NovelToon NovelToon
Lux In Winter

Lux In Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Takumi

Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.

Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 - Sasilekha

Kinan tampak fokus memilih beberapa stroberi kemasan yang paling bagus menurutnya. Ia memperhatikan warnanya, ukurannya serta aromanya dengan seksama.

"Hmm, warnanya yang ini merah merata. Pas sih ini, gak begitu kecil gak begitu besar juga dan... terlihat sangat segar. Sepertinya ini yang paling bagus."

Setelah mendapatkan stroberi terbaik, ia beranjak ke area lain. Langkah Kinan berhenti di depan rak khusus susu. Sejenak ia berdiri melihat kotak kemasan, berniat membeli satu untuk nanti di tempat kerja. Matanya melirik ke kiri dan kanan, menimbang-nimbang dari satu merek ke merek lain. Kinan pun meraih salah satu kemasan dan membaca tabel informasi nilai gizinya.

"Yang ini enak sih, tapi gulanya tinggi banget," pikirnya penuh pertimbangan. Kinan menaruhnya kembali ke dalam rak, lalu ia meraih kemasan di sebelahnya yang berwarna biru.

"Hmm... yang ini 100% susu sapi dan kebetulan lagi ada promo juga. Dan kayaknya ini enak juga. Lagian, mana ada orang yang gak suka susu ini kan, ya."

Tiba-tiba Kinan tersenyum, teringat kembali seorang teman masa kecilnya yang sangat suka minum susu apapun itu rasanya. Entah itu rasa stroberi, coklat, melon ataupun yang lainnya. Namun, ia sangat benci dengan susu putih.

Kinan menaruhnya ke dalam keranjang belanjaan lalu bergeser ke rak sebelah mencari madu pesanan Belinda yang biasanya untuk kebutuhan di cake shop. Namun setelah ia perhatikan dengan seksama, ternyata barangnya tidak ada di tempat biasanya.

Untung saja, ada seorang pegawai freshmart yang muncul di sebelah Kinan, lalu ia memberanikan diri untuk bertanya.

"Maaf, Mbak. Mau tanya. Apa madu yang biasanya disini lagi abis stoknya?" tanya Kinan sembari menunjuk ke salah satu rak madu paling atas.

"Iya, Mbak. Yang merk itu stoknya lagi habis. Mungkin besok atau lusa baru ada lagi," jelasnya.

"Ohh.. terima kasih, Mbak."

Setelah pegawai itu pergi, Kinan langsung meraih ponselnya di dalam tas dan memutuskan untuk menelpon Belinda. Beberapa saat kemudian, masih belum ada jawaban, lalu ia mencoba beberapa kali dan akhirnya diangkat.

"Hallo, Kin. Ada apa? Udah dapet semuanya?"

"Stroberinya udah, Mbak. Tapi, madu yang biasanya stoknya lagi abis. Terus ini mau di ganti sama lainnya atau gimana?" tanya Kinan.

"Ganti merk yang lain gak apa deh. Kamu beli 2 botol aja yang ukuran sedang. Urgent juga soalnya. Tapi pilih yang harganya gak beda jauh sama yang biasanya, ya."

"Oke, Mbak," ucap Kinan dan segera mematikan panggilan.

Ia mengambil dua botol madu, memasukkannya ke dalam keranjang dan langsung menuju ke kasir. Setelah melakukan pembayaran, Kinan melihat jam di layar ponselnya, lalu tergesa-gesa menuju ke tempat kerja. Namun, sesaat setelah keluar dari pintu freshmart, terdengar seseorang dari arah samping yang memanggilnya.

"Kin."

Kinan merasa cukup familiar dengan suara itu dan langsung menoleh. Matanya terbelalak begitu sadar siapa yang memanggilnya.

"Edo?"

Kinan seketika menepi dari depan pintu, sementara Edo berjalan mendekat ke arahnya.

"Abis belanja kamu, Kin?" tanya Edo sembari menepis debu di bajunya.

"Ahh, iya. Belanja buat tempat kerja. Kamu disini..."

"Iya, aku kerja disini, Kin. Yah... udah hampir setahun," potong Edo yang mengerti maksud arah pertanyaan Kinan.

"Ohh."

