Roxanna Rasmussen menyerahkan segalanya demi seorang pria yang tak pernah benar-benar mencintainya. Selama tiga tahun ia memainkan peran istri yang setia bagi Alessandro Selenko—konglomerat media dingin yang menikahinya karena keterpaksaan keluarga—sambil menelan setiap penghinaan dengan senyum. Lalu, tepat saat ia mengetahui dirinya mengandung, cinta pertama sang suami kembali... dan Alessandro menyodorkan surat cerai bagai hadiah.
Kali ini, Roxanna tak sudi lagi menjadi perempuan bodoh.
Ia melepas cincin kawinnya, menghilang tanpa jejak, dan memulai hidup baru dari titik nol—hamil, sebatang kara, terdampar di jalanan sebuah kota asing. Di sanalah Chris, pemilik restoran berhati hangat, menemukannya dan menawarkan tempat berlindung yang tak pernah ia dapatkan dalam pernikahannya.
Tapi Roxanna menyimpan satu rahasia yang bahkan tak diketahui pria yang paling ingin menghancurkannya: perempuan yang mereka campakkan ini adalah pewaris sebuah kerajaan bayangan. Dan ketika Sang Imperatrix bangkit dari keterpurukan, semua orang yang pernah meremehkannya akan belajar satu hal—bahwa perempuan yang tak lagi punya apa pun untuk dilindungi adalah lawan yang paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna Brenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ia Sudah Mengambil Keputusan
Ruangan itu sarat ketegangan, dan suara Alessandro membelah udara bagai bilah tajam.
"Minta maaf! Beri contoh yang baik pada para karyawan!" Nadanya tegas, memaksa, dan tak menyisakan ruang untuk perdebatan.
Perintah itu bergaung di ruangan, membuat semua yang hadir terdiam total, seolah waktu membeku di detik itu.
Violet, yang masih memeluk Alessandro, tak kuasa menahan senyum yang melebar di wajahnya. Matanya berbinar dengan campuran kemenangan dan kepuasan, seakan menikmati tiap detik kekalahan Roxanna.
Baginya, itu adalah kemenangan yang tak terduga dan manis. Suasana di sekelilingnya terasa bermuatan listrik, dan ia menikmati keadaan itu, mengamati sang rival yang terpojok.
"Sekarang juga!" Perintah Alessandro menggantung di udara bagai petir, menggema di dinding-dinding ruangan.
Ketegangan begitu nyata; Roxanna jelas berjuang melawan tekanan yang mengepungnya. Ia tahu seharusnya ia tunduk pada tuntutan Alessandro, tapi amarah yang mendidih di dalam dirinya menahannya untuk menyerah.
"Kenapa aku harus? Aku takkan minta maaf karena menyebutnya sesuai kenyataannya: seorang pelacur dan ular berbisa!" Kata-kata Roxanna keluar bagai tembakan, menantang dan sarat penghinaan.
Suaranya bergetar menahan amarah, tiap suku kata sarat kejijikan sementara ia menatap tajam Alessandro.
Alessandro tak ragu; langkahnya mantap dan tegas seraya ia mendekati Roxanna.
Tatapannya yang menusuk memancarkan amarah yang mendidih, badai yang siap meletus. Ia bertekad membela Violet dan menunjukkan bahwa ia takkan menoleransi sikap seperti itu.
Sementara ia mendekat, Roxanna mundur secara naluriah, seakan beban ketidaksetujuan Alessandro adalah tenaga menindas yang meremukkannya.
Tatapan pria itu begitu tajam, membara oleh kemarahan, dan tiap langkah yang ia ayunkan seakan menambah tekanan padanya. Roxanna berusaha mempertahankan sikap menantangnya, tapi ada secercah keraguan berkelebat di matanya.
Seisi ruangan menyaksikan dalam diam, semua karyawan menjadi saksi bentrokan antara sang presiden direktur dan sang wakil presiden.
Itu adalah konfrontasi tempat emosi berada di ambang meledak; suasananya tegang bagai tali yang direntangkan hingga hampir putus.
Violet merasa berkuasa saat melihat rivalnya mundur di hadapan tekad Alessandro.
Alessandro berhenti tepat di depan Roxanna, tatapannya terpaku pada mata perempuan itu. Intensitas momen itu membuat semua yang hadir menahan napas; tak seorang pun berani menyela pertempuran verbal itu.
Roxanna terjebak antara amarahnya dan tekanan yang Alessandro paksakan, tiap detik seakan merambat lambat sementara ia berjuang mencari jalan keluar dari situasi memalukan itu.
