NovelToon NovelToon
Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: W_ Wulandari

Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.

Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.

Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: PROYEK KELOMPOK YANG DIPAKSAKAN

Pengumuman baru muncul di portal akademik pagi itu, membuat seisi kelas Manajemen Strategis ribut membicarakannya begitu masuk ruangan. Kirana membuka notifikasi di ponselnya, membaca detail tugas besar yang baru saja diunggah Alden semalam.

"Kir, ini serius? Proyek akhir semester digabung sama kelas paralel sebelah?" Tesa menyenggol lengan Kirana, menunjukkan layar ponselnya sendiri yang menampilkan pengumuman serupa.

"Iya, aku juga baru baca," Kirana mengernyit, menggulir layar untuk membaca detail lebih lanjut. "Katanya kelompok bakal digabung, satu kelompok dari kelas kita sama satu kelompok dari kelas paralel."

"Terus kelompok kita digabung sama siapa?" Bagas yang duduk di depan mereka ikut menoleh, penasaran.

Kirana menggulir lagi, mencari daftar pembagian kelompok gabungan. Matanya berhenti di satu baris yang membuat jantungnya berdebar tidak enak.

"Kelompok kita digabung sama kelompok yang dipimpin Dinda dari kelas paralel," bacanya keras keras. "Terus... dosen pembimbingnya Pak Alden lagi."

"Wih, lagi lagi Pak Alden," Ferra yang baru datang ikut nimbrung, menyeringai jahil ke arah Kirana. "Jodoh kayaknya nih."

"Ferra," Kirana melotot, wajahnya mulai memanas, meski dalam hati dia sendiri tidak bisa menyangkal ada rasa senang bercampur cemas mendengar kabar itu.

Tidak lama kemudian, Alden masuk kelas membawa map lebih tebal dari biasanya, langsung memulai penjelasan tanpa banyak basa basi seperti kebiasaannya.

"Seperti yang sudah kalian baca di portal, proyek akhir semester kali ini akan digabung antara kelas ini dengan kelas paralel," katanya, menempelkan selembar kertas berisi daftar kelompok di papan tulis. "Ini kebijakan dari kaprodi untuk melatih kemampuan kolaborasi lintas kelompok."

"Pak, kenapa harus digabung sih? Kan kelompok kita udah biasa kerja bareng dari awal semester," salah satu mahasiswa protes, cukup berani menyuarakan keluhan yang mungkin dirasakan banyak orang.

"Karena di dunia kerja nanti, kalian nggak akan selalu bisa milih rekan kerja sesuai keinginan sendiri," jawab Alden tegas, tidak memberi ruang untuk debat lebih lanjut.

"Proyek ini akan menilai bukan cuma kemampuan analisis kalian, tapi juga kemampuan beradaptasi dengan tim baru."

Kelas hening, tidak ada yang berani membantah lebih jauh. Alden melanjutkan menjelaskan detail proyek, sebuah studi kasus besar tentang strategi ekspansi bisnis yang harus dianalisis dan dipresentasikan dalam waktu tiga minggu ke depan.

"Kelompok gabungan akan bertemu pertama kali sore ini di ruang diskusi lantai tiga, jam empat," lanjut Alden, menatap sekilas ke arah Kirana sebelum kembali fokus ke seluruh kelas. "Saya akan hadir untuk memberikan pengarahan awal."

Sore itu, Kirana datang ke ruang diskusi lantai tiga bersama Bagas, Nadia, Ferra, dan Yusuf, kelompok lamanya yang sudah terbiasa bekerja sama sejak awal semester. Di ruangan itu, mereka bertemu dengan kelompok Dinda dari kelas paralel, empat mahasiswa yang wajahnya cukup asing bagi Kirana meski beberapa di antaranya pernah dia lihat sekilas di area kampus.

"Hai, kita Dinda, Aji, Ratna, sama Fikri," Dinda memperkenalkan diri dan anggota kelompoknya, tersenyum ramah meski terlihat sedikit canggung dengan situasi gabungan yang mendadak ini.

"Kirana, Bagas, Nadia, Ferra, Yusuf," Kirana ikut memperkenalkan diri dan teman temannya, membalas senyum itu dengan sopan.

Mereka duduk melingkar di meja besar, mulai berkenalan lebih jauh sambil menunggu kedatangan Alden. Suasana masih terasa canggung, dua kelompok yang berbeda kebiasaan kerja harus tiba tiba dipaksa bersatu dalam waktu singkat.

"Jadi gimana nih, kita mulai dari mana?" Aji, salah satu anggota kelompok Dinda, membuka percakapan, mencoba mencairkan suasana.

"Mungkin kita bagi tugas dulu berdasarkan keahlian masing masing?" usul Nadia, mencoba memberikan arahan awal.

Belum sempat diskusi berlanjut lebih jauh, pintu ruangan terbuka dan Alden masuk membawa map seperti biasa. Kirana merasakan jantungnya berdebar sedikit lebih cepat melihat kedatangannya, meski dia berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap netral di depan anggota kelompok yang lain.