"Dah lumayan lama ya kita gak ketemu, Kin. Padahal rumah kita deket."

"Ah, iya. Memang jarang keluar rumah juga sih," jawab Kinan tampak canggung.

Seseorang mendadak memanggil Edo dari arah belakang. "Do, anak gudang butuh bantuan angkat barang. Tolong cepetan kesana."

"Siap, Pak," jawab Edo, lantas menatap Kinan lagi. "Aku lanjut kerja dulu, Kin. Kapan-kapan ayo main bareng. Kalo perlu, aku samperin ke rumahmu terus kita keluar ke Alun-alun atau kemana gitu deh," candanya.

Kinan hanya tersenyum datar.

"Sampai ketemu lagi."

"Ah, iya," jawab Kinan singkat.

Mereka berdua memang sudah lama tidak bertemu, baik di sekitar lingkungan rumah mereka ataupun di tempat lainnya. Entah mengapa, kali ini Kinan terkesan tampak canggung saat berbicara dengan Edo, teman masa kecilnya. Namun, ia tidak ambil pusing dan langsung bergegas menuju tempat kerja, mengingat sekarang sudah hampir jam satu siang.

Sesampainya Kinan di Alleria cake shop, ia memarkirkan motornya di area parkir khusus pegawai. Matanya masih sempat melirik ke dalam cake shop yang tampak masih belum ramai. Kinan berjalan masuk lewat pintu samping yang diperuntukkan khusus pegawai sembari membawa satu kantong belanjaan.

"Kinan, ada semua kan barangnya?" tanya Belinda.

"Ada, Mbak," jawab Kinan dan langsung menyerahkan kantong belanjaannya kepada Belinda.

Belinda memeriksa isinya dengan seksama. "Hmm, kali ini stroberi fresh banget deh. Gak kayak waktu dulu ya, Kin," ucapnya dengan mata yang menggoda.

Kinan hanya bisa tersenyum malu mendengarnya. "Kalo gitu aku mau siap-siap dulu, Mbak."

"Haha, oke," jawab singkat Belinda. "Oh, iya. Nanti langsung saja ambil uang gantinya di kasir dan cantumkan nota belanjanya di pengeluaran," lanjutnya sebelum kembali sibuk dengan adonan di depannya.

"Iya, Mbak."

Tak berselang lama, setelah mengenakan seragam dan apronnya, Kinan berdiri di depan etalase yang masih banyak ruang kosong. Dengan hati-hati, ia mulai memindahkan potong demi potong kue dari dapur ke atas nampan-nampan putih. Aromanya sangat harum seakan menegaskan bahwa semua kue itu baru saja matang dari oven.

Tampak beragam kue, mulai dari rainbow cake, cheese cake, croissant serta kue-kue lainnya yang kini tersusun rapi dan pasti membuat siapapun yang melihatnya akan tergoda hingga menelan ludah.

Kinan memeriksa ulang posisi dan kebersihan etalase dengan detail, lalu berdiri sejenak sembari tersenyum puas melihat hasil kerjanya. Bel pintu pun berdenting, yang menandakan ada seorang pelanggan yang datang. Kinan tersenyum dan menyapa mereka dengan ramah.

Perlahan suasana di cake shop pun mulai semakin terasa hidup. Kemudian semua pesanan pelanggan telah diantarkan dan bahkan meja pelanggan yang sudah selesai pun sudah kembali bersih. Kinan lanjut menata serta merapikan beberapa kue di etalase khusus. Tak berselang lama, ada sepasang anak cewek belia yang berdiri di sebelahnya menatap ke etalase tersebut.

Salah satu anak itu menunduk sedikit, menatap label yang tertera di balik kaca.

"Day-old Cake?" gumamnya pelan, dahinya berkerut sambil melirik ke temannya. "Itu maksudnya apa ya?"

"Hmm. Gak tau juga ya. Aku jarang main ke tempat kayak gini."

"Mungkin semacam kue khusus gitu kali ya."

Kinan yang sedari tadi mendengar obrolan mereka, berdiri dan menengok ke kedua anak tersebut.

