NovelToon NovelToon
Love Me Back

Love Me Back

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:406
Nilai: 5
Nama Author: Aan Iman

Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.

"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.

"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.

"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.

Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lmb12

Ryn terbaring di brankar ruang gawat darurat setelah ditemukan pingsan oleh seseorang yang kebetulan lewat. Karena khawatir terjadi masalah dia terpaksa membawa Ryn ke rumah sakit.

"Anda sudah bangun nona?" Tanya pria paruh baya berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di sisi Ryn.

"Ya, Terima kasih sudah menolongku tuan." Ucap Ryn mencoba duduk namun pria itu menahannya agar tetap berbaring.

"Dokter bilang kau mengalami dehidrasi akibat kelelahan. Bisa pulang setelah infus habis." Jelasnya memberitahu.

"Baiklah, sekali lagi Terima kasih. Maaf sudah merepotkan anda." Tambah Ryn merasa tak enak hati orang asing bahkan rela membantu ketika Sian malah meninggalkannya.

"Karena anda sudah baik-baik saja aku pamit. Lekas sembuh nona." Pria berhati mulia itu harus segera pergi karena urusan penting namun menyempatkan diri menolong Ryn.

"Hati-hati di jalan tuan, semoga Tuhan membalas kebaikanmu." Ucap Ryn tulus, dia hanya tersenyum ramah sebelum keluar ruangan.

Sejak kecil Ryn memang memiliki daya tahan tubuh lemah di tambah kekerasan fisik yang ia terima dari sang ibu. Mudah sakit saat kelelahan tetapi akan cepat pulih juga setelah beristirahat.

Ryn mengecek ponselnya dan menerima banyak panggilan tak terjawab dari nomer yang sama, Sian. Semarah apapun pria itu dia tetap mengkhawatirkan dirinya, menjadi alasan Ryn tidak bisa membenci Sian.

Setelah cairan infus hampir habis Ryn memutuskan pulang ke apartemen dengan naik taksi. Sian yang telat datang mencari keberadaan Ryn di emergency room tidak sempat bertemu dengannya.

Di depan pintu unit Ryn sudah ditunggu oleh sang ibu Yuni. Dia langsung meminta Ryn membukakan pintu untuknya. Baru Yuni mendorong kasar sat mereka berada di dalam hingga Ryn terhuyung menabrak ujung meja. Ryn masih lemah, dia langsung terjatuh di lantai.

"Kau benar-benar anak sialan Zhao Ryn. Gara-gara kau aku harus membayar kompensasi yang besar pada Pen." Teriak Yuni frustasi melampiaskan kebenciannya pada Ryn. Lagi, Yuni menendang perut Ryn tanpa belas kasih. Ryn meringis memeganginya.

"Harusnya aku melenyapkanmu saat masih sebiji kacang. Aku benci kau, aku benci ayahmu yang brengsek." Maki Yuni lalu menampar Ryn bahkan berani menduduki darah dagingnya sendiri untuk mencekik leher Ryn.

"Mati saja kau Zhao Ryn." Keluar sudah sumpah serapah Yuni pada Ryn yang kita tahu tidak bersalah apapun masa lalu orang tuanya. Ryn menjadi korban kekecewaan Yuni, selalu menjadi pelampiasan saat Yuni mengingat luka terbesar dalam hidupnya.

Kedua tangan Ryn mencoba melepaskan cekikan di lehernya ketika ia merasa mulai kehabisan oksigen dan hampir kehilangan nafas. Kaki Ryn bergerak-gerak berusaha meraih apa saja yang bisa membantunya mengalihkan perhatian Yuni.

Di sisa kesadaran Ryn ia melihat sebuah ilusi optik, yaitu kehadiran Sian. Pria itu menarik kasar pundak sang ibu guna menyelamatkan wanitanya dari iblis bernama Yuni. Asisten Jun segera menahan Yuni, menghentikan aksi membabi-buta yang hampir membuat Ryn dalam bahaya.

