NovelToon NovelToon
Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Waktu berlalu begitu cepat membawa angin segar perubahan bagi kota ini.

Sudah dua minggu berlalu sejak siaran langsung bersejarah yang berhasil menghancurkan kekaisaran bisnis keluarga Kusuma hingga ke akar-akarnya.

Suara televisi layar datar di sudut ruang makan Dapur Arka Absolute menyiarkan berita utama pagi itu dengan volume sedang.

"Seluruh aset properti dan perusahaan milik Hendra Kusuma resmi disita oleh pihak bank sentral atas kasus korupsi dan pencucian uang." Suara pembaca berita wanita itu terdengar sangat jelas.

Arka berdiri menyandarkan tubuhnya di konter kasir sambil melipat tangan di dada dengan senyum penuh kepuasan.

Nisa yang sedang mengelap meja di dekat televisi ikut menoleh dan mendengus pelan penuh kemenangan.

"Akhirnya karma benar-benar datang menampar keluarga sombong itu Mas Bos." Nisa tersenyum lebar melihat wajah Hendra Kusuma berbaju tahanan di layar kaca.

"Mereka yang menggali kuburan mereka sendiri Nisa." Arka menjawab dengan nada suara yang sangat tenang.

"Kesombongan dan keserakahan selalu menjadi bumbu beracun yang akan menghancurkan hidup seseorang dari dalam." Tambah Arka sambil melihat ke luar jendela kaca restorannya.

Pandangan mata Arka tertuju pada bangunan megah berlantai tiga di seberang area parkirnya.

Bangunan itu adalah restoran bintang lima kebanggaan Kevin yang kini pintunya tertutup rapat dan dililit oleh rantai gembok raksasa.

Sebuah spanduk merah besar bertuliskan Disita Oleh Negara terpampang dengan sangat jelas menutupi papan nama restoran mewah tersebut.

"Mas Arka, kudengar bangunan restoran Kevin itu akan dilelang murah hari ini oleh pihak bank untuk menutupi hutang ayahnya." Nisa memberikan informasi yang baru saja ia dengar dari pelanggan kemarin.

"Itu berita yang sangat bagus Nisa, karena hari ini kita akan berbelanja properti lagi." Arka tersenyum penuh arti sambil merogoh saku celananya.

Arka menyentuh layar ponselnya dan melihat saldo rekeningnya yang kini bertengger kokoh di angka satu miliar dua puluh lima juta rupiah.

Hadiah uang raksasa dari sistem itu sudah gatal ingin ia gunakan untuk memperluas kerajaannya.

"Nisa, tolong jaga restoran sebentar, aku akan pergi ke kantor bank pusat sekarang juga." Arka melepaskan celemek hitamnya dan meletakkannya di atas konter.

"Siap laksanakan Mas Bos, semoga Mas Arka bisa membeli bangunan besar itu dengan harga miring!" Nisa memberikan semangat sambil mengepalkan tangannya ke udara.

Tap tap tap.

Arka berjalan keluar dari restorannya dan memanggil sebuah taksi yang sedang melintas di jalan raya.

Perjalanan menuju bank sentral kota tidak memakan waktu lama karena lalu lintas pagi ini cukup lengang.

Setibanya di lobi bank yang sangat mewah dan berlantai marmer, Arka langsung disambut oleh seorang petugas keamanan.

"Selamat pagi Tuan, ada yang bisa saya bantu hari ini?" Petugas itu menyapa dengan sangat sopan.

"Saya ingin bertemu dengan manajer aset properti sitaan, ini kartu akses saya." Arka mengeluarkan Kartu Hitam Malika dari dalam dompetnya.

Melihat kartu sakti berlambang mahkota emas itu, petugas keamanan itu seketika menunduk hormat dengan sangat dalam.

"M-mari silakan ikut saya Tuan, manajer kami ada di lantai atas." Petugas itu tergagap dan langsung membimbing Arka menuju lift VIP.

