NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN SANG PEWARIS SAKTI

KEBANGKITAN SANG PEWARIS SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Selama tiga tahun, Ye Chen hidup sebagai menantu benalu di keluarga Su. Dia mencuci pakaian, memasak, dan menerima setiap hinaan tanpa melawan demi melindungi istrinya yang dingin namun cantik jelita, Su Yuhan. Semua orang memanggilnya anjing pecundang, tanpa tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah keluarga paling berkuasa di ibu kota.
​Ketika sebuah konspirasi mengancam nyawa istrinya dan mertuanya memaksanya untuk bercerai demi menikahkan Yuhan dengan tuan muda kaya, sebuah liontin giok peninggalan ibunya menyerap darah Ye Chen dan membangkitkan Warisan Tabib Naga Sakti. Di saat yang sama, iring-iringan Rolls-Royce hitam dari ibu kota tiba di depan rumahnya.
​Mulai hari ini, sang naga telah membuka matanya. Mereka yang pernah menghinanya harus berlutut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Menantu Emas dan Keraguan Sang Master Bela Diri

​Di dalam ruang kerja Direktur di lantai lima belas Grup Kosmetik Su, suasana dipenuhi oleh kepanikan yang menyesakkan dada.

​Su Ming menenggak segelas air es dengan tangan gemetar, lalu mengintip dari balik tirai jendela ke arah lobi bawah. Ambulans baru saja membawa tubuh ayah dan anak Keluarga Wang yang hancur berkeping-keping.

​"Ayah... kau lihat tatapan mata Ye Chen tadi?" suara Su Ming bergetar, wajahnya sepucat kertas. "Itu bukan tatapan manusia! Keluarga Wang yang begitu berkuasa dihancurkan dalam semalam, dan mereka malah bersujud padanya! Siapa sebenarnya menantu sampah itu?!"

​Su Jian duduk di kursi kulitnya, wajah tuanya berkerut dalam memancarkan ketakutan yang sama, namun bercampur dengan kebencian yang mendalam.

​"Kita sudah salah perhitungan, Ming," desis Su Jian, menggebrak meja pelan. "Tidak peduli siapa di belakang Ye Chen, entah itu bos dunia bawah atau pangeran ibukota... kita tidak bisa lagi melawannya secara terang-terangan di Jiangcheng."

​"L-lalu apa yang harus kita lakukan? Membiarkan Yuhan menguasai seluruh perusahaan kakek?!"

​"Tentu saja tidak!" Mata Su Jian menyipit, memancarkan kelicikan layaknya ular berbisa. "Keluarga Su kita di Jiangcheng ini hanyalah cabang kecil. Ingat Keluarga Utama Su di Ibukota Provinsi (Jiangbei)? Kudengar Tuan Muda dari Keluarga Utama sedang mencari pijakan bisnis di kota ini. Jika kita menyerahkan sebagian besar saham kita padanya, Keluarga Utama pasti akan turun tangan untuk menghancurkan Yuhan dan suaminya itu!"

​Su Ming terbelalak, lalu senyum licik mengembang di wajahnya. "Ide yang brilian, Ayah! Tidak peduli seberapa hebat Ye Chen meminjam kekuatan preman lokal, dia tidak akan berkutik di hadapan raksasa sekelas Keluarga Utama Su dari Provinsi!"

​Keduanya tertawa sinis, tidak menyadari bahwa rencana bodoh mereka hanya akan mempercepat kedatangan malaikat maut.

​Sore harinya, di Vila Keluarga Su.

​Begitu pintu depan terbuka dan Ye Chen melangkah masuk bersama Yuhan, aroma harum masakan langsung tercium dari arah ruang makan.

​"Oh, menantuku yang berharga! Yuhan anakku! Kalian sudah pulang!"

​Zhao Mei, yang biasanya sedang duduk mengikir kuku sambil menonton TV, kini berlari keluar dari dapur mengenakan celemek. Wajah wanita paruh baya itu dipenuhi senyum manis yang begitu lebar hingga matanya menyipit menjadi satu garis.

​Yuhan mematung di ambang pintu, menatap ibunya dengan ekspresi seolah melihat alien. "Ibu... Ibu memasak?"

​"Tentu saja!" Zhao Mei tertawa ramah, mengambil tas kerja Ye Chen dari tangannya dengan sigap. "Kalian pasti lelah bekerja seharian. Ye Chen, menantuku yang hebat, cepat cuci tanganmu. Ibu sudah membuatkan sup abalon, teripang, dan iga sapi panggang khusus untukmu!"

​Ye Chen mengangkat alisnya. Tiga tahun tinggal di rumah ini, ia hanya pernah makan sisa makanan. Hari ini, ia disuguhi abalon dan teripang—makanan kelas atas yang biasanya disembunyikan Zhao Mei untuk dirinya sendiri.

