Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Aroma pahit manis bubuk kopi menyengat di dapur utama yang luas.
Di balik konter kayu, Puja mengaduk sendok di dalam cangkir dengan gerakan mekanis. Pikiran gadis itu sepenuhnya melayang.
Pembelaan Jeffry di ruang makan tadi terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Pria itu tidak hanya menahan serangan tajam Bibi Ningsih dan Ningrum, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai suami secara terbuka.
Ada rasa hangat yang asing sempat menyusup ke relung dadanya, namun Puja dengan cepat menepisnya.
Jangan tertipu, Puja, batinnya mengingatkan diri sendiri. Dia tetaplah orang yang menerima perjodohan ini tanpa peduli bahwa mimpinya telah menghancurkan mimpimu.
Puja membawa cangkir kopi itu kembali ke ruang makan.
Keadaan di sana sudah agak tenang; Bibi Ningsih dan Ningrum telah menghilang—kemungkinan besar mundur ke kediaman belakang dengan rasa kekalahan yang membakar dada.
"Kopinya, Ustadz," ujar Puja singkat, meletakkan cangkir porselen itu di hadapan Jeffry.
Jeffry mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang tulus.
"Terima kasih, Puja. Dan... kamu tidak perlu memanggilku 'Ustadz' jika sedang berdua atau di dalam rumah. Panggil saja 'Mas'."
Puja hanya diam, tidak mengiyakan maupun menolak.
Ia memilih duduk di kursi yang agak jauh dari Jeffry, memilin ujung jilbabnya tanpa berniat menyentuh hidangan sarapan yang tersaji.
Tak lama kemudian, Kyai Ali melangkah masuk ke ruang makan dengan jubah putihnya yang tenang.
Kehadiran beliau seketika membawa kedamaian alami ke dalam ruangan.
"Pagi, Abah," sapa Jeffry seraya berdiri untuk mencium tangan sang ayah, diikuti oleh Puja yang melakukan hal serupa.
"Pagi, Jeffry, Puja," balas Kyai Ali lembut. Beliau menatap wajah Puja yang masih menyisakan jejak kelelahan dan sembap di sekitar matanya.
"Bagaimana tidurmu semalam, Nduk? Semoga rumah ini cukup nyaman untukmu."
"Sangat nyaman, Abah. Terima kasih," jawab Puja sepelan mungkin, menjaga tatapannya tetap tertuju ke meja.
"Makanlah yang banyak, Puja. Jangan sungkan," tutur Kyai Ali seraya duduk di kepala meja.
"Jeffry, setelah sarapan, antarkan istrimu jika dia ada keperluan di luar. Ingat nasihat Abah semalam."
"Nggih, Abah," sahut Jeffry penuh kepatuhan.
Sarapan berlangsung dalam keheningan yang sarat akan rasa hormat.
Puja hanya sanggup mengunyah beberapa sendok nasi sebelum menyelesaikannya.
Keinginannya untuk segera keluar dari kompleks pesantren dan menemui sahabat-sahabatnya sudah tak tertahankan lagi.
Tepat pukul setengah delapan pagi, sebuah mobil hitam membelah jalanan pedesaan yang mulai ramai oleh aktivitas warga.
Di dalam kabin, hanya suara deru mesin yang terdengar.
Puja menatap keluar jendela, menyaksikan deretan pepohonan dan sawah hijau yang melintas.
Jalanan ini adalah jalan yang sama yang biasa ia lalui dengan sepeda tua untuk pergi ke sekolah—jalanan yang dulu dipenuhi impian besar tentang masa depan di Yogyakarta.
"Kita hampir sampai," suara Jeffry memecah kesunyian.
Pria itu melirik sekilas melalui kaca spion tengah sebelum menatap Puja.
"Jam berapa aku harus menjemputmu nanti?"
"Tidak usah dijemput," sahut Puja cepat tanpa menoleh.
"Aku bisa pulang sendiri naik angkot atau diantar temanku."
