Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.
Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.
Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Ambillah
"Sudah beres? Nggak kamu temenin tuh anak, Ga?" tanya Jaya begitu melihat Arga kembali ke bengkel sendirian.
Arga langsung duduk di kursi plastik lalu menghela napas panjang. "Sudah dijemput sama orang tuanya, Bang. Tadi ketemuan di jalan sebelum sampai ke kantor polisi."
"Syukurlah kalau begitu. Tapi, kenapa wajahmu mendadak lesu banget? Perasaan tadi pas pergi semangat-semangat saja."
"Nggak kenapa-kenapa, Bang. Lagi lemas saja."
Walaupun Jaya tahu ada sesuatu yang tidak beres, ia memilih tidak terlalu memaksa Arga untuk bercerita.
Tidak lama kemudian, seorang remaja perempuan berjalan masuk ke area bengkel. Jaya menoleh. "Eh? Dek Tiara. Baru pulang sekolah ya?"
"Iya, Bang..." jawab Tiara sopan.
Tiara langsung berjalan mendekat lalu mengambil posisi duduk di sebelah Arga. Ia mengeluarkan beberapa buku dari tasnya untuk mulai belajar.
"Kamu gak pulang ke rumah dulu? Nanti kalau orang tuamu marah lagi gimana?" tanya Arga mengingatkan.
Tiara diam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Sudah biasa. Bukannya Kak Arga sendiri yang bilang kalau belajar itu bagusnya saat pikiran lagi senang? Dan di sini aku merasa senang."
Arga tersenyum bangga mendengarnya. Ia reflek mengulurkan tangan berniat menyentil pelan hidung Tiara, namun gerakannya langsung ditepis cepat oleh gadis itu.
"Tanganmu bau asap rokok!" protes Tiara.
"Oh, iya. Maaf, maaf," kekeh Arga sambil menarik tangannya kembali. "Gimana sekolahmu hari ini?"
"Perlahan-lahan sudah mulai membaik."
Selama dua jam berikutnya, Tiara fokus belajar bersama Arga.
Sama seperti kemarin, setelah selesai membahas materi teori, Arga mengajarkan hal-hal dasar tentang cara memperbaiki mesin motor kepadanya.
"Gimana? Sudah paham belum?" tanya Arga memastikan.
Tiara mengusap dahinya yang mulai berkeringat menggunakan punggung tangan. Tanpa sadar, tindakan itu malah membuat dahinya menjadi kotor terkena sisa oli. "Aku sudah mengerti bagian yang ini."
Arga dan Jaya saling lirik, lalu tawa mereka spontan pecah. "Hahaha! Mukamu jadi cemong begitu, Cil!"
Tiara mengernyit bingung. "Cemong?" Ia segera memeriksa wajahnya di kaca spion motor terdekat. "Lho, beneran kotor. Aku bersihkan dulu deh, takutnya nanti susah hilang."
Jam menunjukkan pukul 5 sore. Arga mulai beres-beres dan membersihkan peralatan bengkel. "Bang Jay, sisa pekerjaan motor yang itu kulanjutkan lain kali saja ya."
"Santai saja, Ga. Ini juga sudah mau beres kok, nanti sisanya biar aku yang selesaikan sendiri. Kamu sudah mau balik?" tanya Jaya.
Arga menoleh ke samping, melihat Tiara yang malah ketiduran di atas kursi panjang karena kelelahan. "Mungkin sebentar lagi, Bang."
Tiba-tiba, layar hologram biru dari sistemnya kembali muncul mengambang di udara.
[Pendapatan usaha hari ini: Rp5.000.000]
x5: Rp25.000.000 telah didapat.]
Arga bergumam dalam hati, 'Bahkan biaya servis dari pelanggan yang belum bayar pun sudah langsung dihitung sebagai keuntungan oleh sistem?'
Tanpa pikir panjang, Arga mengambil uang tunai sebesar 10 juta lalu meletakkannya di atas meja untuk Jaya sebagai pemilik bengkel.
Jaya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, bingung dari mana anak magangnya ini bisa terus-menerus mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat.
Setelah itu, Arga membangunkan Tiara. Mereka berdua berjalan kaki bersama meninggalkan bengkel di saat matahari sudah mulai terbenam.
"Nih, Cil," ucap Arga sambil menyodorkan segepok uang.
Tiara yang masih mengucek matanya karena mengantuk langsung menoleh bingung. "Uang?"
"Iya, uang. Ambil saja."
"Untukku?"
"Iya, buat siapa lagi memangnya."
Tiara melihat jumlahnya yang tebal. "Tapi ini banyak sekali, Kak."
Arga menarik tangan Tiara lalu meletakkan uang senilai 10 juta itu tepat di telapak tangannya. "Anggap saja ini uang jajan sekaligus gajimu dariku karena sudah membantu pekerjaan di bengkel tadi."
Tiara terkejut. Ia merasa pekerjaannya tadi tidak seberapa dan tidak terlalu membantu. "T-tapi—"
"Terima saja, Tiara. Gak ada penolakan. Ayo cepat jalan, aku antar pulang. Orang tuamu pasti sudah siap marah-marah di depan rumah, haha," potong Arga seraya melangkah duluan.
Tiara menatap punggung Arga yang berjalan di depannya.
Ia tahu betul mencari uang itu susahnya setengah mati, tapi kenapa orang ini bisa memberikannya begitu saja tanpa ragu?
Sebuah senyuman tipis muncul di wajah Tiara. Ia segera berlari kecil mengejar langkah Arga. "Tunggu aku, Kak Arga!"
"Makanya jalan yang cepat, kalau lambat aku tinggal nih, wkwk."