Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertempuran di Lembah Utara
Sambil mengikatkan tali jerami pada kaki-kaki bangkai Serigala Taring Angin di
atas tandu kayu daruratnya, Luo Chen mempersiapkan seluruh hasil buruannya untuk
segera dibawa pulang ke desa. Namun, desau angin yang tiba-tiba bergeser tajam
dari arah belakang membuatnya kembali waspada, mendeteksi adanya tiga hawa
keberadaan manusia fana yang tidak ramah di sekitarnya.
"Tiga orang pemburu liar... yang berdiri di depan memiliki postur tubuh yang
berbadan paling besar dan bergerak lambat, sedangkan dua orang di belakangnya
tampak lebih lincah memegang pisau lempar," bisik Luo Chen memposisikan
tubuhnya secara taktis,
menyusun rencana pertahanan cepat. "Aku harus melumpuhkan yang berbadan paling
besar terlebih dahulu dengan satu pukulan telak untuk merusak nyali dua orang di
belakangnya."
"Bocah, serahkan serigala di tandumu itu kepada kami!" teriak pria berbadan
besar yang berdiri paling depan sambil mengayunkan gada kayu berlapis paku besi
dengan kasar ke arahnya. "Pemburu kecil sepertimu tidak layak membawa hasil
buruan sebesar ini sendirian di lereng hutan!"
"Aku mengalahkan serigala ini sendiri dengan tenagaku," sahut Luo Chen
menatap wajah ketiga pemburu liar itu dengan pandangan mata yang sangat datar
dan tenang. "Jika kalian menginginkan serigala tipe angin, pergilah mencari dan
berburulah sendiri di dalam hutan."
"Sombong sekali! Serang dan patahkan kedua tangannya!" teriak pria berbadan
besar itu mengayunkan gada pakunya dengan sabetan mendatar yang mengincar
bahu kanan Luo Chen.
Dengan satu gerak hindaran rendah yang sangat cepat, Luo Chen membiarkan gada
paku itu memotong udara kosong di atas kepalanya. Di saat yang sama, ia
melangkah maju dengan mengalirkan seluruh kekuatan fisik "Tinju Dasar klan Luo"
tahap ketiga murni ke arah ulu hati pria berbadan besar tersebut, melepaskan
pukulan telak tanpa ada sisa keraguan sedikit pun.
Pukulan telak dari kepalan tangan Luo Chen mendarat lurus di dada pria berbadan
besar tersebut. Benturan keras itu seketika meremukkan zirah kulit tipis
miliknya, membuat tubuh besarnya langsung tertekuk ganda sebelum akhirnya roboh
ke atas tanah berlumpur memegangi ulu hatinya dengan napas yang
terengah-engah menahan sakit.
Melihat rekan mereka yang bertubuh paling besar roboh hanya dalam satu gerakan
yang ringan, dua orang pemburu liar lainnya langsung diliputi ketakutan
yang luar biasa. "Lari! Bopong dia pergi! Anak ini bukan manusia biasa, kulitnya
sekeras lempengan batu!" teriak pemburu ketiga membuang belatinya dan
segera membahu tubuh rekannya yang terluka untuk melarikan diri ke dalam hutan
lebat.
Satu dentuman keras yang sangat dahsyat mendadak mengguncang lereng hutan dari
arah Utara, menyebarkan gelombang kejut yang cukup kuat hingga membuat dedaunan
bambu di sekitar mereka rontok berjatuhan.
"Suara ledakan tadi berasal dari arah Utara hutan... getarannya sangat kuat
bahkan sampai terasa di dalam meridian ulu hatiku," bisik Luo Chen
menatap ke arah kepulan asap abu-abu tipis yang membubung tinggi di balik bukit
berbatu, "Sepertinya sedang terjadi
pertempuran besar yang sedang terjadi. Aku harus
menyembunyikan hasil buruanku ini di balik tumpukan jerami dan pergi
menyelidikinya dengan sangat hati-hati."
