Selama tiga tahun, Anisa menjadi istri pengganti Galang Gondokusumo—menggantikan posisi cinta pertamanya yang menghilang. Tiga tahun melayani, tiga tahun diabaikan, tiga tahun diperlakukan seperti bayangan orang lain.
Sampai akhirnya, Galang melemparkan surat cerai ke wajahnya.
"Tanda tangani. Sherly sudah kembali."
Malam itu, Anisa ditabrak mobil yang dikirim oleh Sherly Permata—perempuan yang merebut suaminya. Darah membasahi aspal. Galang melintas di lokasi kecelakaan tanpa menoleh.
Dia pikir Anisa sudah mati.
Tapi yang mati malam itu bukan Anisa.
Yang mati adalah **kebohongan**.
Karena benturan itu mengembalikan seluruh ingatannya. Nama aslinya bukan Anisa.
**Namanya Keira Hartono.**
Pewaris tunggal Hartono Group—konglomerat terbesar di Indonesia. Nona besar yang diculik empat tahun lalu dan dianggap hilang selamanya. Perempuan yang dicari oleh sepuluh kakak laki-laki, kakek yang menguasai setengah Jakarta, dan seorang pria misterius yang sudah menunggunya sejak dia berusia satu tahun.
Pria itu bukan Galang.
Pria itu adalah **Rayhan Tanuwijaya**—kepala keluarga Tanuwijaya, penguasa empat keluarga besar Jakarta. Dingin kepada semua orang. Kecuali kepada Keira.
Sekarang Keira kembali. Dengan ingatan yang utuh, identitas yang sesungguhnya, dan daftar panjang orang-orang yang harus membayar.
Sherly Permata? Akan kehilangan segalanya.
Galang Gondokusumo? Akan berlutut memohon.
Dan dunia yang pernah menginjak-injaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Pesta Kemenangan
Saat Keira sedang menuju rumah yang selama ini mencarinya, Sherly Permata sedang memilih gaun untuk merayakan kemenangan.
Di depan cermin tinggi kamar apartemennya, Sherly memutar tubuh perlahan. Gaun satin warna sampanye melekat lembut di kulitnya, cukup anggun untuk makan malam keluarga, cukup manis untuk membuat Galang merasa ia perlu dilindungi.
Ia tersenyum pada bayangannya sendiri.
Tidak ada lagi Anisa.
Nama itu terasa ringan sekarang. Seperti debu yang akhirnya berhasil disapu dari sudut ruangan. Tiga tahun perempuan itu hidup di rumah Galang, memakai status istri, menempati posisi yang seharusnya menjadi milik Sherly. Namun pada akhirnya, status hanyalah kertas. Sekali Galang menandatangani cerai, perempuan itu kembali menjadi bukan siapa-siapa.
Dan setelah van abu-abu menyelesaikan tugasnya, bahkan bukan siapa-siapa pun tidak akan tersisa.
Ponsel di meja rias bergetar.
Sherly mengambilnya cepat. Nomor tanpa nama. Ia berjalan ke balkon sebelum menjawab, memastikan pintu kamar tertutup.
"Bagaimana?"
Suara pria di seberang terdengar tegang. "Kena. Dia jatuh. Banyak darah."
Sherly memejamkan mata sebentar, menikmati kalimat itu seperti menikmati aroma parfum mahal. "Mati?"
"Saya tidak menunggu ambulans. Terlalu berisiko."
Senyumnya menipis. "Aku bertanya, mati atau tidak?"
"Dengan benturan seperti itu, kecil kemungkinan selamat."
Sherly menatap langit Surabaya yang mulai gelap. Ia tidak suka jawaban yang mengandung kemungkinan. Namun, ia juga tahu kepanikan akan membuat pekerjaan kotor menjadi berantakan.
"Hilangkan kendaraan itu. Jangan hubungi aku lagi dari nomor ini."
"Pembayaran?"
"Akan masuk malam ini."
Ia memutus panggilan.