​"Ibu tidak perlu repot-repot," ucap Ye Chen santai, berjalan menuju meja makan.

​"Tidak repot! Sama sekali tidak repot!" Zhao Mei menarik kursi untuk Ye Chen, lalu memijat bahu menantunya itu dengan antusias. "Mulai sekarang, kau tidak perlu lagi menyapu, mengepel, atau mencuci baju. Ibu akan menyewa tiga pembantu besok pagi! Kau hanya perlu fokus menemani Yuhan dan... ehem, mengurus urusan di Ibukota."

​Zhao Mei mengedipkan mata, jelas merujuk pada Kartu Hitam Naga Tertinggi dan status Ye Chen sebagai pewaris Keluarga Ye. Kejadian hancurnya Keluarga Wang yang masuk berita lokal pagi tadi semakin membuat Zhao Mei yakin bahwa menantunya ini adalah dewa kekayaan yang harus ia sembah.

​Su Yuhan menutupi wajahnya yang merona merah karena malu melihat kelakuan ibunya yang sangat materialistis. "Ibu, hentikan. Ye Chen mau makan."

​Makan malam itu berlangsung dengan sangat canggung bagi Yuhan, namun Ye Chen menikmatinya dengan tenang. Ia tahu sifat mertuanya tidak akan berubah dalam semalam, tapi setidaknya, telinganya tidak perlu lagi mendengar cacian murahan setiap hari.

​"Ngomong-ngomong, Yuhan," Ye Chen meletakkan sumpitnya. "Besok pagi aku ada urusan di luar. Aku mungkin tidak akan ke kantor."

​"Urusan apa?" tanya Yuhan.

​"Memenuhi janji dengan seorang kenalan lama. Hanya urusan kecil," jawab Ye Chen dengan senyum tipis. Janji untuk menyembuhkan Master Tang dan menembus batas bela dirinya.

​Keesokan paginya, di Kediaman Utama Keluarga Tang.

​Vila bergaya tradisional Tiongkok dengan taman batu dan kolam koi itu memancarkan kemegahan. Ye Chen dijemput secara pribadi oleh Tang Ruoxue menggunakan mobil Bentley Mulsanne.

​Saat Ye Chen melangkah masuk ke aula utama, ia disambut oleh Master Tang Zhenhai yang wajahnya terlihat jauh lebih segar dari beberapa hari lalu.

​"Tuan Muda Ye! Anda benar-benar datang!" Master Tang membungkuk hormat.

​Namun, sebelum Ye Chen sempat membalas, sebuah dengusan dingin dan arogan terdengar dari sisi ruangan.

​"Jadi ini 'Dewa Medis' yang kau bangga-banggakan itu, Tang Tua? Bocah yang bahkan rambutnya belum tumbuh sempurna ini?"

​Ye Chen menoleh. Duduk di kursi kayu mahoni, seorang pria paruh baya mengenakan pakaian bela diri sutra berwarna abu-abu sedang menyesap teh. Pria itu memiliki alis tebal menukik, tangan dengan buku-buku jari yang kapalan parah, dan aura yang cukup menekan.

​Tang Ruoxue buru-buru berbisik di telinga Ye Chen. "Tuan Ye, mohon maaf. Beliau adalah Master Wu dari Asosiasi Bela Diri Provinsi Jiangbei. Pagi ini beliau datang tanpa diundang, mengklaim membawa pil dewa untuk menyembuhkan kakek."

​Tang Zhenhai tersenyum canggung. "Master Wu, tolong jaga ucapan Anda. Tuan Ye adalah penyelamat nyawa saya."

​Master Wu meletakkan cangkir tehnya dengan keras ke atas meja.

​Brak!

​Meja kayu mahoni padat itu seketika retak! Ini adalah demonstrasi kekuatan (Qi) internal tingkat tinggi. Master Wu adalah seorang ahli bela diri di tahap Setengah Langkah Grandmaster (Half-step Grandmaster)—satu tingkat di atas petarung biasa.

​"Tang Tua, kau ini mantan jenderal, tapi otakmu sudah pikun," cibir Master Wu, berdiri dan berjalan menghampiri Ye Chen dengan tatapan merendahkan. "Racun Bunga Es Hitam bukanlah penyakit biasa. Itu adalah racun dari dunia bela diri. Tabib jalanan seperti bocah ini paling hanya bisa menstabilkannya sementara."

​Master Wu mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dan membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah pil berwarna hijau kusam yang berbau menyengat.

​"Ini adalah Pil Penolak Racun Seratus Herbal yang kubeli dari Sekte Pengobatan Kuno seharga sepuluh juta yuan! Hanya butuh satu pil, racunmu akan tuntas, dan kau bisa menerobos batas bela dirimu, Tang Tua! Berhentilah membuang waktu dengan penipu cilik ini!"

