Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.
Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.
Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Kedatangan Dinda dan Reza merubah suasana yang tadinya sedih menjadi canggung, begitu juga dengan Dinda yang jadi bingung ingin bersikap seperti apa, tadi niatnya ingin menjenguk keadaan Zakia eh ternyata mereka menghadapi masalah yang lain.
"Tapi sebetulnya, tadi di toko juga pak Jamrud di demo sama orang di sana, tuntutan sama dengan yang dialami kak Zakia, bang Daren sama kak Zakia disuruh nikah," kata Reza.
Dinda melotot, kenapa Reza mengatakan itu? Ini namanya bukan memecahkan masalah tapi malah memperkeruh keadaan.
"Ha?" Sinta bingung, berarti masalah ini sudah sampai ke warga kampung di sini? Pantas saja beberapa orang tadi lewat sambil berbisik-bisik ketika melihat mereka.
"Kak Zakia gimana ceritanya bisa jadi dituntut nikah sama bang Daren?" tanya Dinda.
"Tadi pak RT datang ke sini, dia ngomong kalau ada masalah antara Zakia sama Daren, tapi ibu mikir bahwa itu diketahui sama pak RT aja, ibu ga tau ternyata masalah itu udah diketahui warga kampung, karena dia bilang takut kalau nanti ketahuan sama warga kampung masalahnya makin runyam, makanya sebelum. masalah itu semakin besar pak RT ngusulkan Zakia dan Daren buat nikah."
"Zakia nolak keras," kata bu Sinta sambil menutup pintu kamar Zakia yang sudah tertutup.
"Dia belum mau nikah dan dia ngerasa itu bukan kesalahan yang harus diselesaikan dengan solusi menikah, ibu juga heran kenapa tadi banyak orang yang bisik-bisik ngeliatin ibu, ternyata masalahnya udah sebesar itu," lanjutnya.
Kepala Sinta sakit bukan main, Sinta mungkin bisa menahan semua gunjingan yang dilontarkan oleh para ibu-ibu, tapi bagaimana dengan putrinya Zakia? Anak itu masih terlalu muda, sudah cukup beban berat yang selama ini ia tanggung, jangan lagi ditambah dengan beban yang lain.
"Tadi pak RT juga dateng ke toko dan nenangin warga, kayaknya dia juga bakal berdiskusi lagi sama keluarga bang Daren," lanjut Dinda.
"Ibu udah ga tau mau gimana lagi Din, di sini anak ibu korban dan Daren penyelamat, sedangan si pemerkosa hilang entah ke mana, tapi gosip fitnah membalikkan fakta seolah-olah mereka berdua berbuat mesum padahal enggak, ibu juga ada rasa sedikit segan sama keluarga Daren, tapi mau gimana lagi ga ada orang yang ngerencanain musibah untuk dirinya sendiri," kata Sinta dengan suara intonasi yang sudah melemah.
"Iya bu, Dinda paham kok, ibu ga usah khawatir ya, pasti ada jalan keluarnya kok, ibu juga jangan terlalu banyak mikir, kalau ibu sakit kasian kak Zakia semangatnya makin melemah, gimanapun dia juga butuh disemangati," bujuk Dinda.
Sinta menatap Dinda, ia tersenyum sambil mengelap sedikit air matanya yang ke luar, tangannya terulur mengusap kepala anak itu. Setidaknya dengan bercerita dengan Dinda, Sinta bisa tenang sedikit. Ingin bercerita dengan Zakia tidak mungkin, begitu juga dengan Rega yang masih diambang emosi. Tapi ia sadar jika memendamnya sendiri juga tidak bagus.
"Makasih ya Nak," ujar Sinta kepada Dinda dan Reza. Namun hatinya belum juga leluasa saat melihat pintu kamar Zakia, entah bagaimana hancurnya perasaan anaknya itu, Sinta berharap Zakia baik-baik saja di dalam.
***
Di dalam kamar, Zakia menatap sebuah kertas yang ia tempel di dinding kamarnya, kertas itu berisi daftar semua keinginan yang ingin dia wujudkan sebelum ia terjun ke dunia pernikahan.
Salah satu keinginannya ialah selesai kuliah dengan uang sendiri dan foto keluarga yang terdiri hanya dia, Sinta dan Rega. Tapi semua harapan dan keinginan Zakia seolah hancur lebur ke dalam tanah.
