NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:68.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Kontrakan Elite

Mata Aynara membulat saat mengenali gadis yang berdiri di hadapannya. "Riva?"

Gadis itu langsung tersenyum lebar. "Nara!"

Aynara spontan menghampirinya dan memeluk Riva. Untuk sesaat mereka saling berpelukan melepas rindu.

Aynara melepaskan pelukannya. "Ke mana aja? Sejak lulus S1 kamu ngilang gitu aja."

Riva mengangkat bahu dengan santai. "Aku cari kerja, Ra. Mau lanjut S2 gak ada biaya. Gak kayak kamu yang dapat beasiswa."

Ia terkekeh kecil. "Otakku yang standar ini udah bersyukur bisa lulus S1."

Aynara menggeleng geli. "Bukan soal beasiswa. Tapi kamu bener-bener ngilang. Nomormu gak aktif, WhatsApp juga gak bisa dihubungi. Aku sampai mikir kamu pergi ke luar negeri."

Riva nyengir lebar. "HP-ku nyemplung ke got."

Aynara mengernyitkan dahi. "Serius?"

"Serius. Ya sudah, aku ikhlasin." Riva mengangkat kedua tangan seolah menyerah. "Mau nyari juga percuma. Gotnya bau, belum tentu HP-nya masih bagus. Layarnya aja sebelum nyemplung udah retak."

Aynara menahan tawa. "Terus kamu gak punya nomor siapa pun?"

"Ya enggak." Riva menjawab enteng. "Aku bahkan gak hafal nomor orang lain. Nomorku sendiri aja kadang harus buka kontak."

Aynara akhirnya tertawa kecil. "Pantesan aku gak pernah bisa menghubungimu."

"Makanya." Riva menepuk bahu Aynara. "Jangan terlalu berharap sama teknologi kalau pemiliknya kayak aku."

Aynara menggeleng sambil tersenyum. Rasanya sudah lama sekali ia tidak tertawa selepas ini. "Jadi sekarang kamu udah kerja?"

"Sudah dong." Riva mengangkat dagunya dengan bangga. "Tapi cuma staf biasa. Lumayanlah daripada jadi pengacara."

Aynara langsung mengernyit. "Pengacara? Kamu 'kan jurusan bisnis."

Riva menatapnya beberapa detik sebelum terkekeh. "Ya ampun, Nara. Kamu ini pintar tapi kadang lemot."

Ia mendekatkan wajahnya. "Pengacara yang aku maksud itu pengangguran banyak acara."

Aynara terdiam sesaat sebelum akhirnya tertawa. "Ya Tuhan, garing banget."

"Yang penting aku bahagia," kata Riva penuh percaya diri.

Keduanya tertawa bersama. Setelah tawanya mereda, Riva kembali menatap Aynara. "Kamu sendiri lagi ngapain di sini?"

"Aku lagi cari kerja."

Senyum di wajah Riva langsung berubah menjadi antusias. "Kebetulan banget! Tempatku kerja baru buka lowongan."

Aynara menatapnya penuh minat. "Serius?"

"Serius. Kamu coba aja." Riva kemudian mengamati Aynara dari atas sampai bawah.

"Dengan ijazah S2 kamu, harusnya bisa dapat posisi yang lebih bagus. Apalagi kamu memang cerdas."

Aynara tersenyum kecil. "Kalau begitu aku harus coba."

"Harus!" Riva mengangguk mantap. "Kalau kamu diterima, nanti kita bisa kerja bareng."

"Semoga," sahut Aynara. Ia kemudian bertanya, "Kamu sekarang tinggal di mana?"

Riva terdiam sebentar. "Gak jauh dari sini."

Aynara melirik jam tangannya. Hari sudah mulai sore.

Riva mengangkat alis. "Mau ke kontrakanku?"

Aynara tampak ragu. "Boleh? Aku takut malah ngerepotin."