Langkah kaki pemuda itu segera melesat sangat ringan tanpa menimbulkan suara
sedikit pun di atas tanah hutan, menyelinap cepat melewati rimbunnya belukar
menuju ke arah lembah berbatu di bagian utara hutan.
Di balik sebuah bongkahan batu raksasa di tepi tebing lembah, Luo Chen
merundukkan tubuhnya untuk memperhatikan pertempuran sengit yang sedang
berlangsung di bawah lembah berpasir kering tersebut.
"Bentuk pertahanan di depan, Wang!" teriak Zhao Wu dari lini belakang
memegang pedang esnya yang terus memancarkan uap dingin pekat. "Liu, gunakan
tombak apimu untuk menusuk bagian matanya dari arah samping kiri!"
"Siap, Ketua! Kobaran api ini akan membakar habis bulu-bulu emasnya!" sahut
Tetua Liu melompat maju, mengaktifkan "Seni Kobaran Api Surgawi" yang
menyelimuti seluruh mata tombak bajanya dengan api merah setebal sepuluh
sentimeter.
Dari arah depan, Kirin Tanduk Emas meraung keras hingga membuat pasir di seluruh
lembah bergetar hebat. Binatang spiritual kuno itu melangkahkan kaki depannya
dengan berat, langsung menyongsong tusukan tombak api milik Tetua Liu tanpa
menunjukkan keraguan sedikit pun.
Satu semburan api merah pekat meluncur lurus dari ujung tombak Tetua Liu,
menghantam leher kiri Kirin tersebut dengan kekuatan penuh Ranah Fondasi
Spiritual tahap keenam. Namun, begitu api merah bersentuhan dengan sisik emas
Kirin, energi api itu seketika padam tanpa meninggalkan bekas luka bakar sedikit
pun di kulit kerasnya.
"Awas, Liu! Tanduknya mulai mengumpulkan energi listrik!" teriak Tetua Wang dari
arah depan mengangkat kedua tangannya dengan panik demi menyalurkan
"Jurus Runtuhan Puncak Bumi" untuk memadatkan dinding batu setebal setengah
meter di hadapan rekannya.
Satu hantaman kilat emas murni yang meluncur cepat dari ujung tandu Kirin
tersebut seketika meremukkan dinding batu pelindung milik Tetua Wang hingga
berkeping-keping di udara. Kilat emas itu terus merambat cepat, langsung
menghantam dada Tetua Liu hingga membuat jubah apinya hancur dan tubuhnya hangus
terbakar menjadi abu hitam dalam sekejap mata.
"Jangan panik, Wang! Tetap pertahankan kuda-kudamu di garis depan!" teriak Tetua
Chen dari arah lambung kanan mencabut pedang gembungnya untuk menyalurkan
"Seni Badai Bilah Angin" yang memancarkan belasan bilah angin transparan yang
sangat tajam dari ujung pedangnya.
Sambil meraung keras menahan sisa rasa panas dari serangan sebelumnya, Kirin
Tanduk Emas memutar tubuh besarnya dengan sangat cepat ke arah kanan,
mengarahkan sabetan ekor emasnya yang tebal ke arah datangnya bilah-bilah angin
tersebut.
Bilah-bilah angin milik Tetua Chen hancur berantakan begitu menabrak sapuan ekor
emas Kirin yang keras. Gelombang kejut angin yang dihasilkan benturan tersebut
meluncur balik dengan sangat cepat, menghantam kedua kaki Tetua Chen hingga
terdengar suara patahan tulang yang mengerikan sebelum tubuhnya terlempar sejauh
lima meter ke atas pasir lembah.
"Semburkan badai angin sekarang,! Jangan biarkan dia mendekati ketua!"
teriak Tetua Wang memuntahkan darah segar akibat menahan sisa tekanan
kilat emas sebelumnya, tangannya terus gemetar hebat mencoba membentuk pelindung
bumi baru.
