Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.
Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.
Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menara Ujian Akademi
Berikut adalah kelanjutan bab Menara Ujian Akademi dengan alur yang cepat, padat, dan penuh ketegangan taktis khas novel kultivasi modern:
BAB 35: Menara Ujian Akademi
Keesokan paginya...
Seorang murid senior mengetuk pintu kediaman baru Shen Yu.
"Adik Junior Shen. Kepala Akademi memanggilmu ke Menara Ujian."
Shen Yu yang sedang bermeditasi perlahan membuka kedua matanya. Semalaman penuh ia memanfaatkan waktu untuk mempelajari esensi dari Kitab Dewa Abadi. Meskipun tingkat kultivasinya saat ini masih tertahan di ranah Foundation Establishment, sirkulasi energi spiritual di dalam meridiannya kini jauh lebih murni, padat, dan kokoh dibandingkan dengan kultivator normal mana pun.
Ia beranjak membuka pintu. Di luar, Ling'er tampak sedang riang bermain bersama seekor burung roh berbulu biru terang. Melihat Shen Yu keluar, gadis kecil itu langsung berlari menghampiri dengan senyuman cerah.
"Kakak! Kau sudah selesai berkultivasi?"
Shen Yu mengusap lembut puncak kepala Ling'er. "Aku hanya pergi sebentar untuk urusan akademi. Tunggu aku di sini, jangan kemana-mana."
Ling'er mengangguk patuh. "Baik, Kakak!"
Tak lama kemudian, Shen Yu tiba di hadapan sebuah menara hitam legam yang menjulang tinggi menembus langit. Bangunan itu memiliki sembilan lantai, di mana permukaan dinding batunya dipenuhi oleh jutaan ukiran rune kuno yang berpendar samar.
Di depan gerbang menara, Kepala Akademi Tian Yuan telah berdiri menunggu didampingi oleh beberapa tetua inti.
"Salam, Kepala Akademi," sapa Shen Yu tenang.
Tian Yuan mengangguk perlahan. "Shen Yu. Karena kau langsung diangkat menjadi murid inti tanpa melewati seluruh tahapan ujian reguler, pasti akan ada banyak murid lain yang meragukan kapasitasmu."
Shen Yu tersenyum santai. "Aku sudah menduga hal itu akan terjadi, Senior."
Tian Yuan menunjuk ke arah struktur menara di hadapannya. "Kalau begitu, buktikan sendiri kelayakanmu. Naiki Menara Ujian ini. Semakin tinggi lantai yang berhasil kau taklukkan... maka semakin sedikit mulut yang berani meragukan posisimu."
Belum sempat Shen Yu memberikan tanggapan, suara derap langkah kaki yang sombong terdengar mendekat dari arah belakang. Puluhan murid inti berdatangan untuk menyaksikan jalannya ujian. Di barisan paling depan, berdiri sosok Ye Han dengan tatapan sedingin es.
"Aku ingin melihat dengan kepala mataku sendiri..." ucap Ye Han dingin, "...apakah kau benar-benar memiliki kapasitas yang layak untuk menyandang lencana murid inti."
Murid-murid lain mulai berbisik-bisik di belakang.
"Dulu, Kakak Senior Ye Han hanya mampu menembus hingga lantai ketujuh..."
"Jika Shen Yu bahkan gagal melewati lantai lima, dia pasti akan menjadi bahan tertawaan seumur hidup di akademi!"
Shen Yu mengabaikan seluruh bisikan sumbang tersebut. Ia melangkah tenang mendekati gerbang menara.
Begitu telapak tangan kanannya menyentuh permukaan pintu batu yang dingin...
WUUUNG!
Pintu gerbang itu perlahan bergeser terbuka, menyemburkan pusaran angin kuno. Di saat yang sama, sebuah suara serak yang sangat tua bergema langsung di dalam kesadaran pikiran Shen Yu:
"Selamat datang... Pewaris Menara Dewa Kuno."
Manik mata Shen Yu menyipit tajam. Suara itu... bukan berasal dari Roh Menara, bukan pula suara Kepala Akademi Tian Yuan, melainkan sebuah eksistensi lain yang usianya telah melampaui ribuan tahun.
WUUUNG!
Begitu Shen Yu melangkahkan kakinya melewati ambang pintu, struktur dimensi di sekitarnya mendadak mengalami distorsi total. Ia tidak lagi berpijak di dalam ruangan menara, melainkan terlempar ke tengah hamparan galaksi langit berbintang tanpa ujung.
