NovelToon NovelToon
TERJERAT TAKDIR

TERJERAT TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluar dari rumah

"Bu, aku mau dekorasi pernikahan yang kayak gini, ya. Bagus banget, deh!" seru Karin sambil menyodorkan layar ponselnya, memperlihatkan konsep dekorasi impiannya.

Siska yang ikut mengintip langsung menimpali, "Wah, cocok banget ini! Kelihatan mewah dan elegan."

Saat ini mereka bertiga sedang sibuk berdiskusi di ruang keluarga, berburu referensi dekorasi untuk pernikahan Karin.

"Iya ya, cantik banget. Tapi kalau yang model begini, harganya berapaan, Rin?" tanya Bu Ismi penasaran.

"Cuma 25 juta kok, Bu." jawab Karin santai.

Seketika Bu Ismi hampir tersedak ludah sendiri. 25 juta itu baru biaya dekorasi! Belum lagi urusan catering, sewa MUA, sampai gaun pengantin. Apalagi sampai detik ini, pihak calon mempelai pria belum ada tanda-tanda memberikan uang seserahan.

"Ya ampun, mahal banget, Karin! Bagas gimana? Dia udah mentransfer uang seserahan ke kamu belum?" tanya Bu Ismi mulai waswas.

"Pasti banyak lah uang seserahannya, Bu. Secara calonnya Karin kan seorang manajer." sahut Siska dengan nada membanggakan adik bungsunya.

Karin tersenyum jumawa. "Pastinya dong! Cuma ya… sampai sekarang Mas Bagas belum sempat ngasih. Dia lagi sibuk-sibuknya di kantor, harus beresin semua kerjaan dulu sebelum ambil cuti."

Pak Bambang yang kebetulan baru kembali dari dapur membawa segelas air minum, menyela pembicaraan mereka. "Kalau Bagas belum kasih uang seserahan, mending jangan nekat nyewa dekorasi yang mahal-mahal. Takutnya nanti malah nggak dikasih uangnya, kalian sendiri yang kelimpungan."

"Yaelah, Pak! Bapak kan nggak ikut biayain pernikahan anaknya, nggak usah ikut campur atau ngatur-ngatur, deh! Bagas itu manajer, masa iya kita bikin acara ala kadarnya? Mau ditaruh di mana muka kita di depan teman-temannya nanti?" semprot Bu Ismi dengan nada tinggi, sangat kesal karena suaminya yang tak punya penghasilan itu ikut angkat bicara.

Pak Bambang cuma bisa mengelus dada mendengar ucapan istrinya yang begitu menohok hati.

"Iya, Pak. Nggak mungkin lah kita bikin pesta yang biasa aja. Aku yakin kok, nanti semua biayanya bakal diganti sama Mas Bagas. Nggak apa-apa deh kita DP-in aja dulu pakai uang yang ada." tambah Karin, sama sekali tidak mau mendengarkan nasihat ayahnya.

"Bapak memang nggak bisa ngasih uang buat nikahan kamu, Karin. Kan Bapak lagi sakit dan nggak bisa kerja." sahut Pak Bambang pelan.

"Makanya, kalau nggak bisa bantu finansial, tahu diri dikit lah! Selain donatur, dilarang ikut ngatur!" hardik Bu Ismi makin pedas.

"Bapak cuma ngingetin. Kalau nggak mau didengar ya sudah, takutnya nanti malah kalian sendiri yang repot." ucap Pak Bambang sabar, lalu berjalan pelan masuk ke dalam kamarnya.

"Hih, Bapak kamu itu makin lama makin nyebelin! Udah nggak bisa ngasih duit buat nikahan anak, tapi gayanya sok ngatur ini-itu." cibir Bu Ismi sembari mendengkus.

Karin menepis kekesalan ibunya dengan kembali menunjukkan ponselnya. "Terus nanti Karin juga mau pakai MUA yang ini ya, Bu. Lihat deh hasil make upnya, flawless banget! Pasti nanti Karin kelihatan cantik banget pas resepsi."

