Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.
Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...
“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
[ Sisi yang Tak Pernah Terlihat ]
Sudah hampir dua minggu sejak pertemuan pertama mereka. Vincent Lawson mulai menjadi pelanggan tetap di toko bunga Azlyn Florist. Kadang ia datang membeli bunga, kadang hanya duduk beberapa menit sambil menikmati kopi yang dibuat Rhea. Aneh memang. Pria yang dikenal dingin dan kejam itu justru menemukan ketenangan di toko kecil yang dipenuhi aroma bunga.
"Aku heran," ucap Rhea sambil merapikan mawar putih di dalam vas. "Orang sibuk sepertimu bisa punya waktu datang ke sini."
Vincent tersenyum tipis. "Apa aku mengganggu?"
Rhea menggeleng cepat. "Bukan begitu."
"Lalu?"
"Kurasa... kau terlihat berbeda saat di sini."
Vincent menatapnya beberapa detik sebelum mengalihkan pandangan.
"Mungkin."
Jawaban singkat itu membuat Rhea tersenyum kecil.
Sore itu, Vincent pamit lebih dulu. Rhea yang penasaran tanpa sadar memperhatikannya dari balik kaca toko.
Namun yang membuatnya heran, mobil Vincent tidak menuju gedung Black Raven.
Mobil itu justru berhenti di sebuah bangunan tua di pinggir kota.
Rhea langsung menghubungi timnya.
"Target berhenti di sebuah bangunan. Aku akan memastikan sendiri."
"Jangan bertindak gegabah," jawab Komandan melalui alat komunikasi.
"Aku hanya mengamati."
Rhea memarkir motornya cukup jauh, lalu berjalan perlahan.
Di depan bangunan itu tertulis sebuah papan kayu sederhana.
Panti Asuhan Harapan.
Rhea mengernyit.
Panti asuhan?
Ia mengintip dari balik pagar.
Apa yang dilihatnya membuat napasnya tertahan.
Vincent duduk di halaman bersama belasan anak kecil.
Jas hitamnya dilepas.
Lengan kemeja putihnya digulung.
Seorang anak perempuan tertawa saat Vincent mengangkatnya ke pundak.
"Om Vincent! Lagi!"
Vincent terkekeh pelan.
"Habis ini capek."
"Nggak boleh capek!"
Anak-anak lain ikut tertawa.
Tak lama kemudian, Vincent membagikan kotak-kotak makanan, buku, dan mainan baru.
"Belajar yang rajin," ucapnya sambil mengusap kepala seorang anak laki-laki.
"Iya, Om!"
Rhea membeku.
Selama bertahun-tahun membaca berkas penyelidikan, tak pernah sekali pun ia menemukan informasi tentang tempat ini.
Tak ada laporan.
Tak ada saksi.
Tak ada catatan.
Seolah Vincent sengaja merahasiakan semuanya.
"Kenapa...?" bisik Rhea pelan.
Air matanya hampir jatuh ketika melihat seorang anak perempuan memeluk Vincent erat.
"Om jangan lama-lama ya..."
Vincent tersenyum hangat.
"Om janji akan datang lagi."
Senyum itu...
Sama sekali berbeda dengan senyum dingin yang selama ini dikenalnya.
Malam harinya, Rhea kembali ke apartemen.
Ia membuka seluruh berkas tentang Vincent.
Satu per satu halaman ia baca ulang.
Pembunuhan.
Penyelundupan.
Pencucian uang.
Tidak ada satu pun yang menyebut tentang panti asuhan.
"Komandan."
"Ya?"
"Hari ini Vincent mengunjungi sebuah panti asuhan."
Di seberang sana terdengar hening.
"Itu tidak penting."
"Tapi dia membiayai anak-anak di sana."
"Itu bisa saja kedok."
"Kalau bukan?"
Suara Komandan berubah tegas.
"Zhava."
Rhea langsung terdiam.
"Itu sebabnya aku melarangmu terlalu dekat dengannya."
"Seorang kriminal selalu punya cara untuk terlihat baik."
"Laksanakan tugasmu."
Sambungan telepon terputus.
Rhea meletakkan ponselnya perlahan.
Untuk pertama kalinya...
Ia mulai mempertanyakan semua yang selama ini ia yakini.
Di sisi lain kota, Vincent berdiri di balkon penthouse miliknya.
Salah satu anak buah menghampiri.
"Bos."
"Semua kebutuhan panti asuhan bulan ini sudah dikirim."
Vincent mengangguk pelan.
"Jangan pernah gunakan nama Black Raven."
"Biarkan mereka mengira itu berasal dari donatur biasa."
"Baik, Bos."
Anak buah itu ragu sejenak sebelum bertanya.
"Bos... kenapa Anda tidak pernah memberi tahu siapa pun?"
Vincent menatap langit malam.
"Dulu... aku juga anak yang menunggu seseorang datang membawakan harapan."
"Sayangnya..."
"...tak pernah ada yang datang."
Keheningan menyelimuti balkon.
Sementara itu, di apartemennya, Rhea masih menatap foto Vincent yang ada di berkas penyelidikan.
Semakin ia mengenal pria itu...
Semakin ia takut.
Bukan karena Vincent adalah mafia paling berbahaya di negara itu.
Melainkan karena...
ia mulai melihat sisi manusia yang seharusnya tidak pernah ia lihat dari target operasinya.