Di lantai lima, Arka diantar masuk ke dalam sebuah ruangan kerja besar yang didominasi perabotan kayu jati.

Seorang pria berkacamata tebal langsung berdiri dari kursi kebesarannya menyambut kedatangan Arka dengan senyum menjilat.

"Selamat datang Tuan Arka, saya sudah mendengar banyak tentang kehebatan Anda dari Nona Clara." Manajer bank itu menyalami tangan Arka dengan sangat antusias.

"Langsung ke intinya saja Pak Manajer, saya ingin mengakuisisi penuh bangunan bekas restoran bintang lima milik Kevin Kusuma." Arka duduk di sofa tamu dengan gaya yang sangat elegan.

Manajer itu segera membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah tumpukan map tebal berisi dokumen kepemilikan.

"Bangunan itu nilainya merosot tajam karena kasus kriminal pemiliknya Tuan Arka." Manajer itu menjelaskan sambil membuka lembaran dokumen.

"Pihak bank bersedia melepaskan hak milik penuhnya kepada Anda dengan harga satu miliar rupiah tunai hari ini juga."

Harga satu miliar untuk sebuah bangunan berlantai tiga di jalan protokol utama adalah harga yang sangat tidak masuk akal dan terlampau murah.

Namun berkat efek ketakutan publik terhadap kasus keluarga Kusuma dan koneksi Kartu Hitam Malika, harga itu menjadi sangat mungkin.

"Sempurna, saya setuju dengan harga itu, siapkan surat perjanjian serah terima asetnya sekarang juga." Arka menjawab tanpa ragu sedikit pun.

Srek srek srek.

Arka menandatangani berkas tebal itu dengan pena tinta emas yang disediakan oleh manajer bank tersebut.

Tepat saat proses transfer uang satu miliar dari rekening Arka sedang diproses, pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka sedikit.

Seorang pemuda dengan pakaian yang sangat kusut, rambut berantakan, dan wajah yang sangat kuyu mengintip dari balik pintu.

Itu adalah Kevin, mantan pewaris sombong yang kini terlihat seperti gembel jalanan yang tidak terurus.

Kevin datang ke bank itu dengan harapan bisa memohon keringanan hutang, namun yang ia lihat justru Arka sedang menandatangani akta restorannya.

"T-tidak mungkin, Arka? Kenapa kau ada di sini?!" Kevin mendorong pintu itu dan melangkah masuk dengan kaki gemetar.

Manajer bank langsung berdiri dan menatap Kevin dengan raut wajah yang sangat jijik dan marah.

"Petugas keamanan, kenapa kalian membiarkan anak koruptor ini masuk ke ruanganku?!" Bentak manajer bank itu memanggil bala bantuan.

"Tunggu sebentar Pak Manajer, biarkan aku bicara dengannya sebentar." Arka mengangkat tangannya menghentikan manajer tersebut.

Arka berdiri dari sofanya dan berjalan perlahan mendekati Kevin yang kini terlihat sangat menyedihkan.

Aura dominasi sang raja dari Arka memancar sangat kuat, membuat Kevin secara tidak sadar memundurkan langkahnya karena ketakutan.

"Apa kabar Tuan Muda Kevin? Kudengar kau sekarang harus tidur di kos-kosan murah karena rumah mewahmu juga disita." Arka menyapa dengan suara dingin yang menusuk tulang.

"Arka, kumohon jangan ambil restoran itu, itu satu-satunya harta peninggalan keluargaku yang tersisa." Kevin tiba-tiba menjatuhkan dirinya dan berlutut memohon di depan kaki Arka.

Pemandangan itu sangat ironis jika mengingat betapa sombongnya Kevin saat ia menendang kursi warung tenda Arka dulu.

Air mata penyesalan mengalir deras dari mata Kevin membasahi lantai marmer yang dingin.

"Aku akan melakukan apa saja Arka, aku bersedia jadi tukang cuci piring di restoranmu asalkan kau mau mengembalikan namaku di sertifikat itu." Rengek Kevin dengan suara isak tangis yang sangat memalukan.

