NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Suasana aula utama vila mendadak senyap. Bisik-bisik ketakutan langsung surut saat tiga petugas kepolisian melangkah lebar melintasi karpet merah menuju panggung utama.

Dion Hartono berdiri membeku di samping meja panitia. Senyum culas dan raut tenang yang selama ini jadi topeng sempurnanya mendadak hancur, digantikan kilat kepanikan yang tak sanggup ia sembunyikan.

"Saudara Dion Hartono?" salah satu petugas membuka suara tegas sambil menarik surat perintah dari map cokelat. "Kami dari Kepolisian Regional membawa surat perintah atas dugaan manipulasi data digital, pencemaran nama baik, serta peretasan sistem pendidikan."

Seluruh siswa dan panitia di aula menahan napas. Ponsel-ponsel yang baru dikembalikan seusai isolasi langsung menyala, merekam adegan tak terduga itu.

Jemari Dion mengepal erat hingga bukunya memutih. Matanya yang memerah menatap Arka yang berdiri tenang di sebelah Kirei.

"Ini jebakan!" seru Dion, suaranya yang biasa hangat kini terdengar parau dan serak. "Arka! Lo meretas sistem perusahaan gue! Lo yang menjebak gue!"

Arka tak bergeming sedikit pun. Satu tangannya melesak santai di saku celana, sementara tangan lainnya merangkul bahu Kirei dengan gerakan protektif yang dominan.

"Gue enggak menjebak lo, Dion," ujar Arka, suaranya rendah tetapi menggelegar ke tiap sudut ruangan. "Gue cuma mengembalikan sistem ke data yang sebenarnya. Bukti transfer uang lo ke teknisi penilai dan draf dokumen palsu di koper besi semalam... sudah masuk ke kantor polisi sepuluh menit lalu."

Wajah Dion kian pucat pasi. Ia melirik koper besi di bawah meja panitia yang kini sudah diamankan petugas sebagai barang bukti utama.

"Bawa dia," perintah perwira polisi singkat.

Dion tak mampu berkutik saat dua tangan tegap petugas mengunci lengannya. Pas digiring melewati Arka dan Kirei, Dion menahan langkah sejenak. Sorot matanya yang liar menatap Kirei penuh keputusasaan.

"Lo pikir ini sudah selesai, Kirei?" bisik Dion penuh ancaman. "Hartono Corp enggak bakal tinggal diam. Tante Eleonora juga enggak bakal membiarkan pernikahan kalian bertahan!"

"Hartono Corp sudah dibekukan perizinannya sejak sejam lalu, Dion," sela suara berat berwibawa dari arah pintu masuk.

Semua pandangan tertuju ke pintu. Tuan Wijaya—Kakek Kirei—berdiri bertumpu pada tongkat kayunya. Meski fisiknya belum pulih total dan wajahnya sedikit pucat, aura kepemimpinan sang pengusaha senior itu menguar begitu kuat. Dua pengacara hukum keluarga berdiri siaga di sampingnya.

"Kakek?" Kirei terperanjat, melangkah mendekat dengan mata berbinar lega. "Kakek sudah boleh keluar dari rumah sakit?"

Tuan Wijaya tersenyum hangat, mengusap lembut kepala cucu kesayangannya. "Kakek enggak mungkin membiarkan cucu Kakek berjuang sendirian melawan ular-ular bisnis itu, Kirei."

Pandangan Tuan Wijaya lalu beralih pada Dion yang tangannya sudah terikat manset besi. "Bapak kamu sudah ditangkap di Surabaya atas dugaan pencucian uang dan kerja sama ilegal dengan Aditama. Dinasti Hartono Corp... resmi berakhir hari ini."

Dion tertunduk lesu, seluruh keangkuhannya runtuh tanpa sisa saat petugas membimbingnya keluar menuju mobil patroli.

Pukul 17.00 WIB.

Sinar matahari sore menembus celah-celah pohon pinus di halaman luar, memantulkan warna keemasan yang hangat di atas tanah yang basah.

Rombongan bus sekolah mulai bersiap kembali ke Jakarta. Di pinggir area parkir, Kirei berdiri berdampingan dengan Kakeknya, sementara Arka tampak bicara serius di dekat mobil pribadi Keluarga Wijaya.

