NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:60
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20 — Siapa Sebenarnya Nindya?

"Nindya, sebenarnya kamu bekerja sebagai apa?"

Pertanyaan Raka membuat suara kendaraan di jalan terasa menjauh.

Nindya menatap pria di depannya. Ia dapat terus membuat cerita baru, tetapi Raka mengingat detail lebih baik daripada kebanyakan auditor. Satu kebohongan tambahan hanya akan menjadi pintu menuju kebohongan berikutnya.

"Aku bekerja untuk grup properti besar," katanya. "Bukan sekadar administrasi kontrak. Aku ikut mengawasi proyek, menilai dokumen, dan kadang mewakili atasan dalam keputusan operasional."

Semua itu benar.

Hanya jabatan tertinggi dan nama keluarga yang ia buang.

"Kirana?"

"Terhubung dengan jaringan bisnis tempatku bekerja. Aku merekomendasikan portofoliomu untuk dinilai, sama seperti acara vendor tadi. Aku tidak memaksa tim memilihmu dan tidak membayar klien agar memesan."

"LangitSenja?"

Napas Nindya tertahan. "Kenapa bertanya akun itu?"

"Karena setiap pintu aneh terbuka setelah akun itu muncul."

Nindya belum sanggup mengakui gift tersebut. "Aku pernah melihat akun itu di live. Aku tidak tahu siapa pemiliknya."

Kebohongan pertama malam itu jatuh di antara mereka.

Raka tidak menuduh. "Aku bisa menerima rekomendasi yang diproses adil. Yang tidak bisa kuterima adalah hidupku diatur tanpa sepengetahuanku. Kalau ada peluang yang datang melalui kamu, katakan. Biar aku menilai syaratnya sendiri."

"Aku mengerti."

"Dan kalau suatu hari aku tahu jawabanmu malam ini masih menyimpan hal penting?"

Nindya memaksa dirinya menatap mata Raka. "Kamu berhak marah."

"Bukan marah yang paling sulit diperbaiki." Suara Raka tenang. "Kepercayaan."

Ojek yang dipesan Nindya tiba. Ia naik tanpa berani menoleh lagi. Tiga blok kemudian, kendaraan berhenti di samping sedan hitamnya. Sepanjang perjalanan menuju Menteng, satu kata Raka terus mengikutinya.

Kepercayaan.

Dua minggu berikutnya membawa perubahan yang lebih mudah diukur.

Dari tujuh prospek acara vendor, tiga lolos survei dan menandatangani kontrak dengan jadwal bertahap. Dua lainnya mundur karena jadwal, satu menolak standar bahan, dan satu masih menunggu persetujuan gedung. Kontrak Kirana juga lolos pemeriksaan Pengacara Wisnu dan ditandatangani tanpa perubahan hak desain.

Raka tidak lagi bekerja di ruangan yang sama dengan tempat Sasa tidur.

Ia menyewa satu unit kosong di samping kontrakan sebagai Studio Nusa Karya. Dindingnya dicat putih, ventilasi diperbaiki, bahan dikunci dalam lemari, dan area ukir dipisahkan dari meja administrasi. Dinas Sosial diberi tahu sebelum perubahan penggunaan ruang. Petugas memeriksa bahwa rumah Sasa kini justru lebih aman karena debu serta alat tajam dipindahkan keluar.

Beni memasang papan proyek di kantor baru.

"Dulu semua hidup lo muat di koper," katanya. "Sekarang jadwal lo tidak muat di satu papan."

"Berarti kita perlu papan kedua, bukan kepala lebih besar."

Bagas mengantar meja kerja bekas gudang dan menolak dibayar ongkos angkut. Raka tetap mencatat biayanya sebagai kontribusi barang dengan tanda terima nol rupiah, agar kepemilikan jelas. Nindya membawa tanaman kecil dan kali ini menyertakan struk.

"Bukti bahwa ini bukan jam tangan," katanya.

Raka melihat harga tanaman, lalu tersenyum. "Diterima."

Pengacara Wisnu datang membawa perkembangan lain. Tahap pemeriksaan keterangan dan dokumen telah berjalan setelah mediasi gagal. Pihak Larasati tidak mengajukan dasar baru untuk mempertahankan rumah tangga selain permintaan waktu dan kepentingan usaha. Agenda berikutnya menuju pembacaan putusan permohonan, lalu—jika izin cerai talak dikabulkan dan berkekuatan hukum—ikrar talak serta penerbitan akta cerai.

