Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.
Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.
Narendra tak pernah repot membantah.
Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.
Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.
Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.
Bukan sekadar ingin menyentuhnya.
Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.
Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.
“Katanya kamu tidak bisa?”
Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.
“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1
Perempuan Berkebaya Itu
Pukul 03.17 dini hari.
Narendra terbangun dengan napas tersentak.
Punggungnya terangkat dari kasur, otot perutnya masih menegang, sementara jantungnya menghantam tulang rusuk seperti baru dipaksa berlari. Kamar tidur di rumah Pondok Indah itu gelap dan dingin. Pendingin udara menyala tanpa suara, tetapi keringat membuat kausnya melekat di dada.
Selama beberapa detik, Narendra hanya menatap lurus ke depan.
Bayangan perempuan itu belum pergi.
Di dalam mimpinya, perempuan itu berdiri membelakanginya dalam balutan kebaya kutubaru berwarna gading. Sebuah selendang batik tersampir di bahunya. Ketika jemari ramping itu menarik salah satu ujung selendang, kain tersebut meluncur turun perlahan, memperlihatkan garis leher yang bersih dan sepotong kulit di bawah telinga.
Lalu perempuan itu menoleh.
Hanya sepasang mata yang sempat dilihat Narendra sebelum tubuhnya kehilangan kendali. Napasnya memburu. Telapak tangannya panas. Punggungnya menegang dalam kenikmatan yang terlalu nyata untuk sebuah mimpi.
Sekarang, rasa lengket dan basah di balik celana tidurnya memberi bukti yang tak bisa dibantah.
Mimpi basah.
Narendra menutup mata, lalu mengumpat pelan.
Ini kali kedua dalam satu minggu.
Perempuan yang sama. Kebaya yang sama. Reaksi memalukan yang sama.
Ia menyingkap selimut. Seprai abu-abu di bawah pinggangnya ikut lembap. Artinya, bukan hanya celana yang harus diganti. Seprai itu juga.
Lagi.
Pria tiga puluh lima tahun yang memimpin ribuan karyawan, menandatangani akuisisi bernilai triliunan rupiah, dan tak pernah terlihat kehilangan ketenangan di ruang rapat, kini duduk di tepi kasur sambil menatap noda mani seperti remaja yang baru mengenali tubuhnya sendiri.
Rahangnya mengeras.
Lebih buruk lagi, saat garis leher perempuan dalam mimpinya terlintas kembali, panas langsung berkumpul di bagian bawah tubuhnya.
Narendra membeku.
Ereksi itu datang cepat dan penuh, tanpa memberinya kesempatan untuk menyangkal. Ia mencengkeram tepi kasur. Urat di punggung tangannya menonjol, sedangkan napas yang baru mulai teratur kembali berat.
"Tidak masuk akal."
Suara seraknya tenggelam di kamar yang sepi.
Ia bangkit terlalu cepat. Lantai marmer yang dingin menyentuh telapak kakinya, tetapi hawa dingin itu sama sekali tidak menolong. Saat melewati cermin tinggi di dekat lemari, ia melihat wajah sendiri yang memerah sampai ke telinga.
Kemudian hidungnya terasa panas.
Narendra mengusap bagian bawah hidung dengan punggung tangan. Setitik merah menempel di kulitnya.
Mimisan.
"Sial."
Ia langsung masuk ke kamar mandi, membuka keran pancuran sampai ke suhu paling rendah, lalu berdiri di bawahnya tanpa sempat melepaskan kaus. Air dingin menghantam kepala, bahu, dan dadanya. Kain tipis yang basah menempel lebih erat pada kulit, tetapi Narendra tidak peduli.
Ia menengadah, membiarkan air mengalir melewati wajah. Kedua telapak tangannya bertumpu pada dinding batu alam.
Satu menit.
Dua menit.
Tubuhnya masih keras.
Di balik suara air, tawa kecil seorang perempuan seolah terdengar lagi. Bukan dari mimpi. Suara itu berasal dari satu minggu lalu, di Kafe Kopi & Co, Senopati.
