NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Kabar yang Sampai ke Surabaya

Satu minggu setelah malam hujan itu, Tania menjerit di tengah kedai kopi.

"Akhirnya!"

Beberapa pengunjung menoleh. Aku menutup wajah, sementara Rangga menendang pelan kaki kursinya dari bawah meja.

"Pelankan suara," kataku.

"Aku sudah menunggu sejak SMA." Tania menunjuk Rangga. "Kamu berutang traktir karena membuat sahabatku menunggu bertahun-tahun."

"Dia bahkan nggak tahu sedang menunggu," jawab Rangga.

"Itu lebih parah."

Kami hanya memberi tahu Tania dan Bara. Bara membalas pesan dari rumah sakit dengan satu kalimat, Jangan bertengkar di depan pasien, lalu menambahkan ikon jempol. Lima menit kemudian ia mengirim pesan pribadi kepadaku, memastikan hubungan ini benar-benar pilihanku dan Rangga tidak memakai situasi tempat tinggal untuk menekan. Setelah kujawab yakin, ia mengirim ucapan selamat yang jauh lebih hangat.

"Sekarang aturan sahabat," kata Tania. "Kalian nggak boleh menghilang setiap kali bertengkar. Sekar suka menyimpan semuanya sampai meledak. Rangga suka berpikir diam-diam lalu datang dengan solusi yang nggak diminta."

"Aku tidak begitu," kata kami bersamaan.

Tania menunjuk kami bergantian. "Lihat? Bahkan menyangkalnya kompak."

Aku tertawa, lalu menyadari sudah lama tidak membicarakan masa depan tanpa Damar menjadi pusatnya. Kami berdebat soal tempat kencan murah, jadwal wawancaraku, dan apakah kopi buatan Rangga cukup buruk untuk dianggap tindak kejahatan. Hal-hal kecil itu terasa mewah justru karena biasa.

Tania mengangkat ponsel untuk berfoto. Aku langsung menggeleng.

"Belum diunggah."

"Aku cuma simpan."

"Pastikan lokasi mati," kata Rangga.

Kewaspadaan itu membuat suasana sedikit turun. Damar belum menghubungiku sejak pengakuan di Dago, tetapi diamnya tidak pernah terasa seperti pergi. Aku masih memakai gelang karena toko perhiasan pertama menolak membuka tanpa surat kepemilikan, dan toko kedua khawatir merusak giok mahal.

"Kalian boleh bahagia," kata Tania, lebih pelan. "Waspada nggak berarti harus berbisik selamanya."

Aku mengangguk. Kami mengambil satu foto tanpa lokasi. Untuk pertama kalinya, aku berdiri di samping Rangga bukan sebagai anak tetangga atau orang yang sedang diselamatkan. Tangannya berada di belakangku tanpa menyentuh sampai aku sendiri merangkul lengannya.

Foto itu tidak pernah diunggah.

Namun sebelum malam, Bu Endang sudah tahu.

Seseorang melihat kami keluar dari kedai dan mengirim kabar ke grup pengajian. Pesan Ibu masuk berturut-turut.

Tania bersumpah tidak memberi tahu siapa pun. Aku percaya. Kedai itu berada dekat kampus lama kami dan setidaknya tiga tetangga memiliki keponakan yang bekerja di sekitar sana. Tidak perlu konspirasi besar untuk membuat hidup perempuan menjadi bahan berita. Cukup satu foto buram, dua dugaan, dan grup pesan yang tidak pernah tidur.

Dalam versi yang beredar, aku bukan hanya berpacaran dengan Rangga. Aku disebut tinggal sekamar dengannya, menggunakan keluarga Saputra untuk membuat Damar cemburu, bahkan sengaja merusak pertunangan agar bisa memilih di antara dua laki-laki.

Aku menyimpan tangkapan layar, tetapi kali ini tidak membacanya berulang-ulang. Kebenaran tidak berubah hanya karena kebohongan mendapat lebih banyak penerusan.

Jadi benar kamu tinggal di sana untuk mengejar anak penjual rawon.

Kakakmu kehilangan calon suami, kamu malah pamer pacar baru.

Pulang dan jelaskan sebelum keluarga besar dengar dari orang lain.

Aku tidak membalas. Ayah menelepon satu jam kemudian.

"Ibumu sedang marah," katanya.

"Aku nggak melakukan kesalahan."

"Ayah tahu."

Di belakangnya terdengar suara Ibu, keras dan jelas. "Bilang ke dia lelaki itu tidak sekelas! Hidup dari warung orang tua, proyeknya juga tidak jelas!"

Ayah menjauh dari telepon. Untuk pertama kalinya, aku mendengar ia membalas tanpa mengecilkan suara.

"Rangga bekerja. Keluarganya bekerja. Mereka tidak pernah mengambil apa pun dari kita."

"Kamu mau anakmu menikah dengan tukang antar rawon?"

"Mereka baru berpacaran. Jangan tentukan pernikahan orang seperti kita menentukan hidup Laras."

Sambungan hening sesaat.

