Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.
Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.
"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."
Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Griya Prawira, Dago
Keisha menduga rumah di Dago itu memiliki dua lantai, tiga kamar, dan halaman kecil yang cukup untuk menjemur pakaian.
Ia salah dalam semua hal.
Mobil Arya berhenti di depan gerbang batu hitam yang terbuka tanpa ia menurunkan kaca. Jalan masuknya melengkung di antara pohon pinus dan taman yang dipangkas rapi. Di ujungnya berdiri vila tiga lantai dengan jendela lebar, balkon kayu, dan halaman belakang yang menghadap lereng hijau Bandung Utara.
Keisha belum turun, tetapi sudah menoleh kepada Arya. "Kamu bilang rumah."
Di sisi bangunan, pintu garasi terbuka sesaat. Keisha melihat dua mobil lain terparkir di dalam, rak perkakas tanpa satu pun benda miring, dan lemari besi tinggi di sudut. Bahkan garasinya lebih rapi daripada ruang tindakan setelah inspeksi.
"Ini rumah."
"Ini bisa dijadikan tempat retret satu rumah sakit."
Arya mematikan mesin. "Berlebihan."
"Ada pos keamanan di gerbangmu."
"Dago perlu keamanan."
Jawaban itu terdengar masuk akal sampai Keisha melihat dua kamera mengikuti arah mobil mereka. Ia mengembuskan napas, lalu mengingat kotak perhiasan di pangkuannya dan map hibah di dalam tas.
Semakin lama, lelaki yang dinikahinya terasa semakin mirip pintu terkunci dengan puluhan lapis besi.
Seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan menyambut mereka di teras. Senyumnya hangat, celemeknya bersih, dan kerudung warna kremnya terpasang rapi.
"Selamat datang, Pak Arya, Bu Keisha. Saya Yati. Panggil saja Bu Yati." Ia menerima satu koper dari sopir, lalu menatap keduanya dengan mata berbinar. "Alhamdulillah, akhirnya rumah ini punya nyonya."
Keisha hampir tersedak udara.
Arya mengangkat kotak perhiasan dari pangkuannya. "Tolong siapkan lemari penyimpanan yang aman untuk ini. Tapi kuncinya tetap dipegang Keisha."
"Baik, Pak. Kamar utama juga sudah saya siapkan. Seprai baru, bunga segar, dan handuk untuk berdua."
Hening jatuh.
Keisha menatap Arya. Arya menatap Bu Yati. Bu Yati tetap tersenyum tanpa menyadari bahwa satu kalimatnya baru saja menabrak pasal terpanjang dalam perjanjian mereka.
"Sebenarnya," Keisha memulai, "saya sering jaga malam. Tidur saya tidak teratur dan suka menyalakan lampu. Mas Arya butuh istirahat, jadi kami..."
"Saya mendengkur," potong Arya.
Keisha berbalik cepat. "Apa?"
"Keras. Mengganggu."
Bu Yati berkedip. "Selama saya bekerja di sini, saya tidak pernah mendengar Pak Arya mendengkur."
"Dinding kamar saya tebal."
Keisha menggigit bagian dalam pipinya agar tidak tertawa. Lelaki yang bisa menekan Pak Herman hanya dengan tatapan itu ternyata buruk sekali dalam berbohong.
"Jadi kamar sebelah juga disiapkan," kata Arya, kembali memakai suara datar. "Bu Keisha perlu tidur tenang setelah jaga."
Tatapan Bu Yati berpindah di antara mereka. Senyumnya berubah menjadi senyum orang dewasa yang memahami sesuatu, atau merasa memahami sesuatu.
"Tentu. Pengantin baru memang perlu menyesuaikan diri pelan-pelan."
Panas merayap ke telinga Keisha. Ia berjalan masuk lebih dulu sebelum Bu Yati memberi nasihat yang lebih memalukan.
Ruang tengahnya memiliki langit-langit tinggi dan dinding kaca. Sofa abu-abu tersusun seperti tidak pernah diduduki. Tidak ada debu, tidak ada koran berserakan, bahkan bantal-bantalnya menghadap sudut yang sama.
"Kamu benar-benar tinggal di sini?" tanya Keisha.
"Kadang."
"Rumah ini seperti ruang pamer."
"Karena barang dikembalikan ke tempatnya."
Arya menatap tote bag Keisha yang terbuka. Ujung stetoskop, bungkus biskuit, dua pulpen tanpa tutup, dan kabel pengisi daya menyembul keluar.
