NovelToon NovelToon
Istri Bayangan Tuan Adhitama

Istri Bayangan Tuan Adhitama

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.

Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.

Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.

Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.

"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

"Lalu apa yang bisa saya bantu?"

Pelayan yang paling tua akhirnya menyerahkan sekeranjang buncis.

"Kalau Nyonya tidak keberatan, nyonya boleh bantu memotong sayuran ini."

Aisyah menerimanya dengan kedua tangan.

"Tentu. Terima kasih sudah mengizinkan saya membantu."

Kalimat sederhana itu justru membuat beberapa pelayan saling berpandangan lagi. Bukankah seharusnya merekalah yang berterima kasih kepada majikannya? Namun Aisyah justru berbicara seolah mereka sedang bekerja bersama. Aisyah kemudian duduk di salah satu kursi kecil sementara tangannya mulai memotong buncis dengan cekatan. Gerakannya rapi, cepat dan terlihat sangat terbiasa. Salah seorang pelayan perempuan memperhatikannya dengan kagum.

"Apa nyonya sering memasak?"

Aisyah tersenyum sambil tetap melanjutkan pekerjaannya.

"Ya, sejak kecil. Kalau di rumah, saya sering membantu Abi dan Kak Salsa."

Ucapan itu membuat dapur kembali dipenuhi kehangatan. Tanpa mereka sadari, kesan canggung yang tadi memenuhi ruangan perlahan mulai menghilang. Untuk pertama kalinya sejak menjadi bagian dari keluarga Adhitama, Aisyah mulai diterima, bukan karena statusnya sebagai nyonya muda, melainkan karena ketulusan hatinya yang membuat siapa pun merasa nyaman berada di dekatnya.

Waktu terus berlalu, tidak terasa kini jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Cahaya matahari yang hangat mulai menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar kediaman keluarga Adhitama. Di lantai dua, satu per satu pintu kamar mulai terbuka. Para pelayan berlalu-lalang membawa teko teh hangat, kopi, dan beberapa piring kecil berisi buah yang akan disajikan sebagai pelengkap sarapan. Di sisi lain rumah, suara langkah kaki laki-laki terdengar memenuhi lorong. Pak Wira keluar dari ruang kerjanya lebih awal dari biasanya. Setelan jasnya tampak rapi yang menandakan bahwa setelah sarapan nanti ia akan langsung menuju kantor Adhitama Group.

Tak lama kemudian, Bu Ratih juga keluar dari kamarnya. Perempuan paruh baya itu tampak jauh lebih segar dibanding semalam. Meski begitu, tatapannya beberapa kali mengarah ke ujung lorong, tepat ke arah kamar Ammar. Entah bagaimana keadaan kedua pengantin baru itu. Semalam ia sama sekali tidak berani mengganggu mereka.

Sementara itu, pintu kamar Salsa perlahan terbuka. Salsa keluar dengan wajah yang jauh lebih pucat daripada biasanya. Semalaman ia hampir tidak memejamkan mata sedikit pun.

Bayangan tentang Ammar dan Aisyah terus menghantuinya hingga dini hari, meski ia berulang kali meyakinkan dirinya bahwa Ammar pasti akan memegang janjinya, tetap saja rasa takut itu tidak kunjung hilang ketika melihat mertuanya sudah berada di lorong, Salsa buru-buru memasang senyum kecil.

"Selamat pagi, Pa... Ma."

"Pagi, Sayang."

Mendengar sapaan menantunya, Pak Wira hanya menganggukkan kepalanya. Beberapa menit kemudian, Pintu kamar Ammar akhirnya ikut terbuka. Ammar keluar dengan wajah datar seperti biasanya sementara penampilannya sudah rapi dan siap untuk pergi ke kantor. Tatapannya menyapu lorong sekilas sebelum mengangguk sopan kepada kedua orang tuanya.

"Pagi, Pa."

"Pagi." Pak Wira menepuk bahu putranya. "Gimana? Apa tidur kalian nyenyak semalam?"

