NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5 : CEO Misterius

Dara masih memegang surat penerimaan kerja itu dengan kedua tangannya. Jantungnya belum juga tenang dari rasa bahagia yang tiba-tiba datang.

Namun kemudian ia menyadari sesuatu. "Maaf..." Dara mengangkat kepala. "Saya diterima di bagian apa?"

Aldi yang sedang membereskan beberapa dokumen langsung menjawab santai. "Kamu diterima di perusahaan ini sebagai Sekretaris pribadi."

Dara mengangguk pelan. "Oh... Sekretaris pribadi Bapak?"

Aldi yang sedang minum kopi hampir tersedak.

Dara langsung panik. "Pak? Eh Aldi? Maaf!"

Aldi menggeleng sambil menahan tawa. "Bukan."

"Bukan?"

"Bukan Sekretaris pribadi saya."

Dara berkedip bingung. "Terus?"

Aldi menunjuk ke atas dengan ibu jarinya. "Sekretaris pribadi CEO."

"Apa?"

Ruangan langsung hening.

Dara menatap Aldi seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil. "CEO?"

"Iya."

"CEO yang CEO itu?" Aldi mengangkat alis. "Emang ada CEO yang lain?"

Dara langsung pucat. "Tunggu... tunggu dulu." Ia meletakkan surat itu di meja. "Saya baru keterima kerja lima menit dan sekarang saya disuruh jadi Sekertaris pribadi orang nomor satu di perusahaan ini?"

Aldi tertawa. "Kurang lebih begitu."

"Pak, saya bisa pingsan."

"Belum mulai kerja udah mau pingsan?"

Dara menatapnya putus asa. "Ini serius."

Aldi lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Sekretaris pribadi CEO sebelumnya mengundurkan diri."

"Kenapa?"

"Dia sudah menikah, lalu hamil."

"Oh..."

"Dan suaminya melarangnya untuk bekerja."

Dara mengangguk mengerti.

"Jadi sekarang posisi itu kosong." Aldi melanjutkan. "Bos saya sudah meminta saya mencari penggantinya sejak beberapa minggu lalu."

"Terus?"

"Sampai sekarang belum ada yang cocok."

Dara menunjuk dirinya sendiri. "Dan menurut Bapak saya cocok?"

"Iya."

Dara terlihat semakin tidak percaya. "Tapi kenapa?"

Aldi mengambil CV miliknya. "Pengalaman kerja kamu cukup baik." Ia menunjuk beberapa bagian. "Kamu terbiasa mengatur dokumen. Kamu bisa membuat laporan, kamu juga pernah menjadi koordinator tim, komunikatif dan yang paling penting kamu juga cepat berpikir."

Dara masih mendengarkan. "Lalu?"

Aldi tersenyum tipis. "Dan kamu berani."

"Hah?"

"Kemarin kamu nggak tahu saya siapa."

"Iya."

"Tapi tetap berbicara normal."

Dara langsung terdiam.

Aldi mengangguk. "Itu nilai plus."

"Tapi..." Dara menggigit bibir bawahnya gugup. "Kalau CEO itu nggak suka sama saya gimana?"

"Itu biar jadi urusan saya."

Dara mengernyit. "Maksudnya?"

Aldi berdiri dari kursinya. "Saya yang merekomendasikan kamu. Kalau ada masalah nanti saya yang bertanggung jawab."

Dara menatapnya lama. Entah kenapa kalimat itu membuatnya sedikit lebih tenang.

Aldi lalu berjalan mengelilingi meja dan berhenti di depannya. "Yang penting sekarang."

Dara mendongak.

"Kamu bekerja dengan benar. Ikuti prosedur, jangan terlambat dan jangan bikin CEO marah."

Dara langsung tegang lagi. "Dia galak ya?"

Aldi berpikir beberapa detik. "Hm..."

"Pak?"

"Kadang."

Dara langsung lemas.

Aldi tertawa melihat ekspresinya. "Tenang. Selama kerja kamu benar, harusnya aman."

Kemudian tatapannya menyapu penampilan Dara dari ujung kepala sampai kaki.

Dara langsung salah tingkah. "Kenapa?"

Aldi mengusap dagunya. "Hm..."

"Kenapa lagi?"

"Kita perlu sedikit perbaikan."

Dara mengernyit. "Perbaikan apa?"

Aldi menunjuk dirinya. "Kamu."

Dara langsung melihat bajunya. "Saya kenapa?"

Aldi tersenyum. "Nggak kenapa-kenapa."

"Terus?"

"Cuma perlu sedikit dipoles, Bos suka karyawan yang wangi"

Dara langsung mencium bahunya sendiri diam-diam.

Aldi yang melihat itu langsung tertawa. "Hahaha!"

Dara tersipu. "Kenapa? Memangnya saya bau ya?"

"Saya nggak bilang kamu bau."

"Saya kira..."

"Kalau kamu bau, saya juga nggak mungkin nyuruh kamu datang ke sini."

Wajah Dara semakin merah.

Aldi menggeleng sambil masih menahan tawa. "Kamu lucu juga ya ternyata."

"Pak..."

"Aldi."

"Iya, Aldi."

Aldi kemudian mengambil kunci mobil dari atas meja.