"Day-old Cake itu maksudnya kue-kue yang tidak dibikin hari ini, tapi masih layak dan enak buat dinikmati. Makanya harganya kami kasih diskon. Cocok banget deh buat kantong pelajar," jelasnya Kinan sambil tersenyum ramah.

Kedua anak itu tampak sedikit malu karena tanpa mereka sadari ternyata ada yang memperhatikan mereka.

"Oalah. Gitu ya, Kak. Baru tahu aku," respon salah satu anak paham.

"Jadi, semua yang ada di etalase sebelah sini itu Day-old Cake, Kak?" tanya anak satunya sambil menunjuk ke etalase di depan mereka.

Kinan terkekeh kecil sambil mengambilkan mereka masing-masing nampan dan penjepit. "Bener banget. Kakak dulu juga uang jajannya pas-pasan, jadi tahu banget gimana rasanya pengen beli kue yang enak-enak tapi isi dompet alakadarnya."

Kedua anak cewek itu tersenyum mendengar kata-kata dari Kinan. Obrolan ringan seperti itu berhasil mencairkan suasana dan membuat tak saling canggung. Sebuah keramahan yang bisa membuat siapapun merasa nyaman.

Beberapa saat berlalu, Belinda yang baru saja selesai beristirahat, berjalan menuju area depan dan melihat kondisi cake shop kian dipadati banyak pelanggan yang mana kini hanya menyisakan sedikit meja yang masih kosong. Tangannya merapikan apronnya sembari melirik beberapa antrean di depan kasir.

Kinan yang sedari tadi sibuk melayani pelanggan, menoleh dan tersenyum lega begitu melihat Belinda datang.

"Kayaknya kalian lagi sibuk banget ya di depan," ujar Belinda dengan senyum jahilnya.

"Wah, pas banget waktunya, Mbak. Aku dan Anya nyaris kewalahan disini," Keluh Kinan sambil memberikan nota pesanan ke Belinda untuk anak barista.

Belinda tersenyum semain lebar. "Mau dibantu gak nih?" godanya pelan, lalu segera mengambil posisi di belakang meja kasir dan langsung melayani pesanan pelanggan yang ingin di-takeaway.

Kondisi di cake shop terasa bisa ditangani dengan lebih cepat dan ringan berkat bantuan Belinda. Ritme kerja mereka sudah begitu selaras, meskipun usia dan pengalaman mereka bagaikan langit dan bumi. Tak perlu banyak kata-kata, masing-masing sudah tahu tugasnya dan di tengah hiruk-pikuk pelanggan yang padat, senyum tetap menghiasi wajah mereka.

Setelah begitu sibuk hampir setengah jam, semua pesanan sudah teratasi dengan baik serta kasir pun sekarang jadi terasa lenggang. Satu-satunya bunyi yang terdengar adalah percakapan pelan para pelanggan yang masih duduk di meja mereka.

Kinan menarik napas lega, lalu menyandarkan tubuhnya sejenak ke dinding. Belinda yang memperhatikannya, mengulurkan sebotol air mineral.

"Makasih, Mbak," ucap Kinan sembari menerima air, tampak lega meski rasa letih belum sepenuhnya hilang dari tubuhnya.

"Sore ini kayaknya lebih rame dari minggu biasanya, ya?" ujar Belinda, menyandarkan diri di meja kasir.

Kinan mengangguk pelan. "Iya, Mbak. Anya aja sampai terkapar tuh. Tapi seru sih. Apalagi pesanannya beragam banget," jawabnya sambil mengusap keringat di pelipisnya.

"Mungkin karena bentar lagi perkuliahan udah masuk. Makanya banyak mahasiswa yang dari luar kota sudah datang," timpal Anya, lalu berdiri dan berjalan ke meja pelanggan yang sudah kosong untuk membersihkannya.

Belum sempat Belinda dan Kinan menanggapi, suara bel di pintu berbunyi kembali.

Cling!

Pintu kaca pun terbuka dan Kinan refleks menoleh ke arah pintu. Ia melihat seorang cowok dan cewek melangkah masuk. Si cowok berambut pendek sedikit acakan, berwajah teduh dengan tatapan yang tajam namun tetap terasa kalem. Di sampingnya, seorang cewek berpakaian modis berambut panjang yang diikat setengah, melangkah santai sambil sesekali melirik interior cake shop.

