NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Arga terbangun ketika kehangatan sinar matahari pagi perlahan menyelinap masuk melalui celah-celah dinding kayu. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan pandangan, sementara rasa nyeri yang hebat langsung menjalar ke seluruh persendian tubuhnya.

"Kau sudah bangun?" sebuah suara familier menyapa dari arah samping.

Arga menoleh lambat dan mendapati Nara sedang duduk di atas kursi kayu kecil. Gadis itu sibuk menumbuk dedaunan herbal untuk ramuan obat. Arga menyadari adanya lingkaran hitam yang samar di bawah kelopak mata Nara.

"Kau... tidak tidur semalaman?" tanya Arga, suaranya terdengar agak serak.

Nara mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. "Jika aku memutuskan untuk tidur, lalu siapa yang akan mengganti kain kompres di dahimu setiap jam?"

Arga tersenyum tulus menatap kepedulian sahabatnya. "Terima kasih, Nara."

Mendengar ucapan itu, Nara langsung memalingkan wajahnya yang mendadak bersemu merah. "Ah, itu hanya kebetulan saja. Aku tidak mau repot jika harus kehilangan teman seperjalanan di awal petualangan kita."

Di dalam liontin, Guru Tian terkekeh geli menyaksikan interaksi tersebut. "Dua anak muda ini benar-benar payah dalam urusan jujur pada perasaan sendiri."

Beberapa jam kemudian, setelah kondisi fisik Arga sedikit membaik, seluruh penduduk desa tampak sudah berkumpul di lapangan terbuka. Begitu langkah kaki Arga dan Nara terlihat keluar dari rumah perawatan, semua warga serentak membungkukkan tubuh mereka dengan penuh rasa hormat.

"Terima kasih banyak, Tuan Muda!"

"Kalian berdua telah menjadi penyelamat bagi seluruh nyawa di desa kami!"

Arga yang tidak terbiasa dengan perlakuan seperti itu segera melambaikan kedua tangannya dengan canggung. "Tolong jangan berlebihan, Bapak dan Ibu sekalian. Saya hanya melakukan apa yang memang sudah sepatutnya dilakukan."

Di tengah kerumunan, sang tetua desa—seorang pria renta berambut putih panjang yang memancarkan aura kebijaksanaan—melangkah maju dengan khidmat. Di kedua tangannya, ia memeluk sebuah kotak kayu tua yang permukaannya sudah mulai mengelupas dimakan usia.

"Kami adalah penduduk desa terpencil yang miskin, tidak memiliki harta berharga atau batu spiritual untuk membalas budi baik kalian," ujar sang tetua dengan suara bergetar. "Namun, benda di dalam kotak ini telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur kami."

Ia menjeda kalimatnya sejenak, mengenang sesuatu. "Kakek buyutku dahulu pernah berpesan; 'Jika suatu hari nanti datang seorang pendekar yang berhasil menumbangkan pengendali mayat di tempat ini, serahkan kotak ini kepadanya.' "

Kotak kayu itu perlahan dibuka. Di bagian dalamnya yang dilapisi kain sutra usang, terletak sepotong batu giok berwarna hijau kebiruan. Permukaan batu tersebut dipenuhi oleh guratan ukiran kuno yang sangat rumit.

Begitu melihat penampakan benda tersebut, Guru Tian mendadak bangkit berdiri dari posisi semedinya di dalam ruang jiwa Arga. "Arga! Cepat terima kotak itu!"

Arga tersentak mendengar reaksi sang guru yang tidak biasa. "Apakah Senior mengenali jenis batu giok ini?"

"Aku tidak tahu nama batunya," sahut Guru Tian dengan nada mendesak. "Tetapi aku sangat mengenali jenis ukirannya. Itu adalah bentuk aksara sakral yang hanya digunakan pada Zaman Kuno!"

Arga segera mengulurkan kedua tangannya untuk menerima batu giok tersebut dengan penuh hormat. Tepat ketika ujung-ujung jarinya menyentuh permukaan batu yang dingin, sebuah dengung halus yang bergetar rendah tiba-tiba bergema di udara.

Secara mengejutkan, Pedang Penjaga Langit yang berada di punggung Arga ikut bergetar hebat, seolah-olah sedang menyambut kehadiran kerabat lamanya.

Bahkan sang tetua desa sendiri tampak membelalakkan matanya karena terkejut. "Selama ratusan tahun disimpan oleh keluarga kami... batu ini tidak pernah sekali pun memperlihatkan reaksi apa pun."

Guru Tian berbicara dengan nada rendah yang dipenuhi kalkulasi. "Sepertinya dugaan awal kuno tidak salah. Benda pusaka ini memiliki keterikatan takdir yang sangat kuat dengan Pedang Penjaga Langit milikmu."

Namun, sebelum Arga sempat melontarkan pertanyaan lebih jauh...

Crack!

Sebuah garis retakan kecil mendadak muncul di permukaan batu giok tersebut. Seberkas cahaya hijau terang perlahan berpendar keluar dari sela retakan, membubung ke atas, lalu membentuk sebuah proyeksi peta magis yang melayang di udara.

Di dalam peta bercahaya itu, hanya ada satu titik lokasi yang ditandai dengan warna merah menyala: Pegunungan Naga Hitam.

Tepat di bawah tanda merah tersebut, terukir empat baris kata dalam aksara kuno. Guru Tian membaca tulisan itu dengan perlahan namun penuh penekanan.

"Makam Penjaga Pertama."

Jantung Arga seketika berdegup kencang setelah mendengar nama tempat itu. "Senior... apakah itu berarti...?"

Guru Tian mengangguk mantap di dalam ruang kesadaran. "Kemungkinan besar, di sanalah tempat semua jawaban misteri tentang asal-usul Pedang Penjaga Langit dan rahasia masa lalu ayahmu bermula."

Nara menatap proyeksi peta magis yang berpendar di depan mereka dengan tatapan takjub. Walaupun gadis itu belum sepenuhnya memahami signifikansi dari benda kuno tersebut, nalurinya sebagai seorang pemburu bisa merasakan satu hal yang pasti.

Rencana perjalanan mereka menuju Kota Bintang untuk mengikuti Ujian Tujuh Sekte kini telah bergeser, berkembang menjadi sebuah misi pencarian takdir yang jauh lebih besar dan berbahaya.

Sementara itu, jauh di atas bentangan langit yang diselimuti gumpalan awan putih, seekor burung roh berbulu emas tampak terbang mengepakkan sayapnya dengan anggun. Di atas punggung makhluk suci tersebut, duduk seorang pria tua bermata tajam laksana elang. Tatapan dinginnya terarah lurus ke bawah, tepat ke arah desa kecil tempat Arga berada.

"Jadi... segel kuno itu akhirnya mulai terbuka," gumam pria tua itu dengan seulas senyuman tipis yang penuh misteri. "Lima kekuatan besar Benua Timur dipastikan akan segera mencium aroma ini dan mulai bergerak."

Tanpa disadari sedikit pun oleh Arga, keputusan dan langkah kaki kecil yang diambilnya hari ini telah berhasil menggerakkan roda takdir, perlahan-lahan menarik perhatian dari seluruh entitas tertinggi di dunia kultivasi.

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!