Keisha memeluk tasnya. "Jangan menilai isi tas dokter."
"Aku sedang menghitung potensi bahaya."
"Tidak ada yang berbahaya."
Sebuah gunting kecil jatuh dari dasar tas dan berdenting di lantai marmer.
Arya membungkuk memungutnya. "Tentu."
Kamar utama berada di lantai dua, menghadap taman belakang. Bu Yati telah menaburkan beberapa kuntum melati di meja samping ranjang. Di tengah ruangan berdiri ranjang besar yang membuat Keisha teringat ucapan Eyang tentang anak, lalu buru-buru mengalihkan pandangan.
"Kamar ini untukmu," kata Arya.
"Ini kamar utama. Seharusnya kamu yang pakai."
"Kamar kerja di sebelah terhubung dengan kamar mandi lain. Cukup untukku."
"Kontrak kita bilang kamar terpisah, bukan mengusir pemilik rumah dari kamarnya."
Arya meletakkan kopernya di dekat pintu kamar sebelah. "Sekarang kamu juga pemilik rumah ini selama tinggal di sini."
"Secara hukum, tidak."
"Secara hukum, kamu istriku dan aku mengizinkanmu menggunakan semua ruang."
Keisha kehilangan balasan selama dua detik. Arya memanfaatkan kemenangan kecil itu untuk keluar membawa kopernya.
"Lemari sisi kiri kosong," katanya dari ambang pintu. "Sisi kanan juga akan dikosongkan."
"Aku cuma membawa satu koper."
"Aku melihat tiga tas tambahan di mobil."
"Itu perlengkapan kerja."
"Satu tas bertuliskan diskon sepatu."
Keisha melempar bantal kecil ke arahnya. Arya menangkapnya dengan satu tangan, menaruhnya kembali tepat pada sudut semula, lalu menutup pintu.
Menjelang malam, jejak Keisha mulai terlihat di rumah yang semula terlalu sempurna. Syalnya tertinggal di sandaran sofa. Gelas tehnya berada di meja kerja. Tiga buku medis menumpuk di meja makan karena ia belum menentukan tempat menyimpannya.
Arya berjalan melewati semua itu dengan rahang yang semakin kaku.
"Katakan saja," tantang Keisha.
"Apa?"
"Kamu ingin merapikannya."
Arya mengambil gelasnya, membawa ke dapur, lalu kembali menyusun tiga buku dari yang paling besar ke yang paling kecil.
"Aku tidak mengatakan apa-apa."
"Tanganmu berteriak."
"Setidaknya tanganku efektif."
Bu Yati yang lewat membawa buah tertawa pelan. "Rumah ini baru terasa hidup, Pak."
Arya berhenti sejenak. Ia memandang syal Keisha yang masih tergantung sembarangan, tetapi kali ini tidak memindahkannya.
Keisha tidak tahu mengapa toleransi sekecil itu membuat dadanya terasa ringan.
Malam semakin larut. Di kamar utama, Keisha meletakkan kotak perhiasan Eyang di dalam lemari berkunci. Map hibah tetap belum ia buka. Ia malah mengeluarkan salinan perjanjian mereka dan membaca bagian yang sudah dihafalnya.
Satu tahun. Kamar terpisah. Tidak ada sentuhan tanpa persetujuan. Tidak ada tuntutan anak.
"Ini kontrak, Kei," bisiknya kepada diri sendiri. "Jangan menganggap perhatian kecil sebagai sesuatu yang lain."
Ia mematikan lampu, tetapi belum sempat berbaring ketika bunyi teratur terdengar dari halaman belakang.
Hap. Hening. Hap. Hening.
Keisha membuka tirai. Di bawah lampu taman, Arya sedang melakukan latihan fisik dengan kaus gelap yang menempel pada punggungnya. Gerakannya tajam, napasnya terukur, setiap perubahan posisi terlalu presisi untuk sekadar olahraga malam. Tidak ada musik, tidak ada video panduan, hanya irama tubuh yang seperti mengikuti aba-aba tak terdengar.
Rasa ingin tahu menarik Keisha turun.
Ia berhenti di balik pintu kaca. Di dinding dekat teras tergantung sebuah jaket hijau yang dilipat lurus pada gantungan, mungkin baru dikeluarkan dari tas kerja. Cahaya lampu jatuh pada potongan kain dan tanda yang sangat ia kenal dari berita, upacara nasional, serta pasien-pasien berseragam di rumah sakit.
Keisha menahan napas.
Itu bukan jaket olahraga.
Itu seragam TNI.