"Iya, ini bagus banget sih make-upnya. Kekinian dan kelihatan mahal." puji Siska. "Jadi iri deh... Acara nikahan kamu nanti pasti meriah banget ya, beda sama aku dulu."

Siska membatin iri, menyindir suaminya, Beni, yang cuma staf kantor biasa sehingga dulu tak sanggup menggelar pesta mewah.

"Iya dong! Calon suamiku kan manajer!" seru Karin penuh rasa bangga.

"Tapi itu harganya mahal nggak?" tanya Bu Ismi.

"Cuma 20 juta kok, Bu. Nggak masalah kita DP-in dulu, nanti juga pasti diganti sama Mas Bagas." jawab Karin santai tanpa beban.

Sementara itu, Aira yang sedang mengaduk adonan kue di dapur bisa mendengar jelas setiap jengkal percakapan ibu dan saudara-saudaranya di ruang keluarga.

"Beneran ya, Karin? Kalau Mas Bagas nggak ganti, Ibu mau bayar pakai apa? Ibu nggak punya uang sebanyak itu." ujar Bu Ismi mulai cemas.

"Udah, Ibu tenang aja. Pasti dibayar sama Mas Bagas kok." sahut Karin dengan percaya diri tingkat tinggi.

Aira yang tidak tahan lagi akhirnya keluar dari dapur dan angkat bicara. "Kalau pihak laki-laki belum ngasih uang seserahan, mending jangan memaksakan kehendak deh. Kecuali kalau kamu emang udah rundingan dan sepakat sama calon kamu itu."

Karin langsung mendelik tidak suka. "Halah! Bilang aja Mbak Aira iri kan sama aku yang nikahannya mau digelar meriah? Secara nikahan Mbak Aira dulu cuma asal sah aja!"

Aira menghela napas panjang. "Aku bukan iri, aku cuma realistis. Benar kata Bapak, jangan cuma demi gengsi dan pengen kelihatan wah, akhirnya malah nyusahin diri sendiri."

Aira kemudian mengambil uang tunai sejumlah 5 juta rupiah dari dompetnya lalu menyerahkannya kepada sang ibu sesuai dengan jumlah sumbangan yang sempat ditagih ibunya kemarin.

"Ini uang dari Mas Devan buat nyumbang acara nikahan Karin." ucap Aira.

"Lima jutaan?" gumam Bu Ismi sambil menghitung lembaran uang tersebut.

"Wih, banyak juga duit suami kamu. Dapet ngutang dari mana tuh?" celebuk Siska dengan nada mengejek.

Aira menatap Siska datar. "Mau ngutang atau nggak, itu bukan urusan Mbak Siska. Yang penting aku udah nepatin janji buat nyumbang 5 juta sesuai permintaan Ibu."

"Yah... uang segini mah cuma cukup buat bayar DP dekorasi. Terus yang dari Siska buat DP MUA-nya. Ini aja masih kurang banyak loh, belum buat bayar catering," keluh Bu Ismi tanpa rasa terima kasih.

"Ya dicukup-cukupin aja sama uang yang ada, Bu." sahut Aira tenang.

"Ih, kamu ini kelakuannya persis banget kayak Bapak kamu! Udah dibilangin Bagas itu bukan orang sembarangan, nggak mungkin acaramu diadakan sederhana. Kalau kamu masih ada uang simpanan, Ibu pinjam dulu deh, Ra. Ini kurangnya masih banyak banget." pinta Bu Ismi tanpa rasa canggung.

Mata Aira langsung melotot. Diminta sumbangan 5 juta sudah dikasih, eh sekarang ibunya malah mau meminjam uang lagi? Dikira Aira tidak butuh uang apa?