Arka menatap Kevin dari atas ke bawah tanpa ada rasa belas kasihan sedikit pun di matanya.

"Saat kau menyuruh Bos Boni untuk menagih hutang ayahku di malam yang dingin itu, apakah kau peduli pada tangisanku?" Arka bertanya dengan nada rendah namun mematikan.

"Saat kau mengirimkan racun untuk membunuh pelanggan tidak bersalah di restoranku, apakah kau memikirkan nyawa mereka?" Tambah Arka membuat Kevin semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Kevin tidak bisa menjawab satu patah kata pun karena semua kejahatan kejamnya kembali menghantuinya saat ini.

"Kau menuai apa yang kau tabur Kevin, sekarang belajarlah untuk hidup dari titik nol yang sesungguhnya." Arka berbalik membelakangi Kevin dengan sangat elegan.

Dua orang petugas keamanan akhirnya datang dan menyeret Kevin keluar dari ruangan itu secara paksa.

"Tidak Arka! Kembalikan restoranku! Arka!" Suara teriakan putus asa Kevin semakin menjauh dan akhirnya hilang ditelan lorong bank.

Arka mengambil sertifikat bangunan yang sudah resmi berpindah tangan atas namanya itu dan tersenyum puas.

[Ding!]

[Sistem mendeteksi akuisisi properti bintang lima yang sangat strategis.]

[Misi Utama Keempat Diberikan.]

[Misi: Gabungkan kedua bangunan restoran menjadi satu kekaisaran Dapur Arka Absolute yang tak tertandingi dan raih 10.000 pelanggan dalam satu bulan.]

[Hadiah Misi: Sistem Otomatisasi Restoran Tingkat Dewa dan Rp. 3.000.000.000 tunai.]

Arka menelan ludahnya membaca hadiah tiga miliar rupiah yang sangat menggiurkan untuk misi barunya.

"Target sepuluh ribu pelanggan dalam sebulan memang berat, tapi dengan dua gedung gabungan ini, hal itu bukan hal yang mustahil." Batin Arka dengan tekad yang kembali membara.

Arka mengucapkan terima kasih kepada manajer bank dan segera kembali ke restorannya dengan membawa berita gembira itu.

Setibanya di Dapur Arka Absolute, ia melihat sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat familier terparkir di depan lobi.

Clara Malika sedang duduk dengan anggun di meja VIP, meminum Es Teh Bunga Surga buatan Nisa.

"Selamat siang Nona Clara, sebuah kejutan manis melihat Anda datang berkunjung hari ini." Arka menyapa sambil menarik kursi dan duduk di hadapannya.

Clara menurunkan kacamata hitamnya sedikit dan menatap Arka dengan senyum yang jauh lebih hangat dan menggoda dari biasanya.

"Kudengar dari agen bankku bahwa kau baru saja mencaplok seluruh wilayah mantan musuhmu hari ini." Clara berbicara dengan nada suara yang sangat merdu dan sedikit manja.

"Berita menyebar sangat cepat di telinga seorang ratu properti seperti Anda." Arka tertawa pelan dan meletakkan map sertifikat itu di atas meja.

"Sekarang aku punya dua gedung raksasa yang bersebelahan, aku berencana menjebol dinding pembatasnya minggu depan." Jelas Arka membeberkan rencananya dengan mata berbinar.

Clara mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat aroma parfum mawar mewahnya menguar lembut menyapa indera penciuman Arka.

"Kau tahu Arka, melihat seorang pria yang dulunya pedagang kaki lima kini menguasai jalanan protokol ini membuatku sangat takjub." Clara berbisik pelan dengan tatapan mata yang sulit diartikan.

"Itu semua juga berkat bantuan modal dan Kartu Hitam dari Anda Nona Clara." Arka menjawab dengan sopan mencoba menjaga batas profesionalitas.