"Zhao Ryn, buka matamu! Jangan tertidur Zhao Ryn!" Sian memangku kepala Ryn berusaha menyadarkannya. Wajahnya sudah babak belur dan itu menyakiti hati Sian. Jika saja dia tidak perlu membawa Ryn ke rumah sakit, bisa dipastikan Yuni tidak akan selamat ditangannya.

Sian mengemudi mobil seperti kesetanan, cepat dan ngebut namun selalu tepat setiap menyalip kendaraan di depannya. Sementara Ryn benar-benar sudah tak sadarkan diri. Ternyata bayangan Sian menolongnya sungguh terjadi. Baru saja tubuh Ryn merasa lebih baik setelah di rawat kini dia harus kembali kesakitan.

Sian berteriak meminta bantuan petugas rumah sakit usai menggendong Ryn keluar dari mobil. Lea kebetulan berada di dekat emergency room mendorong brankar untuknya.

"Dia baru keluar Sian kenapa bisa seperti ini?" Tanya Lea terkejut melihat keadaan Ryn. Sian bungkam, dipikirannya hanya bagaimana jika Ryn tidak selamat? Apakah dia bisa melanjutkan hidup tanpanya?

***

Menunggu dalam kegelisahan Sian masih menanti hasil pemeriksaan Ryn. Lea menghampiri Sian, mengajaknya bicara di ruangan namun Sian tak ingin meninggalkan Ryn. Ini salahnya, andai dia tidak emosi dan menurunkan Ryn di tengah jalan mungkin dia akan baik-baik saja.

"Sian, ini hasil pemeriksaan Ryn. Kau bisa menuntut ibunya. Ryn mengalami beberapa cidera akibat sering mendapat kekerasan. Diantaranya trauma pada ginjal, pembengkakan rahim hingga patah dua tulang rusuk. Bukan kejadian baru, tapi Ryn mengabaikan kerusakan tubuhnya sudah cukup lama." Lea menyerahkan hasil rekam medis milik Ryn, Sian memeriksanya secara teliti.

Sian ikut merasa sakit membayangkan berapa lama Ryn menahannya. Setahun? Dua tahun? Kenapa ada wanita muda sekuat Zhao Ryn di dunia ini, menanggung semua beban dan kemalangan seorang diri.

"Dia butuh waktu untuk memulihkan fisik juga mentalnya Sian. Tolong Zhao Ryn, kumohon." Bahkan dokter Lea meminta Sian menjaga Ryn, dia sangat sedih melihat Ryn yang tak pernah mengeluh sedikitpun.

"Apapun caranya dia harus sembuh Ale." Ucap Sian tegas dan Lea harus mengabulkan permintaan Sian, membantu Ryn selama masa pemulihan.

Masih terbaring lemah dengan bantuan oksigen, Sian menggenggam erat tangan kiri Ryn yang bebas infus. Pria itu melupakan rasa lapar, lelah dan kantuk demi ada di sisi Ryn saat sadar nanti. Sian menitikan air mata sambil mengecupnya, kenapa harus Ryn? Wanita semuda ini berjuang bertahan hidup dari serangan ibu kandungnya sendiri.

"Bangun Zhao Ryn." Gumam Sian. Dia hanya mengenakan kemeja putih belum berganti pakaian meski hampir tengah malam.

Jika biasanya mereka saling memeluk usai bercinta, kini Ryn dan Sian berada di rumah sakit. Sian merindukan Ryn yang ceria bukan lemah tak berdaya di hadapannya.

"Tuan, anda juga harus beristirahat." Asisten Jun masuk secara perlahan tak ingin mengganggu. Tapi dia sangat kasihan melihat keadaan Sian.

"Jangan biarkan iblis itu bebas Junior! Dia hanya boleh mati di tanganku." Titah Sian, baginya Yuni harus lebih menderita dari Ryn berkali-kali lipat. Meskipun Sian sadar Ryn akan kecewa dan marah mengetahui dirinya menyakiti sang ibu.