Satu kibasan ekor emas Kirin kembali meluncur mendatar dengan kecepatan tinggi,
langsung menghantam pelindung bumi tipis milik Tetua Wang hingga hancur seketika
sebelum meremukkan seluruh rusuk dadanya hingga terdengar suara patahan yang
nyaring di tengah sunyinya lembah.
"Gabungkan serangan kalian, Zhang, Han! Jangan biarkan Kirin ini bergerak
bebas!" teriak Zhao Wu melompat tinggi ke udara, memadatkan seluruh sisa
energi es murni miliknya di sepanjang bilah pedangnya yang berkilau biru es.
"Kami mengerti, Ketua! Terima ini!" teriak Tetua Zhang dan Tetua Han secara
bersamaan mengayunkan senjata mereka dari arah belakang untuk menyalurkan
"Seni Pedang Penjara Air" dan "Jurus Petir Menyambar".
Dua bilah energi air dan petir biru meluncur cepat memotong arah gerak kaki
belakang Kirin tersebut, mencoba mengunci pergerakannya di atas pasir lembah.
Satu gelombang cahaya emas murni yang sangat pekat mendadak melesat keluar dari
tanduk emas Kirin tersebut dalam radius lima meter di sekeliling tubuhnya.
Benturan energi emas murni itu seketika menghancurkan seluruh belenggu air dan
petir milik kedua tetua tersebut hingga menguap menjadi kabut tipis di udara,
sebelum melontarkan tubuh mereka berdua sejauh sepuluh meter hingga menabrak
tebing batu dengan sangat keras.
"Ini adalah saatnya!" teriak Zhao Wu menghunjamkan pedang esnya ke arah
dada Kirin Tanduk Emas yang tidak terlindungi oleh zirah cahaya emas murni,
melepaskan "Seni Pedang Embun Beku" dengan seluruh kekuatan penuh Ranah Inti
Emas tahap kedua miliknya.
Satu semburan energi es berwarna biru tua menghujam lurus ke dalam luka terbuka
di dada Kirin tersebut, membekukan seluruh organ bagian dalamnya hingga
terdengar suara pembekuan yang sangat dingin.
Meskipun berhasil melubangi dada binatang spiritual kuno tersebut, Kirin Tanduk
Emas tetap meluncurkan satu sabetan cakar depannya yang berlapis energi kilat
emas murni ke arah dada Zhao Wu. Benturan cakar itu seketika menghancurkan
seluruh pelindung zirah es milik sang ketua hingga berkeping-keping, membuatnya
terlempar sejauh belasan meter seraya memuntahkan darah segar yang pekat di atas
pasir.
"Tetua Liu sudah mati terbakar! Kita tidak mungkin bisa menang melawannya!"
teriak Tetua Zhang dengan wajah dipenuhi ketakutan luar biasa setelah melihat
kondisi rekan-rekannya yang telah hancur.
"Selamatkan diri masing-masing! Mundur!" teriak Tetua Han melompat
melarikan diri ke arah luar tebing lembah, meninggalkan jasad rekan mereka
begitu saja di atas pasir tanpa ada rasa peduli sedikit pun.
Di tengah kepulan asap merah pekat yang mendadak muncul dari bom asap milik Zhao
Wu di celah tebing, Luo Chen yang menyaksikan seluruh akhir pertarungan tersebut
dari balik batu raksasa menggelengkan kepalanya perlahan dengan seringai dingin.
"Para kultivator dari sekte yang sombong... ketika bahaya maut datang mendekat,
mereka bahkan tidak ragu untuk meninggalkan jasad rekan mereka sendiri demi
menyelamatkan nyawa masing-masing," bisik Luo Chen menatap ke arah Kirin
Tanduk Emas yang kini mulai berjalan pincang dengan napas bergemuruh kasar di
tengah lembah, "Kirin itu telah
terluka sangat parah pada organ dalamnya akibat energi es pedang Zhao Wu, tetapi
kemarahannya kini telah mencapai puncak mutlak. Aku harus tetap bersembunyi di
sini dan melihat ke mana ia akan pergi setelah ini."