"Sekar," kata Ayah kembali, napasnya berat. "Ayah tidak akan menyuruhmu putus. Hanya hati-hati dan jangan kembali sendirian kalau Ibumu memanggil."

"Terima kasih, Yah."

Aku menutup telepon dengan tangan gemetar, kali ini bukan karena takut. Ayah memenuhi janjinya meski suaranya masih ragu.

Rangga datang membawa dua gelas kopi minimarket untuk kencan satu jam kami. Ketika kuberi tahu isi pertengkaran, ia hanya tersenyum miring.

"Anak penjual rawon terdengar cukup terhormat."

"Ibu mengatakannya sebagai hinaan."

"Masalahnya ada pada dia, bukan pada rawon."

Kami duduk di trotoar depan minimarket seperti rencana. Tidak mewah, tetapi Rangga membawa daftar pilihan nama untuk proyeknya. Aku mencoret lima nama yang terdengar seperti aplikasi pinjaman dan menandai satu yang berarti nyala kecil.

"Nyala," kataku. "Mudah diingat."

"Belum terlalu besar untuk sebuah sistem yang masih sering salah membaca stok bawang?"

"Nyala kecil tetap cahaya."

Ia menulis nama itu di bagian atas halaman.

Ponselku berdering sebelum kencan berakhir. Nomor kantor Damar muncul di layar.

Aku langsung mengaktifkan perekam dan menunjukkan layar kepada Rangga.

"Mau dijawab?" tanyanya.

"Aku ingin tahu kenapa dia menelepon."

Rangga berdiri untuk menjauh, tetapi aku menahan ujung bajunya. "Tetap di sini."

Ia duduk kembali.

Aku menerima panggilan. "Apa?"

"Kamu terdengar sehat," kata Damar.

"Jangan telepon aku lagi."

"Saya hanya ingin memastikan barang perusahaan tidak tertinggal saat pertunangan berakhir."

"Tanya Mbak Laras."

"Saya sudah bertanya."

Jeda tipis muncul. "Kamu sedang di luar?"

Aku tidak menjawab.

"Dekat jalan besar," lanjutnya. "Ada suara kendaraan. Malam-malam bersama siapa?"

Rangga mendengar melalui pengeras suara. Rahangnya mengeras, tetapi ia tetap diam.

"Itu bukan urusan Mas."

"Saya mendengar kabar kamu membuat keputusan baru."

Jari-jariku mendingin. "Dari siapa?"

"Bandung bukan kota sebesar yang kamu bayangkan."

"Hubunganku bukan urusan Mas."

"Hubunganmu dengan Rangga adalah urusan yang perlu kamu pikirkan ulang."

"Tidak."

"Dia tahu apa yang kamu ceritakan tentang saya?"

"Itu urusanku."

"Berarti dia tahu." Nada Damar berubah nyaris tak terdengar. "Dan dia masih tinggal satu atap denganmu."

"Bersama Bu Lina, Pak Bambang, dan Bara. Jangan ubah kenyataan."

"Laki-laki tidak menunggu tanpa mengharapkan imbalan."

"Mas sedang menjelaskan diri sendiri, bukan Rangga."

Rangga menunduk menahan reaksi. Aku melihat kebanggaan singkat di sudut mulutnya, lalu ia kembali serius.

"Kamu pikir dia akan tetap sabar kalau tahu semua bagian yang belum kamu ceritakan?" tanya Damar.

"Dia tahu cukup banyak untuk percaya bahwa bagian yang hilang bukan salahku."

"Kepolosan bisa terlihat seperti kebaikan sebelum diuji."

"Kekuasaan juga bisa terlihat seperti kebaikan sebelum topengnya lepas."

Hening di seberang membuatku tahu kalimat itu mengenai sasaran.

Damar menarik napas. Ketika berbicara lagi, suaranya lebih rendah.

"Gelang itu masih cocok?"

Aku melihat lingkar hijau di pergelangan. Rasanya seperti mata yang ikut mendengarkan.

"Besok aku akan mengembalikannya."

"Jangan."

Satu kata itu keluar tanpa lapisan sopan.

Aku menutup panggilan.

Rangga tidak bertanya bagian mana yang belum kuceritakan. Ia hanya mengecek apakah rekaman tersimpan, lalu bertanya apakah aku ingin pulang atau menghabiskan sisa kopi.

"Kopinya sudah dingin," kataku.

"Itu tidak memperburuk rasanya. Dari awal memang jelek."

Aku tersenyum dan memilih tetap duduk sampai satu jam kencan kami selesai. Damar tidak berhak mengakhiri malam hanya dengan satu panggilan.

Di layar, rekaman tersimpan. Di meja kecil, nama Nyala tertulis dengan tinta biru. Dua masa depan berada di hadapanku, satu mencoba mengikat pergelangan, satu lagi menunggu kubangun dengan tanganku sendiri.

Keesokan pagi, aku membungkus gelang giok itu untuk dikirim kembali kepada Damar.

1
ceuceu
ga jelas lah,maaf thor aku skip
ceuceu
membungungkan antara cerita dan dialog
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!