"Tentu aja." Riva menjawab terlalu cepat. Ia memasang wajah sok serius sebelum akhirnya tertawa sendiri. "Tentu aja gak maksudnya. Kalau sahabat sendiri sampai gak boleh numpang, berarti aku gagal jadi temen."

Aynara ikut tergelak. "Kalau begitu aku numpang malam ini."

"Gas!"

Tak lama kemudian, taksi online yang dipesan Aynara berhenti di depan mereka.

Riva melirik kendaraan itu, lalu menatap Aynara. "Kita naik taksi ke kontrakanku?"

"Iya," jawab Aynara.

Riva meringis. "Duh, mehong, Ra."

"Aku yang bayar." Aynara langsung meraih tangan Riva. "Yuk."

"Eh, jangan main tarik!" Riva terkekeh sambil mengikuti langkah Aynara menuju taksi. "Kalau begini caranya, aku mau berteman sama kamu sampai tua."

Aynara hanya tertawa. Untuk pertama kalinya sejak pernikahannya yang kacau, langkahnya terasa sedikit lebih ringan. Ia belum tahu bagaimana hidupnya akan berjalan setelah ini.

Namun setidaknya, hari itu ia menemukan kembali seorang sahabat yang pernah membuat masa kuliahnya jauh lebih menyenangkan.

 

Hampir setengah jam kemudian, taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah gang.

Riva turun lebih dulu, kemudian memberi isyarat kepada Aynara untuk mengikutinya.

Mereka memasuki gang sempit yang di kedua sisinya dipenuhi rumah-rumah kontrakan. Beberapa motor terparkir di depan pintu, sementara suara televisi dan percakapan warga terdengar dari balik dinding rumah.

"Sorry, ya," ujar Riva sambil berjalan. "Kontrakanku kelas elite."

Aynara menoleh dengan alis terangkat. "Elite?"

"Ekonomi sulit," jelas Riva.

Aynara langsung terkekeh. "Ya ampun, ada-ada aja kamu."

Riva ikut tertawa. "Tapi memang elite, sih. Masih mending daripada mewah dekat bar, Ra."

Aynara menahan tawanya. "Mewah dekat bar?" Ia menatap Riva penuh curiga. "Apalagi itu?"

Riva mempercepat langkah. Namun baru beberapa meter, ia tiba-tiba berpindah posisi ke depan Aynara ketika sebuah motor muncul dari arah berlawanan. Setelah motor itu lewat, Riva kembali berjalan di sampingnya.

"Mewah dekat bar," ulangnya santai.

Aynara semakin penasaran. "Curiga aku."

Riva terkekeh. "Mewah dekat bar alias mepet sawah, dekat barongan."

Aynara mengerutkan dahi. "Barongan itu apa?"

Riva menyengir. "Di kampungku, rumpun bambu disebut barongan."

Aynara langsung tertawa. "Ya ampun!" Ia menggeleng sambil menahan perutnya yang terasa geli. "Definisi elite, mewah, sama bar versi kamu benar-benar di luar ekspektasi."

Riva ikut tertawa puas. "Yang penting terdengar berkelas."

"Di mulutmu, semua memang bisa terdengar berkelas," balas Aynara.

Mereka kembali tertawa hingga akhirnya berhenti di depan sebuah kontrakan sederhana.

Riva menunjuk bangunan mungil itu dengan bangga. "Nah, ini istanaku."

"Sorry, ya. Kontrakanku minimalis." Riva membuka pintu sambil terkekeh.

Aynara melihat ke dalam. Ruangannya hanya berukuran sekitar tiga kali tiga meter, cukup untuk sebuah ranjang, lemari kecil, meja, dan beberapa barang pribadi.

"Minimal ukuran dan minimal bayaran per bulan maksudnya," lanjut Riva.

Aynara kembali tergelak. "Dasar kamu."

Mereka masuk dan duduk setelah Riva membereskan beberapa barang yang berserakan.

Setelah mengobrol beberapa saat, Aynara teringat pembicaraan mereka sebelumnya. "Ngomong-ngomong, lowongan di tempat kamu kerja mulai dibuka kapan?"