Kejadian itu bukan atas dasar kesengajaan dan karena gosip dari mulut ke mulut akhirnya Zakia masuk ke lubang masalah yang lebih parah yang dia bayangkan.
"Haaaa!" Teriakan frustasi ia keluarkan, ia menjambak rambutnya dan mengambil kertas itu lalu merobeknya asal.
Kakinya yang sakit tak ia pedulikan, ia tetap membawanya berjalan ke arah lemari, membuka lemari tersebut dan membuka buku. Buku itu berisi rancangan hidupnya ke depan harinya yang sudah ia susun sebagus mungkin.
Dari mulai selesai kuliah, membantu keluarg, bekerja atau lanjut kulia ke luar negeri. Semuanya bahkan sudah dia rancang dengan serapi mungkin. Namun saat ini yang bisa ia lakukan hanya menangis menatap buku itu.
Zakia terduduk di lantai, kakinya tak lagi kuat menopang dan tubuhnya terlalu lemah untuk bisa dipaksa kuat, kertas-kerta buku itu dirobek asal dan dipukul-pukul keras. Satu persatu halaman buku itu ia robek bersamaan dengan air matanya yang terjatuh di atas tinta perjuangannya selama ini.
Zakia menangis, Zakia terluka, Zakia frustasi, semua melenceng dari perkiraannya, tubuhnya remuk, tubuhnya ternodai dan semua keinginannya digoreng habis karena kesalahan seseorang.
Rambut panjangnya ia tarik dan tangannya memukul-mukul kepalanya,.
"Aaaaa."
Tidak ada kata-kata yang bisa ia keluarkan, mulutnya hanya mampu berteriak dan terisak, dari situ saja semua orang bisa menilai sefrustasi apa Zakia sekarang. Bagi dirinya semuanya sudah berakhir.
***
"Daren," panggil pak Jamrud.
Daren yang tengah berdiri memandangi akuarium hanya melirik sekilas ayahnya, ia tahu apa topik yang akan dikatakan ayahnya, topik yang membuat Daren tak habis pikir kenapa orang-orang itu bisa berpikir sampai ke saja jauhnya.
"Pa, Daren ga ada salah di sini, ini cuman fitnah, Daren ga bisa sembarangan menikah dengan orang yang bahkan kami aja belum saling mengenal, okelah kalau Daren nerima, dia gimana? Pikirin dia juga!" tegas Daren.
Jamrud menghela nafas, posisinya serba salah, orang-orang terus menekan mereka sedangkan yang punya badan tidak ingin mengikuti apa kemauan warga.
"Ren, kami tau ini berat untuk kamu, menikah memang bukan semudah membalik telapak tangan, menikah berarti memang kamu harus siap menanggung semuanya, menjadi imam untuknya dan bahkan bisa melindunginya, makanya kami nyuruh kamu untuk berpikir dulu, jangan ambil keputusan langsung."
"Pelaku pemerkosa Zakia belum dapat sampai sekarang, sedangkan fitnah sudah tersebar luas kalau kalian melakukan hal tidak senonoh di gudang, bapak tau gimana perasaan kamu, tapi pikirkan kalau kita sampai diusir dari sini gimana?" tanya Jamrud.
"Daren, bapak yakin umur kamu udah cukup dewasa untuk memikirkan ini, lagian kita kenal Zakia dan cukup kenal dengan keluarganya, dia anak yang baik, penuh ambisi dan penuh keinginan, bapak yakin kamu bisa membimbing dia dan berdiri di sampingnya untuk mencapai semua impian yang dia punya," ujar pak Jamrud.
Sebelum pergi, ia memukul pelan bahu anaknya dan tersenyum, langkah kaki yang sudah tak terlalu kokoh itu pun dibawa pergi dari sana. Kini tinggallah Daren dengan seribu pertanyaan di kepalanya, apakah dia harus menikahi Zakia atau berpura-pira tidak peduli sampai fitnah menghilang?
Daren membuka dua kancing kemejanya, rasanya pasokan udara selama beberapa hari ini terasa sedikit, bahkan untuk menarik nafas pun rasanya susah.
Menikah bukan semudah itu dan Daren tidak ingin di kemudian harinya salah satu dari mereka ada yang menyesal karena sudah memecahkan masalah dengan cara seperti ini.
Terlebih lagi, apakah Zakia bersedia menjalin hubungan dengannya?