Tepat di sekelilingnya, berdiri sembilan pilar batu raksasa yang masing-masing memancarkan pendaran cahaya warna-warni yang berbeda. Di pusat lingkaran pilar tersebut, duduk bersila seorang lelaki tua berkaus jubah biru tua dengan rambut putih menjuntai hingga pinggang. Kedua matanya terpejam rapat, namun seulas senyuman tipis menghiasi wajahnya.
"Sudah sangat lama sekali... aku menantikan kedatanganmu di sini, Shen Yu."
Shen Yu mencengkeram erat gagang Pedang Dewa Purba di pinggangnya. "Apakah Senior mengenalku?"
Lelaki tua itu menggeleng perlahan. "Bukan dirimu yang kukenal, melainkan takdir berat yang kau pikul di pundakmu."
Tiba-tiba, wujud transparan Roh Menara melompat keluar dari dalam cincin. Begitu matanya menangkap sosok lelaki tua di hadapannya, raut wajahnya berubah pucat total dalam keterkejutan masal.
"Senior Ji Xu?! Aku... aku mengira Anda telah gugur dalam pertempuran purba puluhan ribu tahun lalu!"
Lelaki tua bernama Ji Xu itu perlahan membuka kelopak matanya. Di dalam bola matanya, tampak galaksi gugusan bintang berputar secara konstan.
"Eksistensi yang berdiri di hadapanmu saat ini hanyalah sisa serpihan fragmen jiwaku, Roh Menara. Aku adalah Penjaga Menara Kesembilan."
Shen Yu mengernyit. "Menara Kesembilan?"
Ji Xu mengangguk. "Di zaman keemasan prasejarah... terdapat sembilan Menara Dewa yang menopang tatanan semesta. Menara Dewa Kuno yang kauwarisi hanyalah salah satu pecahan di antaranya."
Deg! Jantung Shen Yu berdegup kencang. "Sembilan menara?!"
"Benar," jawab Ji Xu tenang. "Dan jika suatu hari nanti... kesembilan Menara Dewa itu berhasil disatukan dan dikuasai oleh satu orang tangan... maka ia akan memegang kunci mutlak untuk membuka gerbang menuju Alam Para Dewa."
Roh Menara mengepalkan kedua tangannya erat. "Jadi... legenda tentang sembilan menara itu ternyata benar-benar nyata..."
Ji Xu melambaikan lengan jubahnya di udara. Delapan bayangan menara lain bermunculan di angkasa, masing-masing dengan kondisi yang berbeda.
"Ada menara yang telah hancur lebur. Ada menara yang disegel rapat. Dan... ada pula menara yang telah jatuh jatuh ke tangan musuh terbesarmu."
Sorot mata Shen Yu mendadak berubah setajam silet. "Siapa dia?!"
Ji Xu menatap lurus ke dalam mata Shen Yu. "Orang yang sama... yang telah membunuh ayah kandungmu. Tidak hanya itu, ia bahkan telah sukses menguasai dua pecahan Menara Dewa lainnya."
Atmosfer mendadak membeku. Shen Yu akhirnya memahami mengapa musuh utamanya memiliki kekuatan yang begitu tirani dan mengerikan—ternyata ia juga seorang pewaris pecahan menara!
Ji Xu mengangkat tangan kanannya, memunculkan sebuah bidak catur hitam legam di telapak tangannya. "Kau dan dia... di atas papan catur semesta ini, pada akhirnya hanyalah dua bidak yang digerakkan oleh takdir. Namun sang dalang utama di balik layar... hingga detik ini bahkan belum pernah memperlihatkan wajah aslinya."
Belum sempat Shen Yu melontarkan pertanyaan lanjutan...
DUUUUM!
Salah satu pilar batu di dekatnya mendadak retak berderak. Dari dalam pusaran bayangan gelap, melangkah keluar sesosok makhluk misterius berkaus jubah hitam pekat. Wajahnya tertutup oleh topeng putih polos tanpa ekspresi, sementara tangan kanannya menggenggam sebilah pedang panjang yang berlumuran darah segar.
Ji Xu menghela napas pelan. "Ujian pertamamu dimulai. Jika kau berkeinginan untuk naik menuju lantai kedua menara ini... maka taklukkan dan kalahkan Penjaga Bayangan ini terlebih dahulu."
Makhluk bertopeng putih itu perlahan mengangkat pedangnya. Fluktuasi aura kultivasi ranah [Core Formation] Tingkat Pertama meledak hebat!
Shen Yu menarik napas dalam-dalam. Sudut bibirnya terangkat membentuk seulas senyuman tipis, sementara tangannya mantap menghunus Pedang Dewa Purba.
"Bagus..." gumam Shen Yu dingin. "Akhirnya aku menemukan lawan tanding yang benar-benar layak untuk diuji."