"Yuk."

Dara berkedip. "Ke mana?"

"Ikut saya sebentar."

"Untuk apa?"

"Saya mau bikin calon Sekretaris pribadi CEO ini tampil lebih meyakinkan."

Dara langsung gugup. "Maksudnya?"

Aldi berjalan menuju pintu. "Nanti juga tahu."

"Tapi..."

"Udah." Aldi membuka pintu. "Ayo."

Dara hanya bisa menatap punggung pria itu dengan bingung. Perasaan gugup yang tadi sempat hilang kini kembali lagi. Karena entah kenapa, kalau Aldi sudah tersenyum seperti itu, biasanya ia sedang merencanakan sesuatu.

Dara buru-buru berdiri dan mengikuti Aldi keluar dari ruangan. Mereka berjalan menyusuri koridor lantai eksekutif yang luas. Beberapa karyawan yang berpapasan langsung menundukkan kepala dengan hormat kepada Aldi.

"Selamat pagi, Pak Aldi."

"Pagi."

"Selamat pagi, Pak."

Aldi hanya mengangguk singkat. Sementara Dara berjalan di belakangnya dengan gugup. Dalam hati ia semakin sadar bahwa pria yang ditemuinya di warung bakso itu benar-benar orang penting.

Mereka masuk ke dalam lift khusus. Begitu pintu lift tertutup, Dara akhirnya tidak tahan.

"Aldi."

"Hm?"

"Kita sebenarnya mau ke mana?"

Aldi meliriknya. "Kamu penasaran banget ya?"

"Iya."

Aldi terkekeh. "Kita mau beli beberapa kebutuhan kerja."

"Kebutuhan kerja?"

"Iya."

Dara mengernyit. "Kan saya cuma kerja kantoran."

"Justru karena kerja kantoran."

Dara semakin bingung.

Dua puluh menit kemudian, mobil Aldi berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan premium.

Dara langsung menatap bangunan itu dengan mata membulat. "Aldi..."

"Hm?"

"Ini mall yang isinya barang-barang mahal semua."

"Iya."

"Kita salah tempat."

"Nggak."

"Ini benar-benar salah tempat."

Aldi mematikan mesin mobil. "Loh kenapa?"

Dara menunjuk dirinya sendiri. "Saya."

Aldi menghela napas panjang. "Mulai lagi."

"Apa?"

"Kebiasaan kamu meremehkan diri sendiri."

Dara langsung diam.

Aldi turun dari mobil. "Mari."

Dara akhirnya mengikuti. Mereka masuk ke sebuah toko pakaian formal. Seorang pegawai langsung menyambut mereka.

"Selamat datang, Pak Aldi."

Dara langsung menoleh. "Kok mereka kenal?"

Aldi menjawab santai. "Karena saya sering ke sini."

Tiga puluh menit kemudian...

Dara sudah berdiri di depan cermin besar dengan setelan kerja baru. Blazer krem sederhana, kemeja putih, rok kerja yang rapi.

Penampilannya terlihat jauh lebih profesional. Dara sampai terpaku melihat bayangannya sendiri.

"Ini saya?"

Aldi yang berdiri tidak jauh langsung mengangguk. "Iya, itu kamu."

"Tapi beda banget."

"Karena selama ini kamu nggak sadar kalau sebenarnya kamu punya potensi."

Dara tidak tahu harus menjawab apa. Setelah itu mereka menuju sebuah salon profesional. Dan di sinilah Dara mulai panik.

"Tunggu."

"Hm?"

"Saya nggak mau rambut saya dipotong pendek."

Aldi tertawa. "Nggak ada yang mau motong rambut kamu."

"Serius?"

"Iya."

"Janji?"

"Iya."

Dara akhirnya sedikit tenang.

Satu jam kemudian...

Rambutnya ditata lebih rapi, penampilannya terlihat segar, natural, elegan, dan tidak berlebihan. Saat keluar dari salon, Dara hampir tidak mengenali dirinya sendiri.

"Astaga..."

Aldi memperhatikan beberapa detik. Lalu mengangguk puas. "Nah."

"Apa?"

"Sekarang lebih cocok jadi Sekertaris Pribadi CEO."

Dara menelan ludah. Mendengar kata CEO lagi membuat jantungnya berdebar. "Ngomong-ngomong..."

Aldi membuka pintu mobil untuknya. "Besok kamu mulai kerja."

Dara langsung membeku. "Besok?"

"Iya." Aldi mengangguk santai.

Dara langsung panik. "Tapi saya belum ketemu CEO."

"Nanti kamu juga ketemu."

"Kalau beliau nggak suka sama saya?"

"Nanti saya yang urus."

"Kalau beliau langsung nyuruh saya keluar?"

"Nggak akan."

"Kenapa yakin banget?"

Aldi tersenyum misterius. "Karena saya kenal bos saya."

Dara menghela napas panjang. Entah kenapa jawaban itu justru membuatnya semakin penasaran. Dari tadi ia terus mendengar tentang CEO misterius itu.

Galak, Perfeksionis, sulit mencari asisten yang cocok. Dan besok, ia akan bertemu langsung dengan orang nomor satu di PT Dirgantara Group.

1
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!