Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Rumah Sakit
.
.
"Apa?" Gavin langsung berdiri dari kursinya.
"Rendra mengalami kecelakaan." Kirana menggenggam ponselnya semakin erat.
Wajahnya terlihat pucat dan sorot matanya tidak lagi setenang biasanya.
"Dia sedang berada di rumah sakit," gumam Kirana lagi.
"Ayo." Aiden langsung mengambil kunci mobil dari meja.
"Tuan tidak perlu ikut." Kirana menoleh.
"Aku tidak bertanya," ujar Aiden.
"Saya bisa pergi sendiri," balas Kirana.
"Aku tahu." Aiden berjalan lebih dulu menuju pintu restoran. "Tapi malam sudah larut dan kondisi kamu tidak tenang."
Kirana ingin membantah, tetapi kata-kata itu tidak pernah keluar. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pikirannya benar-benar kacau.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, suasana di dalam mobil nyaris tanpa suara. Kirana terus mencoba menghubungi nomor Rendra, tetapi panggilannya tidak pernah tersambung. Semakin lama, perasaannya semakin tidak nyaman.
"Masih tidak diangkat?" tanya Aiden.
Kirana hanya mengangguk.
"Mungkin dia sedang ditangani dokter," lanjut Aiden.
"Mungkin," jawab Kirana pelan.
Jawaban itu terdengar seperti usaha meyakinkan dirinya sendiri.
Di kursi belakang, Gavin melirik keduanya melalui kaca spion. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Kirana, ia melihat wanita itu benar-benar kehilangan ketenangan.
.
Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit yang disebutkan Rendra. Kirana hampir berlari menuju meja informasi sementara Aiden dan Gavin mengikuti dari belakang.
"Permisi." Kirana berhenti di depan petugas. "Saya mencari pasien bernama Rendra Atmajaya."
Petugas itu segera memeriksa data di komputer dan Kirana menunggu dengan jantung berdebar.
Beberapa detik berlalu. Lalu satu menit. Kemudian petugas itu mengangkat kepala.
"Maaf, Bu. Tidak ada pasien dengan nama tersebut."
"Mungkin baru masuk." Kirana membeku.
"Hari ini juga tidak ada." Petugas itu kembali memeriksa.
Kirana menatap petugas itu beberapa saat, kepalanya mendadak terasa kosong.
"Tolong periksa sekali lagi."
Petugas itu kembali memeriksa dengan teliti dan hasilnya tetap sama.
"Kamu yakin nama rumah sakitnya benar?" Aiden yang berdiri di sampingnya langsung mengernyit.
"Dia menyebut rumah sakit ini." Kirana membuka pesan dari Rendra lalu menunjukkannya.
"Kalau begitu seharusnya ada." Gavin ikut melihat layar ponsel.
Kirana segera menghubungi nomor suaminya lagi, nomor yang sama, hasil yang sama, tidak aktif. Perasaan tidak nyaman yang selama ini hanya berupa dugaan mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih menakutkan.
Malam semakin larut saat mereka meninggalkan rumah sakit, jalanan ibu kota tidak lagi seramai biasanya. Lampu-lampu kendaraan membentuk garis panjang yang terlihat kabur di mata Kirana
"Aku antar kamu pulang." Aiden memecah keheningan.
"Tidak perlu," jawab Kirana pelan.
"Kirana."
"Saya baik-baik saja."
"Kamu baru saja mengetahui suamimu tidak berada di rumah sakit," bantah Aiden.
Kirana terdiam, Aiden benar namun justru karena itulah ia tidak ingin membahasnya.
.
Saat mobil berhenti di depan rumah, Kirana langsung turun.
"Terima kasih."
"Tunggu."
Kirana menoleh.
"Kalau ada apa-apa, telepon aku."
Wanita itu terlihat ingin menolak, namun setelah beberapa detik, ia hanya mengangguk singkat.
"Selamat malam, Tuan."
Pintu rumah segera tertutup setelah ia masuk dan Aiden tetap duduk di dalam mobil beberapa saat.
"Bos." Gavin menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Saya rasa ini bukan soal kecelakaan."
"Aku tahu."
"Kirana juga mulai curiga."
"Aku lebih khawatir kalau ternyata kecurigaannya benar." Aiden menatap rumah yang kini gelap dan sunyi.
Di dalam rumah, Kirana langsung menuju kamar tidur. Lampu masih menyala tetapi ruangan itu kosong, tidak ada tanda-tanda Rendra sudah pulang.
Ia meletakkan tas di atas meja lalu duduk di tepi ranjang dan ponselnya kembali bergetar. Nama Rendra muncul di layar, tanpa menunggu dering kedua Kirana langsung mengangkatnya.
"Di mana kamu?" tanya Kirana cepat.
"Aku baik-baik saja," jawab Rendra.
"Itu bukan jawaban."
"Aku bisa menjelaskan."
"Kamu bilang berada di rumah sakit."
"Hanya salah paham."
Kirana memejamkan mata, untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, ia merasa tidak mengenali pria yang sedang berbicara dengannya.
"Rendra."
"Hm?"
"Kamu bohong?" tanya Kirana sesak.
Di seberang sana mendadak sunyi, tidak ada jawaban, tidak ada bantahan hanya keheningan yang terasa jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata.
.
.
.
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah yang berada di pusat kota Rendra berdiri di dekat balkon sambil memegang ponsel, wajahnya terlihat tegang dan jauh dari santai.
"Apa dia curiga?" tanya Selina yang baru keluar dari kamar.
Rendra tidak langsung menjawab, pandangan pria itu tertuju pada layar ponselnya yang masih menunjukkan panggilan aktif.
"Kamu bohong?" Suara Kirana kembali terdengar dari seberang sana.
Rendra menutup mata sesaat karena untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus menjawab apa dan di saat yang sama, sebuah foto baru saja masuk ke ponsel Kirana dari nomor yang tidak dikenal.
Foto itu belum dibuka, namun nama pengirimnya membuat darah di tubuh Kirana seakan berhenti mengalir.
Selina.