Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15.Diam-diam Memperhatikan
Sejak tatapan mata mereka berubah penuh makna hari itu, tumbuhlah kebiasaan baru yang tak disadari sepenuhnya oleh Kenzo maupun Anisa. Di saat yang sama, namun dengan cara masing-masing, mereka mulai saling memperhatikan satu sama lain secara diam-diam—saat lawan bicaranya sedang sibuk, saat sedang menunduk, atau saat punggungnya berpaling. Tak ada yang menyampaikannya lewat kata-kata. Tak ada yang berani mengakuinya. Namun mata mereka seakan memiliki kekuatan sendiri, selalu mencari keberadaan sosok itu di kerumunan, selalu diam-diam mengikuti setiap gerak-geriknya tanpa diketahui siapa pun.
Kenzo adalah yang pertama kali melakukannya. Setiap kali Anisa sedang asyik mencatat di papan tulis atau berbicara dengan teman-temannya, mata Kenzo diam-diam akan melirik ke arahnya. Ia memperhatikan bagaimana Anisa tersenyum lebar saat tertawa, memperhatikan bagaimana rambut hitamnya yang panjang sedikit terurai jatuh membelai bahu saat ia menunduk, memperhatikan bagaimana matanya menyala penuh semangat saat berbicara tentang hal-hal yang disukainya. Dulu, setiap kali melihat Anisa tersenyum, hatinya akan merasa kesal dan menganggapnya pamer. Namun kini, justru sebaliknya—setiap kali senyum itu terukir di bibir Anisa, hatinya ikut terasa hangat dan tenang. Ia bahkan tak sadar bahwa dirinya pun ikut tersenyum tipis diam-diam, hingga suara teguran teman di sebelahnya sering kali membuatnya buru-buru memalingkan wajah dengan pipi yang tak sengaja memerah.
Tak hanya itu. Kenzo diam-diam selalu memastikan segala hal agar Anisa merasa nyaman. Saat ruangan terasa terlalu panas, diam-diam ia akan membuka sedikit jendela di dekat tempat duduk Anisa agar udara segar dapat masuk. Saat cuaca mendung dan angin berhembus kencang, diam-diam ia akan menutupnya kembali agar Anisa tidak kedinginan. Saat melihat pena milik Anisa tumpul atau kertas catatannya menipis, diam-diam ia akan meletakkan pulpen cadangan dan tumpukan kertas bersih di ujung mejanya, lalu berpura-pura sibuk membaca buku seakan tak terjadi apa-apa. Ia tak ingin Anisa mengetahuinya, tak ingin Anisa merasa berhutang budi. Ia cukup melakukannya dalam diam, cukup melihat Anisa dapat menggunakannya tanpa kesulitan, dan hatinya pun sudah merasa cukup puas dan tenang.
Begitu juga sebaliknya. Anisa pun mulai diam-diam memperhatikan segala hal tentang Kenzo. Ia memperhatikan bahwa Kenzo selalu datang sepuluh menit lebih awal agar dapat menata meja dan memastikan suasana kelas tertib sebelum kedatangan guru. Ia memperhatikan bahwa Kenzo sering kali melewatkan jam istirahatnya untuk membantu teman yang kesulitan memahami pelajaran, meskipun caranya tetap tegas dan dengan wajah yang tak banyak tersenyum. Ia memperhatikan bahwa Kenzo sebenarnya tak pernah makan makanan yang terlalu berlebihan dan selalu menyisakan sebagian bekalnya untuk dibagikan kepada siapa saja yang membutuhkannya. Ia memperhatikan betapa rapi dan teraturnya setiap kali menulis, betapa teguh pendiriannya dalam hal kebenaran, dan betapa lembut suaranya saat berbicara dengan orang yang lebih tua atau yang lebih lemah darinya.
Anisa pun ikut melakukan hal serupa. Saat melihat kening Kenzo berkerut menahan rasa sakit karena kepalanya terasa pening, diam-diam segelas air putih dan sebutir obat pereda nyeri akan tersedia di dekat tasnya saat ia kembali dari ruang guru. Saat melihat punggung seragam Kenzo sedikit basah karena terguyur hujan di jalan, diam-diam selembar kain lap bersih akan terselip di buku catatannya tanpa nama pengirim. Anisa tak pernah menanyakannya langsung kepada Kenzo, dan Kenzo pun tak pernah menanyakannya kepada Anisa. Namun keduanya tahu—saling tahu dalam diam—bahwa perhatian-perhatian kecil itu datang dari hati yang sama.
Suatu hari, tanpa sengaja mata mereka saling bertemu saat sama-sama sedang diam-diam memperhatikan. Kenzo yang sedang melirik Anisa buru-buru hendak memalingkan wajah, namun Anisa justru tak berpaling. Ia menatapnya lembut, senyum tipis mengembang di bibirnya, seakan berkata tanpa suara: “Aku tahu. Aku tahu kau sedang memperhatikanku. Dan aku pun sedang melakukan hal yang sama.” Kenzo terdiam sejenak, lalu perlahan sudut bibirnya terangkat senyum tipis yang sangat samar namun tulus. Hening yang menyelimuti mereka bukan lagi hening yang berat dan penuh ketegangan seperti dulu. Melainkan hening yang hangat, penuh pengertian, dan penuh rasa syukur karena akhirnya—meski dalam diam—mereka saling menemukan satu sama lain.
Sejak hari itu, tak ada lagi kata-kata kasar yang terucap di antara mereka. Karena di setiap detik yang berlalu, di setiap tatapan mata yang saling bertemu dalam diam, dan di setiap perhatian kecil yang diberikan tanpa suara... perlahan tumbuhlah rasa yang jauh lebih dalam dan jauh lebih indah dari sekadar perkataan. Rasa yang tumbuh perlahan, tenang, dan tak terburu-buru—diam-diam saling memperhatikan, diam-diam saling menjaga, dan diam-diam mulai menyayangi satu sama lain dengan tulus.
BERSAMBUNG....