Hari itu Narendra baru menyelesaikan pertemuan akuisisi di lantai dua. Fikri berjalan beberapa langkah di belakangnya sambil membacakan perubahan jadwal. Narendra tidak benar-benar mendengarkan. Pandangannya telah jatuh ke balik dinding kaca yang membatasi tangga dan area duduk lantai satu.
Seorang perempuan duduk di dekat jendela.
Kebaya kutubaru yang dikenakannya tidak berkilau, tidak dipenuhi payet, dan jelas bukan jenis pakaian yang biasa dipakai sosialita untuk menarik kamera. Warnanya gading lembut, dengan bordir bunga kecil di bagian dada dan pergelangan tangan. Selendang batik terlipat rapi di bahunya.
Sederhana.
Namun cahaya sore menyentuh sisi wajahnya hingga kulitnya terlihat hangat. Ia sedang memegang cangkir kopi dengan kedua tangan. Ketika seseorang di depannya mengatakan sesuatu, ia tertawa sambil sedikit menunduk.
Pada detik itu, langkah Narendra berhenti.
"Ada yang tertinggal, Pak?" tanya Fikri.
"Tidak."
Jawabannya keluar terlambat.
Perempuan di bawah mengangkat wajah. Entah karena merasa diperhatikan atau hanya kebetulan, pandangannya bergerak ke arah tangga.
Mata mereka nyaris bertemu.
Narendra meneruskan langkah lebih dulu. Ia tidak tahu namanya, tidak tahu pekerjaannya, bahkan tidak bisa memastikan warna matanya. Namun sejak sore itu, tubuhnya menyimpan perempuan tersebut jauh lebih baik daripada ingatannya.
Malam pertama, ia bermimpi menyentuh selendang perempuan itu.
Malam ini, dalam mimpinya, ia mencium lehernya.
Air pancuran masih mengalir ketika Narendra membuka mata. Tubuhnya akhirnya mulai melunak, tetapi kegelisahan di dadanya justru membesar.
Selama tiga puluh lima tahun, ia tidak pernah mengalami hal seperti ini.
Semasa remaja, teman-temannya pernah menyelipkan majalah dewasa ke dalam tas sekolahnya. Narendra membuangnya tanpa rasa ingin tahu. Saat kuliah, perempuan-perempuan cantik datang dengan berbagai alasan, dari meminjam catatan sampai menunggu di depan apartemen. Tidak satu pun membuat darahnya bergerak lebih cepat.
Pemeriksaan oleh spesialis urologi tidak menemukan kelainan. Pemeriksaan hormon normal. Konsultasi dengan psikolog juga berakhir pada kesimpulan yang sama: tubuhnya sehat, hanya tidak merespons rangsangan yang biasanya bekerja pada laki-laki lain.
Keluarganya mengira pernikahan akan memperbaiki keadaan.
Pada usia dua puluh tujuh tahun, ia menikahi Vania Sasongko demi perjodohan bisnis dua keluarga. Dua tahun mereka tinggal di bawah atap yang sama, tetapi Narendra tidak pernah menyentuhnya sebagai istri.
Malam terakhir sebelum perceraian, Vania berdiri di depan pintu kamar kerjanya dengan mata merah.
"Dua tahun, Mas Narendra. Bahkan sekali pun kamu tidak pernah menginginkanku."
Narendra diam.
"Atau memang kamu tidak bisa?"
Kalimat itu tidak berhenti di dalam rumah. Setelah perceraian, bisik-bisik tentang pewaris Grup Adiwangsa yang lemah syahwat berpindah dari satu meja makan ke meja makan lain. Ada yang menyebutnya mandul. Ada yang menyebut pernikahannya gagal karena ia bukan laki-laki seutuhnya.
Narendra tidak pernah merasa perlu membantah.
Nama besar Adiwangsa membuat orang tetap tersenyum di hadapannya. Jabatan CEO membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum mengucapkan gosip tersebut dengan suara keras. Selama perusahaan berjalan dan keluarga tidak memaksanya menikah lagi, ia bisa hidup seolah rumor itu tidak ada.
Sampai seorang perempuan berkebaya muncul di balik kaca sebuah kafe.