Ketegangan di ruangan begitu nyata, bagai benang yang siap putus. Alessandro, dengan tatapan tajam penuh tekad, menatap Roxanna dan melontarkan,
"Kenapa kau selalu bermasalah dengan semua orang di sekitar kita? Tidakkah kau sadar bahwa masalah terbesar adalah dirimu sendiri?" Kata-katanya jatuh bagai pukulan berat, menggema di ruangan dan membuat semua yang hadir merasakan dampaknya, "Selalu kau."
Violet, yang mengamati adegan itu dengan campuran kepuasan dan penghinaan, tak melewatkan kesempatan untuk turut campur. Dengan senyum sarkastis di wajahnya, ia menyatakan,
"Aku tak pernah diperlakukan sekasar ini, Alessandro. Wakil presiden itu jahat." Suaranya sarat penghinaan sementara ia melemparkan tatapan dingin pada Roxanna, tiap katanya bagai tikaman.
Ruangan itu sunyi senyap; para karyawan tercengang menyaksikan adegan itu.
Spekulasi mulai bermunculan di antara mereka yang hadir.
Roxanna, yang selama ini selalu menjadi sosok kuat dan dihormati di perusahaan, kini tampak bagai perempuan egois dan pencemburu.
Bisik-bisik beredar tentang rasa iri Roxanna terhadap anggota baru tim itu, terlebih karena Violet telah menaklukkan hati sang presiden direktur. Orang-orang mulai berbisik bahwa Roxanna adalah perempuan oportunis, seseorang yang tak mampu menerima dinamika yang baru.
"Minta maaf. Aku takkan mengulanginya lagi!" Alessandro menuntut, suaranya rendah dan mengancam.
Nadanya tegas.
Roxanna menatapnya dengan penghinaan dan menjawab,
"Tidak."
Dalam gerakan impulsif, ia mendorong Alessandro pelan dan berkata lantang,
"Kenapa istrimu harus minta maaf pada selingkuhanmu?"
Pengakuan itu jatuh bagai bom di ruangan; wajah para karyawan tercekat kaget sementara kata-katanya bergaung.
Alessandro mengatupkan rahang, bergulat melawan amarah dan frustrasi, sementara Violet kehilangan kata-kata, tak punya dalih untuk membantah tuduhan yang meledak itu.
Semua mata terpaku pada Roxanna, yang melanjutkan,
"Kau menyembunyikan pernikahan kita selama tiga tahun. Kau benar-benar berpikir sekarang aku harus tahan dengan selingkuhanmu? Karena itulah dia: seorang selingkuhan. Kaupikir ada orang yang mau menerima ini dengan lapang dada? Aku bukan bonekamu, Alessandro!"
"Diam, Roxanna!" Alessandro meledak, suaranya menggema di ruangan, "Pernikahan kita itu dipaksakan! Aku tak pernah mencintaimu!" Kata-katanya bagai bilah pisau yang mengiris, dan semua orang merasakan perih dari pengakuan itu.
Roxanna berbalik ke arah Violet dan berkata,
"Kau tidak merebutnya dariku, Violet. Kau hanya mengambil alih masalahku." Nada dingin dalam suaranya menegaskan bahwa ia bersedia berjuang sampai akhir.
Ia sudah mengambil keputusan.
Roxanna, dengan gerakan mantap dan tegas, mengulurkan tangan ke tas di atas meja. Jemarinya menyelami tas itu, mencari benda yang melambangkan janji yang telah teringkari. Cincin kawin, simbol cinta dan komitmen, ia keluarkan dengan hati-hati, tapi juga dengan setumpuk amarah yang tertahan.
Dengan gerakan kasar, Roxanna melempar cincin itu ke lantai keramik, dan benda itu memantul dengan bunyi dentingan logam yang tajam, menggema di studio foto yang sunyi.
Bunyi itu bergaung, seolah menegaskan putusnya ikatan mereka.
Alessandro dan Violet, terkejut, membeku, menatap cincin di lantai.
Tatapan Roxanna, tajam dan menantang, bertemu tatapan Alessandro, memantulkan luka, amarah, dan kebebasan.
Keheningan yang menyusul terasa berat, sarat emosi yang tak terucap. Lalu ia berseru,
"Aku mengundurkan diri, dan kau, sebagai suamiku, yang bayar denda pemutusan kontrakku." Dengan pernyataan pamungkas itu, Roxanna keluar dari ruangan dengan langkah tegas, meninggalkan semua orang dalam kondisi tercengang.