Ammar mengangguk singkat.

"Iya."

Jawaban itu terdengar sangat biasa. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa semalaman laki-laki itu justru berkali-kali terbangun karena bayangan seorang gadis bercadar yang diam-diam menangis di balik pintu kamar mandi terus memenuhi pikirannya yang membuatnya segera mengusir ingatan itu.

"Aku tidak boleh memikirkannya." Batin Ammar. "Aku melakukan semua ini hanya demi Salsa."

Tak lama kemudian mereka semua berjalan menuju ruang makan. Ruang makan keluarga Adhitama berada di lantai bawah. Ruangan luas itu dipenuhi cahaya matahari pagi yang masuk dari jendela-jendela tinggi. Meja makan panjang berbahan kayu jati telah dipersiapkan. Biasanya, sebelum semua anggota keluarga duduk, para pelayan sudah lebih dulu menghidangkan seluruh makanan. Namun pagi ini, meja itu masih kosong yang membuat Pak Wira mengernyit.

"Belum siap?" Tanya pak Wira yang membuat salah seorang pelayan segera membungkukkan badan.

"Maaf, Tuan. Hidangannya sedang dibawa."

Pak Wira mengangguk.

Tidak lama kemudian, suara langkah kaki mulai terdengar dari arah dapur. Beberapa pelayan keluar sambil membawa nampan besar berisi berbagai hidangan yang membuat aroma masakan langsung memenuhi seluruh ruang makan. Sayur lodeh yang masih mengepul, Ayam goreng sambal bawang dengan aroma bawang putih dan cabai yang menggugah selera, Tempe goreng tepung, Perkedel kentang, Sambal terasi, Lalapan segar serta se-poci teh hangat. Namun, Yang membuat seluruh penghuni rumah terdiam bukanlah makanan itu. Melainkan sosok yang berjalan paling belakang sambil membawa mangkuk besar berisi sayur lodeh.

Aisyah.

Perempuan itu mengenakan gamis sederhana berwarna krem dengan celemek putih yang belum sempat dilepas. Hijab dan cadarnya tetap terpasang rapi sementara tangannya membawa mangkuk sayur lodeh dengan hati-hati agar kuahnya tidak tumpah. Begitu melihatnya langsung membuat langkah Ammar seketika berhenti begitu pula Salsa. Bu Ratih bahkan sampai berkedip beberapa kali sementara pak Wira seketika mengernyit saat melihat Aisyah yang berjalan membawa hidangan sarapan bersama para pelayan.

"Aisyah?"

Aisyah langsung menundukkan kepalanya.

"Assalamu'alaikum, Pa... Ma."

"Wa'alaikumsalam."

Pak Wira menjawab pelan. Tatapannya kemudian berpindah kepada para pelayan yang berdiri di belakang Aisyah sementara keningnya semakin berkerut.

"Apa maksud semua ini?"

Suasana ruang makan yang semula hangat mendadak berubah tegang. Para pelayan saling berpandangan. Tak seorang pun berani menjawab, sementara Pak Wira mulai berdiri dari kursinya yang membuat suara sepatunya bergema pelan di lantai marmer. Ia berhenti tepat di depan kepala pelayan.

"Wati."

Pelayan itu langsung menundukkan kepalanya karena takut.

"Iya, Tuan."

"Bukankah sudah menjadi tugas kalian menyiapkan makanan?"

"I-iya, Tuan."

"Lalu kenapa kalian membiarkan Aisyah ikut memasak?"

Nada suara Pak Wira memang tidak tinggi, namun cukup membuat seluruh pelayan menegang. Mereka tahu kalau pemilik rumah itu sangat menghargai para pekerjanya, tetapi pak Wira juga sangat tegas apalagi jika menyangkut tamu atau anggota keluarganya.

"Kami..." Pelayan itu menggigit bibirnya. "Kami sebenarnya sudah melarang Nyonya, tuan."

Belum sempat pelayan itu melanjutkan kalimatnya, Aisyah buru-buru melangkah maju.

"Pa..." Suara lembut itu langsung membuat semua orang menoleh. Aisyah sekilas menoleh ke arah para pelayan yang terlihat ketakutan sebelum akhirnya ia kembali menatap pak Wira. "Maaf." Pak Wira menatap menantu barunya. "Jangan salahkan mereka." Aisyah tersenyum kecil di balik cadarnya. "Mereka sudah berkali-kali meminta Aisyah untuk tidak memasak ataupun mengerjakan pekerjaan rumah, tapi Aisyah yang memaksa ingin membantu."

Pak Wira terdiam sementara Aisyah melanjutkan perkataannya dengan suara pelan.

"Aisyah hanya merasa," Ia menarik napas sebentar. "Sebagai anggota keluarga baru di rumah ini, Aisyah juga ingin melakukan sesuatu. Aisyah tidak enak kalau hanya berdiam diri sementara semua orang bekerja."

Semua orang mendengarkan. Tak ada sedikit pun Aisyah mencari muka dalam ucapan itu. Tak ada kesan ingin dipuji, justru terdengar sangat tulus.

"Aisyah juga tidak ingin merepotkan siapa pun. Aisyah hanya membantu sedikit. Kalau hasilnya kurang enak, Aisyah mohon maaf."

1
Marini Suhendar
Melihat Aisyah bikin nangis😭😭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: sama kak/Sob/
total 1 replies
Marini Suhendar
Itu konsekwensinya..coba bukan adik kmu yg jd madunya .sakitnya g terlalu kan
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: padahal Ammar udah terima salsa apa adanya, tapi salsanya yang repot sendiri /Slight/
total 1 replies
Lembang Azam
klw kamu takut Aisyah mencuri perhatian mertua dan suamimu, harusnya dr awal kamu tuh sadar salsa jgn memaksa suamimu untk menikah lagi, disini kamu yg egois, menyakiti hati suami dan adikmu sndiri,, amar ja GPP kamu enggak punya anak, knpa kamu justru yg repot sih,,sebellll tau enggak sih thor😭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: sabar kak sabar, jangan emosi 🙏🤭
total 1 replies
Nda
novelmu luar biasa thor
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terima kasih bintang limanya kak🙏😍
total 1 replies
Marini Suhendar
d mata amar & salsa pasti salah. d kira cari perhatian
Ical Habib
boleh ta dlm hukum Islam 2 saudara sekaligus...yg boleh t KL DA meninggal satu trs pindah k adiknya.othor in ad2 aj
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
hmmmm 🙄, sudahlah yah jejak di sini.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Pret ah
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ngaran Weh Wira tapi kalakuan TeusaWira 😤
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
hemmm iya gitulah ya 🤷
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
udh tua juga kelakuan kayak gitu bukannya nikmati masa tua aja Ama bini malah ngurusin rumah tangga anak Lo 🙄🫤
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
nggak tahu ah
Lembang Azam
ini neh yg plg bikin sebelll dan bingung,,,klw smw pemeran utamanya baik😭 knpa enggak pak wira ja sih yg punya anak thor🤣🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: udah tua kak pak Wira nya🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Marini Suhendar
kamu dengar kan amar doa yg d panjatkan Aisyah...Sabar aisyah 🥰
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
dasar kampret semua 😩 sudahlah pusing, jejak aja dulu yeh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Lo memang bodoh, kelak kmu salsa dgn suamimu akan lebih parah menyakiti Aisyah. kalian pasti jadi villain berakhlak binatang berbentuk manusia.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
udh gw pusing.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ya Aisyah tidak akan menyakitimu sal, tapi kamu sendiri yg akan menyakitinya kelak bahkan setelah mendapatkan anak kau akan merebutnya. bahkan bisa saja amar pun akan sama sepertimu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ya siapa lagi si mar, kok di tanya 🙄
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ini bininya sumpah demi apa oon nggak tahu di untung suaminya di pihak Lo.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!