Narendra mematikan pancuran. Tetes air jatuh dari rambutnya ke ujung dagu. Di cermin yang mulai berembun, wajahnya terlihat asing. Mata merah, rahang kaku, darah tipis di bawah hidung, dan kaus basah yang membungkus dada.
Hanya dengan mengingat satu garis leher, tubuh yang selama ini ia anggap mati bisa bangun secepat itu.
Kenapa hanya dia?
Narendra meraih handuk, mengusap wajah, lalu menekan hidungnya sampai darah berhenti. Ia mengganti pakaian, mencabut seprai dari kasur dengan gerakan kasar, dan memasukkannya ke keranjang cucian.
Pukul 03.49, ia masih belum bisa tidur.
Narendra duduk di kursi dekat jendela dengan segelas air dingin. Di luar, halaman belakang tampak hitam. Daun pohon kenanga bergerak pelan diterpa angin, sementara layar ponsel di tangannya terus menyala.
Ia membuka pesan dari Fikri yang masuk sebelum tengah malam.
Pak, undangan Pameran Wastra Nusantara untuk Sabtu sudah saya teruskan ke surel. Panitia meminta konfirmasi kehadiran sebelum Rabu siang.
Di bawah pesan itu ada lampiran undangan digital. Narendra membukanya tanpa niat, lalu berhenti saat membaca daftar acara.
Pameran kebaya dan wastra kontemporer.
Peragaan koleksi desainer muda.
Sesi temu perajin.
Tatapannya tertahan pada satu kata.
Kebaya.
Jempolnya menggantung di atas layar.
Selama satu minggu, ia telah mencoba menyebut pertemuan di kafe itu kebetulan. Mimpi pertama hanya reaksi tubuh yang terlambat. Mimpi kedua sekadar pengulangan karena pikirannya terlalu terganggu.
Namun seprai basah di keranjang cucian, rasa nyeri yang tersisa di tubuhnya, dan bekas mimisan di punggung tangannya tidak bisa dijelaskan sebagai kebetulan.
Ia harus memastikan satu hal.
Apakah tubuhnya akhirnya bisa merespons seorang perempuan?
Atau tubuhnya memang hanya merespons perempuan itu?
Narendra menekan nama Fikri dan memilih panggilan. Telepon baru berdering dua kali ketika suara mengantuk namun sigap terdengar dari seberang.
"Selamat dini hari, Pak. Ada yang perlu saya siapkan?"
"Jadwal hari Sabtu."
Terdengar suara seprai bergesek, seolah Fikri langsung duduk. "Pukul sembilan ada rapat dengan tim energi, lalu undangan Pameran Wastra pukul sebelas. Saya belum mengonfirmasi karena biasanya Pak Nara tidak menghadiri acara seperti itu."
Narendra kembali melihat kata kebaya di layar.
"Pindahkan rapatnya."
Fikri terdiam sesaat. "Ke hari Jumat, Pak?"
"Ya. Konfirmasi undangannya."
"Baik, Pak. Apakah ada agenda khusus di pameran? Supaya saya bisa menghubungi panitia."
Narendra memikirkan wajah yang tersiram cahaya sore, selendang yang jatuh di dalam mimpinya, lalu panas memalukan yang kembali bergerak di bawah kulit.
"Tidak perlu."
"Siap, Pak."
Panggilan berakhir.
Narendra meletakkan ponsel di atas meja, tetapi beberapa detik kemudian layarnya menyala lagi.
Pesan baru dari Fikri muncul.
Kehadiran untuk Pameran Wastra Nusantara sudah saya konfirmasi. Sabtu, pukul 11.00.
Narendra membaca pesan itu dua kali.
Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, ia tidak memikirkan rumor Vania, tuntutan keluarga, atau nama baik yang melekat di belakang namanya. Pikirannya hanya dipenuhi satu hal yang lebih sederhana sekaligus jauh lebih berbahaya.
Ia ingin melihat perempuan berkebaya itu lagi.
Narendra belum tahu, pada jam yang sama, perempuan yang membuatnya mengalami mimpi basah untuk pertama kali sedang tidur di sebuah kamar sempit di Bekasi, tanpa tahu bahwa keluarganya akan segera memaksanya ke sudut yang tak lagi bisa ia toleransi.
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