Namun Clara justru mengulurkan tangan kanannya dan menyentuh punggung tangan Arka dengan sangat lembut.

Sensasi hangat dari kulit halus Clara membuat jantung Arka sedikit berdebar lebih cepat di luar kendalinya.

"Pria yang memiliki ambisi mematikan sepertimu itu terlihat sangat seksi di mataku Arka." Clara tersenyum penuh godaan yang sangat jelas dan terang-terangan.

Wajah Arka sedikit memanas mendengar pujian yang menjurus ke arah ketertarikan romantis dari wanita secantik Clara.

Sebagai seorang koki yang selama ini hanya fokus pada pisau dan wajan, Arka merasa sedikit canggung menghadapi serangan pesona dari seorang CEO wanita.

"Nona Clara sepertinya sedang mencoba resep rayuan baru padaku hari ini." Arka membalas dengan candaan untuk menutupi rasa gugupnya.

Clara tertawa renyah menarik kembali tangannya dengan gerakan yang sangat lambat dan menggoda.

"Aku serius Arka, setelah kau berhasil menggabungkan restoranmu nanti, aku ingin kau memasak makan malam khusus hanya untukku secara privat." Permintaan Clara terdengar seperti sebuah undangan kencan yang sangat manis.

"Itu permintaan yang sangat mudah Nona Clara, aku akan memasakkan hidangan terhebat yang pernah ada di dunia ini khusus untukmu." Arka mengangguk menyetujui undangan tersebut dengan senyum tulus.

"Baguslah, aku akan menagih janjimu itu minggu depan sang raja kuliner." Clara berdiri dari kursinya dan mengedipkan sebelah matanya pada Arka.

Clara kemudian berjalan keluar dari restoran diiringi tatapan kagum dari beberapa pelanggan pria yang sedang makan di sana.

Arka menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke kursi dengan pikiran yang bercabang.

Urusan bisnisnya baru saja menemui titik terang yang sangat masif, namun urusan asmaranya tampaknya baru saja mulai memanas.

"Mas Arka, wajahmu kenapa merah begitu? Sakit demam ya?" Nisa tiba-tiba muncul dari arah dapur dengan wajah polosnya.

"Bukan apa-apa Nisa, hanya suhu udara hari ini sedikit lebih panas dari biasanya." Arka buru-buru berdiri dan merapikan kemejanya dengan salah tingkah.

"Cepat siapkan dapur Nisa, kita akan sibuk mengatur rencana renovasi dan menyambut sepuluh ribu pelanggan baru kita bulan ini." Arka berjalan cepat masuk ke dalam dapur menyembunyikan wajahnya.

Srenggg!

Api kompor kembali dinyalakan, membawa Arka kembali ke dunia yang paling ia kuasai, bersiap menghadapi tantangan besar dari sistem yang menunggunya.

1
Ponny Sagita
serius thor? restoran mahal pake kursi plastik?
Ponny Sagita
kok masih pinggir jalan? othor niiih yaaa
Nissa Safira: mungkin iyaa outdoor kak, soalnya si Arka lagi proses membangun restoran mewahnya sendiri kak🤣
total 1 replies
Ponny Sagita
masak nasinya kan baru pagi pagi, kok bisa didinginkan semalaman?
Nissa Safira: hahaha dari semalem nasi nya belum habis kak gara2 malem nya di datengi preman🤣
total 1 replies
Wega Luna
keterlaluan udah hutang bunga tempat dagang dirusak ,itu bisa dilaporkan, loh
Nissa Safira: hahahaa namanya juga utang sama rentenir sadis kak😅
total 1 replies
Mohd Harmizi
berhasil jual 3 ribu kok poin kepuasan hanya 500?
Nissa Safira: iyaa juga iyaa.. kelupaan kak🤣
total 1 replies
m_reynaldi
mantapp.. update bab yg banyak thorr 😍
Fariq Banafsaj
lanjut🤩
Dewa Naga 🐲🐉
mantappp.. lanjut...💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!