Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 6
Terik perlahan memudar berganti rona jingga pada pucuk daun bambu yang berdesir tersapu angin. Harum gurih masakan tercium jauh beberapa meter dari dapur masih mengepulkan asap. Gemericik minyak, kicau burung pulang ke sangkar, suara celotehan anak-anak bermain layangan, jadi irama paling merdu, harusnya.
Tapi tidak bagi Anne yang baru saja memasukan Temon ke kandangnya. Langkah gadis itu gontai, wajah terlihat begitu lelah, alis mengkerut pertanda pikirannya sedang dipaksa bekerja.
“Aku yakin pernah melihatnya, tapi di mana?” Mulutnya masih bergumam, meyakini sorot mata elang yang dilihatnya pagi tadi, sampai tak sadar telah sampai depan pintu. Dan ….
Duarrrrrr!
Suara mengejutkan di sambung tawa menggelegar saat melihat tubuhnya terjingkat hebat.
“Hans! Aku bisa mati jantungan kau buat!” Ia geram, tangan siap melayangkan tinju pada sang sahabat.
“Matilah, nanti ku gantikan tempatmu sebagai pewaris dan anak muda paling berjaya di desa,” ejek Hans, tak peduli wajah memerah gadis terlihat kusut rambutnya.
“Bekerjalah, manfaatkan ilmu mu kalau ingin berjaya, bukan malah jadi kriminal dengan membunuhku perlahan,” balas Anne.
Acuh tak acuh ia masuk ke dapur, berniat ingin meneguk air dingin pada kendi tanah liat. Mata sendu gadis itu memicing, hidung mengendus aroma harum aneka masakan telah tersusun di meja.
“Apa malam ini mau di adakan slametan di rumah, Mbak?” tanyanya pada Wulan, tengah sibuk menggoreng mendoan.
“Mboten, Nduk,” jawab Wulan, ia menoleh sekilas, senyum hangat tergaris di wajah awet muda meski telah berusia kepala empat.
“Lantas, kenapa masak sebanyak ini? Segala ingkung dan urap-urap pun ada,” sambung Anne, ia baru saja meneguk air terasa dingin di tenggorokan meski tak dimasukkan pada lemari pendingin.
“Aku yang meminta. Sudah lama sekali aku tak makan masakan lezat buatan mbak Wulan,” sahut Hans dari ambang pintu.
“Astaga, Hans! Kenapa kau selalu menyusahkan pekerjaku. Kau pikir rumahku ini restoran berbintang nan megah seperti di tanah Eropa?!” sungut Anne, tak habis pikir sang sahabat teramat suka membuat acara di rumahnya.
“Restoran Eropa mana yang menyajikan ingkung dan urap-urap lengkap mendoan dan sambel krecek? Yang ada Biefstuk met friet, kentang rebus dan roti gandum. Atau kau sudah lupa makanan yang membuatmu mual seharian sampai tak masuk ke kampus?” kilah Hans sambil menggali satu kenangan lama.
( Biefstuk met friet \= steak daging sapi dengan kentang goreng dan saus lada atau mentega)
“Diam, Hans. Jangan mengingatkan aku tentang makanan itu. Gara-gara nya aku jadi benci aroma cengkeh,” tukas Anne.
Ia ingat benar saat baru satu bulanan menjejakkan kaki di tanah Eropa, Hans dan Maria membawanya ke restoran berbintang, menyajikan makanan khas Eropa barat yang autentik. Dua remaja lebih dulu tinggal di negeri Kincir Angin itu memesankan Hachee—semur daging sapi berbumbu bawang dan cengkeh, disantap dengan kentang.
Anne yang belum terbiasa dengan hidangan Eropa selain daripada keju dan roti gandum, terpaksa menyantap sebab lapar tak tertahan setelah seharian berjibaku pada dunia baru, kampus. Baru makan dua suap, perutnya bergejolak hingga memuntahkan semua isinya berakhir ia terbaring lemah di ranjang pesakitan.
Perdebatan sengit masih bergulir saat mobil Volkswagen Beetle atau pada masa itu lebih dikenal dengan mobil kodok, berhenti di halaman luas berumput jepang. Maria turun membawa buah tangan berupa buah delima dan apel malang.
Kepala dengan rambut coklat keemasan menggeleng samar saat melihat Anne berkacak pinggang, sedang Hans terkekeh sambil memegang perutnya.
“Kalian itu tak bosan, kah tiap kali bertemu selalu bertengkar?” serunya, tangan tak memegang apa-apa menarik Anne membawanya duduk di bangku teras belakang, buah tangan diberikan pada pembantu rumah, sebagian minta langsung dihidangkan.
“Sekali waktu bawakan Hans racun tikus, agar tak terus mengganggu ku,” sungut Anne, wajahnya masih memerah, sesekali melirik tajam pada Hans yang terkekeh, tak merasa bersalah.
