Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*
Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.
Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*
Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**
Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:
*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Kembali ke Reksonegoro
Sekar kembali ke Jakarta bukan sebagai istri Rendra.
Secara hukum, pernikahan mereka memang belum putus. Namun pagi itu ia memasuki lobi Reksa Group dengan kartu undangan atas nama Sekar Ayu Reksonegoro, ahli waris Eyang Wiryo.
Bening berjalan di sisinya. Pak Djoyo membawa kotak dokumen. Di lantai dua puluh tujuh, Ratih dan Bayu sudah menunggu bersama seorang lelaki lanjut usia berkacamata.
Ratih memeluk putrinya tanpa memedulikan para pegawai yang melihat.
"Mama kira Ayahmu akan menghentikanmu di jalan."
"Bening mengganti rute. Aku aman."
Bayu berdiri satu langkah di belakang ibu mereka. Wajahnya tegang. "Maaf aku terlambat pulang, Mbak."
"Kamu datang sekarang. Itu yang penting."
Lelaki tua berkacamata membuka kedua tangan. "Kamu mungkin tidak ingat saya."
Sekar menunduk hormat. "Eyang Kus."
Kusdinar Reksonegoro adalah adik Eyang Wiryo. Ia telah menjauh dari perusahaan setelah sakit dan konflik dengan Bambang. Hari ini, ia datang membawa salinan notulen rapat pemegang saham yang disimpan sendiri.
"Kakak saya selalu bilang kamu akan kembali ketika sudah siap," katanya. "Kami seharusnya tidak membiarkan Bambang menutup jalan selama ini."
"Saya juga terlalu lama percaya bahwa semua urusan perusahaan sudah selesai."
"Kalau begitu, hari ini kita berhenti menyalahkan diri dan mulai membaca angka."
Rapat dimulai pukul sepuluh. Pak Handoko duduk di ujung meja sebagai direktur pelaksana. Senyumnya ramah, tetapi ia tidak berdiri ketika Sekar masuk.
"Bu Sekar," sapanya. "Saya dengar Ibu sedang sibuk dengan masalah keluarga. Kita bisa menunda pertemuan sampai keadaan lebih tenang."
"Saya datang justru karena keadaan sudah cukup tenang untuk memeriksa hak saya."
Pak Djoyo meletakkan wasiat, dokumen perwalian, dan sertifikat saham lama. Eyang Kus menyerahkan notulen yang membuktikan Eyang Wiryo tidak pernah menyetujui pengalihan paten atau hak suara permanen.
Pak Handoko membalik beberapa halaman. "Dokumen ini sudah tua. Setelah beberapa putaran penambahan modal, komposisi kepemilikan berubah."
"Tunjukkan seluruh perubahan," kata Sekar.
Layar rapat menampilkan tabel pemegang saham. Bagian milik cabang Ratih menyusut setiap kali perusahaan menerbitkan saham baru. Beberapa saham dialihkan kepada perusahaan nominee yang alamatnya sama dengan mitra Bambang.
"Mengapa pemegang manfaat tidak menerima pemberitahuan?" tanya Bayu.
"Surat dikirim kepada kuasa pengelola, yaitu Pak Bambang."
Ratih menegang. "Saya tidak pernah memberi kuasa untuk mengurangi bagian anak-anak saya."
Pak Handoko merapatkan jarinya. "Tanda tangan Ibu ada pada dokumen."
"Saya ingin melihat aslinya," kata Ratih.
Untuk pertama kalinya, suaranya tidak gemetar.
Seorang staf membawa hasil pindai. Tanda tangannya tampak benar, tetapi tanggal dokumen sama dengan saat Ratih dirawat karena operasi dan hampir tidak sadar.
"Mama berada di rumah sakit pada tanggal ini," ujar Sekar.
"Bisa saja ditandatangani sebelumnya."
"Kalau begitu ada berita acara dan saksi. Tunjukkan."
Pak Handoko berkata arsip lama perlu dicari.
Sekar beralih ke daftar penerbitan saham. "Penambahan modal membutuhkan keputusan sesuai tata kelola perusahaan. Di mana undangan rapat kepada pemegang hak? Di mana bukti setor modal pihak baru?"
"Tim hukum yang menangani."
"Nama timnya."
"Saya tidak hafal semua detail."
"Bapak menandatangani tiga keputusan ini."
Ruangan sunyi.
Eyang Kus melepas kacamata. "Handoko, kamu bekerja untuk keluarga ini sejak almarhum masih hidup. Jangan paksa kami menganggap setiap kelalaian sebagai kesengajaan."
Pak Handoko tersenyum kaku. "Saya hanya menjalankan keputusan bisnis agar perusahaan bertahan."
"Astarasa menghasilkan laba," kata Sekar. "Namun labanya dialihkan menjadi biaya pengelolaan kepada perusahaan yang berkaitan dengan pihak luar. Perusahaan bertahan untuk siapa?"
Pak Handoko meminta waktu dua minggu menyiapkan seluruh arsip.
Sekar memberinya tujuh hari dan mengirim permintaan tertulis pada saat itu juga. Ia juga meminta akses baca ke buku pemegang saham, laporan audit, kontrak perusahaan cangkang, dan dokumen paten. Tidak ada berkas yang boleh dimusnahkan atau dipindahkan selama pemeriksaan.
"Ibu tidak memiliki jabatan direktur," kata Pak Handoko.
"Saya tidak mengambil keputusan operasional hari ini. Saya menggunakan hak informasi sebagai pihak yang kepemilikannya terdampak. Kalau Bapak menolak, kirim penolakan tertulis beserta dasarnya."
Sekali lagi, Pak Handoko tidak berani menulis penolakan.
Setelah rapat, Eyang Kus membawa Sekar ke sebuah rumah lama keluarga di Menteng. Foto-foto Eyang Wiryo, Ratih muda, dan Bayu kecil masih tersimpan. Ratih berdiri di ruang tengah sambil menutupi mulut.
Di meja makan, seorang pengurus lama menyajikan sayur asem dan ikan goreng yang dulu disukai Ratih. Tidak ada jamuan mewah, tetapi ibu mereka duduk di kursi kepala meja tanpa meminta izin kepada siapa pun.
"Ayah meneleponku sebelas kali," kata Bayu sambil menunjukkan layar. "Dia bilang Mbak mencuri dokumen perusahaan."
Sekar menyerahkan salinan tanda terima arsip. "Semua yang kubawa dicatat. Jangan balas dengan marah. Simpan pesannya."
"Mbak masih melindungi dia?"
"Aku melindungi perkara kita dari kesalahan."
Eyang Kus mengangguk. "Lawan orang yang bermain kotor dengan catatan bersih. Itu lebih sulit, tapi hasilnya bertahan."
Ratih menatap foto ayahnya di dinding. "Dulu Bapak juga berkata begitu. Saya justru menandatangani banyak kertas karena percaya kepada suami."
"Mama tidak sadar pada salah satu tanggal," kata Sekar. "Kalau tanda tangan itu dipakai saat Mama dirawat, kesalahannya bukan karena Mama percaya. Kesalahannya pada orang yang memanfaatkan kepercayaan itu."
Air mata Ratih jatuh, tetapi kali ini ia tidak menyembunyikannya. "Mama akan memberi keterangan. Apa pun yang dibutuhkan."
Bayu menggenggam tangan ibu mereka. "Kita lakukan bersama."
Sekar memandang meja yang bertahun-tahun kosong dari cabang keluarganya. Kepulangan itu tidak terasa seperti kemenangan besar. Rasanya lebih seperti tulang yang lama bergeser akhirnya ditempatkan kembali, sakit tetapi benar.
"Mama kira rumah ini sudah dijual," katanya.
"Bambang pernah mencoba," jawab Eyang Kus. "Saya menahannya melalui sengketa kepemilikan."
Bayu memegang bahu ibunya. "Mulai sekarang Mama tidak perlu pulang ke apartemen Ayah kalau tidak mau."
Ratih menatap anak-anaknya, lalu mengangguk perlahan.
Malamnya Sekar kembali ke kantor untuk menggandakan catatan perubahan saham. Bening menunggu dekat lift. Pak Djoyo berbicara dengan staf arsip.
Di dalam ruang rapat yang kosong, mesin fotokopi mengeluarkan halaman demi halaman.
Sekar menandai tiga perusahaan nominee, dua tanggal tanda tangan meragukan, dan satu keputusan yang menyebut persetujuan Danuwijaya sebagai kreditur.
Pintu terbuka sedikit.
Pak Handoko melihat ke dalam, lalu tersenyum seolah hanya lewat. Ia berjalan menuju tangga darurat dan mengeluarkan ponsel.
Sekar tidak mendengar suara di seberang.
Bening yang berdiri dekat lift ikut menoleh. Ia mengaktifkan catatan waktu di ponselnya, tetapi tidak mendekati tangga agar Pak Handoko tidak sadar telah didengar.
Ia hanya mendengar satu kalimat Pak Handoko sebelum pintu menutup.
"Dia sudah mulai mencium jejaknya."