"Kebetulan baru hari ini." Riva langsung menoleh. "Jadi kamu harus cepat. Kalau bisa besok langsung kirim lamaran."

Aynara mengangguk. "Besok aku coba."

"Harus!" Riva menunjuk Aynara dengan penuh semangat. "Kerja di tempatku juga bisa cuci mata, Ra."

Aynara menatapnya curiga. "Cuci mata?"

"Manager-nya..." Riva sengaja menggantung kalimatnya, lalu mengangkat kedua alis. "Beuh! Ganteng banget."

Aynara spontan tertawa melihat ekspresi sahabatnya.

Riva menggeleng pelan. "Rasanya capek-capek kerja langsung hilang kalau lihat dia lewat."

"Dasar." Aynara menghela napas panjang. "Masih aja kayak dulu."

Riva meletakkan tangan di dada dengan gaya dramatis. "Ra, keindahan mana yang bisa kudustakan?"

Aynara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Tingkah Riva ternyata sama sekali tidak berubah sejak masa kuliah.

"Ya sudah, terserah kamu." Aynara kemudian teringat sesuatu. "Oh, ya. Apa nama perusahaan tempat kamu kerja?"

Riva menjawab santai sambil merapikan rambutnya. "Aksara Group."

Aynara mengangguk kecil. "Aksara Group..."

 

...🔸🔸🔸...

...“Tidak semua kehilangan adalah akhir. Ada yang datang sebagai jalan untuk menemukan kembali sesuatu yang pernah kita miliki, sekaligus membuka pintu menuju kehidupan yang baru.”...

...“Kita tidak pernah tahu ke mana sebuah langkah kecil akan membawa kita. Bisa jadi, keputusan yang kita ambil hari ini bukan sekadar mengubah hari esok, tetapi juga mempertemukan kita dengan seseorang yang akan mengubah seluruh hidup kita.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Eka Burjo
ditunggu kelanjutannya
Eka Burjo
ku intip bolak balik, ko ga ada update baru 😔
Anonim
Mereka berdua berangkat naik taksi menuju Aksara Group.

Riva tahu juga kalau emak tiri Aynara pelit 😄.

Riva sudah dua tahun bekerja menjadi resepsionis. Dia bangga bisa mengenal hampir semua pejabat tinggi di kantor. Direktur, manager, kepala divisi, tamu penting, semuanya pernah lewat di depan mejanya 😄.

Aynara menahan tawa ketika Riva bicara panjang lebar punya banyak pengalaman. Lucu ini anak.

Aynara banyak tertawa bersama sahabat yang katanya perumpamaannya selalu ajaib .

Sampai sopir taksi tak kuasa menahan senyum, mengatakan Riva memang lucu.
Anonim
Aynara yang mau melamar kerja, pakaiannya pinjam milik Riva.

Riva sibuk merapikan rambut dan pakaian Aynara.

Riva selalu bisa bikin Aynara terkekeh dengan celetukannya.

Tiba-tiba Riva menanyakan hubungan Aynara dengan Langlang.

Riva bersyukur, Aynara sudah ngga pacaran lagi dengan Langlang. Dia bilang - Langlang agak matre.

Riva menjelaskan kenapa bilang begitu. Dan menjelaskan pula kenapa ngga pernah cerita soal itu.
Anonim
Mereka berdua sudah masuk di kontrakan Riva.

Ketika sudah duduk mereka ngobrol, Riva masih bikin Aynara tergelak.

Aynara menanyakan tentang lowongan di tempat Riva kerja. Yang baru di buka hari ini. Besuk Aynara mau mencoba melamar.

Riva bikin Aynara tertawa lagi ketika dia mengatakan di tempatnya kerja bisa cuci mata. Managernya ganteng banget.

Perusahaan tempat kerja Riva namanya Aksara Group.

Aynara belum tahu itu perusahaan milik kakek mertuanya ya.