Beberapa detik Sherly hanya berdiri di balkon, membiarkan angin menyentuh wajahnya. Lalu ia kembali ke dalam, menatap cermin, dan melatih ekspresi sedih yang cukup lembut.
Galang tidak boleh melihat kegembiraannya.
Galang harus melihat perempuan yang terluka karena cinta, bukan perempuan yang baru saja memesan kematian.
Ketika Galang datang satu jam kemudian, Sherly sudah mengganti gaun dengan blouse putih dan rok panjang warna pastel. Rambutnya dibiarkan jatuh natural. Di meja, ia menyiapkan teh hangat dan bubur ayam, makanan sederhana yang sengaja ia pilih agar terlihat penuh perhatian, bukan merayakan.
"Kamu datang," ucap Sherly pelan saat membuka pintu.
Galang berdiri di luar dengan wajah lelah. Kemejanya masih sama dengan yang ia pakai saat menceraikan Anisa. Hanya dasinya sudah longgar, dan matanya tampak lebih kosong daripada biasanya.
"Kamu bilang tidak enak badan."
Sherly menunduk. "Aku cuma... kepikiran. Hari ini berat buat kamu."
Kalimat itu bekerja. Rahang Galang yang semula tegang sedikit mengendur.
Ia masuk, tetapi langkahnya tidak sepenuhnya tenang. Sherly memperhatikan semuanya. Cara Galang melepas jam tangan lebih lambat. Cara ia menatap teh tanpa langsung minum. Cara matanya kadang bergerak ke arah hujan di luar jendela.
Ada sesuatu.
Rasa tidak nyaman kecil yang harus segera ia tutup.
"Kamu menyesal?" tanya Sherly lembut.
Galang mengangkat wajah. "Apa?"
"Menceraikan Anisa." Sherly menggigit bibir bawah, mata dibuat sedikit basah. "Kalau kamu menyesal, aku tidak mau memaksa. Aku tahu aku pergi terlalu lama. Mungkin selama tiga tahun itu, dia..."
"Jangan lanjutkan."
Sherly menunduk lebih dalam, menyembunyikan senyum singkat.
Galang duduk di sofa. "Aku tidak menyesal."
Namun, suaranya tidak sekuat yang Sherly inginkan.
Ia duduk di sebelah Galang, menjaga jarak satu telapak tangan. Dekat, tetapi tidak agresif. "Aku hanya takut kamu membenciku karena semua ini."
"Ini bukan salahmu."
Tentu saja bukan, pikir Sherly.
Di wajahnya, yang muncul adalah rasa bersalah yang halus. "Tapi kalau aku tidak kembali, kalian mungkin masih..."
"Pernikahan itu dari awal memang salah."
Kali ini Galang mengucapkannya lebih tegas, seolah sedang meyakinkan Sherly sekaligus dirinya sendiri.
Sherly menyentuh punggung tangannya sebentar. "Aku tidak pernah ingin merebut apa pun."
Galang tidak menarik tangan.
Itu cukup membuat Sherly tahu ia masih memegang kendali.
Mereka makan malam dalam suasana tenang. Sherly memilih topik yang aman: kondisi Engkong Gondokusumo, rencana kerja Galang, satu dua kenangan lama saat mereka masih muda. Sesekali ia tertawa kecil, lalu segera menahan diri, seolah takut terlalu bahagia di hari perceraian pria itu.
Galang menjawab seperlunya.
Di tengah makan, ponselnya menyala.
Sherly melirik cepat. Tidak ada nama Anisa. Hanya pesan dari sopir.
Pak, jalan depan kompleks tadi macet karena kecelakaan. Sekarang sudah lancar.
Galang membaca pesan itu, lalu meletakkan ponsel lagi.
"Ada apa?" tanya Sherly.
"Tidak penting. Sopir bilang tadi ada kecelakaan."
Sendok Sherly berhenti sepersekian detik, lalu bergerak lagi dengan tenang. "Di dekat rumahmu?"
"Sepertinya."
"Ya ampun." Sherly menutup mulut dengan tangan. "Semoga orangnya selamat."