“Kau yang seharusnya diberi racun, biar kesakitan dan mencari kami.” Ia masih tak mau kalah, duduk menyela di antara Anne dan Maria.
“Apa guna kita bersahabat kalau kalian membiarkan aku bermain sendirian? Maria sibuk dengan racun tumbuhan, sedang kau …,” jari telunjuk memakai cincin berbatu hitam menunjuk hidung mungil Anne. “Memilih berteman dengan tikus dan kerbau di sawah.”
“Berhenti bersikap seperti bocah, Hans. Kita sudah dewasa, sebentar lagi menuju tua, bukan lagi saatnya membuang waktu dengan bersenang-senang,” protes Anne sekaligus memberi nasihat.
“Anne benar, tapi Hans juga tak sepenuhnya salah.” Maria menengahi, sedari dulu dia memang paling berpikir dewasa. “Jika tabungan telah menumpuk hingga tua, tak ada salahnya pergi berbahagia, tapi … jika masih bergantung pada sokongan orang tua, ada baiknya lebih giat bekerja.”
“Kau harusnya mencontoh cara berpikir Maria, Anne. Kita terlahir dalam gelimangan harta, sudah sepantasnya menghabiskan waktu dengan berfoya-foya. Kalau tak begitu, kapan harta orang tua kita akan berkurang?” Hans dengan santai membelokkan nasihat dua rekannya.
“Sinting!” dengus Anne seraya beranjak dari kursi sempit sebab berisi tiga orang. “Kalian jika sudah lapar makanlah duluan, aku ingin mandi sekaligus mendinginkan pikiran.”
Hans dan Maria hanya menanggapi dengan kibasan tangan, lalu kembali tenggelam dalam obrolan ringan sambil menikmati buah delima dan apel malang sudah dikupas dari kulitnya.
Rembulan telah bertengger di peraduan, cahaya redupnya membias di hamparan malam, menyelip di sela-sela daun randu yang bergoyang pelan, tertiup kepakan sayap burung hantu yang hinggap pada ujung ranting.
Makan malam para anak keturunan londo itu telah usai lima belas menit yang lalu, berlanjut menikmati kudapan ditemani Jenever—minuman khas Belanda, mirip gin, sulingan alkohol dengan aroma juniper(sejenis buah beri) memiliki kadar alkohol sekitar 30-40%.
Di sela mata kian berat sebab terlalu banyak meneguk minuman hangat, terasa ringan di kepala, obrolan santai kembali bergulir.
Maria yang masih cukup sadar, sebab hanya meneguk setengah gelas membuka obrolan. “Bagaimana padi-padi mu, Anne. Apa sudah teratasi semua?”
“Ada beberapa kedok yang tak terselamatkan, mau kembali di sulam sudah dekat masa panen terpaksa dibiarkan, menunggu musim berikutnya,” jawab Anne seraya menghisap cerutu terselip di jarinya.
“Tapi bagaimana bisa para petani salah memberi pestisida? Aku dan tim dari desa, tak pernah berhenti memberi penyuluhan, mengingatkan tentang dosis dan cara penggunaan, bahkan jadwal tanam,” ucap Maria, turut merasa heran dengan menguningnya daun padi.
“Entahlah, akupun bingung, semua seperti kesengajaan. Tapi biar saja, ada saatnya mereka yang bermain curang terkena batunya.” Anne menuntaskan hisapan terakhir cerutu di jari sebelum di tekan pada asbak kaca, sedikit sempoyongan ia beranjak dari duduknya, kepala tak lagi sanggup menahan pening kian melanda.
“Bawa Hans pulang bersama mu, Maria, atau panggil lah satu penjaga untuk membuangnya ke kandang kuda,” sambil masuk ke dalam kamar, ia berujar pada sang sahabat yang masih sadar, sedang satunya sudah menunduk diatas meja.
“Aku tak mau pulang, aku ingin menghabiskan malam bersama, Anne,” racau Hans, menolak saat tangan Maria coba memapahnya.
Anne tak acuh, tetap berjalan masuk ke kamarnya, menutup pintu rapat, tak lagi mau tau yang terjadi setelahnya.
Di luar kamar, Maria masih berusaha membujuk Hans yang terus memberontak, menolak diajak pulang.
“Kenapa Anne terus menolakku, Maria, padahal aku bercita-cita menghabiskan masa tua bersamanya. Kapan Anne bisa bertekuk lutut dihadapanku … dasar gadis sombong itu. Anne!” Hans terus meracau, hal biasa saat ia sedang mabuk berat, tak pernah dianggap serius, sadar jika dalam pengaruh dunia khayal.
Maria tersenyum tipis, tatapannya tetap tenang, tetapi sorot matanya mengeras. Tangan mencengkram kuat lengan Hans hingga membekas merah pada kulit putih pucat, menarik paksa sang sahabat masuk ke mobilnya.
“Ayo pulang bersama ku, Hans!”
Bersambung
❤️❤️❤️❤️❤️
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
ada info apa
saudara tiri anne duduu ?
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria