Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Pertemuan di Bengkel Distrik Bawah
Langkah kaki Askara membawa siluet jubah hitamnya menyusuri jalanan Kota Toga yang kian menurun. Jika Distrik Atas kota ini dipenuhi oleh kemegahan arsitektur batu, wangi dupa perdagangan, dan hiruk-piruk kaum bangsawan, maka Distrik Bawah adalah wajah sebaliknya. Semakin jauh ia melangkah menuju tepi tebing kota, udara bersih perlahan berganti menjadi kepulan asap kelabu yang pekat, membawa aroma tajam sulfur, batu bara, dan karat besi yang menyengat hidung.
Di sinilah, di bagian terbawah Kota Toga yang berbatasan langsung dengan jurang batu yang curam, deretan bengkel pandai besi berdiri. Suara dentuman palu yang menghantam logam panas bersahutan bagaikan detak jantung kota yang tak pernah berhenti. Namun, Askara terus berjalan melewati bengkel-bengkel besar yang ramai tersebut, menuju ke sudut paling ujung, tempat sebuah bangunan kayu dan batu yang tampak usang menyendiri di bawah bayang-bayang tebing gersang.
Tidak ada papan nama mewah di depannya. Hanya ada sebuah kapak patah yang digantung di atas pintu kayu yang lapuk. Dari dalam bangunan itu, hawa panas ekstrem berembus keluar secara berkala, membuat udara di sekitarnya tampak bergelombang akibat distorsi suhu.
Askara mendorong pintu kayu tersebut secara perlahan.
Krieeek...
Pemandangan di dalam bengkel itu tampak sangat berantakan namun sarat akan atmosfer intimidasi. Ratusan—bahkan ribuan—bilah pedang, tombak, dan belati yang patah, bengkok, atau cacat menumpuk di sudut-sudut ruangan layaknya kuburan besi rongsokan. Di tengah ruangan, sebuah tungku raksasa berbentuk kepala monster menyemburkan api berwarna jingga kemerahan yang berkobar ganas.
Di depan tungku tersebut, berdiri seorang pria tua bertubuh kekar dengan rambut dan janggut putih yang dibiarkan panjang tidak teratur. Kulitnya yang legam dipenuhi oleh guratan urat saraf yang menonjol dan bekas luka bakar yang tak terhitung jumlahnya. Pria tua itu adalah Moses. Ia sedang mengayunkan sebuah palu gada raksasa ke atas sebilah besi membara di atas landasan, sama sekali tidak mengalihkan pandangannya saat Askara melangkah masuk.
DHUAM! DHUAM! DHUAM!
Suara benturan logam itu begitu memekakkan telinga, menggetarkan lantai batu di bawah kaki Askara. Setelah tiga hantaman besar yang presisi, Moses mencelupkan besi panas itu ke dalam bak air di sampingnya, menciptakan suara desisan panjang beserta kepulan uap putih yang seketika memenuhi ruangan.
"Aku tidak menerima pesanan senjata massal untuk prajurit rendahan, dan aku tidak menjual pisau dapur," ucap Moses dengan suara yang berat, serak, dan teramat kasar tanpa membalikkan badannya sedikit pun. "Jika kau hanya seorang pengembara miskin yang mencari belati murah untuk memotong daging buruan, keluar dari bengkelku sekarang juga sebelum palu ini meremukkan kepalamu."
Askara tetap berdiri tenang di posisinya, membiarkan uap panas menyapu jubah hitam misteriusnya yang sudah robek di beberapa bagian. Ia menarik tudung jubahnya sedikit ke belakang, memperlihatkan wajah remajanya yang tenang dengan goresan luka tipis sisa pertempuran di bukit kapur kemarin.
"Namaku Askara," ucap sang pemuda dengan nada suara yang rendah namun berwibawa, memotong keheningan pasca-desisan uap. "Aku datang ke sini bukan untuk mencari belati murah, Tuan Moses. Tuan Harun mengirimku ke sini.
Aku membutuhkan sebilah pedang khusus yang mampu menahan kekuatanku. Pedang biasa... tidak akan pernah bertahan lama di tanganku."
Mendengar nama Harun disebut, Moses akhirnya menghentikan aktivitasnya. Ia meletakkan palu gada raksasanya di atas meja kerja dengan dentuman keras, lalu membalikkan tubuh kekarnya yang bersimbah keringat untuk menghadap langsung ke arah Askara. Sepasang mata tua Moses yang tajam dan berwarna kelabu menatap Askara dengan pandangan yang penuh dengan kejengkelan dan penghinaan yang terang-terangan.
"Harun? Si pedagang tambun serakah itu?" Moses mendengus kasar, lalu tertawa mengejek sembari menyilangkan kedua tangannya yang berotot di depan dada. "Hahaha!
Rupanya si gendut itu sudah mulai kehilangan akal sehatnya sampai-sampai mengirim seorang bocah ingusan ke tempatku!