Galang menatapnya. Ada kelembutan di mata pria itu, kelembutan yang selalu membuat Sherly ingin tertawa. Galang begitu mudah percaya pada wajah yang tepat.
"Kamu masih sama," katanya.
"Apa?"
"Terlalu mudah kasihan pada orang lain."
Sherly menunduk malu. "Aku hanya tidak suka mendengar ada orang terluka."
Di dalam hatinya, ia menghitung kemungkinan. Kalau kecelakaan itu sudah masuk percakapan sopir, berarti tempatnya memang cukup dekat. Apakah Galang sempat melihat? Tidak. Kalau ia melihat wajah Anisa, pria itu tidak akan duduk di sini setenang ini.
Aman.
Untuk sementara.
Setelah makan, mereka pindah ke ruang tengah. Hujan di luar turun tipis. Sherly sengaja mengambil selimut kecil dan meletakkannya di pangkuan, membuat dirinya tampak rapuh.
"Galang," panggilnya.
"Hm?"
"Sekarang kamu sudah bebas." Ia mengucapkannya seperti kalimat yang berat, padahal dadanya ringan sekali. "Tapi aku tidak mau orang-orang berpikir buruk tentangmu. Mereka mungkin akan bilang kamu menceraikan istri karena aku."
Galang terdiam.
Sherly membiarkan jeda itu bekerja.
"Aku bisa menunggu," lanjutnya. "Aku tidak harus langsung menjadi siapa-siapa. Asal aku tahu... ada masa depan untuk kita."
Galang menatapnya lama.
Itu bagian yang paling Sherly sukai dari pria itu. Galang merasa dirinya rasional, tetapi ketika menyangkut Sherly, ia selalu ingin menjadi penyelamat.
"Ada," kata Galang akhirnya.
Sherly menahan napas, membuat matanya tampak berkilau. "Benarkah?"
"Aku perlu bicara dengan Engkong dulu. Perceraian ini juga harus diproses resmi. Setelah itu..."
Ia berhenti, tetapi Sherly sudah mendapatkan yang ia inginkan.
Setelah itu.
Pernikahan.
Kediaman Gondokusumo.
Nama Sherly Gondokusumo.
Ia menunduk agar Galang tidak melihat kilatan puas di matanya. "Aku tidak mau terburu-buru."
"Aku tahu."
"Aku cuma ingin kita tidak kehilangan satu sama lain lagi."
Kalimat itu membuat Galang mengulurkan tangan dan menggenggam jarinya.
Hangat. Penuh rasa bersalah. Mudah diarahkan.
Sherly membalas genggaman itu dengan lembut. "Terima kasih sudah memilihku."
Galang tidak menjawab. Matanya kembali ke jendela, ke hujan yang menempel di kaca.
Entah kenapa, bayangan Anisa sempat lewat di kepalanya. Bukan Anisa yang menangis di ruang kerja, melainkan Anisa yang dulu menaruh semangkuk bubur di meja saat ia demam, lalu pergi tanpa menunggu ucapan terima kasih.
Galang mengerutkan dahi.
Ia mengusir bayangan itu.
Anisa sudah pergi. Itu yang terbaik.
Sherly memperhatikan perubahan kecil di wajahnya. Tangannya mengencang sedikit, lalu ia bersandar ke bahu Galang.
"Jangan pikirkan masa lalu," bisiknya. "Mulai sekarang, kita lihat ke depan saja."
Galang mengangguk, meski dadanya tidak sepenuhnya lega.
Malam itu, Sherly tidur dengan senyum tipis. Ia membayangkan dirinya masuk ke Kediaman Gondokusumo sebagai calon nyonya baru, membayangkan semua orang yang dulu membandingkannya dengan Anisa akan menunduk.
Ia tidak tahu bahwa di sisi lain Surabaya, perempuan yang ia kira sudah mati sedang dibawa pulang oleh keluarga yang namanya cukup besar untuk membuat Gondokusumo terlihat kecil.
Dan ia lebih tidak tahu lagi, kemenangan yang ia rayakan malam itu hanyalah awal dari kehancurannya sendiri.