"Belum selesai," kata Wisnu. "Tapi ruang mereka untuk mengulur makin sempit."

Raka menandai tanggal di kalender Studio. Ia tidak merayakan sebelum dokumen final berada di tangan secara sah, final, dan dapat dibuktikan.

Pada Senin pagi, Raka dan Sasa datang ke TK Bintang Cemerlang. Bu Rina tidak langsung mendaftarkan Sasa hanya karena mural Raka ada di dinding. Berkas penempatan sementara diperiksa bersama petugas Dinas Sosial, status wali dicatat sesuai surat, riwayat kesehatan dilampirkan, dan jadwal evaluasi disesuaikan.

"Ini bukan pengangkatan anak," kata petugas administrasi. "Jika status penempatan berubah, sekolah harus menerima pemberitahuan resmi."

"Saya mengerti," jawab Raka.

Sasa menjalani observasi kelas. Ia tidak langsung bermain. Selama dua puluh menit, ia duduk dekat pintu dan memastikan Raka masih terlihat melalui kaca.

Seorang anak menawarkan pensil hijau. Sasa menerimanya, lalu menggambar pohon tanpa sabuk di dahannya.

Ketika guru meminta anak-anak menyebut nama orang yang menjemput, Sasa menjawab, "Ayah Raka. Kalau Ayah terlambat, telepon Bu Nani. Tante Nindya cuma boleh kalau namanya ada di surat."

Bu Rina tertawa kecil. "Dia paham prosedur."

"Dia belajar bahwa aturan yang jelas membuatnya aman," kata Raka.

Sasa diterima untuk masa orientasi. Raka membayar biaya melalui rekening sekolah dan menyimpan bukti. Tidak ada potongan khusus karena mural, hanya skema pembayaran reguler yang sama dengan orang tua lain. Bu Rina berjanji memberi laporan adaptasi, bukan perlakuan istimewa.

Saat pulang, Sasa membawa kartu nama kecil bertuliskan Salsabila—nama penggunaan yang telah diselaraskan dengan berkas pengasuhan sementara sambil menunggu kepastian identitas sipil.

"Ayah, sekarang aku murid?"

"Masa orientasi dulu. Kalau Sasa nyaman dan guru setuju, baru lanjut."

"Aku akan jadi pohon kuat."

"Pohon kuat juga boleh minta bantuan."

Malamnya, setelah Sasa tidur, Raka kembali pada pertanyaan kedua yang belum terjawab.

Ia mengunggah foto potongan ukiran liontin ke forum tertutup perajin batu. Tidak ada wajah, nama, lokasi, atau foto utuh. Ia hanya meminta pendapat tentang gaya pahatan naga dan bentuk huruf pada inskripsi Semoga putraku...

Dalam satu jam, dua orang menyebut teknik ukir lama yang jarang dipakai. Seorang anggota senior mengirim pesan pribadi dan meminta Raka tidak membersihkan permukaan dengan bahan kimia.

Lalu unggahan itu mendadak hilang dari forum.

Moderator menulis bahwa ada klaim kepemilikan desain dan mereka perlu memverifikasi sumbernya.

Di sebuah ruangan lain di Jakarta, seorang pria beruban menerima tangkapan layar foto tersebut. Di mejanya terdapat arsip lama tentang seorang bayi hilang dan sketsa liontin naga yang dibuat puluhan tahun lalu.

"Dari mana unggahan ini?" tanyanya.

"Akun baru, lokasi disamarkan. Moderator menolak memberi data pribadi tanpa dasar hukum."

"Bagus. Jangan langgar privasinya." Jari pria itu bergetar saat menyentuh sketsa. "Cari melalui jalur terbuka. Hubungi perajin yang mengenal teknik ini. Saya ingin tahu siapa pemilik liontin, bukan merebutnya."

Kembali di kontrakan, Raka menatap pemberitahuan penghapusan. Seseorang bukan hanya mengenali ukiran itu. Seseorang mengklaim memiliki hubungan dengan desainnya.

Di meja lain terletak kartu perusahaan Nindya tanpa nama perusahaan utama, kontrak Kirana, dan catatan semua kebetulan yang mengelilinginya.

Dua identitas berdiri di hadapan Raka seperti dua pintu tertutup.

Siapa Nindya sebenarnya?

Dan keluarga besar mana yang sedang mencari pemilik liontin naga di seluruh Jakarta?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!