Dengar ya, Bocah Sialan! Pedang yang kutempa di dalam tungku api ini adalah mahakarya yang diciptakan untuk memotong takdir di medan perang besar! Benda-benda itu bukan mainan untuk anak-anak yang sedang mencari ketenaran atau sok bertingkah misterius dengan jubah hitam robek seperti dirimu!"
Moses melangkah maju dua langkah, memberikan tekanan mental yang luar biasa kuat layaknya seorang pendekar veteran. "Tanganmu... aku bisa melihat dari cara dirimu berdiri. Kau bahkan tidak memiliki sirkulasi mana dasar yang stabil di tubuhmu! Berani-beraninya kau datang ke sini dan meminta sebuah pedang khusus dariku?! Pergi ke pasar barat sana, beli besi rongsokan atau pedang kayu yang cocok untuk tangan amatirmu! Jangan mengotori bengkelku dengan kehadiranmu!"
Pengusiran yang sangat kasar dan penuh penghinaan itu mengudara di dalam bengkel yang panas. Jika itu adalah petualang atau kesatria lain, mereka pasti sudah pergi dengan amarah atau ketakutan yang mendalam. Namun, Askara tetap bergeming. Ego dan ketenangannya tidak terusik sedikit pun oleh makian sang maestro.
Sebagai jawaban, Askara memasukkan tangan kanannya ke dalam saku tersembunyi di balik jubah hitamnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari sana, lalu melangkah maju dan melemparkan benda tersebut ke atas meja kerja kayu di depan Moses.
KRETIK...
Sebuah bunyi rapuh terdengar saat benda itu mendarat. Benda itu adalah segenggam serpihan debu besi dan potongan logam kecil yang telah retak dan hangus di bagian ujungnya—sisa-sisa dari pedang baja berkualitas tinggi milik Harun yang hancur berantakan di bukit kapur setelah digunakan Askara untuk mengeksekusi tebasan kegelapan murni.
Moses mengernyitkan keningnya, matanya yang berpengalaman secara refleks tertuju pada serpihan logam tersebut. Awalnya ia mengira itu hanyalah sampah besi biasa, namun insting dan pengetahuan pandai besi legendarisnya selama puluhan tahun mendadak bergejolak hebat. Moses melangkah mendekat, memungut salah satu pecahan logam terbesar dengan jemarinya yang kasar.
Ia memutar-mutar pecahan tersebut di bawah cahaya api tungku, memeriksa guratan molekulnya dengan sangat teliti.
Ekspresi meremehkan di wajah tua Moses seketika runtuh, digantikan oleh rasa syok yang teramat sangat. Matanya membelalak lebar, dan tangannya yang memegang besi itu mulai bergetar samar.
"Ini... ini adalah besi baja tempaan berlapis perak dari pandai besi ibu kota..." gumam Moses dengan suara yang mendadak kehilangan keangkuhannya. "Struktur besi ini... benda ini hancur bukan karena berbenturan dengan senjata yang lebih keras. Tidak ada bekas hantaman fisik di sini! Molekul besi ini... hancur lebur dan retak dari bagian dalam karena dipaksa menahan erosi energi sihir yang luar biasa pekat, dingin, dan... mematikan. Energi macam apa ini?!"
Moses mendongak dengan cepat, menatap Askara dengan pandangan yang kini dipenuhi oleh rasa tidak percaya dan kegilaan yang membara. Tanpa peringatan, Moses melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa untuk ukuran pria tua.
Tangan kanannya yang besar dan kasar bergerak secepat kilat, mencengkeram pergelangan tangan kanan Askara dengan sangat erat.
Askara tidak menghindar; ia membiarkan pria tua itu
melakukan apa yang diinginkannya.
Moses memejamkan matanya, mengalirkan sedikit energi mana murninya ke dalam sirkulasi tubuh Askara untuk memeriksa "wadah" dan jalur magis di dalam tubuh sang pemuda.
Namun, begitu mananya merembes masuk, Moses terenyak seolah baru saja tersengat petir raksasa. Wajahnya yang legam seketika memucat pasi, dan ia segera menarik tangannya kembali dengan tergesa-gesa, melangkah mundur beberapa langkah sembari menatap Askara dengan pandangan horor yang mendalam.
"M-mustahil... Ini benar-benar tidak masuk akal!" teriak Moses, napasnya memburu akibat guncangan mental yang ia rasakan. "Jalur manamu... kosong! Kau sama sekali tidak memiliki sirkulasi mana dasar! Kau adalah seorang Nirmala... manusia cacat sihir yang seharusnya tidak bisa menggunakan mantra sekecil apa pun! Tapi... tapi apa yang ada di dalam dadamu itu?!"
