kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.
pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.
setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.
yuk simak kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tolong bertahan
Suara sirene meraung-raung, membelah gelap malam yang terasa begitu dingin dan membekukan.
Langit tak berbintang, seolah ikut menahan napas menyaksikan ketakutan yang melanda dada Seraphina.
Di ruang tunggu rumah sakit yang sepi dan remang cahayanya, Sera masih duduk terpaku.
Tubuhnya terasa kaku, tangan saling meremas erat hingga buku jarinya memutih. Sisa darah yang mengering di pakaiannya masih menyisakan aroma amis.
Sisi kening Sera sudah di perban karena luka lecet akibat benturan di dasbor mobilnya.
Matanya tak lepas dari pintu ruang gawat darurat yang tertutup rapat, di mana lampu merah terus menyala seakan memberi tanda bahwa nyawa orang yang kini ada di dalam sedang dipertaruhkan.
Bayangan kejadian tadi terus berputar di kepalanya, saat mobilnya tak sengaja menabrak mobil Dikta yang berada di depan, saat suara benturan keras terdengar, dan saat sosok laki-laki itu terjatuh tak sadarkan diri di pelukannya.
Rasa bersalah merambat tajam, melukai hatinya berkali-kali lipat. Andai ia lebih berhati-hati, andai ia tak menjatuhkan earphone miliknya dan berusaha mencarinya.....mungkin saja kini Dikta tak akan terbaring di sana.
Pintu itu sesekali terbuka, keluar-masuk perawat dengan langkah tergesa-gesa. Setiap kali pintu bergerak, jantung Sera seakan berhenti berdetak sejenak, menanti kabar yang begitu ia takutkan.
Waktu terasa berjalan lambat bagai tertahan. Dinginnya udara malam tak terasa lagi, digantikan oleh keringat dingin yang membasahi pelipisnya.
“Kau harus baik-baik, Dikta… Kumohon…” bisiknya lirih, suaranya bergetar tertahan di kerongkongan.
Tak ada yang tahu betapa gelisahnya hatinya saat melihat darah mengalir dari pelipis laki-laki itu. Meski masa lalu penuh luka di antara mereka, meski perpisahan pernah terjadi dengan penuh kepahitan tapi ia tak pernah sekali pun berharap menyakiti Dikta.
Ia masih duduk di sana, tak beranjak sedikit pun.
Menanti, berdoa, dan menahan segala rasa yang terus mendesak keluar.
Biarlah malam ini terasa begitu panjang dan menyakitkan, ia akan tetap menunggu. Hingga pintu itu terbuka kembali, dan ia mendengar kabar yang menenangkan, bahwa Dikta akan selamat, dan masih ada waktu bagi mereka untuk meluruskan segala yang pernah terlanjur keliru.
...****************...
Lampu merah di atas pintu ruang gawat darurat akhirnya padam perlahan. Seiring dengan itu, pintu terbuka dan seorang dokter keluar sambil melepas sarung tangannya. Sera langsung bangkit dengan kaki gemetar, nyaris tersandung kursi yang ia duduki sedari tadi.
“Bagaimana keadaannya, Dokter?” tanyanya dengan suara tercekat, matanya berkaca-kaca menatap pria berjas putih itu.
Dokter itu tersenyum tipis, berusaha menenangkan. “Kondisinya sudah stabil. Tidak ada cedera serius, hanya benturan keras di kepala dan luka lecet di beberapa bagian tubuhnya. Pasein masih belum sadar karena efek obat bius, tapi sebentar lagi seharusnya akan siuman. Ibu boleh masuk sebentar, tapi jangan terlalu lama.”
Lega yang meluap di dada Sera membuat lututnya lemas.
Ia mengusap air mata yang tak sadar menetes, lalu mengangguk pelan. Dengan langkah hati-hati, ia melangkah masuk ke ruangan yang kini hanya diterangi cahaya temaram.
Di sana, Dikta terbaring diam di atas ranjang. Wajahnya pucat, ada perban melilit di bagian kepala, lengan dan kakinya namun napasnya terdengar teratur.
Sera berdiri kaku di sisi ranjang, tangannya ragu menyentuh punggung tangan Dikta yang terasa hangat meski udara ruangan cukup dingin.
“Maafkan aku…” bisiknya parau, air mata kembali menetes jatuh ke punggung tangan Dikta. “Andai aku lebih berhati-hati… kau tidak akan terluka begini.”
Tak lama kemudian, jari-jari tangan Dikta bergerak pelan.
Kelopak matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya terbuka perlahan. Tatapan matanya masih samar, perlahan mulai fokus pada sosok yang duduk di sampingnya.
“Sera…” panggilnya lirih, suaranya terdengar serak namun begitu jelas di telinga perempuan itu.
Sera menahan isak tangisnya, mengangguk cepat. “Aku di sini. Kau sudah sadar. Kau aman sekarang.”
Dikta mencoba tersenyum meski wajahnya masih terlihat kesakitan.
Tangannya bergerak lemah, mencoba meraih tangan Sera yang masih menggenggam erat jemarinya. “Jangan menangis… aku tidak apa-apa. Yang penting… kau tidak terluka.”
Mendengar ucapan itu, hati Sera terasa perih sekaligus hangat.
Bahkan dalam keadaan terluka sekalipun, Dikta masih memikirkannya. Di tengah keheningan ruangan itu, di antara detak jantung yang kembali berirama tenang,
Sera sadar, perasaan yang dulu pernah ada, tak pernah benar-benar hilang meski sudah bertahun-tahun dan meski Dikta pernah menyakiti hatinya.
Nyatanya nama itu masih ada dan tersimpan jauh di sudut hatinya tanpa terusik sama sekali dan hari ini, dalam satu kejadian, rasa itu masih menggetarkan hati Sera.
bersambung....
Ditunggu crazy up nya💪