Belinda mendekat ke arah Kinan dan berbisik. "Kin, yang cowok itu namanya Nathan. Dia salah satu pelanggan tetap disini."

"Ohhh..." jawab singkat Kinan.

"Dan... dia selalu duduk di lantai dua, di pinggir jendela paling ujung dari tangga. Coba kamu yang antar mereka," lanjut Belinda.

Kinan terdiam dan menatap ke arah Nathan dengan rasa penasaran, lalu mengangguk pelan dan membawa dua buku menu sebelum beranjak menghampiri mereka berdua dengan senyum yang ramah.

"Kak Nathan, ya? Silahkan."

Kinan menuntun mereka ke lantai dua dengan menaiki tangga kayu kecil menuju sudut ruangan, tepat di sebelah jendela kaca yang menghadap langsung ke jalanan kota.

Nathan dan cewek itu duduk berhadapan. Secara diam-diam, Kinan memperhatikan keduanya. Nathan tampak santai, sementara raut bingung tercetak jelas di wajah si cewek.

"Ini untuk buku menunya, Kak. Silahkan dilihat-lihat dulu," ucap Kinan sambil meletakkan buku menu dengan hati-hati di atas meja.

"Terima kasih," jawab Nathan singkat, sedangkan cewek di depannya hanya mengangguk dan tersenyum tipis.

Kinan kemudian berbalik dan menuruni tangga menuju ke area kasir. Saat sampai disana, Belinda sudah menyiapkan sebuah nampan berisi dua gelas jus jeruk dan sepiring kue kering manis.

"Nih, Kin."

Kinan menatap nampan itu sesaat, lalu bertanya. "Ini buat siapa, Mbak? Mereka?"

Belinda mengangguk pelan sambil menata gelasnya. "Iya, ini welcome drink dan snack khusus buat pelanggan tetap."

"Oh, gitu," gumam Kinan yang sempat melirik ke arah tangga, lalu kembali menoleh ke Belinda dengan rasa penasaran yang akhirnya tak bisa ia tahan lagi.

"Eh, mbak. Cewek yang bareng Nathan tadi... itu pacarnya ya?"

"Cewek yang tadi? Bukan," ujar Belinda.

"Ohh..."

Belinda tersenyum tipis, seperti sudah menebak arah pikiran Kinan. "Kalo yang cewek itu tadi namanya Elena. Mereka berdua latihan judo di tempat yang sama. Jadi, bisa dibilang kalo Elena itu seniornya Nathan. Dia juga temanku satu angkatan waktu di SMA dulu."

Kinan hanya terdiam. Tidak ada reaksi lebih lanjut dan juga kata yang keluar dari mulutnya. Ia hanya mengangguk pelan dan pergi membawa nampan kembali ke lantai dua menaiki tangga dengan langkah yang sedikit lebih perlahan dari biasanya.

Sesampainya di depan meja Nathan. "Ini welcome drink dan snack-nya, Kak," katanya sambil meletakkan minuman dan kue di atas meja dengan rapi. "Apakah saya sudah bisa mencatat pesanannya sekarang, Kak?"

Nathan menoleh ke arah Kinan dan menyebutkan pesanannya. "Rainbow cake satu, tapi cherry-nya tolong diganti sama krim coklat saja. Lalu minumnya... hot mocca latte. Udah, itu aja."

Kinan mencatat dengan cekatan dan mengulangi pesanan milik Nathan. "Satu rainbow cake, cherry-nya diganti dengan krim coklat dan minumnya satu hot mocca latte." Kemudian Kinan mengarahkan senyumannya ke Elena. "Kalau kakaknya?"

Elena tampak masih kebingungan, membolak-balik halaman buku menu seolah-olah sedang memilih pasangan hidupnya. Akhirnya ia menghela napas pelan. "Hmm... aku cheese croissant deh satu. Terus minumnya hot green tea aja," putusnya sambil menutup buku menu.

"Satu cheese cake dan satu hot green tea," ucap Kinan mengulangi pesanan milik Elena. "Baik. Ditunggu sebentar ya, Kak."

