdiri di depannya tiba-tiba merasa suasana menjadi sedikit aneh.
Isabella kemudian menatap Sebastian seolah meminta persetujuannya.
"Ya.. kau boleh ikut"
Elena terkejut mendengar persetujuan Sebastian.
'Kenapa Sebastian menyetujuinya? Memangnya ia tidak melihat aura kecemburuan Isabella? Arghh.. bisakah aku pergi dari situasi ini?'
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