Moses menunjuk ke arah dada Askara dengan jari yang gemetar. "Di dalam jiwamu... ada sebuah wadah kosong yang sangat raksasa, dan di dalamnya tersimpan tumpukan energi sihir asing yang sangat liar! Ada sisa sihir api, petir yang berderit, dan... kabut kutukan kegelapan yang sangat pekat! Kau... kau tidak merapalkan sihir, melainkan menyerap dan memuntahkan energi sihir orang lain melalui tubuh fisikmu! Itu sebabnya pedang baja terbaik pun hancur menjadi abu saat kau menggunakannya... Senjata biasa tidak akan pernah bisa menahan tekanan dari energi serapan yang tidak stabil di dalam wadah kosongmu itu!"
Melihat sang pandai besi legendaris berhasil membaca karakteristik unik tubuh fisiknya hanya dalam sekali pemeriksaan, Askara mengulas senyuman tipis yang penuh kepuasan di balik bayang-bayang tudungnya.
"Sekarang kau mengerti, Tuan Moses," ucap Askara, merendahkan posisinya sembari menatap lurus ke arah mata kelabu sang maestro. "Aku tidak membutuhkan pedang yang indah untuk dipamerkan. Aku membutuhkan sebuah senjata yang mampu menjadi perantara yang sempurna bagi seluruh energi sihir yang kuserap, tanpa hancur berantakan di tengah pertempuran. Hanya kau yang bisa membuatnya di kota ini."
Moses terdiam seribu bahasa. Semangat pandai besinya yang sudah lama padam dan bosan karena hanya menempa senjata untuk kesatria-kesatria klise kini mendadak berkobar hebat bagaikan disiram minyak murni. Menempa pedang untuk seorang Nirmala yang memiliki wadah penyerap sihir tak terbatas... ini adalah tantangan tertinggi sepanjang sejarah hidupnya sebagai seorang pengrajin.
Namun, Moses segera mengendalikan ekspresi wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan kembali tubuh kekarnya, dan menatap Askara dengan tatapan yang sangat disiplin dan keras kepala.
"Kau memang seorang monster yang menarik, Askara," ucap Moses dengan nada suara yang kembali berat dan penuh wibawa, meskipun kilat kegembiraan di matanya tidak bisa disembunyikan. "Kebutuhan energimu berada di tingkat yang sangat ekstrem. Jika aku menempa pedang biasa untukmu, itu hanya akan menghina jiwaku sebagai seorang pengrajin besi terbaik. Aku bisa membuatkanmu sebuah pedang khusus yang belum pernah ada di dunia ini... sebuah pedang yang sanggup menampung kekosongan wadahmu."
Moses berjalan kembali ke arah tungku raksasanya, memunggungi Askara sembari mengambil kembali palu gada besarnya. "Namun, seperti yang dikatakan Harun padamu... aku tidak pernah menukar karyaku dengan tumpukan emas yang murah. Aku tidak mau pedang terhebatku di masa tua ini dipegang oleh seorang petarung ceroboh yang tidak tahu cara menghargai kontrol dan disiplin senjata. Jika kau benar-benar menginginkan pedang dariku, kau harus melewati runtunan ujian kelayakan yang kuberikan. Ada tiga syarat mutlak yang harus kau penuhi, tanpa bantahan."
Askara melipat kedua tangannya di balik jubah hitamnya, matanya berkilat penuh tekad yang tak tergoyahkan.
"Katakan syarat pertamamu, Orang Tua."
Moses membalikkan badannya sedikit, menyeringai sinis sembari menunjuk ke arah sebuah tuas pompa angin kayu raksasa yang tersambung langsung ke bagian bawah Tungku Api Inti yang sedang menyala ganas.
"Malam ini juga, ujian pertamamu dimulai," ucap Moses dengan nada menantang yang sangat dingin. "Syarat pertama: Kau harus menjaga dan memompa angin ke dalam Tungku Api Inti (Core Furnace) milikku itu selama tiga hari tiga malam berturut-turut tanpa berhenti sedetik pun, dan tanpa tidur sama sekali. Tungku itu tidak berbahan bakar arang biasa; di dalamnya ada batu magis api yang memancarkan hawa panas ekstrem yang sanggup membakar kulit fisikkmu dan menguras stamina murnimu hingga batas terdalam. Jika dalam tiga hari itu apinya meredup sedikit saja karena kau lelah atau mengantuk... kau gagal, dan kau harus keluar dari kota ini selamanya. Bagaimana, Nirmala? Apakah kau berani menerima taruhan ini?"
Mendengar tantangan fisik yang sangat menyiksa tersebut, Askara tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Keheningan malam yang mulai turun di luar distrik bawah Kota Toga seolah menjadi saksi dari awal perjuangan barunya. Dengan langkah kaki yang mantap, Askara berjalan mendekati tuas pompa kayu raksasa di samping tungku api yang membara maut, siap untuk menguji batas ketahanan murni dari tubuh fisiknya di bawah pengawasan ketat sang maestro pandai besi.