Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.
Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.
Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Azan subuh berkumandang. Sayup. Dari masjid ujung gang. Anya kebangun duluan. Matanya bengkak. Semaleman tidak merem.
Di kanan kirinya Wulan sama Tari masih meluk bantal. Napasnya sudah rata. Lampu bohlam kuning di luar sudah mati. Ganti cahaya matahari yang nyusup dari celah jendela. Abu-abu. Dingin. Anya duduk. Badannya pegel. Kepalanya berat.
"Nya..." Wulan kebangun. Suaranya serak. "Jam berapa?"
"Subuh," jawab Anya pelan.
Tari juga ikutan bangun. Rambutnya acak-acakan. "Gimana? Masih mau ke kamar kamu?"
Anya diem. Jantungnya dag dig dug.
Akhirnya dia ngangguk. "Iya. Ber-3."
Mereka bertiga jalan pelan. Selangkah demi selangkah. Koridor masih gelap. Bau apeknya masih ada. Tapi bau tanah basahnya sudah hilang. Sampai di depan kamar Anya. Pintu kebuka. Di dalam...rapi. Kasur sudah dibenerin. Bantal udah disusun. Cermin tua itu bersih. Tidak ada embun atau tulisan.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Anya ngambil setelan kantornya, dia akan mandi dikamar Wulan. Kemeja putih sama rok hitam. Tangannya gemetar pas narik resleting. "Ya udah. Aku mandi di kamar Wulan aja," bisik Anya. Suaranya masih ketahan.
Wulan langsung manggut. "Iya...Bareng!. Gantian. Jangan ada yang sendirian."
Mereka bertiga pergi ke kamar mandi Wulan. Lampunya terang. Wangi sabun. Aman. Selama mandi, tidak ada yang ngomong. Cuma suara air _shhh..._ sama _tik tik_ jam dari luar.
Pas Anya keluar, rambutnya masih setengah basah. Dia langsung pake hairdryer. Takut. Takut kalo diem kelamaan.
Tari nyisirin rambut Anya pelan. "Udah...Nya? Jangan mikir. Anggap aja mimpi."
Anya senyum dipaksa. "Iya."
Jam 6.30. Matahari sudah naik. Kos Bu Mimi mulai ramai. Ada suara ibu-ibu nyapu, ada yang masak di dapur umum. Bu Mimi lewat depan pintu. Nengok bentar. "Udah siap kuliah, Nya?"
"Udah, Bu," jawab Anya cepet.
"Bagus. Hati-hati di jalan ya. Pulang jangan kemaleman," kata Bu Mimi. Senyumnya ramah. Kayak nggak kejadian apa-apa semalam.
Pas Bu Mimi pergi, Wulan langsung narik napas. "Merinding aku. Kok bisa setenang itu sih?"
Mereka sarapan di meja panjang. Nasi, telur, sambal. Tapi Anya tidak nafsu. Sepiring cuma ke makan 3 suap. Tiba-tiba hp Anya bunyi. _Tiiit..._
*Kak Revi*
"Gimana kos baru? Betah?"
Tangan Anya langsung keringetan. Dia ngetik pelan.
*Anya*: Betah kak. Aman. 😊
Balasan cepet masuk.
*Kak Revi*: Alhamdulillah. Kalo ada apa-apa bilang ya. Jangan dipendem.
*Kak Revi*: Titip salam buat Bu Mimi
Anya ngelirik ke Wulan sama Tari. Dua-duanya ngangguk. _Jangan cerita._
"Udah yuk berangkat," kata Wulan."Nanti telat."
Mereka bertiga keluar dari gerbang. Wulan dan tari berjalan menuju arah berlawanan. Jalan kaki cuma 5 menit. Tapi sepanjang jalan Anya diem. Otaknya muter terus. Baju Titin. Cermin. Bu Mimi yang ngunci lemari.