"Iya tuh, Ra. Mending uang kamu dikasihin ke Ibu aja daripada kamu pakai buat boros dan belanja barang-barang nggak penting kayak kemarin." cibir Siska, yang sebenarnya iri melihat Aira belakangan ini bisa membeli pakaian bagus.

"Bener kata Kakak kamu. Mending uangnya dikasih ke Ibu sini." tambah Bu Ismi makin keterlaluan. Benar-benar dikasih hati minta jantung!

Aira mengepalkan tangannya, menahan amarah. "Yang punya kebutuhan di dunia ini bukan cuma kalian aja, aku juga butuh! Suamiku kerja keras itu buat aku dan masa depan keluarga kami, bukan buat hura-hura kalian. Aku juga harus nabung!"

Karin terkekeh sinis. "Mbak Aira nabung emang buat apaan sih? Keperluan Mbak kan nggak banyak. Makan sama tidur juga udah gratis di rumah ini!"

"Kehidupan itu nggak cuma seputar makan dan tidur gratis, Karin! Kami harus punya tabungan. Siapa tahu nanti aku hamil, dan biaya persalinan sampai membesarkan anak itu nggak murah!" tegas Aira.

Pikiran Aira sudah jauh lebih dewasa. Ia tahu betul membesarkan anak butuh persiapan finansial yang matang.

Bu Ismi malah mencibir mendengarnya. "Ya kamu jangan hamil dulu lah! Perbaiki dulu ekonomi kamu baru mikirin punya anak. Suami kamu itu cuma kuli bangunan dan kamu cuma jualan kue, dapetnya berapa sih? Lagian Ibu yakin, uang 5 juta yang kamu kasih ini pasti uang tabungan yang udah suami kamu kumpul-kumpulin dari beberapa tahun lalu, kan?"

Ucapan Bu Ismi benar-benar di luar dugaan dan rasanya sudah sangat kelewatan di mata Aira. Urusan momongan saja ibunya sampai tega melarang, padahal Devan suaminya sendiri sama sekali tidak pernah keberatan kalau mereka dikaruniai anak.

"Ibu tuh nggak ada hak sama sekali melarang aku punya anak! Kalau Tuhan udah ngasih titipan kepercayaan, ya bakal aku terima dengan senang hati. Ibu nggak usah ikut campur urusan rumah tanggaku!" sentak Aira dengan suara bergetar, tak sanggup lagi menahan rasa sesak di dadanya.

"Kamu itu dikasih tahu orang tua malah makin ngelunjak dan melawan ya!" balas Bu Ismi sambil melotot tajam. "Maksud Ibu itu baik, biar kamu nggak makin susah! Suamimu itu kerjaannya nggak jelas, nggak ada jaminan masa depan!"

"Kalau harus nunggu punya pekerjaan yang terjamin dulu, mau sampai kapan aku punya anak, Bu? Ibu tuh emang dari dulu selalu pilih kasih! Selalu aku yang disudutkan, selalu aku yang dikalahkan! Jangan-jangan aku ini emang bukan anak kandung Ibu, ya?!"

***PLAKKK!***

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Aira. Bu Ismi yang sudah kalap dan tersulut emosi menatap Aira penuh amarah.

"Jangan kurang ajar kamu sama orang tua! Harusnya kamu itu sadar diri dan bersyukur masih dibolehin tinggal di sini gratis! Jangan ngelunjak! Kalo nggak tinggal di sini, memangnya kamu bisa hidup di luar sana, hah?!" bentak Bu Ismi tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Aira memegang pipinya yang terasa panas, menatap ibunya tak percaya. "Masalah tempat tinggal aja selalu Ibu ungkit-ungkit! Padahal Karin sama Mbak Siska juga tinggal gratis di sini, tapi kenapa Ibu nggak pernah permasalahkan?!"