Berarti managernya suami Aynara. Aynara besuk mau mencoba melamar kerja, bakal ketemu suami sombongnya 😁
Anonim
Turun dari taksi, Aynara di bawa Riva memasuki gang sempit menuju kobtrakannya.

Sambil jalan Riva masih saja bikin Aynara terkekeh dengan perbendaharaan kata yang diucapkannya.

Hari ini Aynara bersama sahabatnya banyak tertawa. Aynara bisa melupajan sejenak hari-harinya yang sangat menyedihkan. Baik di keluarganya sendiri, maupun di pernikahannya yang cuma sehari langsung diusir suami yang angkuh dan sombong.
Anonim
Aynara yang sedang mencari kerja, kebetulan sekali di tempat Riva kerja baru buka lowongan.

Riva bilang, dengan ijazah S2 harusnya Aynara bisa dapat posisi yang lebih bagus.

Aynara numpang nginap semalam di kontrakan Riva.

Ketika taksi yang dipesan Aynara datang, Riva meringis 😄. Aynara langsung meraih tangan Riva sambil bilang - aku yang bayar.
Anonim
Aynara tidak menyangka bertemu teman kuliahnya yang lama menghilang sejak lulus S1. Sedangkan Aynara sudah lulus S2.

Seru ketemu teman akrab sewaktu kuliah di S1.

Riva orangnya enak bicaranya, suka bercanda. Aynara jadi bisa tertawa lepas. Perbendaharaan katanya gokil amat. Aynara gadis lugu jadi tidak mengerti istilah-istilah yang dilontarkan oleh Riva. Ngertinya hanya belajar supaya mendapatkan nilai bagus untuk mendapatkan beasiswa.
abimasta
syukurlah aynara bersama regan,bukan doni
Ass Yfa
akankah Regan jujur kalo dia bukan Aksa???
Ass Yfa
maksudnya Doni apa...mereka suami istri pdhl bukanseh😄,,,Doni nggk tahu istrinya Aksa siapa dan suami Aynara siapa???
evievoy
upsss.... Re
evievoy
Ahhhhh Re lo lamaaaa
Siti Jumiati
ditunggu kelanjutannya kak nana semangat 💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏
Felycia Fernandez
Kamu melupakan satu hal, dalam ikatan suami istri pasti ada hubungan ranjang.itu yang dinamakan hak dan kewajiban suami istri
Anonim
Aynara ingat kata-kata Asti. Uang saku dari Asti ngga seberapa dibandingkan pemberian kakek.

Rasa penasaran membuat Aynara melangkah menuju area ATM yang tidak jauh daru lobby rumah sakit.

Betapa terkejutnya Aynara ketika melihat angka yang muncul di layar.

Kenapa kakek begitu baik terhadap Aynara. Apakah kakek akan sadar dari komanya dan menceritakan rahasia yang ada ?

Siapa lagi ini yang memanggil Nara sampai Aynara terkejut ketika menoleh.
Anonim
Gunadi seakan tak percaya ketika mendengar Aynara membantu membersihkan tubuh Kakek dari mulut perawat.

Ternyata Gunadi yang membuat Aynara ikut terhenti langkahnya.

Aynara mengenali Gunadi yang waktu itu ikut menunggu di depan UGD saat Wicaksono menjalani operasi.

Gunadi lalu memperkenalkan dirinya.

Gunadi memberikan amplop yang berisi kartu ATM kepada Aynara sesuai amanah dari Wicaksono.

Naaah kaaan...Aynara jadi malu sendiri telah menuduh Aksa.

Wicaksono punya rahasia apa tentang Aynara
Felycia Fernandez
wajar sih,karena status mereka suami istri.nggak ada yang salah dalam pemikiran aynara.tapi Regan bukan Aksa asli.
Anitha
Pertahanan Regan runtuh seketika tidak bisa mengendalikan hasratnya, sekarang Aynara milik Regan seutuhnya,
siti irnani
Yo seneng karo bojo mu lahhh.🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!