"Baik tuan. Anda bisa meminta bantuanku kapan saja, aku berada di hotel sebrang." Ujar Jun mengingatkan Sian dia tidaklah sendiri.

Pagi buta sekali Ryn akhirnya tersadar, saat membuka mata hal pertama yang ia lihat adalah Sian. Dia hanya duduk menatap Ryn tanpa tertidur sebentar saja.

"Sian,,, " Sapa Ryn hampir tidak terdengar olehnya.

"Aku di sini, maafkan aku Zhao Ryn. Maaf." Sian selalu mudah meminta maaf padanya jika memang bersalah. Hal paling Ryn puja dari seorang Sian.

"Aku masih hidup Sian." Isak tangis Ryn pecah segera Sian memeluknya penuh hati-hati.

"Tidak akan ada yang bisa menyakitimu lagi Zhao Ryn." Kata Sian menenangkan Ryn memberinya rasa aman.

Sian menyuruh Ryn berbaring kembali dan tidak banyak bergerak dulu. Dia bahkan tak henti mengusap pipi Ryn yang masih terlihat memar.

"Jangan menatapku seperti itu! Aku tahu penampilanku buruk." Ryn mencubit lengan Sian tanpa tenaga, pria itu hanya merasakan sebuah usapan.

"Kau cantik Zhao Ryn, sangat cantik." Puji Sian apa adanya. Ryn terpaku beberapa detik mendengar Sian memuji dirinya.

"Sian, hidupku sangat menyebalkan. Sebaiknya kau mencari orang lain untuk menjadi pasangan pura-puramu." Mendengar perkataan Ryn entah kenapa Sian tidak suka.

Mengajak Ryn melakukan perjanjian sebetulnya hanya motif terselubung seorang Sian. Dia memang ingin dekat dengan Ryn lebih lama namun gengsi mengakui. Sian bisa saja meminta Jun mencari wanita untuk berperan, Rynlah yang Sian mau sejak awal.

"Dalam kondisi seperti ini otakmu malah diajak bekerja keras." Sian menyentil hidung Ryn gemas dia malah membahas perihal perjanjian.

"Permisi tuan, sarapan untuk nona Zhao Ryn." Petugas bagian gizi mengetuk pintu sebelum masuk, membawa troli berisi sarapan pagi untuk Ryn. Sedangkan tadi Jun sudah membawakan Sian sarapan.

"Sian kelihatannya menu sarapanmu jauh lebih enak. Bagaimana kalau kita tukar?" Pandangan Ryn tertuju ke atas nakas mengabaikan menu miliknya sendiri.

"Perutmu masih cidera jadi harus makan makanan lembut." Ucap Sian memberitahu, dia membuka plastik penutup bubur dan bersedia menyuapi Ryn.

"Terima kasih, tapi aku bisa melakukannya." Tolak Ryn mengambil alih sendok sayangnya Sian menatapnya tajam seakan berkata menurut saja.

Ryn senang Sian mau memakai gelang tasbih pemberiannya meskipun itu bukanlah benda mahal. Sian menyadari arah mata Ryn ikut melirik gelang yang ia kenakan.

Malam setelah Ryn selamat dari penculikan Sian tanpa sengaja menemukan gelang tersebut didalam tas Ryn. Mengira Ryn sering menggunakannya sebagai jimat Sian iseng mengambilnya diam-diam.

"Mungkin berkatnya akan hilang karena aku sedikit memaksa memilikinya." Ryn menggeleng menyanggah ucapan Sian.

"Memang untukmu. Sian semoga kau selalu diberkati." Do'a Ryn tulus penuh harap.

"Berkat milikku ada di hadapanku." Balas Sian akhirnya mengakui posisi Ryn sebagai wanitanya. Ryn benar-benar tersedak mendengarnya. Sian kemudian memberi Ryn gelas berisi air.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!