Alessandro melangkah menuju pintu untuk menyusulnya, tapi begitu melihat Violet terjatuh ke lantai dalam keputusasaan, hatinya goyah. Ia merasakan pergolakan batin; amarah pada Roxanna masih membara di dalam dirinya, tapi sekaligus ada bagian dari dirinya yang begitu mencemaskan penderitaan Violet.
Ia ragu sejenak sebelum menghampiri Violet.
Perasaan berkecamuk di ambang batas.
Alessandro menatap Roxanna yang menjauh sementara ia bergulat dengan emosinya yang bertentangan.
Ia ingin berteriak menyuruhnya kembali dan berhenti bikin drama; tapi di saat yang sama, ia tahu luka menganga di antara mereka terlalu dalam untuk diabaikan.
Roxanna berada dalam pusaran emosi ketika ia memutuskan memanggil lift. Lingkungan di sekelilingnya seakan memudar sementara ia menekan tombol, seolah tiap detik merambat lambat, mencerminkan hebatnya rasa sakitnya. Lift itu tiba dengan suara "ding" lembut, dan pintunya terbuka, memperlihatkan ruang sempit dan sesak yang kini seakan menjadi satu-satunya tempatnya berlindung.
Begitu masuk, ia merasakan gelombang dingin saat menyandarkan diri ke dinding logam, seakan permukaan yang beku itu bisa menyerap sedikit panas dari air matanya.
Ketika pintu tertutup, sensasi terkurung itu disertai keputusasaan yang mendalam.
Roxanna mulai menangis dalam diam, membiarkan air mata mengalir bebas di wajahnya. Ia tak pernah membayangkan akan berada di sini, sendirian, menghadapi kenyataan menghancurkan bahwa ia diam-diam menikah dengan pria yang ia cintai, tapi pria itu mengkhianatinya.
Cinta yang ia rasakan pada Alessandro begitu kuat dan tulus, tapi kini bercampur dengan perih pengkhianatan yang kejam. Ia mencintainya begitu dalam, tapi ia juga tahu bahwa ia harus belajar mencintai dirinya sendiri sebelum apa pun yang lain.
Sementara lampu lift berkedip dalam perjalanan turunnya, Roxanna merenungkan semua yang telah ia lalui. Kenangan momen-momen bahagia bersama suaminya kini hanyalah bayang-bayang masa lalu yang jauh, tertutup oleh kenyataan pahit yang ia hadapi. Ketika akhirnya ia mendengar bunyi "klik" pintu yang kembali terbuka, ia bukan lagi perempuan penurut yang dulu.
Di hadapannya berdiri Melissa, ibu mertuanya, dengan tatapan penuh penghinaan.
"Kau memang tak pernah pantas untuk anakku, dasar..." Melissa memulai, tapi Roxanna sudah tak sudi mendengar hinaan lagi.
Amarah dan luka membakar hatinya dan ia memotong,
"Diam! Anda sendiri tak pernah mampu mempertahankan suami Anda yang menukar Anda dengan perempuan lain, dan sekarang Anda pikir Anda berhak menceramahiku soal moral?" Kata-kata itu keluar bagai ledakan keberanian.
Keterkejutan di wajah Melissa terlihat jelas.
Roxanna menyadari bahwa ia akhirnya mulai menegakkan dirinya.
"Anda boleh membenciku sesuka Anda..." Ia melanjutkan dengan kekuatan yang baru, "tapi akulah orang yang tak pernah punya keberanian untuk menjadi diri Anda sendiri, karena uang telah membeli harga diri dan cinta diri Anda."
Melissa mengangkat tangan hendak menampar Roxanna, tapi si rambut merah itu takkan sudi digertak oleh siapa pun. Dengan gerakan cepat dan mantap, ia mencengkeram erat pergelangan tangan ibu mertuanya.
"Jangan pernah menyentuhku lagi! Aku muak dengan penghinaan Anda, dengan rasa jijik Anda. Aku takkan menoleransinya lagi!" Ia berkata dengan suara tegas dan penuh tekad.
Ketika menepis tangan wanita itu jauh-jauh, ia melihat keterkejutan tergurat di wajah Melissa; ini adalah Roxanna yang berbeda dari perempuan penurut yang selalu menerima serangannya tanpa perlawanan.
Dengan langkah mantap dan tegas, Roxanna keluar dari perusahaan dan bergegas menuju kantor catatan sipil.