"Selamat sore," sapa Alden, duduk di kursi kepala meja. "Saya lihat kalian sudah mulai berkenalan. Bagus."

Dia mulai menjelaskan detail proyek lebih mendalam, membagikan lembar panduan yang berisi kriteria penilaian dan timeline pengerjaan. Kirana memperhatikan dengan seksama, mencoba fokus pada materi meski sesekali matanya tidak sengaja tertuju pada Alden yang berbicara dengan gaya profesionalnya yang biasa.

"Untuk pembagian tugas dalam kelompok, saya serahkan sepenuhnya ke kalian," lanjut Alden. "Tapi saya sarankan, pilih koordinator yang bisa menjembatani komunikasi antara dua kelompok asal ini."

"Kirana aja jadi koordinator," celetuk Bagas tiba tiba, membuat semua orang menoleh ke arahnya.

"Eh, kenapa aku?" Kirana terkejut, tidak menyangka akan ditunjuk secara mendadak seperti itu.

"Soalnya kamu udah terbiasa jadi koordinator kelompok kita dari awal semester," jawab Ferra, mendukung usulan Bagas.

Dari sudut matanya, Kirana melihat Alden yang sedikit terdiam mendengar usulan itu, ekspresinya sulit dibaca meski Kirana bisa menangkap sedikit kekhawatiran yang tersembunyi di baliknya.

"Kalau kelompok setuju, saya nggak keberatan," kata Dinda, mewakili kelompoknya sendiri.

Semua mata tertuju pada Kirana, menunggu jawabannya. Dia melirik sekilas ke arah Alden, mencoba membaca reaksinya, tapi dosen itu sudah kembali ke ekspresi netralnya yang biasa, tidak memberikan petunjuk apa pun tentang apa yang sebenarnya dia pikirkan.

"Baiklah, saya bersedia," jawab Kirana akhirnya, meski dalam hati dia sedikit khawatir posisi ini akan membuat interaksinya dengan Alden semakin sering dan semakin sulit disembunyikan dari orang lain.

"Bagus," kata Alden, kembali ke nada formalnya. "Sebagai koordinator, Kirana akan jadi kontak utama saya untuk update progress kelompok."

Kabar itu membuat dada Kirana terasa berat sekaligus berdebar di saat bersamaan. Posisi sebagai koordinator berarti dia akan sering berkomunikasi langsung dengan Alden, sesuatu yang di satu sisi dia inginkan, tapi di sisi lain juga menakutkan mengingat situasi rumit yang sedang mereka berdua coba kelola.

Setelah Alden meninggalkan ruangan, memberikan waktu bagi kelompok gabungan itu untuk mulai berdiskusi lebih jauh, suasana menjadi lebih santai dan cair. Mereka mulai membagi tugas berdasarkan keahlian masing masing, dengan Kirana mencatat semua pembagian itu di buku catatannya sebagai koordinator.

"Kir, kamu oke kan jadi penghubung sama Pak Alden? Soalnya denger denger dia agak susah didekati," tanya Ratna, salah satu anggota kelompok Dinda, sedikit khawatir.

"Oke kok, nggak masalah," jawab Kirana, mencoba terdengar biasa saja meski dalam hati perasaannya jauh lebih kompleks dari sekadar tidak masalah.

"Untung ada Kirana, dia udah biasa deket sama Pak Alden," celetuk Bagas lagi, tanpa sadar membuat beberapa anggota kelompok Dinda saling melirik penasaran.

"Deket gimana maksudnya?" tanya Aji, penasaran dengan komentar itu.

"Bukan deket dalam artian aneh aneh," Kirana buru buru meluruskan, khawatir kesalahpahaman mulai terbentuk. "Cuma karena kelompok kami sering konsultasi soal tugas aja ke dia."

"Oh gitu," Aji mengangguk, meski masih terlihat sedikit penasaran dengan nada bicara Bagas tadi.

Diskusi berlanjut sampai hampir dua jam, membahas pembagian tugas secara detail dan menyepakati jadwal pertemuan rutin untuk minggu minggu berikutnya. Ketika akhirnya mereka membubarkan diri, Kirana merasa lega sekaligus lelah, menyadari beban tambahan sebagai koordinator akan membuat minggu minggu ke depan terasa lebih berat dari yang dia bayangkan.

Sepanjang perjalanan pulang, Kirana memikirkan konsekuensi dari posisi barunya sebagai koordinator kelompok gabungan. Di satu sisi, ini berarti kesempatan untuk lebih sering berinteraksi dengan Alden dalam konteks yang wajar dan profesional. Tapi di sisi lain, ini juga berarti risiko yang lebih besar, semakin sering mereka berinteraksi, semakin besar pula kemungkinan orang lain mulai curiga dengan dinamika yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua.

"Semoga aja ini nggak bikin semuanya makin rumit," gumamnya pelan, menatap langit sore yang mulai berubah warna, membawa harapan sekaligus kekhawatiran yang sama besarnya tentang apa yang akan terjadi di minggu minggu mendatang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!