"Puja," panggil Jeffry dengan nada suara yang tetap tenang namun tidak menerima bantahan.
"Kamu pergi bersamaku, maka kamu juga harus pulang bersamaku. Aku tidak ingin Abah atau orang rumah cemas jika melihatmu pulang sendirian."
Puja mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Kebiasaan Jeffry yang selalu membawa nama kewajiban dan rasa hormat membuat argumennya selalu mentok.
"Jam sepuluh," cetus Puja akhirnya, mengalah dengan ketus.
"Warung es Pak Bagyo tidak seberapa jauh dari pasar."
"Baik. Jam sepuluh aku akan berada di depan warung."
Mobil melambat dan akhirnya berhenti beberapa meter dari warung es Pak Bagyo yang sederhana.
Dari balik kaca mobil, Puja sudah bisa melihat keberadaan sahabat-sahabatnya yang duduk melingkar di salah satu meja kayu panjang di sudut warung.
Tanpa membuang waktu, Puja meraih tas kecilnya dan memegang gagang pintu.
"Puja," panggil Jeffry lagi.
Puja menghentikan gerakannya, menghela napas panjang sebelum berbalik.
"Apa lagi?"
Jeffry merogoh saku bajunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas bernominal besar, lalu mengulurkannya pada Puja.
"Pegang ini. Siapa tahu kamu dan teman-temanmu ingin membeli sesuatu."
Puja menatap lembaran uang itu seolah-olah benda itu beracun.
Rasa gengsi dan harga dirinya mendadak melonjak tinggi.
"Aku punya uang sendiri," tolak Puja tegas.
"Ini bukan soal kamu punya uang atau tidak," ujar Jeffry pelan, meraih jemari kanan Puja dan meletakkan uang itu di telapak tangannya, lalu menutup jemari Puja secara lembut.
"Ini nafkah dari suamimu. Terima dan pergunakanlah."
Puja terpaku. Sentuhan tangan Jeffry yang hangat dan suaranya yang tulus membuat benteng pertahanannya kembali goyah sejenak.
Namun, mengingat bagaimana pernikahan ini terjadi, Puja buru-buru menarik tangannya, menggenggam uang itu dengan kaku, lalu segera keluar dari mobil tanpa menguapkan kata sepatah pun.
Jeffry memperhatikan langkah istrinya yang tergesa-gesa menghampiri teman-temannya dari dalam mobil.
Ia menghela napas pendek, menatap punggung Puja yang tampak rapuh di balik pakaian longgarnya.
Sabar, Jeffry. Membuka hati yang terluka butuh waktu, batinnya menenangkan diri sebelum akhirnya menjalankan mobilnya kembali menuju pesantren.
"Puja!"
Enam gadis di meja sudut langsung berdiri serentak saat melihat sosok Puja melangkah masuk ke dalam warung.
Tanpa aba-aba, Norma dan Sulfi langsung memeluk Puja erat-erat, disusul oleh Yuana, Ratna, Dewi, dan Dwi.
"Kamu ke mana saja, Ja? Semalam balasanmu di grup singkat sekali, terus nomormu langsung tidak aktif!" celetuk Yuana dengan wajah cemas yang membuncah.
"Iya, kita semua khawatir tahu! Apalagi beredar rumor di kampung kalau..."
Norma menggantungkan kalimatnya, menatap wajah Puja yang tampak pucat dan lingkar hitam samar di bawah matanya.
"Ja, rumor itu tidak benar, kan?"
Puja meluruhkan tubuhnya di bangku kayu. Matanya yang baru saja mengering kini kembali berkaca-kaca saat menatap wajah-wajah tulus sahabatnya.
"Rumor apa, Norma?" bisik Puja, suaranya parau.
"Rumor kalau kamu, mendadak dijodohkan dan langsung menikah semalam," sahut Sulfi pelan, hampir tak terdengar.
Kata-kata itu bagai jarum yang menusuk tepat di dada Puja.
