Shen Ran adalah definisi dari kesialan. Sebagai Permaisuri dari Kekaisaran Yan, ia memiliki segalanya di atas kertas, namun tidak di dunia nyata. Dikhianati oleh keluarga sendiri, diabaikan oleh Kaisar yang kejam, dan menjadi bahan tertawaan para selir di Istana Belakang. Puncaknya, ia dijebak dan dibiarkan membeku hingga tewas di Istana Dingin yang terpencil.
Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Saat mata itu terbuka kembali, tubuh rapuh Shen Ran telah diambil alih oleh Clara, seorang pengacara korporat jenius sekaligus ahli strategi perang bisnis dari abad ke-21. Clara tidak tahu apa itu tunduk, dalam kamus hidupnya tidak mengenal kata tunduk dan mengalah.
"Kalian menginginkan boneka yang bisa diinjak? Maaf, kalian salah membangunkan jiwa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Bluetherine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Duapuluh Tujuh
"Kabar dari Pangeran Sembilan baru saja tiba melalui agen bayangan fajar ini, Yang Mulia," sahut Mei’er pelan namun lugas, melangkah mendekat sembari memastikan tidak ada telinga lain di ruangan tersebut.
"Feng Muye berhasil menahan pergerakan pasukan faksi sayap kanan di wilayah perbatasan Selatan, namun krisis logistik buatan klan Chu sempat membuat pasukannya terdesak. Saat ini, Long Tianqi tengah berada di Aula Agung, kewalahan menghadapi tekanan menteri-menteri sayap kanan yang menuntut penarikan wewenang militer Pangeran Sembilan."
Shen Ran mengukir senyum tipis yang sarat akan dominasi. "Long Tianqi terpancing persis seperti perkiraanku. Dia terlalu sibuk mempertahankan ego kekaisarannya di Aula Agung hingga lupa mengamankan kekayaan Istana Barat."
Shen Ran menoleh ke arah Lian'er. "Lian’er, ambil stempel resmi Permaisuri dan panggil kepala pengawal klan Shen. Karena Kaisar telah menyerahkan urusan Istana Dalam sepenuhnya kepadaku, maka perampasan dan penyitaan seluruh aset klan Chu serta Istana Barat adalah wewenangnya yang sah."
"Baik, Yang Mulia! Hamba akan segera menyiapkan pasukan pengawal," sahut Lian’er dengan mata berbinar, menangkap dengan cepat arah permainan catur politik master-nya.
"Mei’er," peritah Shen Ran lagi, suaranya tajam tanpa ragu. "Kirim pesan rahasia kepada Feng Muye melalui jalur bayangan. Beritahu dia bahwa jalur logistik Selatan tidak lagi berada di bawah kendali klan Chu. Aku yang memegang alur dananya sekarang. Minta dia menahan posisinya di perbatasan sedikit lebih lama sampai aku menyelesaikan pembersihan aset di ibu kota."
Shen Ran melangkah menuju pintu utama Istana Phoenix, jubah emas bersulam burung Phoenix berkibar megah mengikuti tiap langkahnya. "Hari ini, Long Tianqi akan kehilangan dua hal sekaligus secara bersamaan, taring politiknya di Aula Agung, dan seluruh bendahara kekayaannya di Istana Dalam. Mari kita mulai penyitaan."
"Sesuai perintah, Yang Mulia!" Mei’er menunduk takjub sebelum berbalik cepat untuk mengirimkan pesan rahasia tersebut.
Shen Ran melangkah keluar dari Istana Phoenix, memimpin rombongan besar prajurit elit klan Shen yang mengenakan zirah besi berkilat. Derap langkah boots baja mereka menggema riuh di sepanjang jalan setapak pualam, menghancurkan keheningan pagi Istana Barat. Para kasim dan pelayan yang melintas ketakutan, buru-buru berlutut dan menempelkan dahi mereka ke tanah begitu melihat aura dingin Permaisuri.
Pintu gerbang Istana Barat yang megah berdiri kokoh di hadapan mereka. Dua pengawal klan Chu yang berjaga di depan gerbang mencoba merintangi jalan dengan tombak terhunus, wajah mereka pucat pasi.
"P-Permaisuri! Istana Barat adalah kediaman pribadi Selir Agung Chu, Anda tidak berhak..."
"Buka!" bentak Lian’er mendahului. "Permaisuri memegang stempel tertinggi Istana Dalam dan perintah langsung Kaisar untuk membereskan kekacauan ini!"
Sebelum pengawal itu sempat membalas, Shen Ran mengangkat tangannya sedikit. Dua prajurit klan Shen di belakangnya melangkah maju dan dengan satu tendangan kuat merobohkan pintu kayu berukir emas tersebut hingga terhempas nyaring.
BRAK!
"Geledah seluruh isi Istana Barat," perintah Shen Ran datar, suaranya tenang namun menggelegar di aula luar kediaman Chu Xinyue. "Sita setiap peti emas, surat tanah, dokumen transaksi rahasia, hingga perhiasan sekecil apa pun. Jika ada yang melawan, tindak atas nama kejahatan makar!"
Para prajurit klan Shen bergerak cepat bak badai.
Mereka Menerobos masuk ke dalam kamar rahasia, membongkar lantai kayu, dan menyisir setiap sudut kediaman. Tangisan dan jeritan para pelayan Istana Barat pecah saat peti-peti kayu berisi kepingan emas, permata, dan surat utang piutang milik menteri faksi sayap kanan diseret keluar satu per satu ke halaman utama.
Di tengah kekacauan itu, Shen Ran berjalan anggun mendekati meja kerja Chu Xinyue. Matanya yang tajam menemukan sebuah kotak kayu cendana yang terkunci rapat dengan ukiran segel naga rahasia.
Dengan ujung belati yang disodorkan oleh Lian’er, Shen Ran mencongkel kunci kotak tersebut tanpa keraguan. Di dalamnya terbaring tumpukan surat perjanjian rahasia dan, yang paling berharga, stempel resmi perbendaharaan cadangan kekaisaran yang selama ini disembunyikan oleh klan Chu dari tangan Kaisar.
Shen Ran menyunggingkan senyum dingin yang penuh kepuasan, jemarinya mengelus permukaan stempel emas tersebut.
"Long Tianqi terlalu bodoh sampai tidak menyadari bahwa separuh dari kas negaranya telah dipindahkan ke kediaman selir kesayangannya. Dengan stempel dan seluruh dokumen ini, bukan hanya jalur logistik Feng Muye yang terjamin, tetapi rantai pasokan keuangan untuk pasukan Long Tianqi di ibu kota kini ada di dalam genggamanku," gumam Shen Ran.
Lian’er mendekat dengan wajah berbinar. "Yang Mulia, penyitaan di Istana Barat telah selesai. Seluruh keping emas dan dokumen telah diamankan oleh prajurit klan Shen. Apa langkah kita selanjutnya?"
Shen Ran menutup kotak cendana itu, memutar tubuhnya dan menatap ke arah Aula Agung di mana persidangan fajar dipastikan tengah memanas.
"Simpan seluruh aset ini di perbendaharaan Istana Phoenix," ucap Shen Ran, matanya berkilat penuh kemenangan. "Sekarang, mari kita pergi ke Aula Agung. Saatnya memberi penghakiman terakhir untuk para menteri faksi sayap kanan dan menyaksikan kekuasaan Long Tianqi runtuh secara perlahan."