"Enak aja! Kami itu rutin ya ngasih uang ke Ibu!" potong Siska tidak terima disama-samakan. "Nggak kayak kamu, ngasih uang cuma seadanya! Buat makan sehari-hari aja mungkin kurang, apalagi kalau kamu harus bayar sewa tempat tinggal sendiri. Nggak bakal sanggup kamu! Punya suami cuma kuli bangunan gitu, mana bisa diandelin!"

Siska benar-benar menyemburkan kekesalannya karena tak terima dituduh cuma numpang hidup.

Aira menyapu air matanya kasar. "Oke, cukup. Kalau gitu, aku bakal pergi dari rumah ini!"

Tekad Aira sudah benar-benar bulat. Ia sudah tidak sanggup lagi bernapas di rumah yang terus-terusan menginjak-injak harga dirinya ini. Masalah nanti bisa makan atau tidak, atau bagaimana cara membayar sewa tempat tinggal, itu urusan belakangan. Yang penting, saat ini ia masih memegang uang simpanannya sendiri yang cukup untuk membayar sewa tempat tinggal yang layak.

"Halah, gaya-gayaan mau pergi dari rumah! Paling nanti ujung-ujungnya merangkak balik lagi ke sini gara-gara nggak punya duit buat bayar kontrakan!" tawa Karin meledak, mengejek Aira habis-habisan. Dada Aira makin berdenyut nyeri melihat kelakuan adik kandungnya sendiri.

Mendengar keributan yang makin menjadi-jadi, Pak Bambang bergegas keluar dari kamarnya. "Ya ampun, Bu! Ingat, Aira ini anak kamu juga, dia saudara kalian!" tegur Pak Bambang dengan suara bergetar, menatap putri keduanya dengan rasa iba yang mendalam.

Aira menatap ayahnya dengan mata yang sembap.

"Pak... Aira izin keluar dari rumah ini ya, Pak. Aira mau tinggal sendiri... Aira udah nggak kuat lagi di sini." bisik Aira terisak, pamit kepada sang ayah diiringi derai air mata yang tak mampu lagi ia bendung.

**Bersambung.**

1
Sri Supriatin
Wah senengnya Devan mau bikin pesta pernikahan... Rezeki Aira🙏🙏🙏
Sri Supriatin
Bener kt bp mu Karin, pasti bakal nyesel kan🤭🤭🤣🤣
Nenk Shila
knp nggk keluar aja sih, devan ajak istrimu tinggal d luar hadeuuh lemah
Sri Supriatin
Sorry Aira salah typo... Tks double upnya thor🙏🙏
Sri Supriatin
Biasa yg kaya setengah2 ngk ngehargai status, kel oma Devan mah luar biasa... Selamat Aria diterima tulus sm oma 🙏🙏💪💪
Sri Supriatin
Kereeen si Devan 👍👍💪💪
Sri Supriatin
Tambah seru thor, double up dong🙏🙏
🌺WASI'AH_MISKA🍁😘
semangat thor🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sri Supriatin
Bagus Aria keluar aja kan Devan sudah ngajak biar tau rasa kalau Devan mapan 👍😍😍😍
Tuty Yatun
sering2 up dong kak bagus ceritanya asal jgn terlalu bertele2 seperti sinetron ikan terbang🤭🤣
Noona Rara: Hehehe iyaa kak
total 1 replies
Cha Libra
thour ..novel mu masih bnyak yg On going npa udh nongol yg baru terus setiap cerita hampir Sma smua
Noona Rara: Iya kak. Untul novel sebelumnya itu udah stuck. Nggak bisa aku kembangin lagi.
Dan untuk kenapa ceritanya hampir sama karena memang aku fokusnya ke drama keluarga yah.
Jadi saat ini fokus aku kedua novel aja. Terjerat Takdir dan suksesnya istri yang tersakitii.
Makasih kak udah mau baca🙏🏽
total 1 replies
Sri Supriatin
Saya hadiir thor baru aja bc marathon n seryuuu👍🙏🙏🙏
Noona Rara: Makasih ya udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!