Kinan sedikit membungkuk dan berbalik badan kemudian menuruni tangga. Begitu sampai di kasir, ia langsung menyerahkan pesanan itu ke Belinda yang baru muncul dari arah dapur.

"Nih pesanannya, Mbak."

"Hmm, seperti biasa," gumam pelan Belinda. Bahkan Kinan pun tak mendengarnya.

"Apa, Mbak?"

"Apa? Hehe. Siap," jawab Belinda sambil pura-pura mengecek lagi pesanan Nathan. Lalu ia kembali ke dapur dan bergegas menyiapkannya.

Beberapa saat kemudian, kue pesanan tadi sudah siap. Kinan langsung mengambil nampan yang tadi ia taruh di dekat meja kasir, sebelum ia bertanya pelan. "Mbak, pelanggan tetap seperti Nathan itu... maksudnya yang sering banget dan rutin kesini gitu ya?"

"Bisa dibilang begitu." Belinda membuka pintu dapur dan berjalan ke samping Kinan. "Mereka itu yang hampir rutin datang kesini dan udah sangat dekat dengan tempat ini. Kalo gak salah ingat, ada tujuh orang sih."

"Hmm, dan aku baru tahu satu doang," ujar kinan pelan.

"Nanti pelan-pelan kamu juga bakal tau semuanya sendiri. Mungkin."

Kemudian anak barista memberi tahu bahwa minuman juga sudah siap. Kinan menata kembali semuanya diatas nampan, sempat termenung beberapa detik hingga akhirnya ia naik melangkah kembali ke lantai dua dengan hati-hati.

Kinan meletakkan satu per satu pesanan di atas meja Nathan dan Elena. "Selamat menikmati, Kak," ucapnya ramah sambil mengambil kembali buku menu lalu menuruni tangga dan kembali ke posisinya di belakang meja kasir.

Hari minggu ini sungguh hari yang sangat melelahkan bagi Kinan. Bahkan sampai malam pun, masih banyak pelanggan yang datang silih berganti. Ketika jam mendekati setengah sembilan malam serta sudah close order, cake shop sudah hampir semua kosong dan menyisakan dua-tiga meja pelanggan saja. Hingga setengah jam kemudian, semua pegawai pun mulai sibuk membersihkan area depan dan dapur.

Anya membalik tulisan open menjadi close dan mengunci pintu depan dilanjut dengan menyapu lantai satu. Dua barista sudah lebih dulu selesai beres-beres di area bar, mencuci gelas-gelas serta menata dan menghitung ulang stok bahan.

Kinan ikut membereskan meja-meja dan membantu Anya menyusun kursi di lantai satu serta lantai dua. Setelah semuanya selesai, ia mengambil jaket, tas selempang dan tas laptopnya dari loker pegawai.

Di area parkir, Kinan sudah duduk diatas motornya dan berpamitan kepada Belinda serta pegawai lainnya yang masih mengobrol di dekat motornya masing-masing. "Makasih semuanya untuk hari ini. Aku mau pulang duluan."

"Hati-hati, Kin," ujar Belinda sambil melambaikan tangan.

"Awas, Kin. Malem-malem banyak setan," kata salah satu anak barista.

"Sampai ketemu besok," sambung Anya dengan wajah yang sudah begitu ngantuk.

Kinan menyalakan motornya dan perlahan meninggalkan cake shop yang sudah redup semua lampunya. Angin malam membelai wajahnya sepanjang perjalanan menuju rumahnya. Hari ini memang sangat melelahkan serta juga menyenangkan, akan tetapi ada sesuatu yang terus mengusik pikirannya.

Sosok Nathan.

Entah mengapa, sorot mata cowok itu terasa seolah-olah masih menahannya, tertinggal di benaknya.

"Kenapa wajahnya terus membayangi pikiranku? Aku aja bahkan tidak mengenalnya. Seperti ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Atau..."

Pikiran Kinan bergejolak sepanjang perjalanan pulang tanpa ia mengerti jawabannya.

Lampu-lampu jalan silih berganti menerangi jalannya. Deretan toko-toko yang sudah tutup berubah menjadi warung kopi kaki lima yang cukup ramai. Dan begitu saat Kinan mulai memasuki tikungan kecil, lamunannya mendadak buyar karena seorang anak kecil berlari menyeberang dengan tiba-tiba. Dengan refleks, Kinan menarik rem motornya kuat-kuat.