Isak tangis yang berusaha ia tahan sejak pagi akhirnya pecah juga di hadapan orang-orang yang paling memahaminya.
Puja menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang hebat.
"Semuanya benar..." bisik Puja di antara sedu sedannya.
"Aku... aku sudah menikah semalam."
Keheningan berat seketika melingkupi meja mereka.
Dwi dan Ratna menutup mulut mereka tak percaya, sementara Dewi memeluk bahu Puja yang bergetar.
"Tapi, bagaimana dengan kuliahmu di Jogja, Ja?" tanya Yuana dengan mata berkaca-kaca.
"Bagaimana dengan cita-citamu jadi psikolog? Nilaimu sempurna, Ja! Kamu peringkat pertama di sekolah!"
"Semua itu sudah tidak ada artinya..." ujar Puja seraya mengusap air matanya secara kasar.
"Abi memintaku menikah atas desakan Umi Mina. Mereka menjual masa depanku demi tanah sawah dan uang tunai dari keluarga Kyai Ali."
"Astaghfirullahal'adzim..." gumam Norma mengelus dada, matanya memancarkan kemarahan mendalam atas ketidakadilan yang dialami sahabatnya.
"Kenapa Abi tega melakukan itu padamu?"
"Karena kepatuhan Abi pada Umi Mina," jawab Puja pahit.
"Aku tidak punya pilihan. Semalam aku dipaksa berganti pakaian, diseret keluar kamar, dan... digandengkan dengan Ustadz Jeffry."
Sulfi mencondongkan tubuhnya ke depan. "Ustadz Jeffry? Putra mahkota Pondok Al-Hidayah itu?"
Puja menganggukkan kepalanya ke
"Lalu bagaimana sikapnya padamu, Ja?" tanya Ratna penasaran sekaligus khawatir.
"Apakah dia memperlakukanmu dengan buruk?"
Puja teringat bagaimana Jeffry menolak menyentuhnya secara paksa semalam, bagaimana pria itu mematikan lampu dan membiarkannya tenang, serta bagaimana pria itu memasang badan membelanya dari hinaan Bibi Ningsih pagi tadi.
"Dia... tidak jahat," aku Puja jujur, meski suaranya sarat akan keengganan.
"Tapi, aku tidak bisa menerima ini. Aku benci situasi ini! Aku benci kenyataan bahwa dia menerima pernikahan ini begitu saja tanpa peduli bahwa ada mimpi yang harus kubunuh!"
"Ja..." Norma memegang jemari Puja yang bergetar.
"Kami tahu ini sangat berat dan tidak adil untukmu. Tapi jika Ustadz Jeffry adalah orang yang baik dan bersikap lembut padamu, bisakah kamu mencoba bicara padanya secara jujur? Siapa tahu... dia mau mengizinkanmu untuk tetap melanjutkan kuliah?"
Puja mendongak, menatap Norma dengan tatapan ragu.
"Mana mungkin?" cibir Puja getir.
"Keluarga pesantren punya aturan ketat. Pagi tadi saja, bibinya sudah menuntutku untuk berada di dapur sebelum Subuh dan melayani seluruh isi rumah. Bagi mereka, wanita cuma punya tempat di dapur dan melayani suami. Mimpiku untuk jadi psikolog sudah mati, Norma."
"Jangan menyerah dulu, Puja," bisik Dewi menguatkan.
"Kamu bukan perempuan lemah. Kamu Puja yang paling gigih yang kami kenal. Kalau suamimu orang yang berpendidikan dan paham agama, dia pasti punya mata hati untuk mendengarkanmu."
Di tengah keriuhan percakapan mereka yang penuh rasa haru dan keprihatinan, sebuah mobil hitam tampak melambat di depan warung es Pak Bagyo.
Puja menganggukkan kepalanya dan ia berharap bisa menjadi wanita yang kuat seperti apa yang dikatakan oleh sahabatnya.