Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Srenggg.
Aldo memanaskan sedikit minyak kelapa dan mulai menumis bumbu halus yang sudah dicampur dengan daging kluwek.
Aroma rawon yang sangat khas dan wangi langsung mengudara menyelimuti area meja masak Aldo.
"Aromanya sedap sekali, persis seperti rawon buatan nenekku," puji Rina dari atas balkon sambil menghirup udara.
Bumbu yang ditumis dengan matang adalah kunci utama untuk menghilangkan sisa racun sianida pada kluwek.
Setelah bumbunya matang dan mengeluarkan minyak hitam, Aldo memasukkan potongan daging sapi sandung lamur ke dalam wajan.
Dia menumis daging itu sebentar hingga berubah warna lalu menuangkan air kaldu mendidih ke dalamnya.
Blub blub blub.
Kuah hitam legam itu mulai meletup letup dan Aldo mengecilkan api kompornya agar bumbunya meresap ke dalam daging.
Di meja seberang, seorang peserta pria bernama Toni terlihat sangat panik.
Toni membuat sup ikan kluwek namun kuahnya terlihat sangat encer dan berwarna keabu abuan.
"Kenapa kuahku tidak bisa hitam pekat seperti milik Aldo?" keluh Toni sambil mengaduk pancinya dengan putus asa.
Dia bahkan menambahkan tiga kluwek mentah lagi ke dalam panci yang sedang mendidih tanpa menumisnya terlebih dahulu.
Melihat hal itu, Aldo hanya bisa menelan ludah ngeri.
Memasukkan kluwek mentah ke dalam kuah berair tanpa ditumis adalah kesalahan paling fatal yang bisa memicu rasa pahit dan racun.
Namun Aldo tidak bisa menegur Toni karena ini adalah tantangan individu yang sangat ketat aturannya.
"Tiga puluh menit berlalu, sisa waktu kalian tiga puluh menit lagi!" teriak Chef Bram mengingatkan.
Kevin sedang sibuk memanggang daging tenderloinnya di atas wajan pipih dengan sangat percaya diri.
Asap daging panggang yang wangi menyebar dari mejanya berusaha menyaingi wangi rawon milik Aldo.
Kevin lalu menuangkan bumbu kluwek yang sudah dia blender tadi ke dalam panci kecil bersama krim kental.
Dia ingin membuat saus krim kluwek gaya barat untuk menyiram steak mahalnya tersebut.
"Warna hitam sausnya terlihat sangat artistik, ini pasti menang," gumam Kevin sambil tersenyum congkak.
Waktu terus berputar dan ketegangan di dalam galeri semakin terasa mencekik leher.
Aldo membuka tutup pancinya dan kuah rawonnya kini sudah menyusut menjadi kaldu hitam yang sangat pekat.
Dia mengambil garpu dan menusuk potongan daging sapinya.
Daging sandung lamur itu sangat empuk hingga garpunya menembus serat daging tanpa perlawanan sama sekali.
"Sempurna, tingkat kematangannya pas dan lemaknya sudah meleleh menyatu dengan kuah kluwek," batin Aldo lega.
Dia menyiapkan sebuah mangkok keramik cekung berwarna putih bersih.
Pemilihan mangkok putih ini sengaja dilakukan Aldo agar warna kuah rawonnya yang hitam pekat bisa terlihat sangat kontras dan cantik.
Aldo menata tauge pendek segar dan taburan bawang merah goreng di atas mangkok tersebut.
Lalu dengan hati hati dia menyiramkan kuah panas beserta potongan daging tepat di tengah mangkuk.
Warna hitam pekat yang mengkilap terkena cahaya lampu galeri membuat hidangan sederhana itu terlihat sangat mewah.
"Sepuluh menit terakhir!" teriak Chef Renata.
Di meja Kevin, pemuda itu sedang melakukan plating dengan sangat hati hati menggunakan pinset.
Dia meletakkan tenderloin di tengah piring datar lalu membuat coretan saus kluwek yang melengkung indah di pinggirnya.
Tampilannya memang seratus persen standar restoran fine dining bintang lima.
"Lima."
"Empat."
"Tiga."
Semua peserta mulai menjauhkan tangan mereka dari meja masak.
"Dua."
"Satu."
Teeet.
"Waktu habis, angkat tangan kalian sekarang juga!" perintah Chef Arya mutlak.
Sorak sorai penonton di atas balkon langsung pecah memberikan tepuk tangan untuk peserta yang berhasil bertahan.
Aldo menghela nafas panjang dan menatap puas ke arah mangkok rawonnya.
"Momen pembuktian sudah tiba, mari kita lihat siapa yang akan pulang membawa rasa malu hari ini," ucap Chef Arya.
Ketiga juri mulai berjalan berkeliling menatap hidangan para peserta satu per satu.
Banyak hidangan yang terlihat mengerikan karena kuahnya berwarna pucat atau kluweknya terlihat bergerindil kasar.
"Panggilan pertama, Kevin Wijaya, maju ke depan membawa hidanganmu," panggil Chef Renata.
Kevin tersenyum lebar dan mengangkat piringnya dengan gaya sombong seperti biasa.
Saat melewati meja Aldo, Kevin sengaja menatap remeh ke arah mangkok rawon hitam tersebut.
"Rawon warung tidak akan bisa menandingi steak tenderloin kelasku," bisik Kevin pelan.
"Semoga lidah juri tidak mati rasa memakan saus hitammu itu," balas Aldo santai.
Kevin meletakkan piringnya di atas meja penjurian dan berdiri dengan dada membusung.
"Ini adalah Pan Seared Tenderloin dengan saus krim kluwek dan puree bawang putih panggang, Chef," jelas Kevin bangga.
Chef Bram memajukan wajahnya untuk melihat lebih dekat piring yang sangat estetik tersebut.
"Tampilannya sangat indah, perpaduan warna hitam saus dan daging merahnya sangat kontras."
"Terima kasih, Chef," jawab Kevin cepat.
Chef Bram memotong daging itu dan mencelupkannya ke dalam saus kluwek hitam buatan Kevin.
Dia memasukkan potongan daging itu ke dalam mulutnya dan mulai mengunyah.
Nyam.
Namun baru tiga detik mengunyah, wajah Chef Bram langsung berubah drastis.
Alisnya berkerut sangat dalam dan matanya menatap tajam ke arah Kevin.
Chef Bram meraih tisu tebal di atas meja lalu memuntahkan daging itu ke dalam tisu tanpa ragu.
Cuih.
Suasana galeri langsung berubah menjadi sangat sunyi dan tegang luar biasa.
Rina yang berada di atas balkon sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan karena kaget.
Senyum sombong di wajah Kevin seketika menguap digantikan dengan raut wajah kebingungan.
"A-ada apa, Chef? Apakah dagingnya terlalu alot?" tanya Kevin terbata bata.
"Dagingmu sempurna, tapi sausmu ini adalah bencana paling mematikan yang pernah aku makan," ucap Chef Bram marah.
Chef Arya langsung mengambil sendok kecil dan mencicipi sedikit saus kluwek tersebut tanpa memakan dagingnya.
Wajah pria galak itu langsung mengeras dan dia segera meminum air putih dari gelas di sampingnya.
"Kau tidak mencicipi kluwek mentahmu sebelum memasukkannya ke dalam blender, kan?" introgasi Chef Arya.
"S-saya hanya mencium baunya sekilas, Chef. Saya pikir semua kluwek rasanya sama."