"Arka anak yang sangat bertanggung jawab, Kirei," ujar Tuan Wijaya pelan, memperhatikan gerak-gerik Arka dari jauh. "Dulu Kakek sempat ragu apakah keputusan mengikat kalian dalam pernikahan rahasia ini benar atau salah. Tapi melihat bagaimana dia mempertaruhkan segalanya buat melindungi kamu... Kakek tahu pilihan Kakek enggak salah."

Kirei meremas jemarinya, menunduk dengan pipi merona hangat. "Kakek... soal perjanjian sembilan belas poin dan status pernikahan kami..."

"Poin-poin itu cuma kertas, Kirei," Tuan Wijaya terkekeh pelan, menepuk bahu Kirei. "Yang paling penting adalah apa yang ada di dalam hati kalian berdua sekarang."

Kirei menggigit bibir, menatap Arka yang kini berjalan mendekati mereka. Di dalam dadanya, perasaan hangat yang selama ini ia sembunyikan makin mengkristal nyata. Ia tak lagi menganggap Arka sebagai "suami paksaan" atau sekadar rekan kerja sama, melainkan sosok yang benar-benar telah memegang utuh hatinya.

"Sopir sudah siap, Om," kata Arka sopan pada Tuan Wijaya. "Om Wijaya bisa naik mobil duluan biar enggak kelelahan."

"Terima kasih, Arka," Tuan Wijaya mengangguk puas. "Kalian berdua naik bus rombongan saja bersama teman-teman sekolah, ya?"

"Baik, Kek," jawab Kirei ramah.

Begitu mobil Tuan Wijaya berlalu melintasi gerbang vila, keheningan yang manis menyelimuti Kirei dan Arka.

Arka memutar tubuhnya, memindai Kirei dari ujung kepala sampai kaki. Senyum miringnya yang jahil kembali terukir.

"Gimana rasanya dapat skor seratus sempurna di olimpiade, Bu Ketua?" goda Arka, memangkas jarak satu langkah.

Kirei tertawa kecil, membetulkan posisi kacamatanya. "Biasa aja. Yang bikin lega itu karena ancaman Dion dan Hartono Corp akhirnya beres."

Tawa Kirei mereda, berganti tatapan lurus ke dalam iris cokelat pekat Arka. Nada suaranya berubah lembut. "Arka... makasih ya. Buat semuanya."

Arka tak membalas dengan kata-kata. Tangannya terulur meraih jemari Kirei, menggenggamnya erat di depan umum—tanpa ragu atau sembunyi-sembunyi lagi.

"Masih ada satu masalah yang belum selesai, Kirei," bisik Arka rendah, menundukkan wajah hingga jarak mata mereka begitu dekat.

Dada Kirei berdesir kencang. "M-masalah apa lagi?"

"Soal ucapan lo di dermaga dan di depan Mama," Arka menatap bibir Kirei, lalu kembali mengunci pandangannya di mata cewek itu. "Lo bilang lo serius waktu sebut gue suami lo. Artinya... aturan sembilan belas poin kita sudah enggak berlaku lagi, kan?"

Pipi Kirei mendadak membara. "A-Arka! Anak-anak OSIS sama tim basket pada ngeliatin kita!"

"Biarin," sahut Arka santai, justru makin merapatkan genggamannya sambil terkekeh miring. "Mulai besok di rumah... gue mau buat aturan baru."

"Aturan apa?"

"Aturan di mana Bu Ketua enggak boleh menolak kalau suaminya minta peluk tiap malam," bisik Arka tepat di telinga Kirei, mengirimkan sensasi hangat yang membakar pipi cewek itu.

Kirei menepuk dada Arka pelan karena malu, tapi jemarinya tak sedikit pun berkeinginan lepas dari genggaman hangat cowok itu. Mereka melangkah beriringan menuju bus rombongan, bersiap menyambut babak baru tanpa bayangan teror.

Namun, tepat saat mesin bus meraung siap menuruni kawasan Puncak, ponsel Arka di saku jaketnya bergetar kencang. Sebuah pesan gambar masuk dari nomor tak dikenal:

Sebuah foto Kirei dan Arka yang sedang bergandengan tangan di depan rumah minimalis mereka, dengan satu kalimat pesan singkat di bawahnya:

"Kalian pikir perang ini sudah usai? Selamat datang di permainan sesungguhnya, Arka dan Kirei."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!