NovelToon NovelToon
Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:175
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.

Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:

> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*

Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.

Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.

Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.

> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Aku Mau Batal

Laras mendorong Bram, berlari melewati gerbang kecil, lalu menutupnya di belakang tubuhnya.

Lelaki itu tidak mengejar.

Di bawah lampu jalan, bayangannya tetap berdiri sampai Laras masuk ke dalam vila.

Malam itu, Laras bersandar pada pintu kamarnya dan melihat gaun calon pengantin yang tergantung di sudut. Selama tiga minggu terakhir ia mengurangi makan malam demi memastikan pinggang gaun itu jatuh sempurna. Ia menahan lapar untuk sebuah pernikahan yang bahkan tidak ia inginkan, dengan lelaki yang tidur bersama asistennya.

Konyol.

Laras mengambil ponsel, membuka folder bukti di cloud, lalu mengepalkan tangan.

Begitu Bapak dan Ibu pulang, ia akan mengakhiri semuanya.

Beberapa malam kemudian, koper-koper Pak Broto dan Bu Widuri masih berjajar di foyer Vila Wirasena. Mereka baru pulang dari perjalanan bisnis luar negeri sore itu. Makan malam penyambutan berlangsung tenang, ditemani laporan singkat tentang konser Laras dan proyek-proyek keluarga.

Setelah pelayan membawa piring terakhir, Laras meminta mereka tetap duduk.

"Ada yang ingin saya bicarakan."

Pak Broto melirik jam. "Besok saja. Bapak masih jet lag."

"Besok keluarga Adiwangsa datang. Ini harus dibicarakan sebelum itu."

Bu Widuri mengusap serbet di bibir. "Soal Radit? Dia bilang kamu agak menjauh akhir-akhir ini."

Laras meletakkan ponsel di tengah meja.

Foto pertama menampilkan wajah Radit dan Tiara di kamar hotel. Ia menggeser layar. Foto kedua berasal dari tanggal berbeda. Foto ketiga disandingkan dengan riwayat pemesanan kamar atas nama Tiara.

"Saya mau batal tunangan."

Tidak ada yang langsung menjawab.

Pak Broto mengambil ponsel itu. Ia memeriksa tiga foto, memperbesar wajah Radit, lalu membuka data reservasi.

"Dari mana kamu dapat ini?"

"Dari ponsel Tiara."

"Kamu mengambil ponsel orang?"

"Saya meminjam dan memotretnya. Itu bukan inti masalahnya."

Pak Broto mengembalikan layar ke foto pertama. "Sekarang foto bisa dibuat dengan AI. Wajah bisa ditempel, tanggal bisa diubah. Jangan membuat keputusan besar hanya dari gambar."

Laras menatap ayahnya. "Saya melihat mereka sendiri di Nayaka Springs. Di ruang istirahat lantai dua."

Tangan Bu Widuri yang memegang gelas berhenti.

"Kamu yakin?" tanyanya.

"Radit menyebut nama Tiara. Saya melihat wajah mereka melalui celah pintu. Saya sempat merekam, lalu videonya dihapus."

"Dihapus siapa?"

Laras menahan satu detik. "Bukan itu yang penting."

Ia belum siap menyeret nama Bram ke meja makan ini. Bukan untuk melindunginya, melainkan karena satu nama itu akan memindahkan perhatian orang tuanya dari pengkhianatan Radit kepada kesalahannya sendiri.

Pak Broto mengetuk meja. "Kalau kamu benar-benar melihat, kita panggil Radit dan minta penjelasan."

"Penjelasan apa yang Bapak harapkan? Dia bilang terpeleset masuk ke kamar hotel berkali-kali?"

"Jaga ucapanmu."

"Saya sedang menjaga masa depan saya."

Bu Widuri menarik napas. "Laras, dengarkan Ibu. Laki-laki sebelum menikah kadang memang begitu. Selama dia tahu batas setelah akad, rumah tangga kalian masih bisa baik."

Laras menatap ibunya, memastikan ia tidak salah dengar. "Jadi Ibu tahu dia selingkuh, tapi saya yang harus belajar menerima?"

"Ibu tidak bilang membenarkan." Bu Widuri memilih setiap kata seperti sedang berbicara kepada media. "Ibu bilang jangan merusak dua keluarga karena emosi sesaat. Nama baik kita dipertaruhkan."

"Yang merusak bukan saya."

"Orang tidak akan melihat sesederhana itu. Kamu figur publik. Kalau pertunangan batal mendadak, semua orang akan mencari alasan. Media akan mengejar, keluarga besar akan bicara."