Sreeeeeeeet!!!

Jantung Kinan berdegup kencang. Motornya sedikit tergelincir, tubuhnya miring lalu jatuh menghantam aspal disertai dengusan pendek. Tidak terlalu keras, tapi cukup membuat dengkulnya perih dan telapak tangannya lecet.

"Astaga." Seorang pria berlari mendekat ke arah Kinan sambil menggandeng anak kecil yang kini menatapnya dengan mata ketakutan. Lalu ia mencoba menegakkan motor Kinan yang jatuh.

"Maaf. Sekali lagi maafkan anak saya, Mbak. Anak saya tadi lepas dari genggaman saya."

"Ah, iya. Gak apa, Mas."

"Sekali lagi, saya minta maaf."

"Iya, Mas. Tadi saya juga kurang fokus naik motornya." Kinan sedikit menahan rasa sakit, mencoba tersenyum sambil perlahan duduk.

Seorang wanita muda tak lama kemudian datang. Ibu dari anak kecil itu ikut menghampiri, memeriksa Kinan dengan wajah yang cemas. Lalu mereka bersama membantu Kinan untuk berdiri dan memastikan tak ada luka yang serius.

Anak kecil itu masih menatap Kinan masih dengan wajah yang ketakutan dan penuh rasa bersalah. "Ma-maafin Diska ya, Mbak."

Kinan menatapnya sejenak, lalu menghela napas panjang lalu tersenyum kecil.

"Mbak baik-baik aja kok. Tapi lain kali, Diska lebih hati-hati ya. Kasihan nanti ayah dan ibu kalo misal Diska kenapa-napa."

"Iya," ucap Diska sembari matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis.

Mereka akhirnya berpamitan, mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada Kinan sebelum beranjak pergi. Kinan memandangi punggung mereka yang berjalan saling bergandengan, lalu tertawa kecil saat melihat si anak kecil itu mulai mengoceh riang tak jelas, seolah lupa pada insiden yang barusan terjadi.

Ada sesuatu yang menyesakkan dalam hati Kinan. Rasanya aneh dan janggal, tetapi sekaligus terasa hangat. Mungkin... rasa itu lagi.

Sesampainya di rumah, Kinan mendapati ibunya ketiduran di sofa karena menunggu dirinya pulang. Suara derit pintu yang Kinan buka seketika membuat ibunya terbangun.

"Eh, Nak. Baru pulang kamu," sapa ibunya dengan suara serak khas orang baru bangun.

"Iya, Bu. Agak telat sedikit."

Kinan merasa tak enak hati melihat ibunya sampai ketiduran, lalu ia menaruh tasnya di meja dan duduk di sebelah ibunya. Meskipun Kinan mencoba menutupi tangannya yang lecet, ibunya tetap menyadarinya.

"Tanganmu kenapa itu, Nak?" tanya ibunya yang langsung memegangi tangan Kinan.

"Ah, ini. Gak apa kok, Bu. Tadi cuman terjatuh pelan dari motor."

"Astaghfirullah. Kamu tunggu sebentar biar ibu ambilkan obat."

"Gak perlu, Bu. Ini cuman lecet dikit aja."

Ibu Kinan dengan tergesa-gesa masuk ke dalam kamarnya mengambil salep dan segera mengoleskan ke tangan anaknya. Kinan hanya terdiam melihat ibunya yang sepenuh hati mengobatinya. Bahkan luka sekecil itu pun bisa membuat ibunya merasa sangat khawatir.

Kinan merasa menjadi orang paling bahagia di dunia karena memiliki ibu yang begitu menyayanginya, selalu perhatian padanya, peduli melebihi siapapun. Satu-satunya alasan yang membuatnya tetap tegar dan semangat dalam menjalani hari-harinya selama ini.

Dan mungkin... muncul satu lagi.

1
Crestfall
Mika favoritku sih
Crestfall
👍👍👍
Rey
Cukup menarik. sepertinya aku bakal stay ngikutin ini
Ryn Takumi: Makasih, Kak.
Jangan bosen bacanya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!