Langkah kaki Anya terasa berat menapak di aspal yang mulai menghangat oleh matahari pagi. Di ujung pertigaan gang, setelah berpamitan dengan Wulan dan Tari yang berbelok ke arah kampus, Anya melanjutkan langkahnya sendirian menuju kantor. Udara pagi kota ini mulai tercemar asap knalpot, namun di hidung Anya, sisa-sisa bau tanah basah semalam seolah masih menempel di bulu hidungnya.
Pikiran Anya semrawut. Ada benang merah yang kusut di kepalanya. Pakaian lama 'Titin'. Tidak sengaja ia lihat di dalam lemari tua kamarnya. Lalu, cermin retak semalam berubah menjadi gerbang neraka. Dan sikap santai Bu Mimi pagi ini, seolah-olah amnesia dengan histerisnya semalam. Semua itu terasa seperti potongan teka-teki yang sengaja disembunyikan darinya sebagai penghuni baru.
"Titin itu siapa? napa barang-barangnya masih ada di kosan? Cermin di kamarku juga terlihat aneh?" Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di otaknya, berkejaran dengan deru mesin kendaraan kota yang bising.
Saat tiba di kantor,. Anya sama sekali tidak bisa fokus. Laporan rekonsiliasi data dari kantor pusat yang biasanya bisa ia selesaikan dalam waktu dua jam. Kini terasa seperti barisan huruf mati yang tidak masuk ke otaknya. Beberapa kali Serra teman di kubikel sebelah, menegurnya karena Anya kedapatan melamun menatap layar monitor yang kosong.
"Anya, kau pucat banget. Sakit?" tanya Serra ramah, sambil meletakkan segelas teh hangat di meja Anya.
Anya tersentak, buyar dari lamunannya. Kehangatan menjalar dari gelas teh yang diletakkan Serra, sedikit menenangkan jemarinya yang sedari tadi dingin.
"Eh? Enggak apa-apa kok, Ser. Cuma...kurang tidur aja kayaknya," jawab Anya terbata, memaksakan sebuah senyum tipis yang tidak sampai kematanya.
Serra tidak langsung kembali. Ia bersandar di sekat meja, menatap Anya dengan dahi berkerut khawatir. "Kurang tidur atau lagi mikirin sesuatu? Kalau butuh bantuan buat rekonsiliasi data itu, bilang ya. Muka kau kayak orang habis sembelit."
Anya mengangguk kecil. "Makasih ya, Ser. Nanti kalau mentok aku tanya."
Serra akhirnya pergi. Tapi sebelum balik ke kursinya dia masih sempet noleh sekali lagi. Kayak nggak yakin ninggalin Anya.
Begitu sekat meja menutup, suasana langsung sepi. Cuma ada suara ketikan keyboard, AC, dan _tik... tik... tik..._ dari jam dinding.
Anya nyeruput tehnya. Hangat. Tapi nggak ngusir dingin di tulang belakangnya.
Sejak semalam otaknya nggak berhenti muter. _Baju Titin. Cermin.
Ia mengusap wajah. Mencoba fokus ke layar excel. Baris. Kolom. Angka. Tapi matanya tidak fokus. Pandangannya malah lari ke kaca monitor. Ia melihat bayangan seperti yang ada di cermin kostnya tadi malam. Sekarang malah ada dilayar monitornya.
Anya menutup matanya rapat-rapat. "Ini cuma halusinasi. Aku cuma kurang tidur," bisiknya dalam hati, merapalkan mantra penenang yang sama sekali tidak berguna.
Ketika ia membuka mata. Ia beranikan diri lihat layar monitor, bayangan rambut itu sudah hilang. Layar komputer hanya menampilkan barisan angka Excel yang dingin dan mati. Namun, aroma lembap seperti tanah basah dan kamper yang menyengat mendadak menguar kuat di sekitar kubikelnya. Aroma yang sama persis dengan isi lemari pakaian milik Titin.
atau Anya kerja sambil kuliah thor?