"Biarkan mereka bicara."

Pak Broto mendorong kursinya ke belakang. "Ini bukan cuma gosip."

Ia membuka tablet dan menampilkan berkas keuangan Grup Wirasena. Grafik pendapatan tiga tahun terakhir turun. Di bawahnya terdapat proyeksi besar berlabel Proyek Cakrawala.

"Empat puluh persen rencana pertumbuhan kita bergantung pada Cakrawala," katanya. "Izin utama, akses pendanaan, dan kendali lahan berada di Grup Adiwangsa. Kalau pertunanganmu batal, mereka bisa mengeluarkan Wirasena dari konsorsium tanpa melanggar satu pun klausul."

Pak Broto menggeser halaman. Daftar kontraktor, pabrik pemasok, dan kredit jangka pendek memenuhi layar.

"Dua pabrik kita bertahan karena pesanan awal proyek ini. Bank memperpanjang fasilitas kredit setelah melihat nama Adiwangsa sebagai pemimpin konsorsium. Kalau mereka mengirim surat penghentian kerja sama, ribuan pekerja tidak dibayar hanya karena kamu marah pada satu lelaki."

"Jangan taruh gaji ribuan orang di pundak saya. Bapak yang menandatangani utang itu."

"Dan kamu bagian dari keluarga ini."

"Sebagai anak atau aset?"

Pak Broto menutup tablet terlalu keras.

Bu Widuri menyentuh ujung lengan suaminya, lalu menatap Laras. "Kita bisa meminta Radit memindahkan Tiara. Perempuan itu bisa dikirim ke cabang lain. Keluarga Adiwangsa juga pasti mau menjaga situasi. Tidak semua masalah harus dibawa ke publik."

"Memindahkan Tiara tidak mengubah siapa Radit."

"Setidaknya itu menghentikan hubungan mereka."

"Ibu yakin hanya ada Tiara?"

Pertanyaan itu membuat ruangan kembali sunyi. Laras belum mempunyai bukti perempuan lain, tetapi cara ayah dan ibunya menghindari tatapannya sudah cukup. Mereka tidak membutuhkan kepastian. Mereka hanya membutuhkan skandal itu tetap berada di balik pintu tertutup.

"Jadi saya jaminan kontrak?"

"Jangan dramatis. Pertunangan ini menguntungkan semua pihak, termasuk kamu."

"Menguntungkan saya bagaimana?"

"Kamu menikah dengan orang yang setara, keluargamu bertahan, dan kariermu tetap didukung."

Laras menoleh ke Bu Widuri. "Ibu juga berpikir begitu?"

Ibunya tidak menjawab langsung. Ia mematikan layar ponsel yang masih menampilkan foto Radit.

"Ibu pikir satu kesalahan masih bisa diperbaiki."

"Satu? Ada belasan tanggal."

"Laras."

"Kalau Bapak melakukan hal yang sama, apa Ibu juga akan bilang ini wajar sebelum nikah?"

Wajah Bu Widuri memucat. Pak Broto menepuk meja begitu keras sampai sendok kecil bergetar.

"Cukup."

"Belum." Laras berdiri. "Radit mengkhianati saya. Bapak dan Ibu bahkan nggak marah padanya. Kalian cuma takut proyek hilang dan orang lain bergosip."

"Kami memikirkan akibat yang tidak kamu pahami," kata Pak Broto.

"Saya paham dengan sangat jelas. Karakter Radit nggak penting bagi kalian. Selama nama Adiwangsa tetap menempel pada saya, semua bisa ditoleransi."

Bu Widuri menatapnya tajam. "Besok kamu tetap datang ke makan malam keluarga. Jangan membuat keributan."

"Saya akan datang untuk mengatakan hal yang sama."

"Kamu tidak akan mempermalukan kami di depan keluarga Adiwangsa," kata Pak Broto.

Laras mengambil kembali ponselnya. "Saya nggak perlu izin untuk membatalkan pertunangan saya sendiri."

Ayahnya mendorong ponsel itu ke arahnya sampai benda tersebut bergeser di atas meja.

"Kami sudah tahu," ucapnya dingin. "Sekarang jangan macam-macam."

Bu Widuri berdiri di samping suaminya. "Yang penting nama baik dua keluarga. Pikirkan itu sebelum bicara besok."

Laras menggenggam ponsel berisi semua bukti sampai sisi logamnya menekan kulit.

Untuk pertama kalinya ia memahami bahwa pada makan malam besok, lawannya bukan hanya Radit.

Dua orang yang melahirkan dan membesarkannya juga akan berdiri di sisi seberang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!