​Master Tang terlihat ragu. Ia tahu reputasi Master Wu sangat tinggi di Ibukota Provinsi.

​Ye Chen menatap pil hijau di tangan Master Wu, lalu menggelengkan kepalanya pelan sambil tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat mengejek.

​"Kau menertawakan apa, Bocah?!" bentak Master Wu, auranya meledak.

​"Aku menertawakan kebodohanmu," ucap Ye Chen santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Kau menyebut barang sampah itu sebagai Pil Penolak Racun?"

​"Kurang ajar! Ini buatan alkemis dari Sekte Pengobatan Kuno!"

​"Itu hanya campuran daun mint, empedu ular, dan belerang yang dipanaskan terlalu lama. Alih-alih menyembuhkan racun Es Hitam..." Ye Chen menatap lurus ke mata Master Wu, suaranya berubah dingin. "...memakan pil panas itu di saat jantung Master Tang masih lemah akibat racun es, sama saja dengan melemparkan air ke dalam minyak mendidih. Kau tidak sedang menyembuhkannya, kau sedang mencoba meledakkan jantungnya!"

​Wajah Master Wu berubah drastis, antara terkejut dan marah karena rahasianya nyaris terbongkar.

​"Tutup mulut busukmu, Bocah!" Master Wu mengaum. Ia memutuskan untuk langsung bertindak. Tangannya membentuk cakar elang, dan Qi internalnya mengalir ke ujung jarinya, bersiap mencengkeram leher Ye Chen. "Beraninya kau menghina Asosiasi Bela Diri Provinsi! Akan kupatahkan lehermu!"

​"Tuan Ye! Awas!" Tang Ruoxue menjerit panik. Master Tang juga melangkah maju berniat menghentikan serangan itu, namun kecepatan Master Wu terlalu tinggi.

​Angin tajam dari cakar Master Wu menyapu wajah Ye Chen.

​Namun, bukannya menghindar, Ye Chen hanya berdiri tegak. Saat cakar itu tinggal beberapa sentimeter dari lehernya, mata Ye Chen memancarkan kilatan emas yang mengerikan.

​Ye Chen perlahan mengangkat satu tangannya, lalu menyentil udara di depannya dengan santai.

​"Hanya seorang Setengah Langkah Grandmaster, beraninya pamer di depanku?"

​BAM!

​Tidak ada kontak fisik. Hanya ledakan udara akibat energi spiritual murni (True Qi) dari Teknik Penakluk Naga yang melesat dari jari Ye Chen.

​Master Wu, yang sedang menerjang maju dengan kekuatan penuh, tiba-tiba merasa seolah dadanya dihantam oleh kereta api berkecepatan tinggi tak kasat mata.

​"Pfft...!"

​Master Wu menyemburkan darah segar dari mulutnya. Tubuhnya terpelanting ke belakang sejauh sepuluh meter, menghancurkan pilar penyangga kayu di tengah aula, sebelum akhirnya jatuh terkapar di lantai dengan suara tulang rusuk yang patah berantakan.

​Hening.

Aula utama yang luas itu seketika sunyi senyap seolah waktu berhenti berdetak.

​Cangkir teh di tangan Master Tang terjatuh dan pecah berkeping-keping. Mata pria tua itu melotot seolah melihat iblis turun dari langit.

​Hanya dengan satu sentilan udara dari jarak jauh? Memukul mundur seorang Setengah Langkah Grandmaster?!

​"G-Grandmaster... Pelepasan Qi Eksternal... k-kau adalah... seorang Grandmaster Sejati?!" Master Wu mengerang dari lantai, matanya memancarkan horor absolut saat menatap pemuda berpakaian kasual di depannya.

​Di usia awal dua puluhan... seorang Grandmaster Bela Diri?! Monster macam apa pemuda ini?!

1
yos helmi
sdh banyak cerita seperti alur ini.. tp semua ng pernah tamat.. cerita ciplakan/saduran.. jd jgn harap tamat
Marthen
dari teknik bela diri penakluk naga apakah ada sutra naga penyerap energi agar kultivadinya naik lagi kan sayang energi musuh yg terbuang....?
Arinto Ario Triharyanto
mantap ini😎
Marthen
banjir darah mewarnai pesta ulangtahun
Arinto Ario Triharyanto
tegas lugas gak pake lama... mantul 😎
Marthen
seru sekaLi.....
Marthen
keren....suka dgn jalan ceritanya.....
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Asosiasi bela diri sampai ke akar akarnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai semua musuhnya sampai ke akar akarnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai su zheng bikin dia menyaksikan sendiri pas yechen bantai semua klan su sampai ke akar akarnya bikin su zheng mengutuk putranya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!